
Lea menatap ke arah samping, melihat kendaraan berlalu lalang mendahului mobil Dirga. Namun Lea juga tahu betul jalan ini, karena setiap harinya ia biasa lewat saat mengantar maupun menjemput Gea adiknya.
"Kita mau kemana?" tanya Lea pelan, namun pandangannyabmasih sama tertuju pada jendela kaca mobil.
Dirga menoleh ke samping menatap wajah gadis cantik di sampingnya, kini Lea sudah tidak menunduk seperti kemarin lagi. Tidak menatap dirinya saat berbicara, namun sudah ada perubahan karena berani menjawab maupun berani berbicara padanya.
"Ke sekolah Nusa Bangsa." jawab Dirga apa adanya.
Lea langsung menoleh menatap Dirga saat mendengar kata 'Nusa Bangsa', itu adalah Sekolah Menengah Atas tempat adiknya belajar.
"Ke SMA Nusa Bangsa?" tanya Lea memastikan jika telinganya tidak salah dengar.
"Apa telingamu perlu ku bawa ke dokter THT." timpal Dirga dengan santai.
Lea yang mendengar ucapan sang suamipun langsung mengerucutkan mulutnya.
'Dasar laki laki menyebalkan! Tapi, apa dia juga tau kalo Gea bersekolah di sana? Menemukanku kabur dari genggamannya kemarin saja sangat mudah, apa lagi hanya mencari informasi di mana soal Gea bersekolah. Tapi untuk apa juga laki laki ini mencari tau tentang adikku? Apa dia akan membeli Gea dan menjadikan Gea maduku? Tapi ku rasa wajahnya tak seberandal itu.'
Batin Lea penuh tanya.
"Mau ngapain kita ke sana?" ucap Lea tiba tiba.
"15.30 adalah jadwal adikku pulang sekolah, aku harus menjemputnya dahulu." jawab Dirga tanpa menoleh, ia masih fokus menyetir di jalanan yang mulai padat karena di jam ini adalah waktu orang orang pulang kerja dan juga anak anak pulang sekolah.
"Adikmu?" Lea memastikan lagi.
Dirga hanya mengangguk mantap.
"Adikku juga bersekolah di sana." ucap Lea tersenyum senang, tentu ia senang karena pasti ia bisa bertemu dengan adiknya juga.
"Sudah tau!" ketus Dirga.
"Ha? Sudah tau?" Lea menoleh dan langsung melongo saat mendengar jawab dari pria yang sedang fokus menyetir ini.
Sedangkan Dirga hanya menaikan alisnya saja, sebagai tanda persetujuan akan pertanyaan istrinya.
"Kapan kamu tahu jika adikku bersekolah di sana?" tanya Lea lagi.
Dirga menoleh menatap Lea, pandangan mereka bertemu menjadi satu. Lea buru buru mengalihkan pandangannya menoleh ke arah depan, jantungnya berdetak kencang tak karuan.
"Sejak kapan mulutmu banyak tanya dan bisa berbicara? Bukankah kemarin kau bisa dan tuli?" ejek Dirga mengungkit kekesalannya kemarin.
"Maaf, aku hanya ingin tahu saja. Kamu tidak perlu menjawab, karena itu juga bukan urusanku." jawab Lea pelan sembari menunduk.
"Huuuuuffftt . . . Kemarin, aku tahu kamu berjalan bersama adikmu sewaktu kamu kabur dari mobilku." jelas Dirga tak enak hati karena telah mengejek wanita yang kini telah sah menjadi istrinya itu.
Lea hanya mengangguk paham, lalu diam dan mengubah pam
ndangannya ke arah samping menatap jendela.
__ADS_1
Jam menunjukan pukul 15.32, beberapa anak sudah terlihat keluar gerbang karena kelas yang dekat dengan gerbang. Berbeda dengan Gea dan Vano yang kelas mereka agak jauh ke dalam, dua bocah ini belum juga menampakan batang hidungnya.
Lea keluar mobil, berdiri tepat di samping gerbang. Sedangkan Dirga seperti biasa, yang tak pernah mau keluar dari dalam mobilnya saat menjemput maupun mengantar Vano.
"Kakaaaakk . . . " teriak gadis cilik yang bernama Gea itu menghampiri sang kakak dan langsung memeluknya, sungguh pemandangan yang manis.
Leapun mendekap adiknya erat, lalu mencium kening sang adik.
"Ulluh, ulluuuuhhh . . . Babang Vano juga mau di peluk juga dong neng Gea!" ucap Vano merentangkan kedua tangannya.
"Ih! Apaan sih kamu No, pulang sono. Udah di jemput noh, sama abang kesayang." celetuk Gea asal.
"Enggak mau ayyaaangg, maunya peyuk dulu!" goda Vano.
Dirga yang mengamati tingkah adiknya dari dalam mobilpun hanya bisa menggelengkan kepala.
Tin tin!
Dirga mengklakson mobilnya, memberi isyarat pada Vano agar segera mengakhiri gombalan yang tak penting itu dan segera masuk ke mobil.
"Eh! Udah dulu ya neng Gea, babang Vampir gue udah marah nih terlalu menunggu lama. Lopyuuuu, emmmuuuacchh." ucap Vano sembari mengangkat telapak tangan dari bibir ke arah Gea.
Lea yang mengetahui bocah laki laki ini menyukai adiknya hanya bisa tertawa geli, sedangkan Gea lebih memilih menggandeng tangan sang kakak agar duduk menepi di samping gerbang.
Brak!
Suara Vano menutup pintu mobil Dirga.
"Pindah ke belakang!" ketus Dirga.
"Lah, ngapa? Orang biasanya juga di depan." celutuk Vano.
"Jalan kaki atau pindah!" ketus Dirga.
"Iya iya, apaan sih ngancem mulu lu!" sahut Vano langsung keluar dan pindah ke kursi belakang.
"Udah nih!" ucap Vano.
"Bentar." jawab Dirga santai memakai kaca mata, lalu meregangkan kursinya mundur ke arah belakang agar bisa tiduran.
"Lah, gimana sih? Tadi klakson klakson suruh cepet naik, giliran naik malah molor." kesal Vano.
"Salah siapa buat gadis cilik itu kesel." ucap Vano memejamkan mata.
"Bukan buat kesel, tapi gue tuh pengen Gea tau kalo gue cinta mati sama gue!" ucap Vano dengan mimik wajah cemberut.
Tak ada jawaban dari Dirga, ia ingin memejamkan matanya sebentar sembari menunggu istrinya selesai berbicara dengan adiknya.
"Kak, kenapa kakak bisa jemput aku? Apa hari ini kakak jadi nikah sama orang yang nebus kakak ke bibi dan paman, kemarin?" ucap Lea sembari meremas tangan sang kakak.
__ADS_1
Lea mengangguk pelan, ia terlihat tampak tak kuat untuk berkata kata lagi.
Hatinya benar benar sedih, ia ingin membawa adiknya pergi. Namun ia tidak mungkin jika harus merepotkan Dirga, bahkan merekapun baru saja berbicara hari ini.
Mendengar jawaban sang kakak, mata Gea membelalak.
"Ha! Jadi kak? Terus gimana bisa kakak kabur ke sini? Apa kakak kabur lagi seperti kemarin?" tanya Gea bertubi tubi.
Ia juga merasa sedih sebab kakaknya akan pergi meninggalkannya, bahkan ia juga tidak tau apakah nanti bisa bertemu lagi atau tidak.
Lea menggelengkan kepalanya pelan.
"Terus?" Gea menanti jawaban kakaknya.
"Kakak nikah sama kakaknya temen kamu, tapi kakak juga gak tau adiknya dia yang mana. Soalnya dia juga nggak cerita, dia cuma bilang ke sini mau nyusul adeknya yang sekolah di sini dek." ucap Lea lemas.
"Sudah, belum?" tiba tiba Dirga berdiri tepat di belakang Lea, seketika Lea dan Gea menoleh.
"Oh, iya. Maaf, maaf." ucap Lea gugup.
"Ajak adikmu masuk ke mobil." ucap Dirga tanpa melepas kaca matanya, lalu melangkah ke arah mobil.
"Aku kak? Yang di maksut?" tanya Gea menunjuk dadanya sendiri.
Lea mengangguk lega.
"Apa suami kakak baik?" tanya Gea mulai beranjak dari duduknya menuju mobil.
Lea mengangkat kedua bahunya sebagai isyarat tidak tahu.
"Entahlah." jawab Lea terus menggandeng tangan sang adik.
Di dalam mobil, Vano memperhatikan kakaknya yang datang menghampiri Gea dan kakaknya.
"Apa abang gue ngelabrak eneng pujaan hati gue, gara gara udah buat adeknya tergila gila padanya?" guman Vano.
Brak! Suara pintu mobil tertutup.
"Lo ngapain bang? Nyamperin pujaan hati gue? Jangan jangan lo nglabrak dia kaya di film film ya? Yang nyuruh Gea buat ngejauhin gue." cerocos Vano tak henti.
"Drama banget sih hidup lu!" ketus Dirga tanpa menoleh ke arah adiknya.
Tek!
Lea membuka pintu mobil Dirga, lalu menyuruh Gea duduk di belakang.
"Gea??"
"Vano?"
__ADS_1
Ucap Gea dan Vano bersamaan.