
"Hari ini nggak berangkat ke kantor mas?" ucap Lea sembari mengaduk secangkir susu panas.
Dirga masih menatapnya lekat dengan posisi duduk di kursi meja makan, lalu menompang dagunya pada tangan kanan dan kirinya seperti seorang anak lecil yang menunggu ibunya menyiapkan sarapan.
Ia menggeleng pelan saat mendengar pertanyaan dari sang istri.
"Kenapa?" tanya Lea mengerutkan dahinya.
"Emang kamu gak mau ganti baju?" Dirga balik bertanya.
"Ya mau lah mas." jawab Lea sembari meletakan dua cangkir susu hangat ke atas meja makan kemudian duduk di depan Dirga.
"Makan dulu gih mas, ntar keburu nasi gorengnya dingin." ucap Lea menciduk dua centong nasi goreng, lalu memberikannya pada Dirga.
"Le." ucap Dirga yang masih menatap ostrinya lekat.
"Kenapa mas?" tanya Lea.
"Terima kasih kamu sudah memberi hakku dan menjalankan kewajibanmu." ucap Dirga tulus.
Lea tersenyum tipis.
"Itu memang sudah kewajibanku mas, entah suatu saat kita berjodoh atau tidak. Setidaknya aku akan berusaha belajar mencintai mas sepenuh hatiku, meski aku tau mungkin mas Dirga tidak akan bisa mencintai gadis seperti aku." ucap Lea kini memasukan sesendok nasi ke dalam mulutnya.
Dirga hanya diam, ia tidak bisa menjawab ucapan wanita yang kini telah menjadi istrinya itu marena hatinya memang masih belum bisa mencintai Lea.
Dret dret dret dreet..
__ADS_1
Ponsel Dirga yang berada di atas mejapun bergetar menandakan adanya panggilan masuk, ia segera meraih benda pipih berbentuk persegi empat itu lalu membaca tulisan di layar "Momy".
"Hallo ma." ucap Dirga.
"Hallo, kamu kemana nggak pulang dua hari? Atau jangan jangan gadis miskin itu sudah meracuni otak kamu untuk ngelawan sama mama dan papa?" ucap sang mama di seberang sana dengan nada marah.
"Ma, aku udah gede. Tolong mama jangan atur atur kehidupan Dirga terus, Dirga udah nikah ma. Tolong mama jangan setir Dirga terus, biarin Dirga nentuin kemana harus ngebawa rumah tangga Dirga sendiri." ucap Dirga lalu mematikan ponselnya tanpa menunggu jawaban dari sang mama.
Tut!
"Sial! Gara gara gadis kampung yang tak tahu diri itu anakku sudah berani melawanku." umpat Vina kesal.
Ting tung, ting tung!
Tiba tiba bel rumah Vina berbunyi, ia segera bergegas menuju pintu untuk membuka pintu.
Ceklek!
"Hallo jeng, selamat pagi." sapa seorang wanita cantik yang telah berumur paruh baya itu tersenyum saat melihat Vina membukakan pintu untuknya.
"Eh, selamat pagi juga jeng Melinda. Silahkan masuk jeng." ucap Vina sembari menyalami dan mencium pipi kanan kiri Melinda.
"Iya jeng, terimakasih." ucap Melinda berjalan masuk kemudian duduk di kursi.
"Ada apa jeng? Kok pagi pagi udah nyampe sini?" ucap Vena menepuk paha Melinda pelan.
"Em, anu jeng. Maaf ya sebelumnya." ucap Melinda ragu.
__ADS_1
"Kenapa jeng? Bilang aja, jangan sungkan sungkan." jawab Vina tersenyum menampakan deretan gigi putihnya yang rapi.
"Itu jeng, kemarin Tiara datang ke kantor Dirga tapi ternyata Dia mendapat informasi jika anaknya jeng Vina ini sudah menikah." ucap Melinda memegang tangan Vina.
Deg!
Vina terdiam setelah mendengar ucapan teman baiknya itu, ia tersenyum tipis untuk menutupi kegugupannya.
"Oh, enggak jeng. Itu nggak bener kok jeng, jeng Melinda tenang aja ya. Perjodohan Tiara sama Dirga itu akan tetep berjalan kok." ucap Vina berusaha membuat suasana tenang.
"Anak saya itu masalahnya sudah terlanjur menyukai Dirga dari jaman mereka masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas jeng, nggak mungkin saya tega ngebiarin anak saya terluka." jawab Melinda menggenggam tangan Vina erat.
"Iya jeng, iya. Kapan kapan kita adakan makan malam bersama ya, biar lebih enak ngebahas masalah perjodohan ini." Vina mengelus pundak Melinda.
"Kenapa mas? Apa ada masalah?" tanya Lea menatap wajah Dirga yang terlihat kesal.
"Enggak, mama hanya marah karena kita pergi dari rumah." ucap Dirga berbohong, ia hanya tidak ingin jika istri kecilnya itu tau perkataan sang mama yang selalu membuat hatinya terluka.
"Lalu?" tanya Lea lagi.
"Ya kita tetep di sini, kamu nggak perlu mikir macem macem lagi. Udah yok, berangkat sekarang aja." ucap Dirga beranjak dari duduknya lalu menggandeng tangan kanan Lea.
"Kemana mas?" Lea mengerutkan dahinya.
"Ya cari bajulah, sama belanja bulanan sekalian mumpung aku lagi gak masuk ke kantor jadi bisa nemenin kamu seharian." ucap Dirga.
Lea mengangguk patuh.
__ADS_1
Diam diam ia tersenyum saat melihat tangan Dirga menggandeng tangannya, ia berharap perlahan lahan Dirga bisa membuka hati untuknya.