Mengutang Dapat Tunangan?

Mengutang Dapat Tunangan?
Dadaku Kurang Besar ya?


__ADS_3

"Hei hei Izumi Yuuta kemari cepat."


Orang yang memanggilku dan Yuuta adalah Tsukasa. Dia laki laki yang terlihat jantan, keren dan pintar. Namun itu hanya luarnya saja, kalau dalamnya.


"Lihatlah, barusan aku bikin nominasi ukuran dada wanita di kelas kita."


Yap dia adalah seorang laki laki yang penuh hasrat dan nafsu. Tidak lebih tepatnya dia orang mesum.


"Lihat hasilnya. Antara Akane san dan Hana san, mana diantara mereka yang lebih besar?" (Tsukasa)


"Oi jika kamu ngomong sekeras itu, kamu akan ketauan loh." (Izumi)


"Bener tuh, lagipula bukankah jelas punya Chi chan lebih besar?" (Yuuta)


Hah? Bicara apa dia ini? Kenapa dia malah mengikuti arus yang dibuat Tsukasa. Dan juga jangan bicara seakan kamu tau ukuran Haru chan lebih kecil brengsek.


"Yah luarnya memang terlihat seperti itu sih." (Tsukasa)


"Kan? Kan? Chi chan memang yang terbaik." (Yuuta)


"Tapi bukan hanya itu yang dilihat, mungkin Hana san memang terbesar namun bentuknya tidak seindah Akane san disana." (Tsukasa)


"Hah? Apa maksudmu sih?" (Yuuta)


"Maksudku, jika hanya modal besar saja itu hanyalah sebatas gumpalan lemak yang bisa dijadikan bantalan." (Tsukasa)


Oi oi habislah kau Tsukasa. Jika kamu bicara seperti itu, maka...


"Jadi mau mati kaya gimana?" (Yuuta)


Kan sudah kuduga dia akan begini. Namun yang ku permasalahkan disini, darimana dia dapat penggaris kayu sebesar itu? Kamu bisa beneran membunuhnya loh.

__ADS_1


"Eh eh, tenanglah Yuuta. Aku bercanda oke, lagipula ukuran memang yang terpenting kan. Jika bentuknya bagus namun kecil tetap tidak menarik kan." (Tsukasa)


Hah? Apa katamu brengsek? Kamu menyinggung Haru chan kan?


Aku mengambil penggaris kayu dari tangan Yuuta dan mengambil ancang-ancang membunuh.


"Mau dikuburin dimana?"


"Lah kok kamu ikutan marah juga Izumi? Kan aku..."


"Karena kasihan, kuhajar aja deh..."


Aku langsung menyabet tubuh Tsukasa dengan penggaris. Meskipun sudah kulemahkan ku yakin itu tetap sakit. Aku melakukannya bergantian dengan Yuuta sampai bel masuk berbunyi.


Setelah bel berbunyi, aku pergi ke tempat dudukku. Aku dapat melihat wajah bonyok milik Tsukasa.


"Semoga kamu tenang di alam sana brengsek."


*kriiingg


Setelah belajar berjam jam akhirnya bel pulang berbunyi. Namun tidak kutemukan sebab kenapa Haru chan diam saja dari pagi? Apa aku melakukan kesalahan?


Sembari memikirkan itu, Haru chan mulai mempercepat langkah. Dia bergegas menuju gerbang keluar. Akupun memutuskan mengikutinya.


"Anoo Haru chan. Kamu tidak apa apa?"


Aku diabaikan. Pertama kalinya aku diabaikan tanpa tau sebabnya.


Haru chan mulai berlari dan meninggalkanku. Namun dengan cepat aku menarik tangannya.


"Haru chan. Jika... Jika ada yang salah ceritakanlah padaku. Kumohon."

__ADS_1


Haru chan mulai berhenti dan berbalik. Aku melihat matanya yang berkaca kaca. Senyum di wajahnya juga tidak tampak sedikitpun.


"Haru chan, ada apa?"


"Ta-tadi di sekolah aku mendengar percakapan kalian."


Hmm? Percakapan kalian? Apa jangan jangan..


"Yang bersama Tsukasa?"


"Iyah. Kudengar kamu menyukai perempuan yang memiliki dada yang besar seperti chisato san. Apa milikku kurang besar untukmu Izu kun?"


Oi pertanyaan gila macam apa itu? Jika orang mendengar ini pasti aku dikira orang gila mesum yang mengejar ngejar anak SMA.


"Ti-tidak Haru chan. Kami hanya bercanda canda kok tadi itu."


"Tapi tetap saja kan, lelaki menyukai yang lebih besar."


"Ya-yah aku tidak akan menyangkal juga sih."


"Tuh kan? Mouu, sudahlah aku akan pergi pulang."


Haru chan melepaskan tangan nya dariku. Dia bergegas menjauh dariku. Tapi aku langsung memeluknya dari belakang.


"Haru chan. Mungkin memang benar aku menyukai yang lebih besar. Namun milikmu itulah yang terbaik. Aku paling menyukai tubuhmu dibandingkan siapapun di dunia ini. Seperti yang kamu katakan, meskipun diluar aku nampak menolak, tetapi di dalamnya aku begitu jujur. Jadi kumohon jangan bersedih oke?"


"Izu kun... Terimakasih atas kejujuran mu. Aku Akane Harumi ini pasti akan menjadi milikmu di masa depan. Jadi jangan selingkuh ya."


"Aku akan mati jika selingkuh kan."


"Hahaha tentu saja."

__ADS_1


Meskipun hanya candaan, aku dapat merasakan keseriusan yang tersembunyi.


__ADS_2