Mengutang Dapat Tunangan?

Mengutang Dapat Tunangan?
Sakit


__ADS_3

Sudah seminggu Haru chan menjadi manager. Ia mengerjakan tugas tugasnya dengan baik dan benar. Semua anggota tim juga senang dengan kinerjanya. Tapi, kurasa akhir akhir ini dia bekerja terlalu keras. Bahkan minggu ini untuk pertama kalinya kami tidak berkencan.


"Ahh, baru kali ini aku ingin melakukan itu lagi."


"Hmm? Itu?"


"Ah tidak lupakan lupakan."


"Hmmm? Apa jangan jangan..."


"Kumohon lupakan sajaaa."


"Yah karena minggu ini kita belum melakukannya bagaimana jika kita lakukan hari ini?"


"Tapi kita kan sekolah."


"Aku tau, jadi kita akan melakukannya di sekolah."


Eh? Kamu bercanda kan? Jika ketauan, aku akan jadi buronan terkenal di Tokyo loh.


"Yah, mari kita bergegas ke sekolah!"


"... Haru chan. Apa kamu kurang sehat hari ini?"


"Eh? Ngga kok aku baik baik saja. Aku akan meletakkan piring kotor ke wastafel dulu oke?"


Saat Haru chan berjalan, dia tampak sempoyongan. Tiba tiba suara piring pecah terdengar dari dapur.


*tarrr


Aku langsung lari ke dapur. Disana aku menemukan Haru chan dengan wajah pucat nya memunguti pecahan piring yang jatuh. Tangannya bahkan tidak terlihat memiliki kekuatan sedikitpun.


Akupun berlari menuju kearahnya.


"Haru chan, sudah kuduga kamu sakit kan."


"Ti-tidak, aku baik baik saja oke?"


Aku menempelkan dahiku ke dahinya. Aku merasakan panas berlebihan di dahi Haru chan. Sudah kuduga dia kena demam.


"A-anoo Izu kun."


Saat aku membuka mata, wajah Haru chan tampak begitu dekat dengan wajahku.


"Wuahh... Maaf Haru chan."


"Tidak tidak kamu tidak perlu meminta maaf. Tapi kukira kamu akan melakukannya."


Eh? Melakukan apa? Mengecek suhu tubuhmu? Kan tadi sudah kulakukan. Ah masa bodo lah saat ini prioritasku membawanya ke kamar dan membuatnya beristirahat.


Aku menggendong Haru chan dan membawanya ke kasur.


"Oke, saat ini kamu istirahat saja ya. Untuk urusan pecahan kaca dan sekolah akan kuurus."


"Ta-tapi..."


"Sstt, prioritas kita hari ini adalah kesehatanmu oke?"

__ADS_1


"O-oke."


Aku pergi ke dapur dan membereskan pecahan kaca yang tersisa. Aku juga membawa kompres untuk Haru chan serta membuat teh herbal


Aku bergegas kembali ke kamar.


"Diam sebentar oke."


Aku memeras handuk dengan air hangat dan meletakkan diatas dahi Haru chan.


"Kuletakkan di meja untuk teh herbal nya ya."


"Izu kun..."


"Ada apa? Apa kamu memerlukan sesuatu?"


"Hihi, Terima kasih."


"Bu-bukan masalah. Aku akan pergi ke sekolah dan mengatarkan surat izinmu. Pastikan kamu tidur oke."


"Baikk, Hati hati di jalan ya."


"Jika ada apa apa, jangan ragu meminta bantuanku ya."


Aku keluar pintu dan langsung berlari menuju sekolah. Sembari berlari, aku memikirkan perasaan senang yang kuterima saat mendegar terimakasih darinya.


"Hahh, kamu meninggalkan Akane san yang sedang sakit sendirian."


"Ssttt diamlah bego."


"Oke stop. Jangan dilanjutkan."


Ditengah perdebatan Chisato muncul tiba tiba. Aku bergegas memalingkan wajahku dari mereka berdua. Tapi aku mendengar bisik bisik diantara mereka.


"Izumiiii...."


Aku berbalik dan melihat Chisato mode gorilla


"Eh anjing, bisakah kamu pulang cepat? Atau aku harus menyeretmu sendiri?"


"Tolong ampuni hamba Chisato sama."


Buset dah kata katanya jadi sekasar itu. Namun mereka ada benarnya juga sih. Jika terjadi apa apa.


*bunyi bel


Bel masuk berbunyi. Sekarang harus bagaimana diriku ini?


Hasegawa sensei masuk dan menyapa kami


"Selamat pagi anak anak."


"Sensei, Perut Izumi sedang sakit bolehkan dia pulang?" (Yuuta)


"Ara~ benarkah itu Izumi?"


"Sensei, Harumi chan juga izin sedang sakit. Sejak pagi dia sudah mengontakku." (Chisato)

__ADS_1


Mereka berdua melirik tajam kearahku. Sudah ditentukan jawabannya kan.


"Iya sensei, maaf tapi bolehkah saya izin pulang?"


"Hmm, ada keperluan mendadak ya. Kalau begitu silahkan Izumi kun."


Aku menundukkan kepala dan berterimakasih.


"Izumi, kumasukkan kedalam hutang ya."


"Brengsek kau. Oh iya, apa kamu bisa mengirimkan materi pelajaran hari ini? Kurasa itu akan berguna untuk Haru chan."


"Oke."


Aku bergegas berlari pulang. Di tengah perjalanan, aku membeli obat demam di apotek. Setelah itu, aku sekalian membeli makanan untuk Haru chan dirumah.


Tanpa memerlukan waktu lama aku tiba di rumah. Aku masuk perlahan tanpa suara dan mengintip ke dalam kamar. Disana Haru chan sedang tidur pulas. Namun handuk kompresnya sudah dipenuhi keringat.


Aku memeras dan menggantinya dengan yang baru. Aku menemaninya sembari mengecek suhunya beberapa kali.


[Sudut pandang Akane Harumi]


Hangat. Tanganku hangat. Dahiku hangat.


"Izu kun?..."


Aku terbangun dari tidurku yang lelap. Tanganku digenggam erat oleh Izu kun. Handuk kompresku baru diganti dan masih hangat.


Aku melihat sekitar. Meja disampingku ada obat, makanan dan teh herbal. Namun ada yang aneh, kenapa Izu kun ada dirumah? Bukankah dia harusnya masih di sekolah.


Aku melihat notifikasi di smartphoneku. Disana ada chat dari Chisato san.


>Izumi kembali ke rumah karena dia mengkhawatirkanmu. Masalah pelajaran serahkan kepadaku dan Yuu kun.


"Hadehh, katanya dia tidak mencintaiku. Namun perbuatannya ini bahkan sudah melebihi dari kata wajar loh."


Aku bergumam sendiri. Tapi sepertinya itu membuat Izu kun terbangun.


"Ahh, kamu sudah bangun Haru chan?"


"Iya, terimakasih sudah merawatku Izu kun. Aku mencintaimu."


"Aku akan cuci muka dulu."


Izu kun kabur dengan cepat ke kamar mandi. Tak perlu waktu lama, ia sudah kembali ke kamar lagi. Ia kembali dengan membawa sendok makan. Bagaimana dia sempat membawa itu?


Izu kun membuka plastik. Di dalam nya ada styrofoam berisikan bubur dan beberapa kue.


"Kuharap aku bisa seperti ini selamanya."


"Kamu bilang sesuatu Haru chan?"


"Tidak, bukan apa apa."


"Oke kalau begitu, Aaaa."


Izu kun mulai menyuapiku sedikit demi sedikit. Bolehkah aku melompat kesenangan? Rasanya aku ingin melompat setinggi langit. Aku ingin seperti ini selamanya.

__ADS_1


__ADS_2