
Sepulang sekolah Keren terus di kamarnya nggak mau keluar kamar sama sekali, rasanya ia ingin kabur saat itu juga.
Keren awalnya ingin mengikuti langkah Nesya dan Euginno ke apartemen Keren tetapi orang tua Keren sendiri yang menjemputnya ke sekolah.
Keren terus menggerutu di dalam kamarnya, gadis itu tak akan membiarkan hidupnya hancur, ia terus memikirkan bagaimana caranya agar bisa keluar dari masalah yang kini tengah melanda hidupnya. Keren pun menjatuhkan dirinya di atas ranjang dengan menghela nafas berat.
"Apa yang akan terjadi malam ini? Apakah hidupku akan benar-benar hancur? Kebebasan hidupku akan direnggut dengan paksa bukan karena orang lain tapi dari keluarga ku sendiri" ucap Keren dengan bola kristal yang turun secara pelan dari mata indahnya.
"Papa, Mama kenapa kalian sekejam ini padaku? Apakah Aku bukan anak kalian? Kenapa kalian jahat padaku? Kalian sungguh nggak sayang lagi sama Aku? Kalian jahat!" Teriak Keren dengan sangat keras.
Terdengar suara pintu yang terbuka, seorang lelaki paruh baya masuk ke dalam kamar Keren kemudian menghampirinya. Gadis itu pun langsung berdiri dari ranjangnya dan mulai berjalan ke arah balkon kamarnya.
"Papa dan Mama jahat! Kalian sangatlah jahat, kalian sungguh nggak sayang lagi dengan Keren?" seru Keren dengan air mata yang mengalir pelan dari mata indahnya dan mengerucutkan bibirnya.
"Keren ini anak Papa dan Mama, Keren ini bukan tahanan yang harus di pantau 24 jam" sambungnya lagi dengan nada bicara yang meninggi.
Mendengar semua kalimat yang diucapkan oleh anaknya, membuat lelaki paruh baya itu pun mulai beranjak mendekati Keren dan mengusap lembut puncak kepala anak gadisnya itu. Namun, Keren segera menepis tangan lelaki paruh baya yang ia panggil Papa itu.
"Keren, Papa dan Mama melakukan semua ini demi kamu nak, semua untuk kamu. Mau sampai kapan kamu akan terus hidup seperti ini? Hidup yang tanpa arah dan tujuan sama sekali. Papa dan Mama ini nggak bisa selamanya ada bersama denganmu nak, menemani kamu. Papa dan Mama hanya ingin melihatmu bahagia nak." Ucap Papanya menjelaskan maksud dan tujuan mereka melakukan semua ini pada Keren.
"Bahagia? Ini cara Papa dan Mama ingin membuatku bahagia? Bahagia yang ku inginkan hanya simple Pa, bahagia yang ku inginkan hanya ada bersama-sama dengan Papa dan Mama, melakukan segala sesuatu bersama-sama. Bukan cara seperti ini Pa, ini bukan caranya sama sekali." Ucap Keren dengan tatapan mengejek Papanya.
"Keren ingin bebas, ingin menikmati masa muda Keren Pa. Pa Keren benar-benar nggak mau Papa untuk dijodohkan, Papa tolong Keren Pa. Sumpah Papa pokoknya Keren nggak setuju sama sekali." Ucapnya lagi dengan mulai bersuara keras hingga jatuh dan berlutut di depan Papanya.
"Papa kesini bukan untuk meminta persetujuan kamu, tapi Papa ingin memberitahu kamu kalau malam ini akan ada tamu yang penting. Papa harap kamu bisa dandan yang cantik" ucap Papanya yang kekeuh dengan keputusannya.
"No Papa No, Keren nggak mau Pa" teriak Keren dengan sangat keras.
Air mata mengucur deras keluar dari mata indah Keren membasahi pipinya. Mau memohon sampai mulut ini berbusa pun lelaki paruh baya itu tidak akan pernah merubah keputusannya.
"Apa benar Keren ini anak Papa dan Mama? Apa kalian ingin menjualku?" Tanyanya dengan menahan tangisannya.
__ADS_1
"Mana mungkin Papa menjual anak Papa sendiri? Sayang, Papa hanya mau mengenalkan kamu pada calon suami kamu. Papa dan Mama hanya ingin memberikan yang terbaik untukmu." Ucap Papa Keren menenangkan dengan mengusap pipi anaknya yang masih menangis sesenggukan.
"Pa, tapi Keren belum mau menikah Papa. Keren mohon sama Papa" ucap Keren yang menangis dengan pilu.
"Kamu akan siap sayang jika kamu sudah menjalaninya, dari dulu Papa dan Mama tidak pernah meminta apapun dari kamu nak. Hanya ini permintaan kami, Papa harap kamu tidak akan membatalkannya." Ucapnya kemudian berjalan meninggalkan kamar Keren.
"Papaaaaa, Keren mohon papa jangan perlakukan Keren seperti ini! Papaaaaaaaa" teriak Keren dengan keras namun tak dipedulikan oleh Papanya.
Mario keluar kamar kemudian mengunci Keren dari luar, agar Keren tidak bisa kabur hingga acara perjodohan ini selesai.
"Papa kamu dari mana saja? Aku mencarimu dari tadi, di depan banyak seserahan dari Kel. Gonzales untuk kita Pa" Ucap Mery yang melihat suaminya berjalan turun dari tangga.
"Apa Keren mau Pa?" tanyanya lagi dengan hati-hati karena ia tahu suasana hati suaminya saat ini tidak begitu membaik.
"Aku mau ke ruang kerja ku dulu, kamu urus semuanya ya" Ucap Mario yang tidak menggubris ucapan-ucapan istrinya.
"Baiklah Pa kamu istirahat yang cukup ya, tenangkan pikiranmu" ucap Mery dengan memutar mata jengah dengan kelakuan anak tirinya itu.
"Sedikit demi sedikit, aku akan menjadi lebih kaya raya apalagi ditambah dengan Kel Gonzales yang akan menjadi besan dengan Kel ini" Batin Mery dengan senyuman yang licik.
"Maafin aku Sarah, aku sungguh nggak becus membesarkan anak kita. Aku hanya ingin memilih yang terbaik untuknya Sarah." Ucap Mario sambil melihat foto almarhumah istrinya yang ia ambil dari laci meja kerjanya.
"Ku harap kamu juga setuju dengan lelaki pilihanku ini untuk Keren, hatiku begitu sakit Sarah saat mendengar semua ucapan Keren tadi" ucapnya lagi dengan memeluk foto Sarah dengan erat.
"Keputusan ini sudah benar, Keren sudah cukup umur untuk menikah meski ia masih sekolah namun sedikit lagi akan lulus sekolah. Aku nggak akan pernah menundanya lagi. Pemuda ini pun sangat mapan, meski masih duduk di bangku sekolah yang sama dengan Keren tapi ketika lulus nanti ia langsung memegang andil salah satu perusahaan cabang milik ayahnya, dia pun berasal dari keluarga terpandang. Aku sangat yakin Keren pasti akan bahagia dengan pemuda pilihanku ini."
Setelah satu jam berlalu Mario pun berdiri dari kursinya dan menaruh kembali foto mendiang istrinya di tempat semula kemudian berjalan menuju kamarnya untuk bersiap-siap dan menunggu tamu penting yang akan segera datang.
"Mery panggilah Keren untuk turun karena sedikit lagi kita akan bertemu dengan keluarga calon suaminya" perintah Mario pada Mery yang sedang merapikan Jas yang digunakan Mario saat itu.
"Baiklah, aku akan ke atas memanggil Keren" ucap Mery yang tak sabar dengan kedatangan calon besannya tersebut.
__ADS_1
Mery yang segera membuka pintu kamar Keren seketika syok dan frustasi melihat keadaan anak tirinya itu yang bukannya bersiap-siap dengan dandanan yang cantik malah memakai baju seadanya dengan rambut yang masih acak-acakan serta mata yang membengkak karena menangis.
"Kerennnnn apa maksudnya semua ini? Kamu ingin membuat keluarga kita malu ha?" teriak Mery yang langsung emosi melihat perbuatan Keren.
"Malu? Ngapain juga aku harus berdandan? Aku nggak akan keluar dari kamar ini sama sekali kalau Mama mau, ya sudah mama saja yang menikah dengan orang itu" sahut Keren dingin pada Mama tirinya yang memang tidak menyukainya dari awal.
"Apa kamu bilang? Kamu mau aku laporin semua ini pada papamu?" ucapnya lagi yang sangat emosi dengan jawaban anak tirinya itu.
"Silahkan saja Keren nggak peduli sama sekali" tantang Keren lagi.
"Dasar anak nggak tahu di untung" ucap Mery yang langsung pergi dari kamar Keren.
"Ada apa kenapa kamu berteriak-teriak?" tanya Mario yang kaget mendengar suara istrinya.
"Kamu lihat sendiri perbuatan anakmu, bisa darah tinggi aku menghadapi anakmu itu" ucap Mery yang langsung berjalan pergi ke kamarnya.
Mario pun naik ke kamar Keren dan tanggapannya pun sama dengan Mery saat melihat keadaan Keren. Mario pun mengerang frustasi dengan sifat pembangkang anak semata wayangnya itu, padahal dulu sifat Keren nggak seperti ini.
"Papa nggak mau tahu, papa kasi kamu waktu 1 jam untuk berdandan. Jika kamu belum juga untuk berdandan, sungguh papa tidak akan mentolerir lagi sifat kamu selama ini Keren Clarista" Ancam Mario dengan penuh penekanan.
"Papa akan tunggu 1 jam diluar kamar kamu, Papa tidak akan main-main dengan ucapan Papa kali ini Keren, ingat kamu sudah harus keluar dengan dandanan yang Papa minta"
Lelaki itu pun keluar dari kamar anak gadisnya, ia menengok kebelakang menatap anak gadisnya yang tidak bergeming sama sekali dari posisinya semula.
Keren pun meski gak suka dengan semuanya, ia tetap mengikuti keinginan papanya.
Selang 1 jam pun kamar Keren tiba-tiba terbuka dan keluar dengan dandanan sangat cantik, ia juga menggunakan baju yang dulu dipilih mamanya sebelum meninggal yang masih sangat pas di tubuhnya.
"Kamu sangat cantik sayang sama seperti mendiang mama kamu" ucap Mario yang melihat ke arah Keren yang begitu cantik dengan dandanannya.
"Tuan tamunya sudah datang tuan, nyonya sudah menunggu tuan di bawah" ucap pelayan yang diminta Mery untuk memanggil suami dan anaknya.
__ADS_1
Jangan lupa untuk vote, koment dan like ya guyss makasih.