
"Gimana? Seneng gak?" tanya Dirga kala Lea menenteng beberapa kantung paper bag coklat berisi beberapa baju baju maupun sepatu.
Lea langsung menganggukan kepala dengan wajah tersenyum senang, Lea berjalan menyusuri mall dengan mengombang ngambilangkan kantung kantung paper bagnya. Entah mengapa hati Dirga merasa bahagia saat melihat Lea tersenyum, ia masih belum bisa mencintai gadis kecil di sampingnya ini namun hatinya turut ikut terluka kala mendengar sang mama memakai dan juga memarahi Lea dengan ucapan ucapan kasarnya.
"Mau es, nggak?" Dirga tiba tiba bertanya saat melihat salah satu kedai es krim, tak jaih dari tempat mereka berdiri.
Lea mengangguk cepat mengisyaratkan bahwa ia mau mau, namun tak berani meminta pada sang suami.
"Apa arti ngangguk ngangguk?" tanya Dirga mencoba menggoda gadis kecil ini, karena sang istri benar benar tak boros kata.
"Iya, aku mau kalo di tawarin." ucap Lea meringis menampakan gigi putih bersihnya, terdapat sebuah gingsul yang membuatnya terlihat semakin lebih manis saat tersenyum.
"Jangan lupa bawain makanan buat Gea sama bi Yura." ucap Dirga mengingatkan.
'Terima kasih Ya Allah, sudah memberiku laki laki yang baik dan tulus kepadaku. Jika dia tidak mencintaiku dan belum bisa mencintaiku, mohon bantu hambamu ini agar bisa membuat hatinya terbuka agar hamba bisa perlahan masuk ke dalamnya.'
__ADS_1
Batin Lea dalam hati.
"Hei, Le." ucap Dirga sembari menggerakan telapak tangannya di depan wajah Lea yang sedang melamun.
"Maa... Maaf mas." ucap Lea gagap.
"Kenapa? Masih laper? Apa ada yang kamu pengenin tapi gak berani bilang?" tanya Dirga sembari menyendok es krim ke dalam mulutnya.
Lea menggelengkan kepala pelan.
"Terus?" ucap Bima tanpa menoleh sedikitpun ke arah istrinya.
"Ternyata Tiara datang ke kantor Dirga lalu bertemu dengan Lea yang kebetulan lagi di ajak sama Dirga ke kantor, lalu cerita ke mamanya. Nah kemaren masih pagi si Melinda dateng tuh ke sini, nanyain bener apa enggak Dirga udah nikah." cerita Vina pada sang suami.
"Terus?" ucap Bima lagi, namun masih dengan posisi yang sama.
__ADS_1
"Ya mama jelasin dong kalo Dirga itu belum nikah, dan berita itu nggak bener. Mama juga bilang kalo kapan kapan akan ngebuat acara makan malem buat ngebahas lebih lanjut tentang perjodohan Tiara dan Dirga pah." ucap Vina.
"Terus?" lagi lagi jawaban Bima masih sama.
"Papa apa apaan sih di ajak ngobrol gak ngenakin hati banget, dari tadi tanggapan papa cuman teras terus aja." ketus Vina sembari tangan kirinya menabok paha Bima.
"Terus papa harus gimana lagi? Seharusnya kamu itu mikir dong mah, Dirga itu udah nentuin siapa pendamping dia dan dia juga udah nikah tapi kenapa mama malah sibuk ngatur hidup Dirga terus?" ucap Andra melipat koran yang ia pegang.
"Dia emang udah nikah tapi mama yakin Dirga gak cinta sama Tiara, toh Dirga itu anak kita pah. Jadi mama berhak pengen kasih yang terbaik buat Dirga, dia harus punya istri yang bisa ngedukung masa depan dia." ucap Vina.
"Terus maksud mama, Lea itu gak bisa ngedukung masa depan Dirga?" ucap Bima.
"Jelas enggak dong, dia perempuan gak jelas. Asal usulnya dari mana aja kita nggak tau, mama oengen Dirga nikah dengan perempuan yang jelas bibit, bebet, dan bobotnya pah." ucap Vina.
"Udah lah, papa lagi males debat sama mama." ucap Bima melepas kaca matanya lalu beranjak dari sofa ruang kelaurga meninggal Vina sendiri.
__ADS_1
"Ih, apaan sih. Satu rumah orangnya nyebelin semua!" ucap Vina gemas.