
Berbagai pertanyaan tentang misteri yang tersembunyi di Citiis terus bermunculan, mengobrak-abrik nalarku. Mata dan telinga pun seakan semakin peka merasakan keberadaan mereka.
Kubuka tirai jendela untuk melihat suasana. Terlihat cukup ramai dengan orang berlalu lalang beraktivitas. Ada yang mengenakan seragam sekolah, dan ada yang terlihat rapi dengan pakaian kerja. Ada yang berjalan kaki, dan ada yang menaiki sepeda motor. Ini sangat kontras dengan keadaan semalam.
Namun, mengapa sebelum fajar menyingsing tak ada yang mengumandangkan adzan Subuh? Sampai-sampai aku kesiangan menjalankan kewajiban di permulaan hari ini.
Aneh. Ini memang sangat aneh. Kehidupan di Citiis tampak jauh lebih maju, tetapi seperti tertabrak sebuah revolusi.
Usai sarapan, Mang Dendi mengajakku ke balai warga yang berjarak sekitar 100 meter dari rumahnya. Sepanjang jalan, kuperhatikan susunan atau barisan rumah tak lagi berjajar seperti dulu.
“Ini nama kampungnya sama dengan nama desanya ya, Mang?” tanyaku sebelum memulai presentasi memperkenalkan diri. Aku masih sulit memercayai kampung halamanku sudah berubah total.
“Betul, Mas Yana. Bisa dikatakan juga kalau kampung ini merupakan kampung terselip, karena wilayah utama Desa Citiis ada di seberang jembatan atau berdampingan langsung dengan Desa Cibatu,” jawab Mang Dendi menjelaskan.
Sah! Aku tidak salah tempat atau dimensi. Pertanyaanku memang bermaksud untuk meneguhkan lokasi tanah yang sedang kupijak.
Satu per satu warga berdatangan. Tak ada seorang pun yang bisa kukenali atau tampak familiar.
Aku paham waktu bisa menumbuhkan keriput di wajah atau mengubah penampilan. Namun, setidaknya setiap manusia memiliki bentuk dasar yang bisa dikenali dari susunan muka, kepala, dan pembawaan (bahasa tubuh). Sementara, ini sama sekali asing. Bahkan, logat mereka agak berbeda dengan intonasi yang sedikit kasar.
Sudahlah! Aku sampaikan saja ide yang aku rancang semalam. Biarkan misteri tersingkap secara perlahan.
Aku paparkan gagasan penelitian tentang optimalisasi potensi pertanian yang ada di kampung ini. Dengan memanfaatkan teknologi dan internet, aku akan memperkenalkan mereka cara mengolah hasil kebun dan tahap pemasarannya.
Sayangnya, warga malah tampak kebingungan. Mang Dendi tersenyum ambigu kepadaku.
“Maaf, Mas Yana. Warga di sini tidak ada yang berprofesi sebagai petani,” ungkapnya.
Hah? Aku sangat terkejut mendengar penjelasan Mang Dendi. Lalu, punya siapa sawah dan ladang yang berjejer mengitari kampung? Apa mungkin pemiliknya ialah warga dari desa lain?
“Semalam Mamang lupa untuk menanyakan lebih lanjut mengenai penelitian Mas Yana. Pada dasarnya, maksud Mas Yana bagus. Namun, warga di sini rata-rata pekerja bangunan dan buruh pabrik. Sementara ladang pertanian yang Mas Yana lihat subur itu, dimiliki dan dikelola oleh warga di luar kampung ini,” jelas Mang Dendi.
Sungguh mengerik memoriku. Siapa, apa, ke mana, dari mana, mengapa, dan bagaimana, itulah ragam kata tanya yang sedang menguliti akalku tentang kampung ini.
Aisah muncul dari belakangku. Kehadirannya yang tak terdeteksi oleh indraku semakin membuat jantungku berdegup kencang.
Ia kemudian menyapa warga. Ia satukan tangan di depan dada dengan sedikit mengambang.
“Bapak-bapak dan Ibu-ibu, juga Mang Dendi, maksud A Yana bukan pada pengolahan hasil pertanian, melainkan tingkat pemahaman kita dalam menggunakan teknologi untuk mendukung masa depan kita. Jadi, A Yana ingin tahu sejauh mana masyarakat di kampung ini terpapar internet, terus penggunaannya dalam keseharian seperti apa, dan apa kaitannya pembangunan jembatan terhadap akses teknologi di sini. Bukan begitu, A Yana?” Aisah menganggukkan kepala sedikit sembari melemparkan senyum.
Aku terpukau kepadanya sekaligus tidak percaya. Dia cerdas. Dia juga misterius.
“Oh begitu. Saya jadi harus minta maaf lagi sama Mas Yana karena salah tangkap,” ujar Mang Dendi. Dia lantas undur diri. Katanya, ada urusan lagi di sekolah.
Sebelum pergi, Mang Dendi berbisik kepada Aisah. Aku tak mau berspekulasi, khawatir akan memperberat kinerja otakku.
Aku harus segera memetakan prioritasku. Jangan sampai teka-teki bertumpuk terlalu banyak hingga tujuanku gagal tercapai.
Dua jam perkenalan terasa sebentar. Kutunggu hingga warga bubar sempurna agar leluasa menjajaki kenangan-kenanganku.
__ADS_1
“A Yana mau ke mana?” tanya Aisah kala aku bergegas meninggalkan balai.
“Saya mau keliling sebentar. Kamu silakan pulang duluan,” jawabku datar. “Oh iya, terima kasih atas bantuannya tadi.”
Dia menjegal langkahku dengan membentangkan kedua tangan. ”Kita pulang aja ya, A.”
“Kenapa? Saya hanya ingin melihat lokasi rumah saya dulu. Saya penasaran sekarang menjadi apa atau bagaimana kondisinya. Memangnya ada apa sih?” Aku terpaksa menaikkan nada suara. Aku terbawa kesal karena banyaknya larangan yang Aisah berikan.
Aku tatap Aisah. Dia membuang pandangan, dan lalu menurunkan kedua tangannya.
“Tolong percaya saja sama saya dan si Mamah,” lantunnya pelan.
“Saya sangat menghargai kebaikan kamu dan ibu kamu. Tapi, bukankah kita juga baru saling mengenal?” pungkasku.
Aisah diam. Hening pun tercipta selama beberapa menit.
Tercetus ide untuk mengajukan tawaran kepada Aisah. “Begini saja, jawab tiga pertanyaan saya, maka saya akan menurut pada semua perkataanmu.”
Aisah masih tak bergeming. Kuanggap dia setuju untuk mendengar pertanyaanku.
“Pertama, apa yang sebenarnya terjadi di sini? Kedua, ke mana para warga asli kampung ini? Ketiga, mengapa ketika gelap menyapa, tak ada satu pun warga beraktivitas di luar rumah? Keempat….”
“Tadi katanya cuma tiga,” pangkas Aisah.
Pertanyaan keempat sebenarnya baru muncul, yaitu tentang kumandang adzan yang tak bergema di kampung ini. Tak apalah, tiga pertanyaan itu dahulu yang menjadi poin utama yang mencekam pikiranku.
Aku menghela nafas menunggu Aisah memberikan jawaban. Dia justru melangkah sedikit menjauh dariku.
Aisah berbalik, menghampiriku. “Saya temani A keliling kampung. Dengan satu syarat, Aa harus selalu berjalan di belakang saya,” tegasnya.
Hem! Syarat yang mencuatkan tabungan pertanyaan baru untukku.
Aku minta Aisah memanduku ke mushola. Tak jauh di belakang mushola ada kediamanku tempo dulu. Aku mendapatkan keyakinan jika satu-satunya bangunan yang tidak mungkin bergeser di kampung ini, yaitu tempat beribadah.
Benar saja. Mushola masih terletak di tengah kampung dengan penanda kolam kecil. Bentuk dan struktur bangunannya masih seperti terakhir kali aku melihatnya.
Namun, mengapa tampak terbengkalai? Apa Mang Dendi berbohong kepadaku?
Aku berjalan cepat untuk memeriksa keadaan. Keharuan pun berlagu di dalam sanubari.
Bukkk! Tubuhku seketika lemas, kemudian terjatuh ke tanah. Penglihatan menjadi hitam pekat hingga aku hilang kesadaran.
Hmmm!!!
Cipratan air di muka serta suara-suara orang berbincang membangunkanku. Aku atur nafas seraya memulihkan pandangan.
Hah? Aku berada di depan mushola yang sedang direnovasi. Posisiku duduk di teras salah satu rumah warga.
“Nuhun (terima kasih) ya, Teh. Si Aa tadi mungkin kelelahan aja,” ucap Aisah menyambut segelas air yang ditujukan untukku.
__ADS_1
Apakah aku berada di tempat yang lain?
“Minum dulu, A. Terus kita pulang sekarang juga,” ajak Aisah.
“Ini di mana?”
“Di tempat yang sama?”
“Maksudnya?”
Aisah menarik tanganku. Wajahnya menggambarkan sebuah rasa khawatir.
Kuamati lagi sekelliling. Lalu, kunaikkan mata ke langit karena merasa ada yang juga berbeda secara signifikan. Ya, matahari bertengger rendah di ufuk Barat.
“Aisah, saya benar-benar nggak ngerti dengan semua ini,” gerutuku linglung.
“Lebih baik Aa tidak mengerti sama sekali,” kesah Aisah. “A, tolong sekali lagi, dengarkan perintah dan pantangan dari saya selama Aa berada di kampung ini. Semuanya demi kebaikan Aa.” Matanya terlihat berkaca-kaca.
Bagaimana aku bisa mematuhi suatu aturan, sedangkan aku tidak tahu landasan dari aturan tersebut?!
Akan tetapi, aku juga harus tahu diri. Aku telah membuat orang lain bersedih atas (mungkin) ulahku.
***
Aku nikmati senja di depan kamar sembari memangku laptop. Kukumpulkan semangat untuk membaca jurnal terkait tesisku. Sesungguhnya ini tempat yang damai dan nyaman untuk meramu ilmu, andai tak ada cerita gaib yang membayangi.
Nah! Otak menuntun mata menulusuri jalan. Terlintas kegundahan jika Hamid, Musa, dan Rusman akan menampakkan diri mereka lagi nanti malam.
Maaf, aku masih harus mencari momen yang pas untuk memastikan keberadaan kalian. Tuturku dalam hati.
Tiba-tiba seseorang orang melintas dengan begitu tergesa. Cangkul di bahu, caping rombeng di kepala. Aku sempat agak terkejut, tetapi memilih untuk kembali fokus meniti niatku - duduk berlatar senja.
Sebentar! Dia berjalan mengarah ke area persawahan. Bukankah ini waktu pulang?
Tak hanya itu. Aku seperti mengenalnya.
Aku memang tidak melihat wajahnya dengan jelas, tetapi postur dan cara berjalannya seakan begitu khas. Ditambah atribut yang melekat di badannya bak membawaku ke masa lalu.
Aku lekas bangkit, menaruh laptopku di kursi.
“Mang!” seruku.
Dia terus berjalan, bahkan mempercepat pacuan kaki.
Aku coba panggil sekali lagi. Dia justru berlari.
“Mas Yana panggil saya?” tanya Mang Dendi mengejutkanku. Dia muncul tak terduga.
“Em…. em…. Mang Dendi….” Aku agak gelagapan mencari kalimat pengalihan.
__ADS_1
Mang Dendi menorehkan senyum. Aku balas dengan sikap yang sama sambil mencoba mengumpulkan kepingan kenangan untuk menyebut nama pria paruh baya yang tadi lewat.