Mencintai Pria Buronan Bandar Narkoba

Mencintai Pria Buronan Bandar Narkoba
Iseng


__ADS_3

"Harga diri seoprang wanita terletak dari seberapa dia bisa menjaga diri dari laki-laki lain. Apa kau tidak berpikir bagaimana perasaan kedua orang tuamu, saat mendengar kau mengatakan ini barusan? Mereka akan sangat kecewa padamu." Ucap Delmond kemudian ia turun dari mobil dan memutari mobilnya ke arah pintu penumpang yang berada Ayya.


"Turun! Aku sibuk, jadi jangan membuang-buang waktuku!" Ucap Delmond sedikit membentak Ayya memaksa gadis itu turun dari mobil sambil membuka pintu mobilnya.


 Ayya masih duduk diam tak beranjak sedikitpun dari tempat, "Berikan aku nomor ponselmu," kata gadis itu tak peduli dengan bentakkan Delmond padanya.


Beberapa bulan tinggal di istana pria dewasa itu, Ayya sudah mulai hafal dengan sikap Delmond yang terlihat menyeramkan tapi sebenarnya sangat baik. Berbeda dengan sikap yang dia perlihatkan pada orang-orang di sekitarnya.


Ayya tahu, jika Delmond mempunyai sisi lembut yang laki-laki itu tidak memperlihatkan pada siapapun.


"Aku tidak punya ponsel," jawab Delmond asal sambil mengedar pandangan tak ingin melihat wajah cantik Ayya yang sedang menahan tawanya saat mendengar jawaban tidak masuk akal darinya.


Padahal baru saja gadis itu menangis, tapi kali ini dia sudah terlihat baik-baik saja.


"Mobilmu sangat mewah, Bos. Masak ponsel saja kau tidak mampu membelinya?" Sindir Ayya bercanda pada pria dingin itu.


"Ponselku hilang," bohong Delmond.

__ADS_1


"Lalu ini apa?" Tanya Ayya menggantung ponsel pria itu di tangannya.


Delmond hanya diam tak menjawab. Tampak gadis itu mengutak-atik ponselnya yang tidak terlock.


"Apa yang kau lakukan," Delmond ingin mengambil ponsel dari tangan Ayya, tapi gadis itu menjauhkan tangannya ke belakang.


"Minggir, aku mau turun," Ayya tersenyum manis menyuruh Delmond pergi dari ambang pintu mobil yang menghalangi jalannya untuk keluar.


Delmond menyingkir dan gadis itu langsung turun dari mobil.


"Aku pergi dulu ya," pamit Ayya tersenyum dan berlari kembali masuk ke dalam kampus.


Ia buru-buru mencari ponselnya yang di pegang gadis itu tadi, "Gadis itu!" Kesal Delmond.


 Ternyata Ayya menukar ponsel mereka berdua. Delmond hanya bisa mendengus dan kembali masuk ke dalam mobil dan menjalankan mobilnya.


,,,

__ADS_1


Di lain tempat. Tampak Adam yang sedang duduk bersama salah satu sahabatnya dulu yang sering menghabiskan waktu bersamanya di Club milik Adam, sebelum laki-laki itu menjual Clubnya.


"Ada apa kau ingin sekali bertemu dengan ku? Aku kira kau begitu sibuk dengan urusanmu selama ini," kata Papa Adam pada sahabatnya itu.


"Iya, aku memang sangat sibuk, tapi demi putraku, aku rela datang kemari untuk membicarakan tentang putraku padamu," jawab Nabhan.


Mengerut, "Kenapa dengan putra mu? Dia sudah selesai kuliah? Mau magang di kantorku?" tebak Adam asal.


"CK, bagaimana putraku mau magang di kantormu, kau kan tahu jika putraku mengambil fakultas hukum,"


"Lalu, apa tujuanmu?" Adam meminum kopinya


"Aku berniat ingin mempersunting putri mu saat mereka lulus kuliah nanti, dan sekarang aku berniat ingin mengikat putri cantikmu itu," kata Nabhan menyampaikan niatnya.


Adam terdiam sejenak mendengar niat baik sahabatnya. Menarik nafas berat, "Kau kan tahu, putriku baru saja bercerai dengan suami bejatnya itu, aku tidak yakin jika putri ku mau,"


"Kau bisa membujuknya, Adam... putra ku sangat tertarik dengan putri mu,"

__ADS_1


Adam mempertimbangkan permintaan Nabhan. Adam tak tahu jika sebenarnya Ayya putrinya menyukai Delmond, laki-laki yang pernah menyelamatkan putri satu-satunya itu.


Kebetulan Adam juga menyukai putra Nabhan yang sangat baik dan sopan pada kedua orang tuanya. Apa lagi pria itu sangat taat beribadah.


__ADS_2