Mereka Di Sini

Mereka Di Sini
Bab 8: Sosok yang Bertamu


__ADS_3

Robi tidak mengatakan akan datang hari ini. Jelas, aku sangat terkejut atas kehadirannya. Bahkan, aku sudah tidak lagi berharap dia turut dalam misiku setelah berbagai hal di luar nalar mencabar pikiranku.


“Lu ke sini naik apa?” tanyaku kepada Robi. Aku tidak membagikan lokasi atau arahan transportasi untuk sampai ke tempatku. Aku hanya memberi tahu dia nama desa dan kecamatan saja.


“Naik bus, terus sambung elf, dan dari depan ada yang nganterin gue ke sini naik motor. Awalnya gue kira dia adalah tukang ojeg, ternyata kebetulan sedang menuju kampung ini,” jawab Robi dengan wajah sumringah.


“Tidak mungkin,” gumam Aisah.


Aku, Robi, dan Mang Dendi menoleh kepada Aisah. Wajah Aisah berubah tegang seperti tengah mengkhawatirkan sesuatu.


Kemudian, kulihat Mang Dendi menatap Aisah dengan khidmat. Tatapannya bak sebuah semafor.


“Em…. Maaf, Mas Yana dan Mas Robi, saya dan Aisah pamit dulu. Silakan istirahat. Mohon maaf juga jika kondisi di sini serba seadanya,” ungkap Mang Dendi sembari menarik Aisah. Terlukis sebuah ajakan memaksa darinya dalam membawa Aisah pergi.


Aku dan Robi melemparkan senyum kepada Mang Dendi. Aku ingin mencegah Aisah pergi karena ceritanya baru tahap pengantar, tetapi aku perhatikan Mang Dendi seperti tak mengizinkan Aisah lebih lama denganku.


“Pantes aja lu betah di sini. Rupanya ada perempuan cantik yang menjerat hati lu,” goda Robi.


Aku tak bernafsu meladeni guyonan Robi. Aku dorong Robi untuk masuk ke dalam kamar. Dikarenakan dia sudah ada di hadapanku, aku tak sabar untuk menceritakan pengalamanku selama di kampung misterius ini. Kukunci pintu setelah memastikan Mang Dendi dan Aisah tak akan mendengar percakapanku dengan Robi.


Sebagai permulaan, aku tanyakan tentang perjalanannya. Adakah dia mengalami hal serupa denganku sebelum berhasil bertemu berhasil menginjakkan kaki di tanah ini?!


Robi mengatakan perjalanannya baik-baik saja. Tak ada hal yang ganjil atau aneh. Bahkan, dia merasa seperti diberi kemudahan untuk menginjak Citiis. Sangat kontras denganku yang harus jatuh bangun dihajar kejadian-kejadian yang membuat bulu kuduk merinding.


Lantas, aku ceritakan mengenai suasana dan kondisi desa yang sangat berbeda. Perbedaan dari sisi konstruksi hingga kisah gelap yang mencekam kehidupan, bayangan mushola yang seolah terselip di dimensi lain, dan kejadian yang membuat betisku terluka tadi pagi.


Wajah Robi pun mendadak lesu setelah mendengar penuturanku. “Lu tahu dan ngerasain ada hal yang aneh di sini. Kenapa lu masih di sini?” kesalnya.


“Bi, gue belum sedikit pun nyentuh kasus mengenai teman-teman gue yang hilang itu. Satu lagi, gue ngerasa Aisah dan ibunya bukan orang biasa. Gue pengen ngulik juga dari mereka apa yang sebenarnya terjadi dengan kampung ini,” uraiku.


“Yan, Umi dan Abi lu udah tahu lu ada di sini. Gue ke sini sebenarnya buat jemput lu,” terang Robi.


Aku tidak menyangka dia tidak bisa menepati sumpah. “Bi, lu udah janji sama gue nggak akan ngasih tahu orang tua gue. Gue….”


Tuk tuk tuk! Bunyi pintu yang diketuk memangkas kalimatku.


Robi membuka pintu. Ia berbicara dengan si tamu. Sayangnya, tak terhantar jelas dialog mereka.

__ADS_1


Tak lama Robi menutup pintu. Namun, begitu ia berbalik badan, aku lihat sosok hitam dengan tinggi nyaris menyentuh plafon menempel di belakang tubuhnya.


Aku menggosok-gosok mata sembari menahan rasa ngeri dan takut.


“Si.... siapa tadi, Bi?” tanyaku penasaran sekaligus mengambil jeda untuk memastikan sosok seram yang tertangkap oleh penglihatanku.


“Orang yang tanya alamat. Terus gue bilang aja kalau gue bukan orang sini,” jawabnya.


Tanya alamat? Tetapi mengapa seakan menitipkan sesuatu di tubuh Robi? Ada rasa penyesalan dalam batinku sebab tak ikut menyapa orang yang tadi bertamu.


“Bi…. lu ngerasa a…. ada sesuatu nggak di punggung lu?” Aku menjulurkan kedua telapak tangan terbuka meminta Robi untuk tidak mendekat kepadaku dahulu.


“Kenapa sih lu? Ada apa emangnya di punggung gue?” Robi sedikit meninggikan suara.


Aku ingin memberi tahu Robi secara langsung. Hanya saja, lidahku seakan ikut ketakutan.


Lantas, kugoyangan kepala beberapa kali sambil memejamkan mata. Prasangka menyesak dalam pikiran. Apakah karibku ketempelan?


“Gue mandi dulu kalau gitu,” tandasnya.


Sosok itu pun menghilang kala Robi berjalan menuju kamar mandi. Aneh!


Aku terbangun di dua per tiga malam karena mendengar lolongan anjing. Ini kali pertama aku mendengar suara dari luar kamar dengan sangat nyaring di waktu gelap.


Sesaat kuamati tubuh Robi yang terbaring pulas. Pikiranku terus mencoba mengatakan sosok yang aku lihat menempel di tubuhnya tadi sore merupakan ilusi, walau aku sadar bahwa aku tidak salah melihat. Ya, sebuah sugesti untuk memuaikan rasa ngeri.


Aku lakukan sebuah kontemplasi. Langkahku seperti berada di persimpangan dilema. Pulang atau menetap hingga genap satu minggu. Namun, satu pun titik terang belum tampak di hadapan.


Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu lagi. Aku terperanjat dari tempat tidur.


Kuintip dari jendela. Tak ada bayangan siapa atau apa pun.


Aku rapatkan kening di jendela agar bisa melebarkan pandangan. Masih tak terendus si pelaku yang mengusik renunganku.


Puk!!!


Nafasku menjadi tidak beraturan usai mendapatkan tepukan di bahu kiri. Apa lagi ini? Apa ada makhluk yang menyusup ke dalam kamarku?

__ADS_1


“Ngelihatin apa lu?”


Aku memutar badan. Hah, Robi? Sejak kapan dia terbangun?


“Bi.... lu.... dengar suara yang ngetuk pintu juga?" tanyaku menduga.


Robi mengangguk. Kemudian, dia mengambil jaketnya yang digantung di balik pintu.  “Ayo, Yan! Gue temenin lu ke jembatan sekarang agar siang nanti kita bisa pulang," ajaknya.


“Tapi, Bi….” Aku merasa ada hal yang berbeda dari Robi. Namun, aku masih belum berani menjabarkannya.


Robi berjalan dengan antusias. Aku masih terpaku di depan di pintu. Betisku masih terasa sakit untuk dibawa melangkah.


Selang beberapa langkah, Robi berbalik arah. "Lu kok masih di sini? Ya udah, gue ambilin jaket lu dulu. Di mana lu nyimpennya?"


Aku luruskan telunjuk ke lemari. Robi pun bergegas mencari.


"Yana...." panggil seseorang. Arahnya dari samping kamar.


Begitu dekat dengan sumber suara, aku menjadi sedikir gamang. Benarkah sosok yang mengenakan kaos oblong putih itu manusia? Wajahnya tak terbaca karena tak tersentuh cahaya.


Kemudian, dia mendekat ke arahku. Aku bersiaga untuk memanggil Robi.


“Ma…. Mang Sata,” lafalku terbata. Kali ini, dia memang benar Mang Sata. Keharuan pun menyelubung jiwa. “Apa kabar, Mang? Maafin Yana ya, Mang.” Kucoba raih tangannya untuk bersalaman.


Mang Sata tetap meluruskan tangan sejajar dengan tubuhnya. Di bawah terpaan lampu teras, kentara kesedihan melingkari ekpresinya.


“Yan, datang ke rumah Mamang secepatnya ya,” pintanya tersedu.


“Iya. Tapi Mamang sekarang tinggal di mana? Masuk dulu yuk, Mang! Banyak hal yang ingin Yana tanyakan kepada Mamang.”


Mang Sata menggelengkan kepala. “Cepat masuk, Yan!” suruhnya sembari sedikit mendorongku. Dia pun lekas berlari menerobos kesunyian.


Kreek! Bunyi pintu terbuka dari rumah utama Mang Dendi.


Bagai sebuah pertemuan rahasia, aku terbawa perintah Mang Sata. Aku masuk ke kamar, dan menutup pintu secara perlahan.


Aku singkap tirai jendela beberapa centimeter. Terlihat Mang Dendi sudah berada di tengah jalan. Kemudian, dia melayangkan pandangan ke arahku.

__ADS_1


Aku segera naik ke kasur untuk berpura-pura tidur. Akan tetapi, ada hal yang terasa janggal. Mengapa Robi pun kembali berbaring di atas kasur?


__ADS_2