
Aurel memeluk hangat tubuh Nara dan menangis di pelukannya. Tempat yang tadinya sunyi senyap menjadi ramai karena banyak orang yang diam-diam menyaksikan momen mereka. Semua orang bersorak, bahagia karena akhirnya dua sejoli itu bisa bersatu setelah sekian lama hati, tubuh, dan cinta mereka terpisah oleh takdir yang hanya sementara.
"Bersamaan dengan hal ini, seseorang juga akan hadir di tengah-tengah kita," kata Aurel yang memegangi tangan Nara dan kemudian ia bawa ke perut nya.
"Apakah?" tanya Nara dengan mata berbinar.
"Ya! Nara kecil akan menemani kehidupan kita, buah cinta kita," kata Aurel.
Air mata Nara tumpah, tak percaya ia mendapat kan kebahagiaan ganda. Semua orang yang ada disana pun ikut menangis saking bahagianya.
"Kita akan menikah dalam 2 minggu," kata Nara.
"Aku terserah kau saja."
5 hari kemudian, Nara dan Aurel pergi untuk memesan segala keperluan untuk pernikahan. Tempat pertama yang Nara dan Aurel datangi adalah pantai. Kenapa pantai? Karena Aurel ingin menikah ditempat terbuka, bukan di dalam ruangan seperti gedung.
"Bagaimana? Apa kau suka pantai ini?" tanya Nara kepada Aurel.
"Indah, tapi air nya kotor," Aurel menunjuk betapa banyaknya sampah yang ada di pantai itu. Memang sekarang manusia bersikap sesuka hatinya. Mereka tak memikirkan apa dampak yang akan terjadi, padahal tempat sampah sudah disediakan di mana-mana.
Mereka pun pergi untuk mencari pantai lain yang lebih bersih dan luas. Sepanjang perjalanan mereka mencari pantai, tidak ada satu kata pun terucap dari bibir mereka. Aurel kemudian mengucapkan sesuatu yang membuat Nara terkejut.
"Aku ingin tinggal di pedesaan," ucap Aurel.
"Kenapa kau ingin tinggal di tempat seperti itu?"
"Aku ingin tinggal di tempat yang sepi, tempat yang jauh dari rumor-rumor dan tempat dimana kehidupan keluarga kecil kita akan dimulai," kata Aurel dengan mata yang berbinar-binar.
"Sayang, tapi aku harus bekerja," Nara berkata seolah ia tak menyetujui perkataan calon istrinya.
"Aku terserah kau saja, itu kan hanya impian kecilku. Kalau kau memang tidak bisa, ya sudah tidak papa," Aurel memandangi Nara dengan senyuman kecil.
"Baiklah, jika itu mau mu. Aku akan memindahkan sebagian pegawai dan aku akan membangun perusahaan kecil disini," Nara membelai halus rambut Aurel.
"Apa kau yakin? Aku takut kalau kau melakukan itu dengan terpaksa," Aurel menunduk karena merasa bersalah.
__ADS_1
"Hei! Kenapa kau bersedih? Aku tidak pernah merasa keberatan dengan semua itu, aku juga ingin kita hidup dengan tenang di desa yang membosankan," timpal Nara.
Aurel seketika tertawa mendengar kata-kata Nara yang walau hanya sebatas 'desa yang membosankan' membuat humor Aurel bangkit. Keheningan pun terpecah oleh sebab canda tawa mereka berdua. Dan tanpa mereka berdua sadari, mereka telah sampai di sebuah pantai yang sangat jauh dari perkotaan.
"Waaaw... Ini indah sekali," Aurel memandangi pantai yang berudara sejuk dan sangat bersih juga luas itu.
"Kau suka?"
"Emm, aku sangat suka," Aurel memeluk Nara sambil terus memandangi sekitar.
"Bagaimana jika kita membangun rumah disini? Tempat ini sepi, orang-orang disini juga ramah dan kita bisa memulai kehidupan kita ditempat ini," Nara merangkul Aurel sambil membayangkan bagaimana kehidupan mereka dalam 2 minggu ke depan.
"Apa cukup waktu untuk membangun rumah dalam 2 minggu?"
"Tentu saja, aku akan mempekerjakan banyak tukang untuk membuat kan kita rumah."
Setelah mendapat kan tempat yang cocok untuk tempat pernikahan dan tempat rumah baru mereka, Nara dan Aurel kembali untuk mencari gaun dan tuksedo untuk pernikahan.
Setelah sampai di sebuah toko desainer terkenal, Nara dan Aurel memilih pakaian untuk mereka nanti.
"Aku ingin rancangan yang seperti ini, bisa kau buatkan untukku?" Aurel bertanya kepada pelayan yang ada di sana.
"Halo, ada yang bisa saya bantu?" Kata nya kepada Aurel yang membuat Aurel terkejut.
Saat Aurel menoleh, betapa terkejutnya ia dan Nara saat mengetahui bahwa manager dan desainer itu adalah Cecil. Ya! Cecillya! Mantan istri Nara.
"Cecil?" Kata Aurel yang sangat terkejut melihat Cecil.
"Ya Aurel, ini aku. Kau butuh apa? Biar ku bantu."
"Ayo Aurel, kita pergi dari sini, kita cari pakaian di tempat lain," Nara menarik Aurel untuk pergi dari tempat itu namun Aurel menolak.
"Tidak Nara, aku ingin gaun dari tempat ini."
"Kau tenanglah Nara, aku akan membantu kalian, aku tidak akan melakukan apapun untuk membuat kalian kecewa dan aku akan melakukan yang terbaik," Kata Cecil yang meyakinkan Nara.
__ADS_1
"Bukankah kau pergi ke luar negeri? Kenapa kau kembali?" Nara bertanya untuk mengetahui alasan mengapa Cecil tidak pergi seperti yang ia katakan dalam surat nya.
"Ya, aku memang berniat kembali ke luar negeri, tapi jika ku pikir lagi, kenapa aku harus menghindari mu? Sebab itu lah aku membatalkan rencana ku dan membeli tempat ini untuk ku jadikan bisnis."
"Kau tidak perlu khawatir, aku akan memberikan gaun terbaik untuk calon istrimu, lagipula memang dia yang pantas menjadi pendamping hidupmu," Kata Cecil yang terus meyakinkan Nara.
"Apa aku bisa percaya padamu?" Nara mengangkat salah satu alisnya dengan rasa masih tidak percaya.
"Kau bisa mempercayai ku," Cecil tersenyum dan menunjukkan berbagai contoh gaun pernikahan kepada Aurel.
Setelah mereka selesai memilih pakaian, mereka kembali ke rumah. Sekarang Aurel tinggal di rumah Nara karena Nara meminta nya pindah saat setelah lamaran. Walaupun rumah itu akan kosong karena Nara dan Aurel akan pindah ke desa, tapi Nara enggan untuk menjual rumah itu.
Sekarang tibalah saatnya! Saat pernikahan yang sama-sama dinantikan oleh keduanya. Pagi itu kursi-kursi sudah tertata rapi dengan mimbar di tengahnya. Mewah. Sangat mewah namun terkesan sederhana. Bunga-bunga dijejer disepanjang jalan kanan dan kiri sebagai pembentuk jalan sang mempelai.
Semua tamu undangan telah datang dan menduduki kursi mereka masing-masing. Nara berdiri di altar menunggu Aurel, calon istrinya. Dan setelah itu, semua orang berbalik dan menoleh ke Aurel yang sedang berjalan menyusuri jalan dengan digandeng sang ayah. Nara bahagia, namun saking bahagianya air mata Nara tumpah saat ayah Aurel mulai menyerahkan putrinya ke pada Nara.
Dengan desiran ombak yang menari seolah ikut bahagia akan pernikahan tersebut, Nara mengucapkan sumpah pernikahan. Memang ini yang kedua kalinya, namun rasanya kali ini berbeda. Berbeda karena kali ini ia benar-benar menikah dengan wanita yang sangat dipuja nya, lain dengan Cecil yang hanya tunangan biasa dan Nara yang terikat janji dengannya.
Debur ombak akan menjadi saksi bersama bisik pasir pantai yang nyaman karena menjadi tempat persinggahan kedua mempelai itu. Angin membelai sepoi-sepoi yang membuat gaun, rambut beserta kain yang menutupi wajah Aurel tertiup tak beraturan.
Aurel merasakan jantung nya berdetak keluar irama, ia tak menyangka momen ini akan datang di kehidupan nya yang menjadi monoton dan suram ketika berpisah dengan Nara. Begitupun dengan Nara, memiliki Aurel adalah suatu keajaiban baginya, ia seperti menjadi pemilik dunia, dunia milik Aurel.
Kehadiran nya bagai sebuah mimpi yang saking jauhnya hingga tak berani ia gapai.
Sungguh! Hari ini adalah hari dimana kebahagiaan Nara dan Aurel berada di puncaknya. Bukan hanya mereka berdua, namun seluruh tamu undangan beserta sahabat Nara, adiknya juga Cecil yang dulu tidak menyukai Aurel, sekarang turut masuk kedalam ruang kebahagiaan Nara dan istri barunya.
Semua orang tergelak bingung karena Nara mengambil alih mikrofon yang tadinya ada di tangan MC.
"Benarkah? Nara akan bernyanyi?"
Semua orang kembali dikejutkan dengan kedatangan segerombolan manusia yang membawa berbagai macam alat musik. Nara yang awalnya malu dan ragu, ia langsung memberi isyarat kepada pemusik untuk memainkan sebuah lagu.
Aurel yang melihat Nara menyanyi, ia begitu terharu. Tangisnya pecah. Ia tak kuasa menahan haru dan memeluk Nara dari belakang. Hingga sampai sang mentari sudah hampir terlelap, Nara dan Aurel beserta seluruh orang yang hadir menyudahi aktivitas mereka.
Saat semua manusia-manusia itu sudah kembali ke kandangnya masing-masing, kini tibalah Nara dan Aurel beserta buah hati mereka masuk ke dalam kehidupan baru mereka. Ya! Rumah baru yang sudah berdiri sekarang sudah menunggu untuk ditempati.
__ADS_1
Nara mengajak Aurel untuk memasuki rumah baru mereka yang terletak tak terlalu jauh dari pantai tempat mereka menikah. Cukup. Hanya sampai di sini untuk hari ini.
END...