Menikahi Gadis Tebusan

Menikahi Gadis Tebusan
9. Om ini?


__ADS_3

Lea menoleh ke belakang menatap Gea dan Vano.


"Apa om ini kakakmu?" tanya Gea kepada Vano.


Vano mengangguk mantap.


Adik Lea benar benar keterlaluan, dia bertanya pada kakaknya dan menyebutku dengan panggilan om. Apa wajahku setua itu? Apa dia tidak bisa melihat ketampananku sudah seperti Arjuna yang turun dari langut dengan mengendarai kuda. Dasar kakak dan adik sama sama menyebalkan!'


Batin Dirga kesal, karena adik Lea memanggilnya dengan om.


"Dia, adikmu?" tanya Lea pada suaminya.


Dirgapun melepas kaca matanya dan mengangguk.


"Jadi kakak menikah sama kakaknya Vano?" tanya Gea lagi, memastikan.


Lea mengangguk, membenarkan perkataan adiknya.


"Hah?? Menikah?" Vano mengerutkan dahinya.


Gea mengangguk lagi.


Pasalnya, mengapa hanya ia saja yang tidak tahu jika sang kakak telah menikah. Bahkan, mungkin sang mama dan papanya juga belum tahu jika Dirga menikah.


"Lu nggak salah kak, nikahin kakaknya Gea?" celetuk Vano asal.


Dirga menoleh menatap adiknya, penasaran mengapa adiknya bertanya seperti itu.


"Kenapa emang?" Dirga balik bertanya.


"Ya gimana ya, gue juga sungkan ngomongnya!" Vano menggantung ucapanya, membuat semua orang penasaran.


"Apaan sih No, bilang aja!" ketus Gea.


"Iya iya ayang, jangan marah dong! Enggak . . . Gue heran aja sama kakak kamu, masa mau nikah sama kakak aku yang udah tua ini. Kaya nggak ada cowo laen yang lebih keren dan muda aja, kan biar lebih cocok dan enak di pandang kalo seumuran." ucap Vano asal.


Dirga yang mendengar ucapan sang adikpun langsung mengeluarkan jitakan pada jidat bocah kecil itu.


"Aduh, sakit tau kak!" ketus Vano.


Lea dan Gea hanya tertawa mendengar ucapan Vano, entah mengapa bocah ini memiliki sifat yang sangat berbalik seratus depalan puluh derajat dengan sang kakak yang super jutek.


Dirga melajukan mobilnya menuju supermarket, ia berencana akan mengajak Lea berbelanja untuk kebutuhan sehari hari dan membelikan beberapa camilan untuk adiknya.

__ADS_1


"Ambil apapun yang kamu butuhin." ucap Dirga pada Lea selepas memasuki supermarket.


"Aku?" tunjuk Lea pada dirinya sendiri.


Dirga hanya mengangguk, lalu Lea mengambil troli di ikuti dengan Gea di belakangnya serta Vano yang sudah berjalan jauh ke depan di bagian rak stok makanan ringan.


"Jangan lupa suruh adikmu mengambil apapun kebutuhan dan snack yang dia suka." ucap Dirga tanpa ekspresi


Ia menyilangkan kedua tangannya ke depan dada, jas hitam dengan kaca mata senada membuat penampilannya terlihat sangat keren dan berwibawa.


Lea hanya mengangguk, lalu menggandeng tangan adiknya sembari mendorong troli.


"Kak, apa kakak sebelumnya sudah kenal sama kakaknya Vano?" tanya Gea penasaran.


"Belum dek, bahkan kakak baru saja lihat dia saat acara akhad tadi pagi." jawab Lea apa adanya sembari tangannya memilah beberapa kebutuhan lainnya.


Gea yang mendengar jawaban dari sang kakakpun tampak berfikir.


"Vano itu anak orang kaya raya kak, tapi kenapa kakak Vano kau nikahin kakak? Sedang kita hanya orang miskin kak." ucap Gea.


Lea menaikan bahunya, ia juga berfikir hal yang sama seperti apa yang Gea fikirkan.


"Tapi sepertinya dia pria yang baik, tapi entahlah Dek." ucap Lea sedikit tersenyum.


Dirga menatap Vano dengan tatapan kesal.


"Apa tidak kurang?" ucap Dirga seperti mengejek.


"Yang bener nih kak? Masih boleh ambil lagi?" tanya Vano dengan antusias.


"Apa kamu pengen menuhin kamarmu sama snack?" tanya Dirga lagi.


"Aaassh!! Padahal aku mau ambil lagi kalo kakak bilang iya." celetuk Vano.


"Jangan rakus!" ketus Dirga.


Tak berselang lama, Lea dan adiknya kembali ke arah Dirga. Namun tidak banyak barang yang Lea ambil.


Ya . . . Karena Lea berfikir hanya perlu mengambil apa yang dia butuhkan, bukan apa yang ia inginkan. Toh itu bukan uangnya meskipun Dirga sudah menjadi suaminya, namun tetap saja Dirga menikahinya bukan karena suka saling suka.


"Cuma ini yang kamu beli?" tanya Dirga menaikan satu alisnya.


"He'em, sama mau es krim juga ya?" tanya Lea yang kini sudah mulai berani berbicara pada suaminya itu.

__ADS_1


"Apa kamu akan membiarkan aku mati kelaparan setelah kita menikah?" tanya Dirga.


Lea memelolotkan matanya.


"Kamu tadi tidak bilang kalo mau beli kebutuhanmu juga." ucap Lea menundukan kepala.


"Harusnya kamu sudah tau jika kamu sekarang sudah memiliki suami, haddeeeeehh!" ucap Dirga lalu menarik tangan Lea untuk menemaninya mencari barang barang yang ia butuhkan.


Sekarang, tinggal Gea dan Vano yang berada di salah satu lorong supermarket dengan sebuah troli dan keranjang belanja milik Vano.


"Gea." ucap Vano menyenggol lengan Gea.


Gea menoleh menatap Vano, padangan kedua bocah ini bersatu dan saling menatap.


"Aku sebenernya suka sama kamu Ge." ungkap Vano jujur, ia merasa bahwa ini adalah moment yang pas untuk mengungkapkan perasaan sukanya pada Gea yang sudah ia pendam selama ini.


Mata Gea menyipit.


"Kamu ngomong apaan sih No, belajar dulu sana yang bener biar nilai kamu C mulu!" ucap Gea.


"Sensi banget sih Ge, orang aku cuman pengen ngomong jujur aja." ucap Vano lesu, karena Gea tidak menganggap perasaannya sepele meski ia tahu jika seusianya tidak sepantasnya membahas masalah rasa.


"Hem." hanya kalimat itu yang kelaur dari mulut Gea.


Di dalam mobil, Vano yang biasanya suka melawak dan banyak berbicara sekarang hanya diam saja. Pandangannya hanya ke samping menatap ke arah jalanan, dengan jawah cemberut dan sedikit lesu.


Dirga melajukan mobilnya kebarah rumah bibi Yura, untuk mengantar adik Lea pulang.


Bagaimanapun Gea tetap akan tinggal bersama dengan Yura, tapi setidaknya ia sudah memikirkan bahwa Yura tidak akan bisa menyakiti Gea kembali.


Sesampainya di gang rumah Yura, Lea segera mengantar adiknya pulang ke rumah.


"Ngapain kamu dateng lagi kesini?" ucap Yura dengan sinis.


"Aku ke sini cuma mau nganter Gea aja kok bi, dan aku mau nitip Gea sama bibi. Tolong jaga Gea ya bi, aku akan sering sering menjenguk Gea." ucap Lea memeluk sang adik, air matanya menetes pelan dan dengan cepat segera ia tepis.


"Halah udah, nggak usah banyak drama. Kaya sinetron aja sok sokan nangis!" ejek Yura yang sama sekali tak merasa iba dengan perpisahan kedua keponakannya ini.


"Baik baik di sini ya Dek, jangan bandel, jangan ngebuat bibi sama paman marah. Kakak bakal sering sering ke sini buat jenguk kamu, paham kan sayang?" ucap Lea mungusap lembut pipi adiknya yang sudah memerah akibat menahan air mata.


Gea hanya mengangguk pelan, air matanya sudah di ujung dan ingin segera keluar dari bendungan kelopak matanya.


"Jangan menangis anak cantik, kakak sayang banget sama Gea. Doain biar kakak bisa segera jemput Gea buat tinggal sama kakak ya?" Lea berusaha menghibur dirinyansendiri sang sang adik.

__ADS_1


Lagi lagi Gea hanya bisa mengangguk.


__ADS_2