
Jantung Lea berdegup kencang saat Dirga mendekatkan wajah ke arahnya semakin dekat, hidung Lea dan Dirga saling menyentuh membuat Lea bisa merasakan deru nafas Dirga.
"Kaa, kamu mau ngapain?" tanya Lea cemas.
"Tubuhmu mulus sekali gadis manis, wangi harum sabunmu membuatku mabuk kepayang ingin merasakan hangatnya tubuh mulusmu ini." bisik Dirga tepat pada telinga Lea.
Mendengar ucapan suaminya itu, Leapun membelalakan matanya lebar lebar.
"Ih, kamu udah gila ya? Minggir!" ucap Lea sembari berusaha mendorong dada Dirga dengan kedua sikutnya.
"Apa menurutmu tubuh kecilmu ini bisa mengangkat tubuhku?" ucap Dirga semakin menindih tubuh Lea.
Lea hanya bisa menatap lekat wajah tampan suaminya, sangat dekat nyaris tidak ada jarak.
Kemudian Dirga ******* lembut bibir mungil Lea yang berwarna natural merah muda, Lea segera menutup matanya saat merasakan bibir Dirga masuk ke dalam bibirnya untuk pertama kali dalam hidupnya.
Hembusan nafas Leapun berat, tapi ia tidak melawan perlakuan Dirga karena ia juga sadar bahwa melayani suami adalah suatu kewajiban seorang istri. Hanya saja, ia masih belum siap untuk saat ini.
Cup!
Dirga mengecup bibir Lea pelan, lalu bangkit dari tempat tidurnya.
"Dasar mesum! Pikiranmu terlalu kotor gadis kecil." ucap Dirga berjalan ke arah kamar mandi.
Mendengar hal itu, Lea membuka matanya lebar lebar. Fikirannya memang mengira jika Dirga akan meminta haknya hari ini, ternyata salah.
"Aku tidak pernah berfikir kotor tauk." ucap Lea cemberut.
"Pake ngelak lagi, jelas jelas udah merem merem. Nafas juga udah ngos ngosan, masih aja ngeles." jawab Dirga lalu menutup pintu kamar mandi.
Selesai berganti pakaian, Lea masih duduk di depan meja rias. Ia menatap wajah putihnya yang kini berubah menjadi merah ke arah cermin, ia benar benar masih gugup atas perlakuan suaminya tadi.
"Perbuatan macam apa itu, yang membuat orang salah faham." guman Lea.
Ceklek, Dirga keluar kamar mandi dengan handuk yang melingkar pada perutnya. Membuat dada bidangnya terlihat jelas oleh Lea, ia segera menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Jangan ganti di sini." ucap Lea yang masih menutup mukanya.
Dirga yang mendengar ucapan istrinya langsung mengerutkan dahi.
__ADS_1
"Kenapa? Inikan kamarku." jawabnya santai sembari mencari ****** *****.
"Ada aku di sini." ucap Lea.
"Tanpa kamu kasih tau, aku juga tau kamu duduk di situ." ucap Dirga.
Lea seketika terdiam, ia bingung harus menjawab apa lagi karena memang ini adalah kamar milik Dirga.
"Udah!" ucap Dirga setelah memakai celana pendek selutut, dengan kaos oblong berwarna putih.
"Huuuuffftt . . . " Lea mengehmbuskan nafasnya lega.
"Aku nggak akan meminta hakku sekarang, tapi inget kamu adalah istriku jadi sudah kewajibanmu untuk melayaniku. Tapi aku tidak akan memaksa kamu, sampai kamu bener bener udah siap." ucap Dirga berbisik pada telinga istrinya.
Lea hanya mengangguk pelan, iaerasa lega mendengar ucapan dari suaminya. Setidaknya ia sudah tahu jika Dirga adalah seorang pria baik, tidak beringas seperti fikirannya dulu.
"Turun yuk, makan malem di bawah." ucap Dirga menggandeng tangan Lea.
"Aaww!" pekik Lea, saat tangan Dirga menggenggam jari telunjuk Lea yang terluka akibat serpihan piring yang jatuh tadi siang.
Dirga melepas genggaman tangannya, lalu meraih tangan kanan Lea lalu memeriksa luka pada jari telunjuk istrinya.
"Ini, kenapa?" tanya Dirga.
"Karena mamah, ya?" tanya Dirga lagi.
Lea hanya menggeleng lemah, tapi Dirga paham dengan raut wajah sendu Lea.
Ia segera beranjak mengambil kotak obat yang ada di laci, lalu memberi obat merah dan menutup luka jari Lea menggunakan kasa.
"Huff, sembuh!" ucap Dirga meniup jari Lea.
Lea tersenyum melihat tingkah suaminya, pria dingin yang ada di hadapannya ini ternyata bisa membuatnya tersenyum.
"Mau makan di luar aja?" tanya Dirga yang mengerti akan perasaan istrinya pada saat ini, ia tidak ingin istrinya terlalu mengambil hati sikap sang mama.
Lea hanya mengangguk, pertanda setuju dengan ucapannya.
Di dalam warung nasi padang, Dirga menatap lekat wajah istrinya. Ia dapat merasakan terdapat raut wajah sedih yang gadis kecil ini tutupi, entah mengapa hatinya merasa iba karena tidak bisa melindungi dirinya dari amukan sang mama saat ia tinggal bekerja.
__ADS_1
"Mau bawain Gea makanan sekalian gak?" hibur Dirga.
Lea hanya menggelengkan kepala pelan.
"Kenapa?" Dirga mengangjat alisnya.
"Enggak apa apa, Gea udah ada bibi. Bibi meskipun jahat tetep ngasih makan kok, toh Gea juga pegang uang yang mas kasih kemarin." ucapnya sembari makan.
Tak ada jawaban dari Dirga, ia hanya menganggukan kepala sebagai tanda respon lalu melanjutkan makan.
Di tengah perjalanan pulang, Dirga terus bergulat dengan fikirannya sembari menggandeng tangan Lea erat.
Ia memikirkan bagaimana jika keluar rumah saja dari rumah mamanya, ia bisa pindah dan membeli sebuah rumah/apartemen agar sang mama berhenti menyakiti istri kecilnya itu.
Dirga tidak tega jika istrinya harus terus sabar menghadapi perlakuan tidak baik dari mamanya, bagaimanapun sudah kewajibannya melindungi Lea dari dia adalah istrinya.
Pagi ini, suasana sarapan di meja makan hening. Hanya terdengar suara sendok dan garpu bergulat di atas piring, tidak ada obrolan lain di antara mereka.
"Mah, pah. Dirga mau pindah beli rumah sendiri." ucap Dirga tanpa menoleh menatap sekitar.
Vina, Bima, dan adiknya Vanopun langsung menatap Dirga. Lea yang mendengarpun tak kalah terkejut dengan ucapan suaminya, bahakan ia sama sekali tidak tau akan rencana suaminya itu.
"Kamu udah gila ya Dir?" tanya sang mama, lalu menaruh sendok dan garpu di atas piring.
"Enggak mah, aku udah dewasa dan udah menikah. Jadi aku pengen hidup mandiri sama istri aku." ucap Dirga.
"Enggak, enggak bisa!" ucap Vina tegas.
"Tolong hargai keputusan aku mah." ucap Dirga menatap sang mama.
"Maaahh." ucap sang papa menganggukan kepala, memberi isyarat pada istrinya untuk mengerti keinginan putra pertamanya itu.
"Papa apa apaan sih! Dirga itu harus nurut apa kata mamah, kalo mama bilang enggak ya engga." ucap Vina marah.
"Mah, Dirga udah dewasa. Dia udah jadi kepala rumah tangga, biarkan dia ngendaliin rumah tangga dia sendiri. Mama jangan ikut ngatur ngatur Dirga dong." bela sang papa.
"Dirga itu anak mama, jadi dia harus nurut." ucap Vina lagi.
Dirga berdiri, lalu meraih tangan Lea untuk ikut bangkit bersama dengannya.
__ADS_1
Leapun langsung terperanjat, lalu mengikuti langkah kaki suaminya.
"Hei kak, tunggu! Aku ikut." ucap Vano beranjak berdiri menyalami mama papanya, lalu berlari menyusul sang kakak.