Mengutang Dapat Tunangan?

Mengutang Dapat Tunangan?
Selanjutnya


__ADS_3

Setelah kami keluar dari cafe yang tenang. Kami pergi ke lantai 2 yang berisikan toko toko yang menjual pakaian dan alat alat kosmetik.


"Haru chan, karena sudah disini apa kamu tidak ingin melihat kosmetik yang sedang populer?"


"Hmm? Aku tidak pernah memakai kosmetik sama sekali loh."


"Eh, kamu bercanda kan?"


"Tidak, ini sungguhan tau. Wajahku, kulitku, tubuhku itu alami dari awalnya."


Apakah ini yang disebut ketidakadilan gen? Aku yakin perempuan diluar sana yang mendengar perkataannya tadi tidak akan percaya.


"Ba-bagaimana kalau kamu mencobanya?... Namun sebaiknya tidak deh."


"Kenapa begitu?"


"Ya-yah kudengar jika kulit seseorang tidak cocok dengan kosmetik yang dipakai justru menimbulkan dampak buruk bagi kulit kita. Ka-karena kamu sudah begitu, kupikir tidak perlu lagi memakai nya."


"Begitu?"


"Yah begitu, maksudku. Ka-kamu sudah terlihat cantik dan imut jadi untuk apa memakainya lagi?"


"Oo-oh i-itu maksudnya."


Kami berdua saling memalingkan wajah malu. Kenapa aku bisa mengatakan itu? Aku sendiri juga tidak tau jawabannya.


"A-ano, ayo kita berjalan ke toko baju di sana."


"I-iya ide bagus."


Tiba tiba Haru chan memberikan tangannya.


"Kali ini kita akan berjalan berdampingan oke?"


"Ba-baiklah kalau itu maumu."


Aku memegang tangan Haru chan dan kami mulai berjalan berdampingan layaknya pasangan asli. Namun ada yang kusesali disini. Aku dapat merasakan rasa iri dan dengki laki-laki lain yang melihat kami seperti ini.


Akhirnya kami sampai di toko baju pertama. Aku tidak keberatan mencoba beberapa set baju namun...


"Nee Izu kun coba yang ini. Ah yang ini juga dan disana juga."


"Emm, etto Haru chan."

__ADS_1


"Ada apa?"


"Bukankah lebih baik kita mencoba salah satu saja lalu membeli nya?"


"Awalnya aku juga menginginkan seperti itu, namun setelah melihat baju baju disini, aku ingin melihat Izu kun memakai semuanya."


Oi oi, jika seperti itu kemungkinan kita akan disuruh membayar semuanya loh. Petugas bahkan memperhatikan kami sejak tadi.


"Baiklah, silahkan pilihlah sesuka hatimu namun jangan lebih dari 3 set ya."


"Eeehhh, itu terlalu sedikitt."


Kumohon jangan membuat wajah sedih seperti itu.


"Ba-baiklah 4 set deh."


"Fufufu oke siap Izu kun."


Awalnya sih sudah kubilang 4 set pakaian saja. Namun kenapa dia membawakan satu keranjang penuh?


"A-apa aku harus memakai ini semua Haru chan?"


*tersenyum*


*dua jam kemudian


Setelah berganti pakaian sebanyak 10 kali, akhirnya berakhir juga. Tetapi, kenapa Haru chan tampan bingung.


"Haru chan, ada apa? Apa ada yang salah?"


"Aku jadi bingung yang mana harus kubeli. Semua tampak keren saat dikenakan olehmu Izu kun."


Tunggu, jangan jangan dia akan...


"Kalau begitu beli semua aja sekalian."


"JANGAN!"


"Ha? Kenapa? Bukankah semua cocok untukmu?"


"I-iya, eh entahlah aku tidak tau. Namun jika kamu membeli semua maka keuangan kita..."


Haru chan mengeluarkan ATM hitam. Aku yakin itu punya orang tuanya.

__ADS_1


"Tetap jangan Haru chan, aku bukanlah orang yang menghamburkan uang hanya untuk hal seperti ini."


"Begitu ya..."


Dia menundukkan kepala dengan ekspresi cemberut. Aku selalu dikalahkan oleh ekspresi nya ini, namun ini tetap tidak benar.


"Bukankah menggunakan uang secara bijak termasuk pelajaran berharga bagi seorang i-istri?"


Setelah aku mengatakan itu, Haru chan mulai mengangkat kepalanya. Matanya tampak bersinar kembali.


"Kalau begitu kita beli yang paling cocok saja oke?"


"Kalau begitu aku setuju."


Aku mengambil hoodie hitam, syal dan sarung tangan. Kenapa? Jujur saja aku lebih memilih mempersiapkan pakaian untuk musim dingin nanti dibanding sekarang.


"Terimakasih telah berbelanja."


[Sudut pandang Akane Harumi]


Dia bahkan tidak mengambil kaos ataupun kemeja di keranjang tadi. Selain itu, semua yang dibelinya khusus untuk musim dingin. Ia benar benar mengangumkan. Tetapi dengan ini kencannya berakhir yah.


"Ada apa Haru chan?"


"Eh, tidak ada apa apa."


"Hmm, entah kenapa aku merasakan sedikit kesedihan tadi. Apa hanya perasaanku ya?"


"Ahaha, iya mungkin hanya perasaanmu."


Apa-apaan tadi? Izu kun sangat peka? Aku bahkan tidak berekspresi sedikitpun.


"Yah selanjutnya kita akan kemana ya?"


"Selanjutnya?"


Aku tampak bingung mendengar kata selanjutnya. Padahal kan hari sudah menjelang malam. Tidak mungkin bagi kita melanjutkan kencannya kan.


"Maksudku minggu depan, apa kamu tidak akan merayakan nya lagi?"


"Eh?"


Dia benar benar mengira aku akan merayakannya minggu. Jadi, Izu kun bisa jadi polos juga ya.

__ADS_1


"Iya, dan minggu selanjutnya dan selanjutnya."


__ADS_2