Mereka Di Sini

Mereka Di Sini
Bab 1: Panggilan dari Masa Kecil


__ADS_3

Matahari mulai tenggelam di ufuk Barat. Badan yang lelah mulai berteriak ingin segera bersandar. Sore ini, kemacetan di jalan yang aku lalui terasa berbeda. Sudah hampir setengah jam mobilku tak bisa bergerak. Terbersit hasrat untuk melarikan diri sementara waktu ke sebuah desa sembari menyelesaikan tesisku.


Jakarta, dengan segala hiruk pikuknya, terkadang begitu mengerik pikiran. Kemacetan, polusi, dan kebisingan yang tak pernah berhenti bak derita yang sulit dihindari bagi kaum pencari ketenangan. Aku memang terbiasa menghadapi hal ini setiap hari. Namun, terbiasa bukan berarti mati rasa. Kala jenuh melanda, aku bisa seperti orang gila.


Setelah cukup lama bergelut dengan kesabaran hingga langit gelap sempurna, aku terbebas juga dari antrian “jahanam”. Ternyata, selain volume kendaraan yang selalu membludak di jam pulang kerja, ada pengerjaan perbaikan jembatan penyeberangan orang (JPO) yang membuat kendaraan menumpuk di satu lajur. Ah, mengapa perbaikannya tidak dilakukan di tengah malam atau dini hari?!


Aku atur suasana hatiku yang bergejolak. Terasa ada hal yang menarikku ke masa lalu ketika kepalaku fokus pada kata jembatan. Padahal, setiap hari aku melihat dan melalui berbagai jenis jembatan, dari jembatan penyeberangan hingga jembatan layang (flyover).


Ah! Mungkin aku sedang capek saja. Terkadang pikiran yang tidak karuan disebabkan oleh jasmani yang ingin segera beristirahat.


Sesampainya di rumah, aku rebahkan badan di sofa. Lalu, kupejamkan mata untuk memuaikan gelisah yang menyerang. Entahlah! Aku seperti ingat sesuatu, tetapi terasa berat untuk direkonstruksi.


Hembusan pendingin ruangan (AC) membantu menyamankan suasana. Kubayangkan sedang berada di sebuah desa yang indah nan asri. Aku coba merelaksasi diri dengan sugesti.


Kemudian, terdengar sayup-sayup tawa renyah anak kecil yang bermain. Tergambar syahdunya masa anak-anak ketika masalah terberat hanyalah PR (pekerjaan rumah) Matematika. Tak ada revisi, tak ada adu argumentasi yang mencekik saraf otak.


“Yana!” Ada suara anak kecil yang menyerukan nama.


“Yana!” timpal suara anak kecil yang berbeda.


“Giliran kamu yang jaga. Kenapa kamu malah mau pulang? Jangan curang dong, Yan!” ujar anak kecil yang lainnya.


Aku merasa belum mencapai alam mimpi. Otakku masih dalam keadaan sadar, melukis pemandangan imajiner.


“Yana curang. Yana curang.” Sekarang, aku mendengar suara ledekan yang dilantunkan secara bersamaan oleh ketiga anak kecil tadi.


Aku pusatkan pikiran dan pendengaran lebih saksama. Aku tidak menghadirkan aktor pendukung atau figuran dalam ruang imajinasiku. Lantas, bagaimana bisa ada suara-suara anak kecil yang menembus dunia fiksiku? Mereka pun menyebut namaku dengan lantang.


Siapa mereka? Keriangan yang mereka sajikan terasa begitu familiar. Akan tetapi, aku sulit mengidentifikasi di mana hal tersebut pernah terjadi.


Aku dengarkan lagi suara mereka sembari mencocokkan dengan memori masa kecilku. Tubuhku merinding menggigil dan nafas agak terengah-engah.


Ya, benar. Aku ingat - setelah cukup lama bermeditasi. Panggilan tadi berasal dari tiga orang teman masa kecilku.

__ADS_1


“Hamid! Musa! Rusman!” pekikku seraya membuka mata.


Tanpa sadar, air mataku mengalir menyapa pipi. Kesedihan dan trauma menjalar membuka kenangan yang sempat terkubur begitu dalam di keseharianku.


Umi (panggilan untuk ibu) berlari menghampiriku. “Ada apa, Nak? Kamu tadi teriak manggil siapa?” tanya beliau sambil mengusap pipiku.


“Ti…. tidak, Umi. Ya…. Yana tadi mimpi buruk aja,” kilahku.


“Yana udah salat Isya belum?”


Aku lihat ada raut kecemasan di wajah Umi. Segeralah aku atur mimik serta gestur wajahku. “Belum, Umi. Yana juga belum sempat salat Maghrib soalnya tadi kejebak macet di jalan. Kalau gitu Yana ke kamar ya, Mi. Yana mau mandi terus salat.”


Ketika menaiki anak tangga menuju kamar, aku mendengar panggilan dengan sedikit samar dari Hamid, Musa, dan Rusman. Aku putar pandangan. Umi melihatku sambil melemparkan senyuman. Lantas, aku bergegas menunaikan niatku.


Usai salat, aku sandarkan kepala di dekat jendela. Satu per satu jejak masa lalu yang telah dilupakan bangkit. Cerita tentang tiga karibku menguat kembali.


Sebelum aku pindah ke Jakarta, aku tinggal di Desa Citiis yang terletak di Provinsi Banten dengan waktu tempuh 4 jam. Aku meninggalkan desa tersebut saat usia 10 tahun. Bukan aku yang mau pergi, tetapi orang tuaku yang ingin memulihkan kondisi psikologisku.


Para orang tua dan juga warga sebenarnya sudah melarang anak-anak bermain ke lokasi tersebut di waktu apa pun. Katanya, takut dijadikan tumbal. Namun, kami anak-anak yang bandel. Kami masih kerap bermain di balik ekskavator dan truk-truk pengangkut material bangunan.


Dalam kegembiraan yang membahana, aku mendengar ada bisikan yang menyuruhku pulang. Aku pun pergi meninggalkan mereka. Aku ajak mereka, tetapi mereka mengaku belum puas menikmati wahana.


Sejak hari itu, mereka menghilang. Beredar kabar mereka dijadikan tumbal pembangunan jembatan.


Hari-hariku mendadak suram karena terus diinterogasi orang tua mereka. Sementara, aku benar-benar tidak tahu apa yang menimpa mereka setelah aku memilih pulang seorang diri.


Melihat aku yang menjadi pemurung, Umi dan Abi seringkali membawaku ke kiai dan dokter psikiatri. Hampir dua tahun aku menjalani pemulihan trauma akibat kehilangan teman-temanku. Aku sempat tak ingat sama sekali tentang mereka.


Mungkinkah tadi mereka mendatangiku untuk meminta bantuan? Entahlah!


Aku beranjak ke tempat tidur. Lebih baik aku tidur untuk menenteramkan pikiran, daripada bergelut dengan kenangan buruk.


Kulafalkan doa sebelum tidur berkali-kali. Semoga istirahatku terhindar dari gangguan jin dan setan.

__ADS_1


Tuk! Tuk! Tuk!


Aku tajamkan telinga kala mendengar ada yang mengetuk jendela kamarku.


“Yan, tolongin kami! Kami tidak mau terjebak di sini selamanya. Tolong, Yan! Tolong temukan kami!” ujar Hamid, Musa, dan Rusman secara bergantian.


Hawa panas menggerayangi kakiku. Aku pun segera bangkit sembari melawan ketakutan.


“Hamid, Musa, Rusman, kita sudah berbeda alam,” ucapku meringis.


Dengan langkah sejengkal demi sejengkal, aku dekati jendela. Kakiku bergetar menahan prasangka.


Setelah belasan tahun berlalu, apa mereka marah kepadaku karena aku pulang tanpa memberi tahu bisikan yang aku dengar? Seandainya aku ceritakan kepada mereka, mungkin mereka juga akan pulang bersamaku.


Brukkkk!!!


Aku nyaris terjatuh. Jantungku berdegup dengan sangat kencang.


“Bang Yana lagi ngapain?” tanya adikku, Nana.


“Na, Abang kan udah berkali-kali bilang kalau masuk kamar Abang tuh ketuk pintu dulu,” geramku menumpahkan rasa kaget yang cukup hebat mendera.


Nana mendekat ke arahku.“Tadi Nana udah ketuk pintu. Nana juga udah panggil-panggil Abang. Nana mau pinjam charger hape Abang. Nah, pas Nana putar gagang pintunya, eh, bisa kebuka. Emangnya Abang lagi ngapain sih? Lagi main petak umpet sama setan?”


Kusodorkan saja benda yang dia inginkan. Dia malah membuka jendela.


“Udah pergi tuh, Bang. Mungkin mereka takut kali lihat Nana,” ucapnya.


Aku lihat jam yang menggantung di dinding. Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam.


Aku dorong Nana keluar kamarku agar dia tidak memperkeruh ketakutanku. “Besok pagi chargernya balikin ke Abang. Jangan begadang cuma buat main hape mulu. Belajar yang rajin biar lulus ujian akhir.”


Setelah Nana keluar, aku merenung. Sejak kecil, dia memang gemar menakutiku dengan cerita tentang hantu. Namun, mengapa momentumnya tadi sangat sesuai? Dia seolah meyakinkanku ada teman-teman masa kecilku yang datang bertamu.

__ADS_1


__ADS_2