
Keraguan bertahta di kepala. Aku tahu ada yang tak biasa di mobil ini. Namun, aku juga tidak bisa langsung saja percaya kepada si Ibu yang tampak membuntutiku.
“Loncat! Cepatlah meloncat!” teriak si Ibu sambil berlari mengejar mobil.
Sementara itu, aku masih merasakan cengkraman kuat yang menarik ranselku.
Apa yang sebenarnya terjadi? Rasa penasaran membumbung tinggi, tetapi aku tersugesti untuk tidak memeriksa kondisi di belakangku.
Aku buka dan tutup mata beberapa kali – mencoba memastikan peristiwa ini mimpi atau asli. Tiba-tiba sebuah tangan menggerayang di punggung hingga maju melewati bahuku. Tangan yang kering seperti hanya tulang yang dibalut oleh kulit.
[Audzubillah himinas sayitoon nirrojim (Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk).] lafalku dalam hati.
Bruuuukkk!!! Aku meloncat setelah melihat ada tempat yang lapang untuk berguling. Bagaimana pun, ada laptop di tasku yang berisi data penting.
Aku berguling di rerumputan dengan mendekap erat ranselku. Tubuhku merinding dan nafas tersengal-sengal.
Si Ibu membantuku bangkit. “Kamu tidak apa-apa, kan?” tanyanya.
“Ya. Saya baik-baik aja. Terima kasih bantuannya,” ucapku menguatkan diri.
Kemudian, mataku tertuju mencari jejak si mobil elf yang kunaiki. Kukerahkan segala fokus untuk menjangkaunya di jalanan panjang yang lurus.
Tidak mungkin. Mobil itu menghilang. Apakah sang sopir memacunya lebih cepat lagi? Ataukah benar kata si Ibu bahwa mobil itu tak biasa?
“Untunglah kamu segera turun dari mobil itu. Kalau tidak, kamu mungkin terbawa ke dimensi mereka,” ungkap si Ibu yang membuat batinku semakin tersentak.
Dimensi mereka? Apa maksud Ibu?” tanyaku seraya mencerna kejadian di luar nalar yang baru saja berlaku.
“Kamu salah menaiki elf. Pas saya panggil-panggil, kamu tak menyahuti.” Si Ibu menghela nafas. Tergambar rasa lelah di wajahnya. “Maka dari itu, saya ikuti kamu. Saya lihat kamu orang baik, dan sepertinya sedang dalam perjalanan untuk menunaikan kebaikan,” sambungnya.
Suara jangkrik dan katak bersahutan menyemarakkan malam yang sepi. Tak ada satu pun kendaraan yang melintas. Cahaya rembulan terpancar tak sempurna. Bintang-bintang seperti malu untuk menunjukkan keberadaannya. Sementara di dalam otakku, sejuta tanda tanya membahana. Apa yang sesungguhnya dimaksud oleh si Ibu?
Dia mengatakan aku salah menaiki mobil, sedangkan tak ada mobil lain yang terparkir ketika kondektur mengatakan perjalanan sudah bisa dilanjutkan.
Tentang si Ibu memanggilku tetapi aku diam, itu karena aku memasang earphone di telinga untuk menetralisasi moodku. Ah, aku benar-benar tak mengerti tentang semua ini.
“Rumah saya sekitar 2 KM dari sini. Mari ikuti saya!” ajak si Ibu.
Aku lepaskan sangsi. Tak ada yang bisa kulakukan seorang diri di pinggir jalan tepi hutan.
Hem! Bukan saatnya menimbang terlalu dalam tentang kebaikan seseorang. Badan yang lelah dan nalar yang kisut perlu untuk segera dipulihkan.
Kuikuti langkah si Ibu. Keringat mengucur deras. Energi seolah terkuras habis. Aku tak membawa perbekalan apa pun, termasuk pelepas dahaga.
Si Ibu menatapku. Dia tersenyum, lalu memberiku sebotol air minum.
__ADS_1
Aku bermusyawarah dengan hati kecil untuk menentukan pilihan, minum atau tidak. Bagaimana jika air yang dia sodorkan sudah dicampur dengan aji-ajian?
Duh, terserahlah!
Segera kuteguk kesegaran agar bisa menggumpalkan tenaga. Apa yang akan terjadi, terjadilah!
Setelah cukup lama berjalan. Terdengar suara ayam jantan berkokok saling mengadu volume. Sorot lampu menggantung di rumah-rumah warga pun mulai menyinari retina.
Apakah ini sudah menjelang fajar? Mengapa malam terasa begitu cepat? Sore ke malam, malam ke pagi, aku seperti melewatkan banyak waktu tanpa cerita.
“Silakan masuk!” ucap si Ibu membuka pintu. “Sudah mau adzan. Bersihkan badanmu, kemudian solat. Setelah itu baru makan dan istirahat.”
Benar. Tarhim mulai berkumandang dari corong-corong pengeras suara. Aku laksana dibawa bernostalgia ke kehidupanku di masa kecil. Masa di mana berlomba dengan teman-teman untuk mencapai surau lebih dulu. Waktu Subuh merupakan waktu terbaik untuk menghirup nafas memulai aktivitas.
Aku tunaikan perintah si Ibu seraya memanjatkan syukur. Dia menyuruhku untuk solat. Artinya, dia memang orang baik.
“Terima kasih, Bu. Maaf, saya sempat ragu dengan kebaikan Ibu,” ungkapku sedikit malu.
Dia membalas ungkapanku dengan segaris bibir yang terkembang
***
Aku terbangun sekitar pukul 11 siang. Badan dan pikiran kembali segar. Saatnya mencapai tempat yang dituju.
Aku berjalan mencari si Ibu untuk berterima kasih dan meminta petunjuk agar bisa sampai ke Citiis tanpa ada gangguan seperti semalam. Namun, dia tak tampak di semua penjuru rumah.
Sambil menunggu si Ibu, kunikmati kedamaian kehidupan yang tersaji. Tak ada suara-suara bising yang menyengat pendengaran. Tak ada juga polusi yang menyedak pernafasan.
“Aa sudah bangun?” tanya suara manis yang begitu sopan di telinga.
Aku segera menoleh ke arahnya. “I… iya. Ibu ke mana ya?” tanyaku balik dengan agak kikuk.
“Si Mamah lagi keluar. Sebentar lagi kayaknya pulang. Ayo A, makan siang dulu!” ajaknya.
Cantik, manis, dan lembut. Itulah gambaran dari perempuan yang ada di hadapanku. Keramahannya seketika membuat perutku berkata lapar.
Usai makan, aku kembali ke teras. Dia pun mengikuti, dan mengambil tempat duduk di sampingku.
“Maaf, Aa dari mana dan mau ke mana?” Dia membuka percakapan dengan ramah.
“Saya dari Jakarta. Saya sedang…. sedang menuju Desa Citiis untuk menemui teman saya. Cuma….”
Dia memotong penjelasanku, “Citiis?” Wajahnya tampak kaget. “A, sebaiknya Aa tidak usah ke sana. Mending Aa pulang aja. Kalau Aa pengen ketemu sama temen Aa, kan sekarang teh bisa lewat hape, video call.”
Dia mengatakan hal yang sama dengan yang dikatakan oleh ibunya. Ada apa sebenarnya dengan Citiis?
__ADS_1
“Kenapa dengan Citiis? Apa di sana ada sesuatu yang kurang baik?”
“Em….” Dia mengalihkan pandangan. “Pokoknya, tidak disarankan orang luar untuk masuk ke Citiis.”
“Tapi saya bukan orang luar. Saya menghabiskan masa kecil di Citiis. Bagaimana pun, saya masih punya ikatan sebagai warga sana,” terangku.
Dia berdiri sembari mengadukan jari-jari tangannya. “Atau Aa ajak aja temen Aa ketemuan di sini. Dari Citiis ke sini cuma 20 menit kok.”
Dari ucapannya menandakan aku sudah dekat ke lokasi teman-teman masa kecilku.
Aku coba ingat-ingat sejenak geografis wilayah ini. “Jadi, ini Cibatu?” tanyaku memastikan.
Dia pun mengangguk.
Baiklah!
Semuanya terasa sudah jauh berbeda. Memang sangat wajar, karena belasan tahun aku tidak menjangkau tempat ini. Akan tetapi, aku yakin akses dari sini ke Citiis tidak berubah.
Aku segera mengambil ranselku. Namun, dia mencoba menghadang perjalananku.
“Aa, tolong dengarkan saya! Citiis yang dulu Aa kenal sudah berbeda dengan Citiis yang sekarang,” jelasnya ambigu.
“Apa bedanya?” Spontan aku meninggikan suara. Aku tak suka diombang-ambing tanpa penjelasan konkret.
Dia tak menjawab pertanyaanku, malah terus berdiri menghalangi jalanku untuk keluar.
“Terima kasih sudah membantu saya. Sampaikan juga ucapan tersebut kepada si Ibu. Setelah dari Citiis, saya janji akan mampir ke sini. Tolong izinkan saya pergi sekarang, Nona Cantik,” paparku berusaha melobinya.
Tetap saja, dia tak bergeming.
“Neng, anterin si Aa ke Citiis,” suara si Ibu membuat kami terkejut.
“Tapi, Mah.” Si Perempuan putih dengan tinggi sekitar165 cm dan berambut panjang tersebut tampak keberatan dengan titah sang ibu.
Si Ibu menatapku, “Di Citiis, kamu mungkin tak akan menemui orang-orang yang sebelumnya kamu kenal. Tetapi, saya sudah menitipkan kamu kepada adik laki-laki saya yang tinggal di sana.”
Pernyataan si Ibu menyelipkan tanya di benakku. Jika aku tidak bisa menemui orang-orang yang aku kenal, lalu ke mana mereka. Ah, tapi aku tak mau membuang waktu. Biarlah pertanyaanku ini terjawab di sana.
Si gadis mengeluarkan sepeda motor. Aku langsung menawarkan diri untuk mengemudi.
“Saat di sana nanti, bilang kamu sedang melakukan penelitian untuk tugas kuliah,” pesan si Ibu.
Aku sudah tak sabar untuk menengok masa lalu. Aku juga tak sabar untuk membedah panggilan Hamid, Musa, dan Rusman.
Cibatu merupakan desa yang berada di depan Citiis bila ditilik posisinya di dekat jalan raya. Batas antara kedua desa yaitu sungai yang di atasnya dibangun jembatan tiga pilar.
__ADS_1
Jembatan. Tubuhku tiba-tiba bergetar hebat kala melihat konstruksi penghubung tersebut dari jarak sekitar 10 meter. Bahkan, aku hampir saja menabrak patok pembatas.
Aku tertegun – mengamati, mencermati, dan meneliti. Benarkah ada Hamid, Musa, dan Rusman yang memperkuat konstruksi jembatan, seperti tudingan orang-orang pada waktu itu?