
"Makasih ya mas, udah ngijinin aku maen ke sini." ucap Lea tersenyum menatap Dirga saat mobil yang ia kendarai bersama suaminya itu berhenti tepat di depan kontrakan baru Yura.
"Iya, tapi jangan nginep ya. Aku kerja dulu, nanti pulang kerja aku kesini lagi buat jemput kamu." ucap Dirga.
"Iya mas." ucap Lea bersiap membuka pintu mobil.
"Eh, tunggu!" ucap Dirga sepontan memegang tangan kanan Lea.
"Kenapa mas?" tanya Lea menoleh menatap suaminya.
Dirga memajukan tubuhnya ke kursi Lea, lalu mengangkat tangan melepatakan pada telinga Lea dan berbisik.
"Jangan lupa ya, entar malem kasih aku jatah lagi. Semalem aku belum puas, ntar aku pulang dari kantor lebih awal aja biar bisa maen lama sama kamu. Kamu buat aku ketagihan banget, apalagi des*han kamu buat aku gak pengen berangkat kerja." bisik Dirga pada telinga kanan sang istri, wajahnya menjadi cemberut.
Mendengar ucapan suaminya, wajah putih Lea kini menjadi merah merona karena malu.
"Ih, ngomong apaan sih mas. Nguawur banget ngomongnya pagi pagi." ucap Lea mengalihkan pembicaraan.
"Eh, dosa lo kamu kalo nolak gak mau nyelayanin suami." ucap Dirga lagi.
"Issshh... Iya iya, entar malem." ucap Lea mencium punggung telapak tangan Dirga, lalu segera keluar dari mobil karena tak sanggup membayangkan yang sudah Dirga lakukan padanya semalam.
"Hih, sadar Lea. Sadar!" Lea menepuk pipinya pelan sembari menggelngkan kepala.
Dirga yang menatap tingkah lucu sang istri dari dalam mobil hanya tersenyum.
__ADS_1
Dreeett, dreeett, dreeett, dreeeett.
Ponsel Dirga yang ada di saku kemajanya bergetar menandakan adanya panggilan masuk.
"Hallo." ucap Dirga.
"Hallo, nanti malam kamu harus pulang Dirga. Sendiri, jangan bawa Lea." ucap Vina pada sang putra di seberang sana.
"Kenapa lagi sih mas?" tanya Dirga.
"Udah kamu nggak usah banyak tanya, dateng ke rumah sebelum jam 7. Jangan telat!" ucap sang mama yang langsung mematikan panggilan telepon.
Tut!
"Hufft, apa lagi ini." ucapnya lagi, lalu melajukan mobilnya ke arah kantor.
Tok Tok Tok.
Lea mengetuk pintu rumah kontrakan sang bibi, sekarang bi Yura hanya tinggal berdua bersama Gea karena menghindari sang paman yang akhir akhir ini menjadi tempramental.
"Assalamu'alaikum, bi.. Bi Yura." teriak Lea dari luar pintu yang terus mengetuk pintu sembari mengintip ke dalam dari luar jendela.
Yura yang sedang memasak di dapurpun berbegas menuju ruang tamu saat mendengar suara keponakannya, lalu membuka pintu.
Ceklek!
__ADS_1
"Lea." ucap bi Yura memeluk tubuh kecil Lea.
Melihat tingkah sang bibi, Lea hanya bisa melongo. Karena selama ini saat ia dan adiknya tinggal bersama, sekalipun sang bibi tak pernah bersikap baik padanya apalagi memeluk dirinya.
"Iya bi, aku maen ke sini. Boleh kan?" ucap Lea membalas pelukan sang bibi.
"Iya iya, boleh sayang. Masuk masuk." ucap bi Yura mempersilahkan Lea untuk masuk.
Hati Lea menghangat saat mendengar sang bibi memanggilnya sayang, diam diam ia tersenyum sembari masuk membawa beberapa kantung plastik berisi belanjaan kebutuhan rumah serta beberapa camilan untuk sang bibibdan adiknya.
"Bi, sini." ucap Lea menepuk kursi kayu di senelahnya.
Bi Yura yang baru saja menutup pintupun langsung duduk di sebelah Lea.
"Hallo Dirga sayang." ucap Tiara yang tiba tiba masuk ke dalam ruangan Dirga tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Kamu apa apaan sih Ra, masuk ke ruangan orang tanpa permisi langsung nyelonong masuk aja. Ketuk pintu dulu setidaknya." ucap Dirga kesal karena Tiara asal masuk.
"Ya biarin aja, toh nantinya juga aku adalah istri bos di kantor ini." ucap Tiara dengan bangganya.
Salah satu seorang karyawan laki laki yang sedang berada di dalam ruangan Dirga untuk meminta tanda tangan berkas berkaspun langsung mengerutkan dahinya heran mendengar ucapan dari Tiara.
"Kamu boleh keluar ruangan dulu ya Yud, nanti saya panggil lagi kalo sudah selesai." ucap Dirga pada karyawan laki laki tersebut.
"Baik pak, kalau begitu saya permisi dulu." ucapnya menunduk lalu melangkah keluar.
__ADS_1