Mengutang Dapat Tunangan?

Mengutang Dapat Tunangan?
Perempuan Itu Mengerikan.


__ADS_3

(Pagi hari)


"Nee Izu kun. Bangunlah kita akan telat loh."


Aku pura pura tidur dan berharap Haru chan segera pergi dari atasku. Dia seakan akan memaksaku untuk bangun padahal masih 06:00 AM.


"Jika tidak bangun, ku-kucium loh."


• • •


"Eh? Tidak bangun juga. Be-beneran kucium ya."


Saat bibir Haru chan mendekat disitulah aku memutuskan untuk bangun. Rasanya jantungku mau berhenti berdetak. Sial ini agak aneh, tidak biasanya dia seperti ini.


"Haru chan, ada apa? Apa kamu baik baik saja?"


"Eh? Ti-tidak apa apa kok. Aku baik baik saja."


"Beneran? Apa kamu sakit?"


Aku mendekatkan keningku dekat Haru chan. Saat aku menyentuh keningnya, aku tidak merasakan adanya tanda tanda demam. Tapi kok semakin lama semakin panas.


"Ha-haru chan apa kamu benar baik baik saja?"


"I-iya."


Haru chan langsung mundur. Saat aku melihat wajahnya, merah seperti apel. Manisnya...


Kami keluar kamar dan melihat Airi chan sedang menyiapkan makanan.


"Hari ini menunya pasta ya. Makanlah dengan perlahan." (Airi)


"Terimakasih Airi chan, maaf aku tidak membantu." (Izumi)


"Tidak apa apa. Lagian aku juga dibangunin saat subuh oleh seseorang." (Airi)


"Ya-yah maaf. Aku hanya ingin kamu membantuku memasak." (Harumi)


"Ja-jadi kamu yang memasak Haru chan?" (Izumi)


"I-iya semoga kamu menyukainya ya." (Harumi)


Aku melihat jari jarinya penuh dengan plester. Dia pasti bekerja keras.


Aku duduk dan mengambil garpu disebelah tanganku. Aku melihat pasta yang sudah dimasak dari awal. Bentuknya masih sedikit tebal namun saat kumasukkan ke mulutku rasanya rempah dan sausnya benar benar enak.


"Ini enak sekali Haru chan. Terimakasih."


"Se-senang kamu menyukainya Izu kun."


*ding dong


Disaat kami sarapan, bel rumah kami berbunyi. Akupun bergegas membukakan pintu dan disana ada Eimi san yang sudah menunggu.


"Selamat pagi Eimi san."

__ADS_1


"Pagi Izumi kun."


"Silahkan masuk."


Aku mempersilahkan masuk Eimi san. Tiba tiba dia berlari ke kamar sambil mengendus endus sesuatu.


"Hei, Izumi kun. Aku mencium bau aroma perempuan selain bau Harumi disini."


Eimi san berlari kearah dapur.


Dia mengambil pisau dan memegangnya dengan pose pembunuh.


"A-ah itu pasti bau parfum Chisato yang tertinggal. Kema---."


Tiba tiba Eimi san menusuk dinding di sebelah kepalaku. Mengerikan. Sumpah ngeri banget. Aku ingin melihat apakah daun telingaku benar benar belum terpotong.


"Hei, siapa Chisato itu? Apa kamu selingkuh?"


"I-itu..."


"Itu teman oneechan kemarin berkunjung."


"Eh?"


Setelah Airi mengatakan itu, Eimi san mulai meletakkan kembali pisau nya dan mendekati Airi.


"Bisakah kamu menjelaskan semuanya? Mari kita dengarkan sambil makan."


"Ah makan saja bagianku Eimi san."


"Terimakasih Izumi kun. Namun sebaiknya itu kuberikan kepada perempuan yang disana itu."


"I-iya kupikir juga begitu."


"Ah jadi begitu ceritanya. Maaf sudah salah paham Izumi kun."


"Iya tidak apa apa. Aku justru senang melihat orang tua sepertimu mengkhawatirkan anaknya."


"Ah maaf."


Apa yang kulihat tadi air mata? Kenapa Eimi san menangis? Apa aku melakukan kesalahan?


"Akhirnya ya Harumi. Kamu mendapatkan nya."


"Iya, itu semua berkat Izu kun juga."


Eh? Apa hanya aku yang tidak mengerti situasi ini?


"Maksudnya teman loh Izumi san. Onee chan tidak pernah punya teman bahkan sampai berkunjung ke rumahnya dan itu adalah pertama kalinya."


"O-oh syukurlah ya."


"Iya terimakasih Izumi san."


"Bukan apa apa. Itu juga berkat usaha Haru chan juga."

__ADS_1


Kami mengobrol sepanjang waktu tentang Yuuta dan Chisato. Wajah mereka tampak bahagia sekali. Cukup untuk membuatku rindu dengan orang tuaku.


Setelah mengobrol, aku mencuci piring bekas sarapan. Saat itulah alarmku berbunyi yang berarti sudah masuk jam 07:00AM. Itu adalah waktunya aku dan Haru chan ke sekolah. Namun saat itu juga kami harus berpisah dengan Airi chan.


"Terimakasih untuk dua harinya. Tolong jaga oneechan ya Izumi san."


"Terimakasih juga bantuanmu Airi chan. Datanglah lagi lain waktu."


Aku memberikan duplikat kunci pintu kami kepada Airi chan.


"Rumah kami selalu terbuka untukmu Ai chan."


"Terimakasih. Kalau begitu aku pergi dulu ya."


"Sampai jumpa lagi."


Mobil Eimi san pergi menjauh dan mulai menghilang dari pandanganku. Jujur awalnya aku sangat sulit menerima Airi chan namun kepergian nya agak membuatku sedih.


"Jadi, ayo kita berangkat Haru chan."


"Baiklah."


Kami sampai di sekolah lebih cepat dari kemarin. Jadi sebelum bel pelajaran berbunyi aku dan Haru chan mengobrol dengan pasangan tolol dikelas.


"Datang cepat hari ini Izumi."


"Apa kamu menggendong Harumi chan lagi?"


"Berisik. Sudah hentikan itu."


Belum apa apa sudah digoda dan apa apaan itu? Kenapa Chisato bisa tau? Sialan kamu Yuuta.


"Nee Izumi. Apa kamu masih penasaran dengan penguntit yang kamu ceritakan dulu?"


"Hah? Sebentar kuingat dulu."


Penguntit ya? Ah aku ingat saat di GOR.


"Aku ingat, yang di GOR itu kan?"


"Yups, apa kamu masih penasaran siapa orangnya?"


"Tentu saja. Aku bahkan belum berterimakasih kepadanya. Ia selalu membawakanku botol minum dan handuk. Bahkan saat aku ke toilet sebentar, bola yang awalnya berserakan sudah terkumpul di tempatnya."


"Heee, jika kamu ingin tahu datanglah ke tempat biasa saat jam makan siang nanti. Oh iya, bawakan 1000 yen ya sebagai bayaran informasi."


"Hah? Tunggu kenapa kalian bisa tau?"


*kringg


"Ah sudah bel, kalau begitu sampai jumpa."


"Sial, segalanya sesuai rencanamu ya."


Saat aku kembali ke tempat duduk. Haru chan tampak menutupi mulutnya. Sepertinya dia bergumam sesuatu.

__ADS_1


__ADS_2