
Pagi ini caca bangun dengan tidak semangat. Caca merasa lemas dan masih mengantuk setelah memikirkan semalaman nasibnya yang akan hidup bersama arion.
Caca memulai dengan peregangan agar badannya sedikir segar dan tidak lupa menguap. Kemudian caca menjalankan semua rutinitasnya setiap pagi. caca berangkat kerja dengan tidak semangat. Namun ia harus tetap menjalaninya. Caca hanya ingin selama seharian ini berada di rumah tetapi dia memiliki tanggung jawab di rumah sakit yang mengharuskannya pergi.
“selamat pagi, Nona “ sapa bagas sambil membuka pintu mobil untuk caca.
“selamat pagi” balas caca. “kamu supir pribadinya arion?” Tanya caca.
“bukan non, saya asistennya tuan arion.” Jawab bagas,
“asisten kok antar jemput saya?”ucap caca.
“ya saya asisten tapi merangkap dengan kerja lainnya juga. Sesuai kebutuhan.” Balas bagas.
“berarti kerjaan yang harus kamu kerjakan banyak. Kamu tidak kesulitan gitu dengan kerja yang banyak? “ Tanya caca.
“cukup sulit, tapi itu sudah menjadi pekerjaan saya. Dan juga gaji yang saya terima tidak sedikit” jawab bagas. “gaji saya kan banyak dari tuan arion dan tuan yusuf.” Batin bagas.
“Kalau kamu kesulitan saya bisa naik taksi. Nanti saya bilang ke arion kalau kamu sudah antar saya” Tanya caca.
“tidak bisa begitu nona saya harus menjalankan tugas dengan baik.” Jawab bagas. Dan caca mengangguk tanda mengerti.
Caca yang merasa tidak biasa dalam mobil bersama orang yang belum di kenal memilih untuk melihat kearah luar merenungkan hidupnya setelah pernikahannya nanti.
“nona hari ini jadi ke Surabaya bersama tuan arion?” Tanya bagas menyadarkan caca dari lamunanya.
“iya, rencananya sepulang kerja nanti makanya saya tidak membawa mobil sendiri” jawab caca.
“Apakah nona dan tuan menjalani hubungan serius? maaf nona kalau pertanyaan saya kurang ajar.” Ucap bagas.
“iya kalau tidak serius bagaimana mungkin kami akan ke Surabaya” balas caca dengan senyuman.
Bagas hanya menganggukan kepala tanda mengerti. Caca dan bagas bercerita sepanjang jalan untuk mengisi waktu dalam perjalanan. Caca tidak menyangka bahwa bagas adalah orang yang sangat asik bisa membuatnya melupakan kegundahannya.
***
Dalam ruangan johan membawa sarapan roti isi coklat banana. Johan tahu bahwa caca sangat menyukai coklat jadi dia membawakan roti isi coklat banana.
Kali ini johan tidak menyimpan rotinya begitu saja. Ia tahu kalau ia menyimpan roti ini begitu saja caca akan mengembalikannya.
Jadi kali ini johan akan makan bersama caca hitung-hitung sarapan bareng.
caca yang tiba dalam ruangan merasa heran dengan keberadaan johan yang duduk santai di bangku depan meja kerjanya.
“jo, kenapa kamu pagi-pagi ada di ruanganku?” Tanya caca.
“hai ca” sapa johan sambil menunjukkan tempat bekalnya. Caca yang tidak memdapat jawaban yang diinginkan dari johan memilih untuk duduk di tempat duduknya.
“apa itu jo, tidak biasanya kamu membawa bekal?” Tanya caca lagi.
“aku ingin sarapan bareng dengan kamu” jawab johan dengan senyuman yang cerah.
__ADS_1
“sarapan? Maaf ya jo, aku selalu sarapan sebelum berangkat kerja.” Jelas caca.
“tapi aku belum sarapan ca. tidak bisakah kamu menemani aku makan biar hanya satu roti” pinta johan dengan memohon. Caca yang melihat johan meminta kepadanya merasa tidak tega.
“baiklah, tapi hanya satu.” Ucap caca.
“oke” jawab johan dengan semangat.
Mereka sarapan dan juga mengobrol tentang banyak hal. Rasanya caca dan johan tidak pernah kehabisan bahan obrolan. Johan merasa sekarang caca lebih terbuka kepadanya tidak seperti sebelumnya yang selalu menolak ajakannya.
“ca, nanti malam bisa kah kita makan malam bersama” ajak johan sebelum meninggalkan ruangan caca,
“maaf jo, pulang dari kerja aku akan langsung pulang ke Surabaya” ucap caca.
“tumben kamu pulang ke Surabaya” kata johan.
“aku ada urusan pribadi di surabaya” jelas caca.
“oh baiklah. Ya sudah aku kembali ke ruanganku dulu” pamit johan.
Setelah johan pergi caca meminta perawat untuk memanggil pasien pertamanya untuk hari ini.
***
Jam menujukkan waktu untuk pulang. Caca yang melihat jam hanya menarik napas panjang untuk meghilangkan kegundahannya.
Perawat yang melihat caca menarik napas panjang yakin caca memiliki masalah. Namun, perawat itu tau kalau caca bukanlah orang yang suka membagi masalahnya dengan orang lain. Caca melakukan hal itu untuk mengurangi gosip tentangnya.
***
TOK TOK TOK
Suara ketukan pintu dari arah luar.
“masuk” ucap arion dengan sedikit berteriak.
“ceo sudah saatnya anda pergi ke bandara” ucap bagas mengingatkan.
Arion yang mendengar ucapan bagas melihat jam tangannya lalu menarik napas panjang.
“kamu sudah persiapakan keperluan saya selama disana?” Tanya arion.
“semua sudah siap, anda tinggal berangkat.” Jawab bagas yang di jawab dengan anggukan oleh arion.
Arion berjalan ke parkiran dengan gagah dan berkarisma sehingga memberi tekanan kepada setiap pegawai yang bertemu dengannya.
Sesampainya di parkiran bagas membukakan pintu untuk arion kemudian ia naik dalam mobil dan melajukan mobilnya ke rumah sakit tempat caca kerja.
Selama perjalanan arion hanya melihat ponselnya untuk melihat dokumen yang belum selesai ia kerja.
Di rumah sakit caca telah menunggu di depan rumah sakit dengan memainkan ponselnya dan sesekali melihat jalan memastikan kedatangan arion.
__ADS_1
Mobil arion berhenti tepat di depan caca. bagas turun untuk membukakan pintu namun belum sempat bagas membuka pintu mobil caca sudah membukanya dan masuk.
“tidak perlu melakukan hal itu untuk saya. Saya bisa sendiri kok” jelas caca.
Setelah masuk dalam mobil caca hanya melihat arion yang masih sibuk dengan ponselnya tanpa mau mengucapkan sesuatu atau sekedar melihat kearah caca.
Caca yang merasa di cuekkin mencoba mengobrol dengan bagas.
“bagas, kamu bisa naik mobil bersama orang sedingin kulkas?” Tanya caca sambil melirik kearah arion.
Bagas yang menerima pertanyaan itu hanya dapat menelan salivanya dengan paksa.
“kamu sindir aku?” Tanya arion dengan menatap kearah caca.
Caca hanya menaikkan bahunya lalu melihat keluar. Arion yang telah teralihkan dari kerjaannya tidak dapat fokus kembali ke dokumen jadi ia memilih untuk menyelesaikan kerjaannya di Surabaya.
“kamu sudah mengatakan ke keluargamu tentang kedatangan kita?” Tanya arion.
“iya” jawab caca singkat dengan tetap menghadap ke jendela mobil.
Arion yang merasa tidak suka ketika berbicara dan caca tidak melihat kearahnya. kemudian berusaha menarik bahu caca agar melihat kearahnya.
“lihat kesini!” ucap arion
“apa?” jawab caca sambil menepis tangan arion di bahunya.
“kalau orang bicara itu di lihat” ucap arion.
“aku hanya meniru seseorang” ucap caca menatap tajam ke arion.
“baiklah, aku tidak bekerja lagi.” Kata arion berusaha menenangkan caca.
“aku sudah mengatakan ke keluargaku tentang ke datanganmu dan tidak perlu persiapan apa-apa untuk menyambut kamu.” Ucap caca.
“oke, aku juga tidak berharap di sambut secara berlebihan. Aku sudah Cukup orang tuamu memberikan restu saja” jelas arion.
“bagaimana dengan kakekmu?” Tanya caca.
“tentu dia sudah memberika restu.” Jawab arion.
“bukan itu, tapi apakah kakekmu tau kamu ke Surabaya untuk menemui orang tuaku?” Tanya caca.
“tentu saja dia sudah mengetahuinya” jawab arion sambil melirik kearah bagas.
Selama ini arion telah mengetahui bahwa bagas adalah mata-mata kakeknya. Arion mengetahuinya karena bagas adalah pegawai yang di sarankan oleh kakeknya.
Meski arion telah mengetahui bahwa bagas adalah mata-mata. arion tidak memecatnya karena bagas bekerja dengan sangat baik.
Mobil arion telah sampai di bandara, bagas berusaha membantu arion dan caca untuk membawa barang. Namun arion menyuruhnya untuk pulang karena barang yang di bawa mereka berdua tidak banyak.
Bagas yang di perintahkan untuk pulang pun pamit kepada caca dan arion.
__ADS_1