Menikahi Cinta Pertamaku

Menikahi Cinta Pertamaku
Aku Jatuh Cinta


__ADS_3

Aurel masuk ke dalam rumah, melempar tas nya ke sofa lalu masuk kamar. Ia menggerutu sambil mengacak acak rambutnya, berteriak dan memukul kepalanya dengan bantal.


"Arghhh.... kenapa aku berikan nomor ku padanyaa, kenapaaaa..." teriak Aurel.


Tiba tiba nomor tidak dikenal menelpon Aurel. Aurel kaget sekaligus senang karena dalam pikirannya itu adalah Nara.


"Halo, siapa?" kata Aurel sambil tersenyum tipis.


"Aku mencintaimu, aku tidak akan menikahi wanita lain selain dirimu," kata orang yang menelpon Aurel.


"Apa maksudmu? Siapa kau?" kata Aurel bingung dan senang karena percaya bahwa yang menelponnya adalah Nara.


***


"*Y*a ampun aku tidak percaya dia benar benar menghubungiku... Kenapa aku sangat bahagia mendengar dia mengatakan cinta padaku?" batin Aurel yang merasa senang menerima telepon.


2 bulan kemudian


Hari itu menjadi hari terakhir Aurel menerima telepon dari nomor tersebut yang ia percaya adalah Nara.


Aurel sekarang mengajar kelas musik, datang ke setiap rumah orang yang ingin belajar dengannya.


Saat Aurel sedang berada di kafe milik ayahnya, ia menyadari bahwa ada orang yang terus mengamatinya, tapi Aurel tetap merasa tenang dan mengabaikan orang tersebut.


Saat sedang duduk dan minum kopi, tiba tiba ada orang yang memeluknya dari belakang. Aurel yang terkejut pun langsung melepaskan tangan orang yang memeluknya dan menyeretnya kehadapan Aurel.


Tidak disangka orang yang memeluknya itu tidak lain adalah Nara. Nara membawa bunga dan langsung duduk di depan Aurel. Nara menyatakan perasaannya pada Aurel, Aurel pun terdiam namun di dalam hatinya sangat berbunga bunga.


"Aku menyukaimu," kata Nara mengejutkan Aurel yang membuat Aurel tersedak saat sedang minum kopi.


"Tutup matamu," sambung Nara yang kembali mengejutkan Aurel.


"Hah..." balas Aurel yang tambah membuka matanya.


"Aku menyuruhmu tutup mata, kenapa kau malah melotot?" kata Nara sambil menutup mata Aurel namun Aurel kembali membuka matanya.


"Kenapa aku harus tutup mata?" Aurel terus menanyai Nara.


"Tutup saja matamu! jangan banyak bertanya," kata Nara.


Aurel pun menutup matanya, ia merasakan ada sesuatu yang di lehernya dan ia meraba raba.

__ADS_1


"Apa ini?" tanya Aurel.


Nara memasangkan kalung ke leher Aurel, lalu membuka ikatan rambut Aurel. Seketika Aurel langsung membuka matanya. Saat membuka mata, sudah ada cermin di hadapannya. Mata Aurel berkaca kaca, Aurel pun merasa senang di dalam hati.


"Apa kau suka?" tanya Nara yang melihat Aurel tidak ada ekspresi.


"Emmm, aku suka," jawab Aurel datar.


"Kenapa wajahmu seperti tidak menyukainya?" Nara bertanya lagi.


"Aku suka, aku sangat suka," jawab Aurel.


***


"*P*ria seperti apa dia sebenarnya? Terkadang dia terlihat dingin, tapi dia sebenarnya sangat hangat. Kenapa aku sulit percaya bahwa dia laki laki baik? batin Aurel terus memikirkan Nara selama Nara mulai masuk dalam hidupnya.


"Kenapa kau tidak menelpon ku lagi? tanya Aurel.


"Lagi? Apa maksudnya lagi? Aku belum pernah menelponmu," jawab Nara yang kebingungan dengan kata "lagi".


"Tidak pernah menelpon?" tanya Aurel sangat kebingungan.


"Aaah, iya... Waktu kau memberikan nomor ponselmu di kertas, aku selalu memandanginya sampai kertas nya terbang dan hilang," jawab Nara.


"Iya, kenapa? Apa ada yang menelponmu? Nara bertanya balik.


"Aah tidak, tidak ada, aku hanya ingin memastikan saja," jawab Aurel yang di dalam hatinya Aurel sangat bingung jika bukan Nara lalu siapa yang menelponnya waktu itu.


"Memastikan apa?" Nara bertanya lagi.


"Tidak apa apa, bukan hal penting," jawab Aurel.


"Kenapa kau tidak mencoba mencari ku? Kenapa kau tidak berusaha mencari tau tentang diriku?" tanya Nara yang kembali mengejutkan Aurel.


"Apa maksudmu?" kata Aurel.


"Apa kau tidak penasaran tentang siapa aku?" tanya Nara yang terus mengejutkan Aurel.


***


"*Ak*u penasaran, sangat penasaran, tapi aku tidak berani mencari tau," batin Aurel menjawab pertanyaan Nara.

__ADS_1


"Aku takut" jawab Aurel.


"Takut apa? Kenapa kau takut?" tanya Nara.


"Aku takut akan kecewa, aku takut aku tidak bisa menerima hal yang membuatku harus melupakanmu," jawab Aurel yang melihat Nara dengan berkaca kaca.


Nara terdiam dan teringat semua tujuan dan semua hal mengapa ia mendekati dan harus mendapatkan Aurel. Nara kembali berpikir apa yang dilakukannya ini benar atau tidak.


Hari hari berlalu, Nara lebih sering menghabiskan waktu nya dengan Aurel, Nara berusaha meyakinkan Aurel bahwa ia tidaklah pria yang buruk. Malam harinya saat itu, Nara dan Aurel menghabiskan malam mereka berdua di atap rumah Aurel sambil memandang langit malam.


Nara melihat kecantikan Aurel saat mengikat rambutnya dan melihat teleskop. Nara memandang Aurel dengan rasa yang selama ini tidak pernah ia miliki kepada wanita manapun. Nara terus melihat Aurel berbicara dan melamun melihat pemandangan indah di depan nya.


"Kau akan selalu bersamaku kan?" tanya Aurel saat sedang duduk berdua dengan Nara.


"Huhh?" balas Nara.


"Aku rasa, aku mulai menyukaimu," kata Aurel membuat Nara menjatuhkan ponselnya.


***


"*A*pa kau tidak akan menyesal?" batin Nara bertanya pada Aurel.


"*A*ku tidak akan pernah menyesal telah menyukaimu," batin Aurel seakan mendengar apa yang hati Nara tanyakan.


Tiba tiba Nara langsung mencium bibir Aurel, Aurel pun terdiam dan memejamkan matanya membalas ciuman Nara. Merasakan Aurel membalas ciumannya, Nara semakin menikmati ciuman pertamanya bersama Aurel.


Nara melepaskan bibir nya dan memandangi Aurel, ia memegangi tangan Aurel. Aurel membuka telapak tangan Nara dan menulis di atas telapak tangan Nara menggunakan jarinya.


"Apa yang aku tulis di tanganmu?" Aurel bertanya kepada Nara.


"Aku... malu, iya kan? Aku tau kau malu," kata Nara sambil tertawa.


"Bukan itu, tebak lagi," pinta Aurel pada Nara.


"Apa? Aku tidak tau" jawab Nara dingin.


"Ah sudahlah, lupakan saja," kata Aurel dengan kesal dan membuang tangan Nara.


"Aku mencintaimu," bisik Nara di telinga Aurel yang membuat wajah Aurel memerah. Aurel yang mendengar itu pun tersenyum dan mencium pipi Nara.


Disisi lain, nomor yang sama masih terus menghubungi Fanny. Ia bahkan membanting ponsel nya karena merasa sudah di teror seseorang.

__ADS_1


"Siapa sih dia? Kenapa terus saja mengganggu ku," ucap Fanny mendengus kesal.


BERSAMBUNG...


__ADS_2