
Delmond mendorong lembut Ayya, dari hadapannya.
"Bersiaplah, aku akan mengantarmu pulang. Kedua orang tua dan juga kakakmu pasti sedang mencari keberadaan mu." Kata Delmond berdiri dari ranjang dan melangkah keluar kamar.
Tergambar kesedihan diri wajah Ayya, karena ia merasa jika Delmond benar-benar menolaknya dan tidak mencintainya.
Gadis itu masih duduk di atas ranjang tak beranjak sedikitpun.
Diluar, Delmond mendudukkan dirinya sambil menunggu kedatangan Ayya.
Maafkan, aku. Aku tidak bermaksud menyakiti perasaan mu dengan cara menolak keinginanmu... Aku sangat mencintaimu, dan aku tidak ingin merusak wanita yang aku cintai... Apa lagi aku tidak yakin dengan diriku yang mempunyai penyakit langka akibat trauma berat dimasa kecilku. Batin Delmond.
Aku tidak ingin mengikuti jejak Ayahku. Yang mengotori ibuku, kemudian meninggalkan ibuku begitu saja. Lanjut Delmond dalam hati.
Tampak bola mata pria itu berkaca-kaca saat mengingat perjalanan kehidupannya yang tidak pernah merasakan secebis kebahagiaan sedari ia kecil sehingga-lah ia dewasa. Dan sekarang lebih menyakitkan lagi, karena ia harus pergi meninggalkan wanita yang sangat ia cintai.
Dalam pikiran laki-laki itu, dia pasti akan di jatuhkan hukuman mati, mengingat begitu banyak kasus yang pernah ia lakukan.
Tak berapa lama. Ayya sudah keluar dari kamar.
Delmond menoleh ke arahnya.
__ADS_1
Gadis itu tersenyum manis. Meski ada kekecewaan dari dasar hatinya, tapi ia tak ingin menunjukkan kekecewaan itu pada Delmond. Karena ia tahu pasti begitu banyak beban yang laki-laki itu pikul sekarang, ia tak ingin menambah beban pria itu lagi.
"Aku tidak memakai jilbab," ujar Ayya masih tersenyum menyentuh kepalanya yang tak berhijab sambil mendekati Delmond.
Delmond tampak berpikir sejenak, karena jilbab Ayya yang tadi sudah di penuhi darah, "Kita beli saja di luar nanti," laki-laki itu berdiri dari duduknya.
"Aku tidak membawa uang," Ayya mendongak melihat wajah tampan Delmond.
"Nanti aku belikan." Delmond membalik badan berniat ingin beredar.
Tiba-tiba ia merasa sepasang tangan memeluknya dari arah belakang.
Delmond membalik badan, dan membalas memeluk gadis yang begitu di rundungi ketakutan akan kehilangannya.
"Kenapa kau menjadi gadis yang begitu bodoh sekali? Untuk apa kau membuang-buang air matamu, hanya untuk seorang pembunuh dan pelaku tindak pidana sepertiku. Kau masih mempunyai masa depan yang jauh lebih cerah, kau mempunyai kedua orang tua, dan kakak-kakak yang menyayangimu. Percayalah, kau akan bahagia meski tanpa aku," Delmond berusaha menenangkan hati gadis itu. Meski sebenarnya ia juga jauh lebih tidak tenang.
"Aku tidak peduli berapa banyak kejahatan-kejahatan yang pernah kau lakukan... Cintaku tidak mengenal itu semua. Dan bagaimana aku bisa bahagia? Kalau kebahagiaanku itu hanya ada bersamamu? Aku mencintaimu tanpa batas waktu... Aku takut hidup jauh darimu... Aku takut tidak bisa melihatmu lagi di keesokan harinya... Hidupku terasa hampa tanpa kehadiranmu..." Tubuh gadis itu terguncang hebat, hatinya sakit seperti bisa merasakan jika dia akan berpisah dengan lelaki belahan jiwanya.
Sekuat tenaga Delmond mencoba untuk menahan air mata yang sudah hampir jatuh dari kedua bola matanya. Ia tak ingin memperlihatkan kesedihannya di hadapan Ayya, yang pasti akan membuat gadis itu bertambah takut untuk melepaskan kepergiannya.
"Semua akan baik-baik saja. Jangan memprediksi sesuatu yang belum kau lalui... Karena tidak ada yang tahu seperti apa masa depan," Delmond mengusap air mata Ayya, kemudian merapikan anak rambut gadis itu kebelakang telinganya.
__ADS_1
"Tapi kau harus berjanji. Jika kau akan baik-baik saja, berjanjilah padaku jika kau tidak akan pergi meninggalkan aku, dan kau tidak akan membiarkan polisi menangkap mu. Berjanjilah padaku... Setelah itu, aku akan pulang..." Ujar Ayya menggenggam tangan lebar Delmond dengan kedua tangan kecilnya.
Mengangguk pelan, "Aku berjanji." Bohong Delmond. Pria itu tidak punya pilihan selain hanya bisa berbohong.
"Kau tidak berbohong-kan?" Ayya memastikan dengan menatap kedua bola mata Delmond.
"Tidak. Aku tidak berbohong," Jawab Delmond mengalih pandangan dari kedua bola mata Ayya. Karena ia sedang berbohong pada gadis itu.
Akhirnya Ayya setuju untuk pulang ke Villa orang tuanya. Walaupun hatinya merasa tidak bisa tenang karena merasa gelisah yang terus menerus memergoki hatinya.
,,,
Jerman.
"Maaf, Profesor Chard. Tapi orang yang Prof utus untuk mencari keberadaan putra anda, mereka masih belum bisa menemukannya. Tapi mereka masih berusaha mencarinya, Prof," lapor ajudan Profesor Chard, yakni Ayah Delmond.
Profesor Chard tampak memijat pelipisnya seperti begitu banyak beban.
"Prof, bagaimana jika sampai putra anda tertangkap?" Lanjut ajudan Egon.
"Kita akan membayar pengacara termahal untuk membebaskan putraku. Bila perlu, aku akan membayar hukum, yang terpenting bagiku putraku tidak di jatuhkan hukum mati, atau penjara seumur hidup. Aku tidak peduli dengan jumlah uang. Aku hanya ingin putra satu-satuku terbebas dari hukuman!" Tegas Profesor Chard bertekad akan mempertahankan putra satu-satunya, meski ia tahu jika Delmond sangat membencinya. Tapi dia tetap menyayangi putranya.
__ADS_1