
Setelah 15 tahun berlalu, aku kembali ke tanah kelahiranku. Aku ingin memecahkan misteri terkait hilangnya 3 sahabat kecilku. Hidupku tak tenang, karena kerap dihantui rasa bersalah.
Bayang-bayang mereka pun acapkali menyapa mimpi serta langkah kakiku. Mereka seolah meminta aku untuk kembali mencari jejak mereka.
Waktu itu, ada pembangunan jembatan sekaligus jalan raya di desa kami. Bagi anak-anak, hal tersebut membawa kegembiraan tersendiri layaknya disuguhi wahana bermain yang baru. Truk-truk besar dan mobil beko (ekskavator) menjadi pemandangan yang menakjubkan. Aku ingat sekali betapa girangnya kami setiap sepulang sekolah berdiri di lokasi galian, menyaksikan para “Transformer” bekerja.
Namun, Ende (sebutan untuk nenek) selalu melarangku bermain di dekat pondasi bangunan jembatan. Katanya, setiap pembangunan konstruksi yang besar pasti meminta tumbal.
Lambat laun, warga yang lain pun mulai memantau anak-anak mereka. Kami selalu diwanti-wanti agar tidak lagi bermain di sekitar area "kegembiraan". Tempat yang semula menyenangkan menjadi dikeramatkan.
Hanya saja, selayaknya anak kecil, semakin dilarang justru semakin dilanda penasaran. Aku dan tiga temanku pun berpikir cerita tentang tumbal hanyalah karangan orang dewasa. Tujuannya agar anak-anak tidak menghabiskan banyak waktu untuk bermain. Ditambah, tak ada penjelasan detil yang kami dapat mengenai arti tumbal yang sesungguhnya. Jadi, jiwa polos kami ibarat ditantang untuk membuktikan kebenaran.
__ADS_1
Sepulang sekolah di hari Kamis, 4 Juni 1998 – aku masih mengingat tanggal tersebut dengan jelas – aku bersama Hamid, Musa, dan Rusman pergi ke tempat galian. Kami tidak pulang dulu ke rumah, karena pasti akan sulit mendapatkan izin bermain.
Langit dalam kondisi mendung. Beberapa pekerja terlihat sibuk mengangkut dan memasang material bangunan dengan tenaga mereka. Ekskavator yang sedang tidur tanpa penjagaan, kami manfaatkan untuk kesenangan. Kami duduk dan melompat di bucket atau bagian pengeruk (garpu). Kami juga bermain petak umpet di badan ekskavator.
Setelah kelelahan tertawa bersama teman-teman, ada yang berbisik kepadaku. “Pulang! Jangan bermain di sini!”
Aku ajak teman-temanku untuk pulang, tetapi mereka memilih bertahan. Sementara itu, aku merinding ketakutan, dan lekas melaksanakan seruan tak bertuan tersebut. Aku berlari kencang meninggalkan mereka.
Maghrib menjelang. Orang tua Hamid, Musa, dan Rusman mendatangiku. Aku pun diinterogasi karena ketiga temanku tersebut, katanya, belum tiba rumah sejak pulang sekolah.
Aku begitu tersentak. Kukira mereka sudah duduk tenang di kediaman masing-masing.
__ADS_1
Warga pun lantas berkumpul sembari mengumandangkan berita kehilangan. Kemudian, semuanya pergi dengan membawa obor, pentungan, tampah, dan golok menuju lokasi galian. Teriakan dan doa terus diagungkan ke udara, memanggil Hamid, Musa, dan Rusman.
Seminggu berlalu sejak hilangnya tiga temanku, berbagai praduga tersiar secara liar. Ada yang mengatakan mereka diculik Wewe Gombel, dan dikurung di dimensi lain. Namun, mayoritas warga menuding teman-temanku dijadikan tumbal pembangunan jembatan.
Sesal dan trauma terus membayangi hari-hariku. Seharusnya aku mengajak mereka pulang dengan upaya yang lebih keras. Semestinya aku mengadu kepada orang tua mereka agar mereka disusuli.
Orang tuaku memahami kondisi psikisku yang terguncang paska Hamid, Musa, dan Rusman tak jua ditemukan. Tiga bulan kemudian, mereka membawaku keluar dari desa yang membuat sifatku berubah menjadi sangat pendiam.
Dalam perjalanan menuju tempat tinggal yang baru, aku melihat tiga pilar besar yang menjadi penopang jembatan. Pilar tersebut pun seakan melukiskan wajah Hamid, Musa, dan Rusman.
Entahlah! Aku masih takut untuk berspekulasi.
__ADS_1
Kini, aku datang memenuhi panggilan mereka. Benarkah mereka dijadikan tumbal? Ataukah mereka terperangkap di alam tak kasat mata? Tak ada jejak, hanya aku yang terakhir kali melihat mereka.