Menikahi Cinta Pertamaku

Menikahi Cinta Pertamaku
Bimbang


__ADS_3

Orang suruhan Nara mengikuti Aurel kemanapun dia pergi, mengamati nya dan memberitahu Nara semuanya.


"Tuan, aku sudah mengikuti nya. Dia pergi ke panti jompo, panti asuhan, kafe milik ayahnya, dan kampus tempat ibunya mengajar," kata orang suruhan Nara kepadanya.


"Tau darimana kau kalau kafe itu milik ayahnya dan kampus itu tempat mengajar ibunya?" tanya Nara dengan heran bagaimana orang suruhannya bisa tau semua.


"Aku tau karena kafenya bernama Graciano's Cafe. Aku juga bertanya kepada anak anak di kampus itu tentang siapa yang baru saja ditemui Aurel," jawab orang suruhan Nara.


"Bagus, terus cari tahu dan kabarkan kepadaku, jangan lupa kirimkan alamat kafe dan kampusnya padaku," kata Nara menyuruh orang suruhannya.


"Baik tuan akan saya kirimkan sekarang juga," jawab orang suruhan Nara.


Nara kemudian menerima pesan dari orang suruhan nya yang berisi alamat kafe dan juga kampusnya. Betapa terkejutnya Nara bahwa kampus tempat ibunya mengajar adalah kampus tempat adiknya, Aera, kuliah.


Nara tidak bisa berkata kata lagi, penuh pertanyaan dalam batinnya, ada rasa bahagia ada juga rasa kasihan dan iba.


*****


"Apa aku harus melakukan ini? Benarkah ini yang kulakukan? Apa aku harus senang karena kebetulan Aera kuliah disana? Atau aku harus merasa kasihan karena gadis yang aku jebak sama sekali tidak mengetahui apapun. Aku bisa hancur kalau orang tuanya tau aku berbuat tidak baik pada putrinya, bisa bisa adikku yang terkena dampaknya karena ulahku," batin Nara yang dipenuhi dengan pertanyaan dan teka teki.


Nara bingung harus melakukan apa, tapi Nara tidak bisa memberitahukan ini pada Fanny dan Zayn karena mereka pasti kecewa.


Nara yang tidak bisa berpikir lagi langsung menancapkan gas nya dan segera pergi. Nara mengunjungi makam ibunya, ia menangis dan menceritakan semua keluh kesah nya pada sang ibu.


"Ibu bagaimana ini, aku tidak mau menjadi pria jahat dengan menghancurkan kehidupan gadis polos seperti Aurel. Aku tau selama ini sikapku kepada gadis lainnya memang buruk, tapi kenapa aku merasa sangat berat hati untuk melakukan ini kepada Aurel, ibu, ibu, beritahu aku harus bagaimana. Aku tidak bisa melakukan ini tapi aku tidak mau kehilangan sahabat yang selalu menemaniku. Tolong aku ibu," kata Nara di depan makam ibunya sambil menangis terisak isak.

__ADS_1


Dalam sedihnya, sang ibu menghampiri Nara dan memeluknya, menepuk punggung Nara dan mengelus kepalanya.


***


"Anakku, bangkitlah dan kuatlah, hadapi semuanya dengan kepala dingin, lakukan apa yang hatimu katakan, jangan biarkan ego menghancurkan dirimu," kata arwah ibu Nara yang memeluk anaknya.


Nara semakin menangis dan semakin merindukan sang ibu disisinya. Nara membalas pelukan ibunya, lalu saat perasaan Nara tenang, sang ibu sudah pergi meninggalkan Nara.


"Baiklah, aku akan mendekatinya, aku akan benar benar mencintainya, aku akan menjadikan dia satu satunya dalam hidupku. Aku harus merahasiakan ini dari Fanny dan Zayn supaya mereka tidak terluka." Nara berbicara sendiri dengan dirinya dan menguatkan hatinya sambil berjalan meninggalkan makam ibunya.


Nara menelpon Fanny dan mengatakan bahwa ia akan memulai aksinya mendekati Aurel. Saat sedang menelpon Nara melihat Aurel sedang berjalan dan langsung menghentikan mobilnya. Nara turun dari mobil dan menghampiri Aurel.


"Hai" sapa Nara.


"Waaa tampan sekali, ternyata kalau diperhatikan dia sempurna juga," batin Aurel.


"Ya? Ada apa?" jawab Aurel membalas sapaan Nara.


"Emm, aku ingin meminta maaf padamu. Aku sebenarnya sengaja menjatuhkan sapu tangan waktu itu untuk bisa melihat wajahmu," kata Nara mencoba untuk meyakinkan Aurel.


"Baiklah tidak usah dipikirkan," Aurel membalas permintaan maaf Nara.


"Boleh aku mengantarmu? anggap saja ini sebagai permintaan maaf ku," kata Nara menawarkan Aurel untuk ikut bersamanya.


"Baiklah aku akan ikut denganmu," kata Aurel menyetujui permintaan Nara.

__ADS_1


"Yeahhh, akhirnya dia mau," batin Nara merasa senang Aurel menerima untuk diberi tumpangan.


Selama dalam perjalanan, suasana di dalam mobil sangat hening. Baik Aurel maupun Nara tidak ada yang berani untuk memulai percakapan duluan.


"Aku mohon katakanlah sesuatu untuk menghilangkan rasa canggung ini," batin Aurel yang merasa gerah dengan situasi sekarang.


"Apa yang harus aku katakan untuk membuatmu bicara. Ayo berpikirlah otakku yang cerdas," batin Nara sedang berpikir untuk mengatakan sesuatu.


Kemudian terlintas dipikiran Nara untuk membuat Aurel bicara.


"Maaf, apa aku boleh minta nomor teleponmu?" tanya Nara kepada Aurel yang membuat Aurel tersedak saat sedang minum.


"Hah?" kata Aurel.


"Apa aku boleh min..." tanya Nara sekali lagi namun sebelum kata katanya selesai Aurel langsung menjawab.


"Ya tentu" kata Aurel memotong pertanyaan Nara.


Dalam hatinya, Nara merasakan sesuatu yang berbeda dari biasanya, Nara merasa bahwa dunia nya sedang bahagia sekarang.


Akhirnya mereka sampai dirumah Aurel, Aurel pun turun dari mobil dan mengucapkan terimakasih kepada Nara. Aurel mengambil kertas dan pulpen dari dalam tas nya dan menuliskan nomor telepon nya lalu memberikannya kepada Nara.


"Jangan lupa telepon jika sudah kau simpan, aku permisi," kata Aurel yang tanpa sengaja tersenyum kepada Nara.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2