Menikahi Gadis Tebusan

Menikahi Gadis Tebusan
6. Menikah?


__ADS_3

Jam menunjukan pukul 07.05


Selesai mengenakan dasinya, Dirga segera meraih benda pipih berbentuk persegi empat yang tergeletak di atas meja. Lalu jemari tangannya dengan lihai berselancar menjajahi deretan aplikasi yang terpampang di layar benda itu, kemudian ibu jarinya berhenti di aplikasi berwarna hijau.


Mencari kontak teratas bernama Radit, lalu menekan tombol call berwarna hijau.


Tuuuutt, tuuuutt, tuu . .


"Hallo" terdengar suara dari seberang telepon.


"Hallo dit, gimana? Lo udah atur semuanya belom?" tanya Dirga tanpa basa basi.


"Udeh boooosss, siap semua nih" jawab Radit semangat.


"Lo pastiin semua rapi, gak ada orang lain yang tau ya? Gue akan meluncur sekarang." jawab Dirga cepat, lalu mematikan sambungan telepon tanpa menunggu Radit untuk menjawabnya.


Di meja makan, sudah terdapat sang mama, papa, dan juga adiknya Vano.


Ya, Vano masih berada di rumah karena memang sekolah adiknya menerapkan program full day school, di mana peserta didik mendapat pembelajaran 8 jam mulai pukul 7.30 hingga pukul 15.30.


"Aku berangkat" ucap dingin Dirga.


Sang mama yang mendengar ucapan putra pertamanya itu langsung meletakkan garpu, lalu menatap ke arah putranya yang sudah melewati meja makan.


"Kamu nggak sarapan dulu?" ucap Vina sedikit berteriak.


"Enggak" jawab Dirga santai melanjutkan langkahnya.


"Kak, gue nebeng!" teriak Vano.


Dirga menghentikan langkahnya, lalau memutar tubuh menatap Vano yang sudah berdiri namun masih berada di meja makan.


"Lo suruh pak Beni aja buat nganter, gua lagi banget" ucapnya santai.


Tak ada jawaban dari Vano, namun wajah pria cilik ini berubah menjadi cemberut dengan mulut yang begitu mengerucut.

__ADS_1


Di sisi lain, Lea sudah di di rias oleh MUA yang Radit pesan. Memang akad tidak di adakan acara besar, tapi setidaknya Dirga bisa mengambil foto yang bagus saat selesai ijab.


Gea berangkat sekolah dengan wajah sedih dan sendu, ia takut jika saat pulang nanti sang kakak sudah tidak berada di rumah. Bahkan kakaknya sendiri juga tidak tahu, siapa orang yang akan menikahinya.


Pov Lea,


Pagi ini bibi menggedor gedor kamarku, entah mengapa raut wajahnya hari ini tidak seperti biasanya yang selalu marah dan bersuara kencang setiap kali berbicara padaku maupun pada Gea adikku. Bibi dan pamanku memang belum di karunia momongan, tapi sifatnya yang kasar membuatku berfikir mungkin Tuhan sedang menghukumnya tetapi dia tidak pernah merasa terhukum.


"Lea, cepat mandi! Jangan membuatku marah, hari ini aku sedang tidak ingin membuat kerutan di wajahku."


Itulah kata yang di ucapkan bibi padaku saat baru saja aku membuka pintu kamar, entah mengapa hari ini bibi membangunkanku pada pukul 4.30.


Sebenarnya aku sidah bangun, baru saja selesai menjalankan dua rakaatku.


Biasanya tanpa bibi menggedor pintu, selesai sholat aku akan langsung mencuci piring, menyapu, memasak, lalu mandi dan mengantar adikku ke sekolah.


Selesai mandi dan berganti, di kamarku terdapat seorang wanita cantik yang membawa sebuah koper yang sudah terbuka dengan isian berbagai macam make up dan beberapa gaun maupun kebaya. Tapi di atas kasurku sudah terdapat kebaya putih dengan bawahan jarik motif berwarna coklat pekat, tampak cantik.


Tapi, siapa yang akan memakai kebaya itu?


Atau bahkan, bibi menjodohkanku dengan mang Dadang juragan kambing di desa ini?


Belum sempat aku berfikir akan pertanyaan pertanyaan yang muncul itu, tiba tiba wanita cantik itu menghampiriku.


"Silahkan duduk mbak, kita make up dulu ya? Selesai make up, baru ganti baju" ucap wanita cantik yang ku rasa adalah MUA atau sering orang bilang perias manten.


Deg!


Jantungku seakan berhenti berdetak, apa lagi ini?


Baru saja kemarin aku berhasil meloloskan diri dari pria tua itu, dan sekarang bibi menjualku kepada siapa lagi?


"Ini buat acara apa ya mbak?" tanya Lea pelan, namun ia menurut untuk duduk.


"Ini kan buat acara ijab mbak, masa mbak yang nikah nggak tau?" jawab sang perias sembari tersenyum.

__ADS_1


Jantung Lea sekarang berdetak kencang, rasa takut dan cemas menjadi satu.


Tak berselang lama, Dirga sudah sampai di gang menuju rumah Lea. Namun mobilnya tidak bisa masuk seperti kemarin, gang di deretan rumah Lea memang sangat sempit. Sebenarnya bisa saja Dirga memaksakan mobilnya untuk masuk, tapi ia menyayangkan mobilnya jika sampai baret. Setelah melepas seat belt, Dirga sudah menemukan mobil Radit yang terparkir tidak jauh dari mobilnya dan satu mobil lain yang mungkin milik MUA pesanan Radit.


Dirga merogoh ponsel di dalam saku jasnya, lalu segera mencari nomor Radit.


"Hallo, Dit. Gue udah nyampe di rumah gadis itu, lo di mana?" ucap Dirga yang masih berada di dalam mobil.


"Ya gue di rumahnya lah, lu ke sini aja. Masa gue harus nyusulin dulu, kaya orang baru pulang sunat aja lu!" oceh Radit.


"Oh ya, siapa nama gadis itu?" tanya Dirga serius, pasalnya ia harus belajar menghafal nama gadis itu agar tidak salah dan tidak perlu mengulang saat prosesi ijab.


Seketika Radit mengerutkan alisnya, bagaimana mungkin temannya yang bodoh itu tidak tahu nama gadis yang akan ia nikahi.


"Dit! Woy, lu masih denger gue gak sih?" teriak Dirga dari seberang telepon yang membuatnya kaget.


"Iya iya, gue masih ada. Lah elu aneh banget, masa mau nikah kaga hafal sama calon bini lu sendiri" ucap Radit apa adanya.


"Udah deh, ngga usah mulai. Ini bukan waktu yang tepat buat ngajak ribut!" ketus Dirga.


"Males banget gue debat sama lu, kalo lu bukan bos gue juga udah gue hantam kebodohan lo itu! Nama dia itu Alea Diandra Kirani, usianya juga masih muda banget bro baru 18 tahun. Jadi masih dedek emeeeesss banget, apa lagi kalo lo pakek pasti enak banget tu rasanya!" ucap Radit cengengesan.


"Otak lo emang gak pernah normal soal wanita, kalo nama bokap dia?" ketus Dirga.


"Nama bokapnya yang tertulis di surat surat sih Siswantoro." jawab Radit serius.


"Ok!"


Tut! Seperti biasa, Dirga selalu mematikan sambungan telepon tanpa menunggu jawaban dari temannya itu.


Tak berselang lama, Lea sudah siap dengan riasan yang sempurna. Ia benar benar terlihat sangat cantik, kulitnya yang putih mulus serta bibirnya yang tipis dan giginya yang gingsul membuatnya penampilannya begitu memukau.


"Sempurna!" ucap wanita yang meriasnya itu.


Lea tidak menangis namun juga tidak menunjukkan raut bahagia di wajah cantiknya, rasanya ia sudah ikhlas dengan apa yang menimpa hidupnya.

__ADS_1


Dirgapun sudah sampai di rumah Lea, ia mengenakan setelan jas berwarna hitam, kemeja berwarna putih, serta dasi berwarna hitam yang senada dengan jasnya, tak lupa memakai peci. Wajahnya yang tampan dan postur tubuhnya yang tinggih gagah membuat penampilannya sangat memikat hati, tampan sekali.


__ADS_2