
Brok brok brok!
Tak berselang lama dari perginya orang orang suruhan juragan Dadang, pintu rumah Yura di gedor gedor kuat lagi oleh seseorang yang membuat Yura ketakutan.
"Siapa lagi sih itu? sial! Gara gara mas Soni hidupku jadi kacau balau, rumah dan tanah milik almarhum ibu dan ayah Lea juga sudah terjual habis karena ulah mas Soni. Padahal dia kakakku, tapi aku malah tidak bisa menjaga amanat baik dari mbak Sari untuk membesarkan Lea dan Gea dengan baik juga tulus." guman Yura pelan, ia hanya bisa duduk di meja makan sembari sesekali menatap ke arah pintu.
"Yu raaaa, Yurraaaa. Bukain woii!" teriak Soni dari luar rumahnya sembari terus menggedor gedorkan pintu rumahnya.
"Astaga, itu kan mas Soni." ucap Yura langsung berdiri lalu beranjak menuju ruang tamu untuk membukakan pintu, karena ternyata itu adalah suaminya bukan orang orang suruhan juragan Dadang.
Ceklek!
Suara pintu terbuka.
"Heh! Lama amat sih lo buka pintu, mau gue habisan lo?" ucap Soni dengan sempoyongan berjalan memasuki rumah sembari membawa sebotol minuman keras.
"Ya Allah mas, kamu kenapa semakin menggila kaya gini sih?" ucap Yura yang jatuh ke kursi akibat di dorong oleh suaminya yang sedang mabuk berat.
"Apa lo bilang? Ya Allah? Ha ha ha, sejak kapan lo inget Tuhan! Ha ha ha, udah sini lo anterin gue ke kamar! Gue udah gak kuat jalan, pusing kepala gue." ucap Soni semakin ngawur, ia juga tersungkur di kursi karena tak bisa mengendalikan keseimbangan tubuhnya.
"Enggak, aku nggak sudi bantuin kamu. Eh denger ya mas, gara gara kamu sekarang anak buah suruhan juragan Dadang pada dateng ke sini buat nagih hutang kamu dan mereka nyuruh kamu cariin duit itu gak lebih dari 1 x 24 jam, kalo kamu nggak bisa dapetin duit itu rumah ini akan di sita mas!" teriak Yura histeris.
"Heh! Tutup mulut lo, diam!" teriak Soni tak mau kalah.
"Apa kamu bilang? Diam? Eh mas, gara gara kamu hidup aku jadi sengsara! Tanah sama rumah milik mbak Sari jadi abis gak tersisa cuman buat judi sama mabok kamu kan." ucap Yura kencang mengutarakan isi hatinya, ia benar benar sudah tidak tahan dengan perlakuan Soni.
__ADS_1
"Apa lo bilang? Gara gara gue? Eh, elo sendiei juga make buat foya foya. Jadi jangan salahin gue! Lagian masih ada satu keponakan lo itu, lo bisa jual Gea sama mami mucikari biar kita bisa dapet duit banyak dan bisa bayar utang ke juragan Dadang. Pinter kan gue? Ha ha ha ha." Soni tertawa puas, entah bagaimana ia bisa berbicara seperti itu.
"Heh? Gea? Enggak! Aku nggak akan biarin kamu jual keponakan aku lagi, kamu udah cukup jual Lea. Jangan pernah sentuh Gea! Dia sakit mas, mbak Sari itu nyuruh aku buat jaga mereka. Lagian itu hutang kamu dan aku gak pernah tau uang itu, jadi kamu pikir aja sendiri buat lunasin utang utang kamu itu." teriak Yura lalu keluar meninggalkan rumah.
"Lihat aja loe, lo nggak akan bisa cegah gue buat ngejual keponakan lo yang penyakitan itu! Ha ha ha." teriak Soni namun sudah tidak di dengar lagi oleh Yura.
Lea keluar ruangan ingin menuju pantry, ia ingin membuat segelas teh hangat. Entah mengapa suasana hatinya menjadi rusak setelah kedatangan tamu tak di undang tadi, ia juga masih terkejut saat mengetahui ternyata sang suami sebenarnya akan di jodohkan dengan wanita itu.
'Pantas saja mamanya mas Dirga selama ini nggak suka sama aku, bahkan bilang ke temen temennya kalo aku cuman pembantu di rumah. Apa karena aku ini cuman gadis miskin yang nggak pantes buat mas Dirga? Apa aku serendah itu? Apa karena mbak Tiara lebih sempurna dan lahir dari keluarga yang kaya raya, makanya ibunya mas Dirga suka sama mbak Tiara?'.
Lea berjalan dengan batin yang penuh pertanyaan.
"Oh, jadi bener dia istrinya pak Dirga?"
"Iya tuh, aneh banget. Sekelas pak Dirga yang di rebutin banyak cewek malah nikahnya sama wanita kaya gitu."
"Kalo pak Dirga sama bu Tiara sih masih cocok lah ya, seenggaknya masih sama sama dari keluarga konglomerat. Lah ini? Kaya gembel di pungut sama konglomerat men."
"Ha ha ha ha, ah lo bisa aja. Tapi emang bener sih, yang ini sama yang ono jelas beda level jauh. Yang ono berkelas banget, eh yang ini malah jungkir balik."
Ucap para karyawan yang duduk di kursinya masing masing tanpa ada rasa takut berbicara seperti itu, seolah olah pembicaraan itu sengaja di perlihatkan agar Lea tersindir.
"Huuusst, jangan kaya gitu dong temen temen. Kita nggak boleh ngurusin hidup orang, apa lagi mbaknya istri bos kita loh." tegur salah satu karyawan berhijab hitam.
"Apaan sih lo man, selalu nggak ngenakin orang ngegosip aja." ketus salah satu karyawan yang tadi membicarakan Lea.
__ADS_1
Lea terus berjalan menuju pantry, sesekali menutup matanya sekejap lalu mengambil nafas dalam dan menghembuskannya pelan agar hatinya merasa tenang.
Tempat yang ia kira lebih tenang dari pada di rumah yang seperti neraka itu, justru di sini malah ia mendapat caci maki yang membuat hatinya sakit dengan ucapan ucapan karyawan suaminya.
"Permisi mbak." ucap Lea pada salah satu office girl yang sedang membuat kopi di pantry.
"Oh, iya mbak silahkan. Mau buat kopi ya?" tanya office girl yang terdapat tulisan sifa di sebuah tag name yang terpajang di dadanya.
"Iya mbak." ucap Lea tersenyum ramah.
"Silahkan duduk mbak, biar saya buatin kopi." ucap office girl itu.
"Eh, nggak usah mbak. Saya bisa buat sendiri kok, saya nggak minum kopi." ucap Lea.
"Oh, mau buat teh ya? Ya udah nggak apa apa mbak, biar saya buatin teh. Duduk dulu mbak, biar saya buatin. Ini sudah tugas saya kok." ucapnya tulus.
"Ya udah, makasih ya mbak." ucap Lea lalu duduk di samping office Sifa.
"Mbaknya karyawan baru ya di sini? Kok saya ndak pernah ketemu sama sekali sebelumnya." ucap Sifa sembari menuang gula.
"Iya mbak." jawab Lea asal.
"Oh, pantesan kok saya ndak pernah liat. Soalnya karyawan karyawan lain itu selalu minta di buatin teh atau kopi mbak, jadi saya gak asing sama wajah wajah mereka meskipun ndak terlalu kenal juga. Hehe" jawab Sifa, Leapun tersenyum.
Ia merasa lebih nyaman berada di sini, karena orang orang kecil memang lebih bisa menghargai orang lain.
__ADS_1