Menikahi Gadis Tebusan

Menikahi Gadis Tebusan
10. Gadis Miskin


__ADS_3

Dirga menghentikan mobilnya di depan halaman rumah sang mama, Vano segera turun dari mobil dengan hati yang masih kecewa karena Gea menolaknya.


"Turun!" perintah Dirga.


"Aku?" tanya Lea menunjuk dadanya sendiri.


"Di dalam mobil cuma aku sama kamu." ketus Dirga.


Lea tidak mengangguk, tapi ia patuh segera membuka pintu dan turun dari mobilnya.


Setelah memarkirkan mobilnya, Dirga mengambil tas besar milik Lea dan membawanya masuk ke dalam rumah.


"Ini, rumah kamu?" tanya Lea menatap ke segala penjuru arah, ia benar benar merasa kagum dan takjub.


Maklum saja, sebelum ikut tinggal bibi dan pamannya juga orang tua Lea bukan orang yang kaya raya. Tapi keluarga sederhana yang sekedar cukup untuk kehidupan sehari hari tanpa ada hutang, berbeda dengan Yura dan Soni yang banyak hutang di mana mana.


Vina yang ada di ruang keluarga sedang menonton televisi dengan suaminya, yaitu Bima. Tak sengaja mendengar langkah kaki putra keduanya itu menaiki anak tangga, namun Vano tidak mengatakan apa apa.


Ia segera menghampiri Dirga, matanya menyipit kala melihat di belakang putranya terdapat seorang wanita dengan pakaian yang lusuh tak ada modisnya di depan mata Vena.


"Siapa wanita itu?" tanya Vina pada sang putra.


"Ini Lea, mah. Dia istri Dirga." ucap Dirga apa adanya.


Lea mengulurkan tangan kanannya, berniat ingin bersalaman dengan Vina namun Vina sama sekali tak menggubrisnya.


"Apa?? Istri?? Dirga, jangan main main kamu! Mama udah sepakat sama tante Melinda buat makan malam kamu sama Tiara." ucap Vina naik darah.


"Siapa mah?" tanya suaminya.


"Lihat pah! Anakmu membawa pulang wanita kumal ini, dan masih bisa berkata bahwa gadis kucal ini adalah istrinya. Hah! Mau di taruh mana muka mama, pa." ucap Vina dengan nada tinggi, rasa emosinya meluap luap.


"Apa benar yang dikatakan mamamu, Dirga?" tanya Bima tegas.


Dirga mengangguk mantap.


"Astaga anakmu pah! Apa hebatnya dia sampai kamu tertarik padanya? Sudah memakai jamu apa kamu, untuk memikat anakku?" teriak Vina mendorong Lea.

__ADS_1


Tubuh kecil Lea jatuh dan tersungkur di lantai, Dirga segera membengkuk untuk membantu istrinya berdiri.


"Cukup ma, jangan keterlaluan mama!" ucap Dirga kesal.


"Bawa si kumal ini dari sini, mama tidak sudi punya menantu seperti dia." ucap Vina menunjuk Lea yang sudah menunduk takut, air matanya sudah mulai luruh begitu saja saat mendengar ibu Dirga mengolok ngoloknya.


"Aku nggak akan bawa dia keluar dari rumah ini karena dia istri Dirga mah, maaf. Dan Dirga kasih peringatin bhat mama, jangan pernah sentuh wanitaku lagi!" ucap Dirga lalu menggandeng tangan Lea untuk melangkah pergi menaiki anak tangga.


"Dirga!!" teriak Vina marah.


"Sudahlah mah, jangan marah marah terus. Biarkan saja!" ucap Bima menepuk punggung sang istri.


"Apa? Biarkan saja pah? Asal papa tahu, aku sudah sepakat dengan Melinda untuk menikahkan Dirga sama Tiara pah! Bisa malu kalo teman teman mama tau siapa istri Dirga." ucap Vina mengusap rambutnya jengkel.


Bima hanya menggelengkan kepalanya saat sang istri pergi menuju kamar.


Di dalam kamar, Lea terduduk di lantai dan masih menangis.


"Berhentilah menangis, mamaku memang seperti itu orangnya." hibur Dirga yang sedang menyisir rambutnya.


"Apa kamu tidak memilik baju lain yang terlihat lebih nyaman di pakai selain baju baju yang kau bawa?" tanya Dirga lagi.


"Bangunlah, ayo kita turun ke bawah untuk makan malam."


Dirga mengulurkan tangan kanannya pada Lea, Leapun meraih tangan itu dan segera berdiri.


Kini, di meja makan sudah terdapat Vina, Vano, dan juga sang papa.


Dirga dan Lea menuruni anak tangga, namun saat Lea hendak ikut bergabung makan malam di meja makan Vina malah menatapnya sinis.


"Ngapain kamu duduk di situ?" ketus Vina dengan suara lantang.


Lea yang tadinya sudah dudukpun langsung berdiri takut, ia benar benar takut dengan tatapan mama mertuanya itu yang penih dengan kebencian.


"Mah! Mamah apa apaan sih, Lea ini juga sekarang sudah jadi anggota keluarga kita. Mama engga boleh merlakuin Lea kaya gitu!" bela Dirga.


"Oh! Sejak kapan kamu berani melawan dan membantah ucapan mama dan papamu Dirga. Gadis miskin ini tidak pantas berada di rumah ini, apa lagi makan malam semeja bersama keluarga kita!" teriak Vina.

__ADS_1


"Mulai sekarang ma! Sudah cukup mama mengontrolku seperti anak kecil, aku bukan robot mama yang bisa mama kontrol sesuka hati mama dan tolong berhenti mencaci maki Lea." ucap Dirga masih dengan nada santai, lalu berdiri menggandeng tangan istrinya pergi meninggalkan meja makan.


Lea menatap ke arah bawah, tangan Dirga menggandeng tangannya.


Pov Lea,


Pria ini benar benar aneh, aku tidak tau apa yang ada di fikirannya. Ia menebusku di seuatu club, lalu menikahiku, dan sekarang melindungiku dari mamanya. Entah keluarga macam apa yang ia miliki, aku seperti keluar dari kandang buaya tapi masuk perangkap kandang singa.


Bagaimana tidak? Aku terhindar dari siksa bibi dan pamanku, pria ini berhasil membawaku pergi dari rumah neraka itu. Namun ia juga membawaku pada rumah yang penuh dengan bara api, hatiku sungguh terluka berada di sini. Tapi ia juga mendekapku saat api menyambar ke arahku.


"Berhentilah menangis, kita akan makan di luar sana." ucap Dirga yang berjalan dengan menggandeng tangan Lea.


Lea hanya mengangguk.


"Mamamu membenciku, bahkan dia jijik saat makan satu meja bersamaku. Aku hanya gadis kusam dan miskin, bisakah kamu membawaku pulang saja ke rumah bibiku?" tanya Lea merasa bersalah.


"Mamaku yang tidak pantas makan bersamamu, karena kamu terlalu baik untuknya." jawab Dirga santai.


Lea mendongak menatap wajah suaminya.


"Mamamu baik, dia ingin kamu mendapatkan istri yang baik untuk putranya. Tidak ada seorang ibu yang ingin melihat putranya menikah dengan gadis yang salah." tutur Lea.


"Lalu, apa ayah ibumu juga rela jika putrinya di siksa oleh bibi dan pamannya sendiri?" Dirga balik bertanya pada Lea.


"Ha?" Lea terkejut mendengar ucapan suaminya, bagaimana bisa Dirga tau jika bibi dan pamannya selalu menyiksanya.


"Kita menikah memang bukan karena cinta, tapi setidaknya aku adalah suamimu. Aku bertanggung jawab penuh atas dirimu, jadi tetap patuhi apa perintahku agar mamaku tidak menyakitimu." ucap Dirga pelan.


Lea mengangguk patuh.


Dirga memesan beberapa macam makanan yang enak enak, membuat Lea tertegun tak segera memakan makanannya.


"Kenapa kamu tidak memakan makananmu? kamu tidak suka?" tanya Dirga.


"Ha? Oh tidak, aku hanya teringat pada adikku yang tidak pernah makan enak seperti ini. Bolehkah makanan punyaku ini, ku bungkus untuk adikku saja?" tanya Lea menatap Dirga.


Dirga meletakan sumpitnya, lalu menatap mata istrinya.

__ADS_1


"Makan dulu makananmu, nanti aku akan membungkuskan nasi untuk adikmu." ucap Dirga melanjutkan suapannya.


Bibir Lea merekah, ia tidak menyangka bahwa Dirga adalah pria yang baik.


__ADS_2