
"Ini mbak teh angetnya, kenalin nama saya Sifa." ucap Sifa tulus sembari tersenyum.
Lea mendongak menatap wajah gadis cantik yang telah membuatkan secangkir teh untuknya, kemudian membalas senyumannya.
"Iya mbak, kenalin juga nama saya Lea." ucao Lea menjabat mengulurkan tangan kanannya pada wanita yang baru ia ketahui namanya.
Sifa yang mendapat uluran tangan dari Leapun segera mengelap telapak tangannya pada seragam berwarna biru yang ia kenakan.
"Ngapain mbak?" Lea mengerutkan dahinya.
"Maaf mbak, tangan saya kotor habis ngelap ngelap kena debu sama kotoran." ucap Sifa cengengesan.
"Jangan panggil saya mbak, saya baru lulus sekolah kok." sanggah Lea ramah.
"Lah! Kita sama dong mbak, saya juga baru lulus tau." celetuk Sifa.
Saat Lea sedang asik mengobrol dan bercanda dengan office girl yang bernama Sifa tersebut, tiba tiba Dirga masuk ke ruang pantry.
Sifa yang mengetahui Dirga pemilik dari perusahaan tempatnya bekerjapun langsung berdiri dan menundukan kepala sebagai tanda hormat.
"Selamat siang pak." ucap Sifa menunduk.
Dirga hanya menganggukan kepala pelan, lalu menoleh ke arah Lea.
"Kamu ngapain bisa sampai pantry?" tanya Dirga pada Lea yang masih duduk di sebuah kursi.
Lea mengangkat kepalanya pelan.
"Kamu udah selesai belum mas meetingnya?" tanya Lea pelan, rasanya ia tak ingin keluar dari ruang pantry ini takut jika bertemu karyawan karyawan yang tadi mengolok ngoloknya.
Sifa yang mendengar Lea memanggil bosnya dengan sebutan mas itupun langsung menoleh, memastikan jika telinganya tak salah dengar.
"Mas?" guman Sifa pelan, nyaris tak terdengar.
"Udah, kamu ngapain di pantry? kan udah aku bilang suruh tunggu di ruangan aku, kenapa nyampe sini?" tanya Dirga terlihat kawatir.
Radit belum menyampaikan pada Dirga jika Tiara baru saja datang ke ruangannya, dan melabrak istrinya.
Di depan gerbang sekolah Gea, Yura berdiri menunggu keponakannya keluar gerbang. Ia benar benar sangat takut jika suaminya itu datang dan menjual Gea pada mami mucikari seperti nasib kakaknya dulu, beruntungnya Lea di tebus oleh laki laki yang tepat.
Sebenarnya Yura menyayangi Lea dan Gea, hanya saja karena hasutan dari suamimya membuat ia harus tega menjahati kedua keponakannya itu. Tapi sekarang Yura benar benar sudah tidak tahan lagi atas perlakuan Soni yang sudah melampaui batas, bahkan besok ia harus siap angkat kaki dan kehilangan rumahnya karena ulah Soni.
"Bibi?" ucap Gea yang baru saja keluar dari gerbang dengan menggendong tas di punggungnya.
"Gea . ." ucap Yura menoleh menatap keponakannya.
__ADS_1
"Bibi ngapain di sekolahan aku?" ucap Gea penuh tanya.
"Eh, ada neng Gea pujaan hati babang Vano nih." ucap Vano tiba tiba muncul dari belakang Gea.
"Ih, apaan sih No." ketus Gea sedikit bergeser menghindari Vano.
"Jangan gitu dong my lope lope aku, kalo Gea marah terus nanti hati babang Vano bisa terluka tersayat dan berdarah darah." ucap Vano tak jelas seperti biasanya.
"Ish, udah ah!" Gea mengibaskan tangannya.
"Ge, mau tau tempat tinggal kakak kamu yang sekarang gak?" ucap Yura memegang lengan Gea.
'Rumah kakak Gea? Kakak Gea kan sekarang tinggal bareng abang gue di rumah gue'.
Batin Vano mengerutkan darinya, penasaran dengan apa yang di katakan bibinya Gea.
Gea menggeleng pelan.
"Enggak bi, emang kenapa?" tanya Gea dengan polosnya.
"Ge, kamu jangan pulang ke rumah ya. Biar bibi bantu cari alamat kakak kamu." ucap Yura tulus.
"Kenapa bi? Bibi ngusir aku dari rumah?" Gea menyipitkan matanya.
Kedua mata Vano melotot mendengar ucapan Yura, ternyata istri kakaknya itu dulu di jual oleh paman dan bibi Gea.
"Bi, kakak Gea tinggal di rumah aku." ucap Vano tiba tiba.
Gea menoleh cepat, ia menggelengkan kepala pelan. Ia tidak ingin jika sang kakak dalam masalah yang sama lagi seperti dulu.
"Kita jemput Vano dulu ya Le, ini udah telat soalnya. Kasian kalo dia nunggu lama." ucap Dirga pada sang istri, kemudian di susul oleh anggukan Lea.
Tak berselang lama, Soni tiba tiba datang ke sekolah Gea bersama tukang ojek.
"Heh Yura!" teriak Soni melihat Yura menggandeng tangan Gea yang sedang berbincang dengan Vano.
Deg!
Jantung Yura dan Gea berdetak kencang, Gea sendiri takut jika snag paman akan benar benar menjualnya.
"Mas, ngapain kamu ke sini?" tanya Yura yang tidak melepaskan tangannya dari pergelangan tangan keponakannya.
"Sini, serahin Gea sama gue." ucap Soni dengan nada tinggi.
"Jangan mas! Aku mohon sama kamu, tolong jangan sentuh Gea." ucap Yura menepis tangan suaminya.
__ADS_1
Di sekitar area sekolah sudah sepi, hanya terdapat Vano, Gea, dan beberapa murid yang telat mendapat jemputan mereka.
"Gak udah banyak bacot lo! Nanti lo juga bakal dapet bagian juga, udah sini." ucap Soni menarik paksa tangan Gea dari genggaman istrinya.
"Aku mohon mas, jangan mas!" ucap Yura berusaha menarik kembali tangan Gea.
"Om, jangan kasar dong sama perempuan. Gimana sih cowok kok beraninya sama perempuan, cemen banget." ucap Vano mendadak berani saat tangan pujaan hatinya di tarik secara paksa.
Soni menoleh mendengar ucapan Vano, menyunggingkan bibir tersenyum sinis.
"Siapa lo anak bayi seumur jagung berani nantang gue?" ucap Soni menepuk pundak Vano.
"Jangan salah om, aku emang anak kecil tapi om nggak bisa seenaknya merlakuin perempuan kasar." tegur Vano mengingatkan Soni.
Saat mobil baru saja berhenti, Lea dan Dirga melihat Soni, Yura, Gea, dan Vano sudah menggerombol bersama.
"Banyak bacot lo anak kecil."
Bug!
ucap Soni sembari memukul pipi kanan Vano.
Laki laki kecil ini tersungkur setelah mendapat bogem dari paman Gea, ia meringis kesakitan kala ujung bibirnya mengeluarkan darah segar.
"Astaga!" ucap Lea yang baru saja menutup pinru mobil, ia segera berlari menghampiri pamannya.
"Sialan lo!"
Bug!
Dirga melayangkan bogem pada pipi kanan Soni.
Ia benar benar sangat marah saat melihat adiknya di lukai oleh orang lain, pasalnya ia sendiri tak pernah sekalipun memukul Vano bahkan mencubitpun tak pernah ia lakukan.
Lea segera membantu Vano untuk berdiri, Gea mengeluarkan tisu dari tasnya lalu memberikannya pada sang kakak agar mengelap darah yang keluar dari bibir Vano.
"Maafin aku No, gara gara aku kamu jadi kaya gini." ucap Gea merasa bersalah.
Vano tak menjawab, ia hanya tersenyum tipis sembari menahan perih.
"Apa apaan lo ikut campur urusan keluarga gue!" ucap Soni bangkit tak terima dengan pukulan Dirga, lalu ingin melayangkan bogem pada wajah Dirga. Tapi Dirga berhasil menghindar, namun tiba tiba Soni menjegal kaki Dirga yang mebuatnya terjatuh.
Tanpa aba aba lagi Soni langsung memukul Dirga, Lea yang melihat suaminya terluka langsung mendekat dan menggigit lengan sang paman.
"Aw! Dasar gadis sialan." teriak Soni kesakitan kemudian mendorong tubuh Lea hingga terjatuh, beruntungnya Yura menangkap tubuh Lea.
__ADS_1