Mencintai Pria Buronan Bandar Narkoba

Mencintai Pria Buronan Bandar Narkoba
Tidak!


__ADS_3

Boom!


Boom!


Boom!


Suara ledakan bergema di mana-mana dan menghancurkan tempat persembunyian Delmond.


Red mencari keberadaan Delmond yang tiba-tiba saja menghilang entah kemana. Pria itu sangat marah dan geram karena merasa usahanya selama bertahun-tahun lamanya, hanya sia-sia.


Para polisi juga sudah mengerahkan pasukannya untuk mencari keberadaan Delmond. Tapi tetap saja nihil, mereka tidak bisa menemukan pria itu.


,,,


Ayya tercengang dengan bola mata tertuju pada layar televisi yang menampilkan markas Delmond hancur lebur. Di mana tempat itu sempat ia tinggali sebelumnya untuk berlindung dari mantan suami bejatnya.


Tampak banyak reporter yang turun padang menyaksikan langsung tempat persembuyian bandar narkoba yang cukup terkenal di kalangan masyarakat.


Di mana-mana saat ini sedang membahas tentang Bos Delmond yang melarikan diri semalam dan belum di temukan sampai detik ini juga.

__ADS_1


Gadis itu kembali berlari naik ke lantai atas dengan air mata yang membasahi kedua pipi chubby-nya. Ayya menuju kamar mencari ponsel Delmond yang terlupa ia bawa.


"Putri kita, mana sayang?" Tanya Adam pada Mama Dara karena tak melihat putrinya di bawah. Padahal sebentar lagi gadis itu akan berangkat ke kampus.


"Tadi aku liat dia kembali ke atas, Mas. Mungkin dia melupakan sesuatu, Mas." Jawab Dara melangkah ke dapur.


Arkan menyusul ke kamar adiknya saat melihat wajah panik gadis itu tadi. Arkan tahu pasti adiknya sedang khawatir tentang keberadaan Bos Delmond.


"Ayya." Panggil Arkan pada adiknya yang berdiri sambil mondar mandir berusaha meghubungi nomor ponselnya yang ada pada Delmond.


Gadis itu tak mendengar suara kakaknya yang sedang memanggilnya.


"Kak, aku takut terjadi sesuatu padanya, kak. Aku mencintainya... Ayya tidak ingin dia kenapa-kenapa." Kata gadis itu berlinangan air mata.


Ia tak peduli meski kakaknya berpikir apa yang sedang ia bicarakan. Karena Ayya tak tahu jika sebenarnya Arkan sudah mengetahui tentang perasaannya pada Delmond.


Arkan memegang tangan adiknya, ia berusaha menenangkan gadis itu.


"Tenang dulu, dek. Semua akan baik-baik saja, dia lebih tahu apa yang akan dia lakukan," ujar Arkan menenangkan.

__ADS_1


Ayya menatap sang kakak, "Apa yang kakak bicarakan? Apa kakak tahu tentang perasaanku? dan siapa yang aku maksud barusan?" Tanya Ayya menggenggam erat ponsel yang berada di tangannya.


Mengangguk, "Tentu saja kakak tahu perasaanmu, dan siapa laki-laki yang khawatirkan itu. Kakak sudah tahu tentang perasaanmu pada Bos Delmond. Tapi kakak sengaja tidak pernah membahasnya padamu," Ucap Arkan mengusap air mata Ayya.


"Dek, tidak ada yang tahu seperti apa dalamnya perasaan seseorang itu pada orang yang dia cintai, melainkan dirinya sendiri dan juga maha kuasa. Tapi kakak mohon, lupakan dia. Dia bukan laki-laki yang bisa menjadi masa depanmu. Bos Delmond mempunyai banyak sekali riwayat kehidupan yang kelam. Kau akan terluka jika kau masih membiarkan rasa dalam hatimu semangkin berkembang, lupakan dia. Kau punya masa depan yang lebih cerah, dek. Perasaan akan pudar dengan sendirinya seiring berjalannya waktu. Kau tidak memiliki masa depan jika bersama dengan Bos Delmond," kata Arkan pada Ayya. Ia sadar jika perkataannya itu sangat egois dan akan melukai perasaan adik kesayangannya. Tapi dia harus bisa membuat adiknya untuk melupakan Delmond, sebelum gadis itu terluka lebih dalam lagi.


Ayya menggeleng keras dan berjalan mundur menjauhi kakaknya, "Tidak, kak! Tidak! kakak salah! Aku mencintainya! Meski waktuku habis dan nafas ku berhenti, tapi cintaku padanya tak kan pernah habis dan berhenti, apa lagi sampai memudar! Tidak akan, kak. Tidak ada siapapun yang bisa menghalangi perasaan cintaku padanya! Tidak ada, kak! Meski aku harus menghabiskan sisa hidupku tanpa di dampingi oleh siapapun, aku sanggup, kak! Aku mencintainya. Dan akan tetep mencintainya! Meski tubuhku sudah hancur di telan tanah, tapi cintaku tidak akan pudar di telan waktu!" Seru Ayya membalik badan dan berlari turun kebawah.


Beruntung Papa Adam dan Mama Dara tak melihat putrinya yang di banjiri air mata sambil berlari keluar Villa.


Gadis itu mengambil mobil di garasi, dan langsung mengemudi mobil tersebut tanpa di temani supir.


Ini pertama kali gadis itu mengemudi tanpa ada yang menemani. Karena Ayya belum terlalu pas menyetir mobil.


Gadis itu tidak ke kampus. Tapi ia berusaha mencari keberadaan Delmond yang entah di mana, Ayya hanya mengemudi mengikuti gerak hatinya tanpa peduli kemana gerakan hati akan membawanya.


Mengetahui jika Ayya ternyata mengemudi sendiri. Arkan mengambil motor sport miliknya dan berusaha mengejar mobil adiknya. Ia khawatir terjadi sesuatu pada gadis itu.


"Bodoh! Bodoh! Bodoh! Kenapa aku mengeluarkan kata-kata seperti itu tadi, seharusnya aku tidak mengeluarkan kata-kata yang membuat dia akan bertindak nekat. Mudah-mudahan Papa sama Mama tidak menyadari semua kekacauan ini." Ucap Arkan menyesali ucapannya pada adiknya. Padahal dia tahu jika Ayya sangat mencintai Delmond, seharusnya dia tidak mengeluarkan kata-kata yang akan membuat gadis itu bertambah terpuruk.

__ADS_1


__ADS_2