
"Saya ingetin ya bapak Soni yang terhormat, tolong jangan pernah sekalipun anda nyentuh seujung kuku adek saya! Karena saya yang bertahun tahun dari kecil hidup sama dia, enggak pernah saya sekalipun nyubit adek saya. Jadi jangan pernah berani lagi kaya gini, dan jangan pernah bersikap kasar sama Lea karena dia sudah menjadi istri saya. Kalo nggak? Saya nggak akan segan segan nuntut anda ke polisi." ucap Dirga dengan wajah merah padam menahan amarahnya sembari menunjuk erah Soni.
Ia benar benar tak terima wajah adiknya terlukis memar merah keunguan di ujung mulutnya, ia juga marah saat Lea di dorong dengan kasarnya karena Lea adalah istrinya itu artinya Lea adalah tanggung jawabnya sepenuhnya.
"Gue sebenernya gak mau ngurusin urusan lo maupun adek lo, tapi adek lo nggak tau diri ikut ngurusin urusan gue." ucap Soni dengan nada tinggi sembari mengusap kasar darah yang keluar dari hidungnya.
Dirga mengerutkan alisnya setelah mendengar ucapan paman Lea, pasalnya ia memang tidak tau kejadian yang sebenarnya. Saat ia dan Lea sampai di sekolahan Vano, paman Lea sudah memukul Vano tanpa tau alsannya.
Dirga segera menoleh ke arah adiknya, menaikan satu alisnya menandakan ingin mendapat penjelasan dari sang adik.
"Enggak kak, enggak. Gimana aku nggak ikut campur kalo itu urusannya sama eneng Gea pujaan hati gue!" ucap Vano asal di saat semua orang tegang.
"Tuh, dengerin adek lo!" ucap Soni menyunggingkan bibirnya.
"Eh om, kamu udah tua jangan ngada ngada dong kalo bilang." ucap Vano kesal.
"Le, tolong bawa Gea tinggal sama kamu ya." ucap bi Yura cepat.
Lea menoleh menatap bibinya bingung.
"Nggak! Lo nggak boleh nyerahin Gea sama Lea, Gea mau gue bawa." ucap Soni menarik tangan Gea namun dengan cepat di tahan oleh Dirga.
"Ngapain anda bawa bawa adeknya Lea?" tanya Dirga masih menahan tangan Soni.
"Itu bukan urusan lo, lo urusin aja adek cupu lo itu sama istri lo." ucap Soni menangkis tangan Dirga.
__ADS_1
"Jangan biarin om itu bawa Gea kak, dia mau ngejual Gea ke tempat kakaknya Gea dulu di jual." ucap Vano cepat sembari memegang bibirnya yang masih terasa perih dengan tisu.
Mendengar ucapan Vano, mata Leapun melotot begitu juga dengan Dirga yang tak kalah terkejut.
"Hah! Anda ini sudah tidak waras ya pak Soni? Selama ini, saya sudah cukup baik sekali sama anda karena anda paman dari istri saya dan juga umur anda lebih tua dari saya jadi saya sangat menghormati anda. Tapi kali ini anda benar benar sudah keterlaluan, anda tidak cukup puas dulu telah menjual Lea padahal dia adalah keponakan anda sendiri." ucap Dirga menunjuk wajah Soni.
Vano mengerucutkan mulutnya, ia benar benar tak menyangka bahwa kakak iparnya itu memang benar telah di jual oleh pamannya sendiri dan di tebus oleh kakaknya.
"Maafkan bibi Le, tapi hanya ini yang bisa bibi lakukan. Bawa Gea pergi bersama kamu, karena besok rumah bibi akan di ambil oleh juragan Dadang. Kasian adik kamu jika tidak mendapatkan tempat tinggal yang layak." ucap Yura tulus, entah mengapa hatinya yang keras seperti batu itu tiba tiba berubah perduli terhadap dua keponakannya.
"Enggak! Nggak bisa Yura! Lo nggak boleh nglepasin rumah kita, lo mau tinggal di mana? Gue akan ngejual Gea sebagai gantinya." ucap Soni tak terima.
"Bi, kenapa?" tanya Lea bingung.
"Bibi juga nggak tau Le, tadi pagi orang orang suruhan juragan Dadang datang ke rumah menagih hutang sebesar seratus juta rupiah. Bibi sendiri juga kaget karena bibi memang tidak pernah berhutang pada juragan Dadang, tapi ternyata paman kamulah yang sudah berhutang." ucap Yura sembari menatap Soni penuh kekecewaan.
Ia benar benar terkejut, pasalnya uang seratus juta bukan nominal yang kecil baginya uang sebanyak itu sangatlah banyak. Gea hanya bisa memeluk tubuh sang kakak erat berharap kakaknya bisa menyelamatkan hidupnya, sedangkan Vano tidak bereaksi apapun saat Yura menyebutkan nominal hutang Soni karena bagi Vano yang masih berusia empat belas tahunpun baginya seratus juta bukan uang yang terlalu banyak untuk keluarganya.
"Huuuufftt . . "
Dirga menghembuskan nafasnya kesal, ia tidak habis pikir kenapa isi otak paman Lea hanyalah uang dan uang saja sampai tega menjual keponakannya sendiri.
"Ya udah, bi Yura pulang aja ya. Hari ini biar Gea ikut sama Lea dulu biar dia nggak ngerasa takut, untuk masalah besok biar temen saya yang ngurusin." ucap Dirga tanpa ekspresi.
Yura seketika menoleh ke arah Dirga, ia benar benar merasa malu karena telah banyak kebaikan yang Dirga lakukan untuk keluarganya.
__ADS_1
"Terimakasih nak Dirga, maafkan bibi selama ini sudah menyusahkan kamu terus. Bolehkah bibi bayar dengan tenaga bibi untuk menjadi pembantu di rumah kamu saja?" ucap bi Yura penuh harap, namun hatinya memang ingin membalas kebaikan Dirga saja tak ada maksut lain.
"Heh Yura! Lo nggak usah sok baik deh sama merek, ngapain sih lu susah susah jadi babu di rumah dia." bentak Soni tanpa merasa sungkan sedikitpun pada Dirga padahal hutangnya akan di bayar oleh lelaki ini.
"Jaga ucapan kamu mas, aku jahat sama Lea dan Gea juga karena kamu. Kamu yang udah nyuruh aku ngejual semua tanah dan rumah peninggalan kakak aku, sekarang masalah ini juga karena kamu yang memiliki hutang." air mata Yura luruh seketika.
"Bi, sudah bi. Jangan menangis, yang udah berlalu biarin berlalu." ucap Gea sembari mengelus punggung sang bibi.
"Bibi pulang dulu ya, saya pusing. Mau ngobatin luka Vano juga, kita bicarain besok lagi ya bi." ucap Dirga berlalu menuju mobil di ikuti oleh Lea, Gea, dan juga adiknya Vano.
"Kita sekarang mau kemana mas?" tanya Lea yang masih mengusap rambut adiknya.
"Ke apartemen." jawab Dirga singkat.
"Mas, maafin bibi sama paman aku yah. Gara gara keluargaku semuanya jadi kaya gini." ucap Lea lirih.
"Lo tu nggak salah kakak Gea, yang salah tu paman sama bibi lo yang biad*b itu." ucap Vano kesal.
Dirga hanya diam saja tanpa menjawab ucapan dari sang istri, sedangkan Gea memeluk kakaknya erat.
Sesampainya di apartemen, Lea, Gea, Vano dan juga Dirga segera turun dari mobil menuju ruang apartemen milik Dirga yang sudah lama tidak ia singgahi.
"Kak, aku boleh nginep sini sekalian nggak?" tanya Vano.
"Enggak." ketus Dirga.
__ADS_1
"Tapi mama akan marah kalau tau luka aku ini." ucap Vano menunjuk ujung bibirnya yang memar merah keunguan.