
"Saya terima nikah dan kawinnya Alea Diandra Kirani binti Siswantoro dengan mas kawin tersebut di bayar tunai." Dengan lantang dan sekali tarikan nafas Dirga menjawabnya.
"SAAAAAAAAAHHHH . . ."
Jawab semua orang yang ada di dalam masjid sebelah rumah Lea, di hadiri beberapa saksi dari tetangga Lea, wali nikah, dan bapak penghulu.
"Alhamdulillah . . ." ucap pak penghulu tersenyum ramah.
Lea meneteskan air mata, sedari tadi ia hanya menundukan kepala saja. Bahkan Lea juga belum melihat, siapa sosok pria yang kini telah menjadi suaminya itu.
Pov Lea,
Pria disampingku menjawab dengan suara yang lantang, lalu semua orang menjawab 'SAH' bersamaan.
Saatku sangat sedih, adikku tidak ada di sini bersamaku. Juga aku menikah dengan seseorang yang sama sekali tidak ku kenal, bahkan seperti apa rupanyapun aku tak tahu.
Rasanya hati ini masih tak sanggup untuk melihat seseorang yang sudah sah ku panggil suamiku ini, aku takut jika dia adalah seorang pria tua berhidung belang, lalu dia akan meminta haknya sebagai suamiku dan?
Ah, tidak tidak!!
Aku seperti mengenal suara ini?
Ya, sepertinya ini adalah suara pria tua bangka yang membeliku di club kemarin.
Huh! Sialnya diriku, baru saja kemaren aku berhasil meloloskan diri tapi sekarang dia malah menjebakku di dalam sebuah pernikahan.
Memikirkan hal itu bisa membuat otakku tidak sehat, sekarang aku harus menerima ikhlas takdir ini dan semoga Allah selalu memberi yang terbaik untukku.
Tiba-tiba tangan putih bersih dengan jari-jari yang panjang mengulur ke arahku, bibi menyenggol lenganku agar aku menjabat dan mencium tangan itu.
Setelah selesai ijab, orang orang yang berada di sini mengucapkan selamat lalu bubar pulang ke rumah masing masing termasuk para tetangga dan pak penghulu.
"Sekarang saatnya sesi foto, mohon untuk masnya agar kedua tangannya memegang pinggul mbaknya. Dan mbaknya, tolong menatap ke arah suaminya ya mbak. Jangan menunduk terus, supaya saya bisa mengambil gambar yang bagus!"
Tanpa basa basi, Dirga langsung memegang pinggul Lea. Lea sedikit tersentak kaget, selama ini Lea tidak pernah dekat dengan laki laki apalagi berpacaran.
"Jangan mundur mundur, kalo kamu mundur mundur gimana aku bisa memegang pinggangmu gadis cilik?" bisik Dirga tepat di telinga Lea.
Pov Lea,
Bisa bisanya pria tua bangka ini menyebutku gadis cilik, dia pandai sekali memcari kesempatan untuk memegang tubuhku.
Tanpa ku duga, fotografer memberiku intruksi untuk mendongak agar bisa menatap pria ini.
Tiba tiba bibi Yura mendekat, lalu mendongakkan daguku ke atas.
__ADS_1
Deg!!
Jantungku benar benar berdetak kencang, mimpi apa aku semalam?
Ternyata pria yang ku kira laki laki berumur lebih dari 50 tahun ini justru berbalik drastis, sangat tampan rupawan!
Pria muda yang tampan, dengan rambut klimis, hidung yang mancung, dan kulit putih bersih tanpa ada kumis.
Ah! Jika tau bahwa menikah dengan pria setampan ini, jelas tidak akan ada wanita yang mau menolaknya.
Tapi, mengapa dia membeliku kemarin?
Apakah dia termasuk pria pria berhidung belang yang suka gonta ganti wanita untuk teman tidurnya setiap malam?
Setampan apapun itu, aku tidak akan suka dengan pria yang suka bergonta ganti pasangan. Setia saja dia tidak bisa, jadi wajar saja jika pria ini membeliku.
Lalu untuk apa dia menikahiku?
"Bagus, agak senyum dikit mbak!"
Suara potografer membuat Lea kaget, ia langsung menunduk sebentar lalu kembali menatap Dirga dan tersenyum tipis seperti arahan dari fotografer.
Mata Leo membelalak lebar, ia benar benar terkejut ternyata wajah gadis yang ia tebus di club kemarin.
Pov Dirga,
Saat fotografer menyuruhnya tersenyum, gadis ini tersenyum menunjukan deretan gigi putihnya yang rapi namun terdapat dua gigi gingsul di kanan dan sebelah kiri yang membuatnya terlihat sangat manis.
Namun aku menikahinya bukan karena tertarik pada gadis malang ini, tapi karena aku tidak ingin menikah dengan pilihan mama dan papa.
Aku juga tidak tau sifat gadis ini, bisa jadi ia seperti wanita wanita lain yang gila akan uang bukan?
Setelah sesi foto selesai, Dirga berencana akan membawa Lea pergi bersamanya. Ia memang tidak mencintai gadis ini atau lebih tepatnya belum mencintai, tapi ia tidak sejahat itu membiarkan orang orang jahat itu menyiksa istrinya.
"Kemasi pakaianmu, jangan membawa barang barang yang tidak penting. Kau bisa memintanya padaku apa keperluanmu, jadi bawa saja apa yang kamu butuhkan!" bisik Dirga santai.
Lea menatap suaminya, lalu memberanikan diri untuk bertanya.
"Bisakah kau menunggu sebentar saja? Adikku belum pulang dari sekolah, aku tidak bisa jika pergi tanpa berpamitan padanya." ucap Lea pelan agar tak terdengar oleh paman dan juga bibinya.
Dirga mengerutkan alisnya, ia berfikir bahwa gadis ini sepertinya sangat menyayangi adiknya.
"Tidak bisa! Waktuku tidak banyak, jadi tolong kemasi barangmu sekarang. Aku bisa mengantarmu bertemu adikmu kapan saja jika kau mau." ucap Dirga tulus.
"Huuuuuufffttt . . ."
__ADS_1
Pov Lea,
Aku menghembuskan nafas panjang, tapi tetap saja aku masuk ke dalam kamar untuk mengemasi beberapa baju yang akan ku bawa. Karena bagaimanapun, sekarang pria ini sudah menjadi suamiku. Meski aku tahu jika dia tidak akan bisa mencintai gadis miskin sepertiku, aku sangat sadar diri akan hal itu.
Di sisi lain, Gea tampak murung hari ini. Saat jam istirahat, ia hanya duduk sendiran saja tidak berkumpul bersama teman-temannya.
"Hallooo nona manis, pujaan hati babang Vano" ucap Vano membuyarkan lamunan Gea.
"Apaan sih, Vano! Bisa nggak sih kamu sehari aja nggak usah gangguin aku." kesal Gea, wajah Gea kini berubah cemberut.
"Yee, mana bisa babang idamanmu ini sehari gak deketin kamu Gea. Kamu tuh udah kaya nafas babang Vano tau, nggak? Ya bisa mati dong babang Vino kalo di suruh jauh jauh sama nafas!" gombal Vino.
"Udah ah, aku lagi males hari ini." ucap Gea beranjak dari duduknya.
Vano mengerutkan alisnya.
"Sama siapa?" tanya Vano polos.
"Sama kamu!" ketus Gea, lalu pergi meninggalkan Vano.
Lea keluar kamar dengan menenteng sebuah tas jinjing besar, tas jadul milik ibunya dulu masih ia simpan.
Dirga menatap tas yang Lea tenteng, tas berwarna hitam dengan tali berwarna coklat.
"Udah?" tanya Dirga tanpa basa basi.
Lea mengangguk.
Bibi Yura tersenyum palsu, ia mengelus punggung Lea dan berpura pura sedih saat Dirga akan menbawanya pergi dari rumahnya.
"Jaga Lea baik baik ya Tuan, kami sangat menyayangi Lea." ucap Yura penuh dusta.
Dirga hanya mengangguk tanpa ekspresi, rasanya malas sekali berlama lama melihat paman dan bibi Lea yang penuh drama ini.
"Kami pergi dulu." pamit Dirga yang langsung beranjak pergi, tanpa menyalami Yura dan Soni.
"Aku pamit dulu bi, paman. Titip Gea ya, tolong jaga Gea baik baik." ucap Lea sedih.
"Udah, nggak usah nangis aja kamu. Sukur sukur masih ada yang mau sama kamu, kalo enggak udah bibi nikahin kamu sama mang dadang juragan kambing!" ketus Yura, namun masih bisa di dengar oleh Dirga karena ia berhenti tepat di depan pintu untuk menunggu Lea keluar.
Pov Dirga,
Benar benar wanita ular! Bisa bisanya dia berlaku sedih saat keponakannya aku bawa dan bicara seolah olah sangat menyayangi, apakah ada seseorang menyayangi orang itu dengan cara memukulnya?
Dasar keluarga aneh!
__ADS_1
Batin Dirga.