
Resah, cemas, curiga, ngeri, dan getir berputar di dalam sanubari. Melihat Robi masih terbaring tak berdaya membuatku dilanda kekhawatiran yang luar biasa.
Mulut si Ibu komat-kamit sembari tangannya menepuk-nepukkan daun kelor ke tubuh Robi. Sesekali ia semburkan air dari mulut ke sudut-sudut ruangan, bak sebuah ritual mengusir makhluk halus. Apa pun yang dia lakukan, aku tidak peduli. Aku hanya berharap kesadaran sahabatku segera kembali.
Niat hati pergi ke Citiis menebus rasa bersalah, tetapi justru dihadapkan dengan rasa bersalah yang baru.
Tidak! Aku tidak boleh membayangkan hal terburuk akan terjadi kepada Robi. Aku harus senantiasa berpikir positif supaya menjelma menjadi doa yang baik.
Selagi si Ibu sibuk membangunkan Robi, aku ajak Aisah duduk di teras. Ada banyak pertanyaan yang belum mendapatkan jawaban, dan beberapa pertanyaan baru yang ingin aku ajukan.
“Aisah….” ucapku dengan lembut.
Baru menyebut namanya, tetapi dia langsung memberikan gestur tangan supaya aku diam. Dia seolah tahu aku akan memberondongnya untuk menalarkan semua kejadian di kampung ini.
“Banyak warga dari kota yang mengabaikan pantangan ketika memasuki wilayah desa ini. Mereka pikir kami hanya menakut-nakuti. Mereka kira cerita kami merupakan takhayul,” ungkap Aisah sambil memandang lurus ke jalanan yang sepi.
“Cerita apa?”
Aisah menumpangkan kedua tangannya di pangkuan. “A Yana ingin tahu kan mengapa ketika gelap menyelimuti kampung ini, maka tak akan ada satu pun warga yang berani menampakkan diri di luar rumah?!”
Aku mengangguk. Aku mulai fokuskan pendengaran untuk mencerna cerita Aisah.
“Saya sendiri tidak tahu awal mula kampung ini menjadi berbeda. Namun, ada cerita bahwa mereka tidak terima terusir dari kampung ini. Mereka kerap datang di kala gelap untuk melakukan balas dendam. Bukan langsung membunuh atau pun melukai, tetapi mereka menyerang psikis,” papar Aisah.
Mereka? Apakah kata ganti tersebut ditujukan kepada penghuni kampung ini sebelumnya?
Tidak mungkin. Mang Sata dan para warga asli kampung ini sangatlah ramah. Tak pernah ada konflik atau perselisihan mewarnai masa kecilku di sini. Tanah ini merupakan tempat yang terkenal aman dan damai.
“Aisah, apakah mereka yang kamu maksud yaitu warga asli yang pernah bermukim di sini? Apa yang terjadi dengan mereka? Di mana mereka sekarang? Kamu juga sempat menyinggung soal tanggal 9 tahun 1999 pada pukul 9 pagi, ada kejadian apa pada saat itu? Apakah itu awal mula terjadinya perubahan di kampung ini?” Aku membombardirnya dengan beberapa pertanyaan sekaligus.
Aisah menggeleng-gelengkan kepala. Kemudian, ia memejamkan mata dengan sedikit terisak.
Rasa penasaranku sudah memuncak di atas kepala. Berkali-kali pertanyaanku menggantung tanpa menyentuh akal. Maaf, tak ada niatan untuk menjadi tega.
“Aisah! Kenapa kamu malah diam? Cepat ceritakan semuanya dengan lengkap!” mohonku dengan intonasi memaksa.
Kreeek! Si Ibu membuka pintu. Sorot matanya tajam mengarah kepadaku.
“Aisah, ayo kita pulang sekarang,” ujar si Ibu. Kemudian, ia menarik tangan Aisah.
Aku coba menghalangi langkah mereka. “Bu, tolong jangan meninggalkan saya dengan teka-teki seperti ini.”
“Tidak ada yang memberimu teka-teki. Kamu sendiri yang menciptakan keadaan seperti ini,” tukas si Ibu.
Ah, tuduhan macam apa yang ditempelkan kepadaku?! Ingin rasanya mengeluarkan segala emosi di hati menjadi sebuah lolongan yang menguap di udara.
Sabar, Yana! Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Jaga perangai dan lisan agar tidak mengukir keburukan. Aku coba tenangkan diri seraya mengenyam pesan Umi saat berada di bumi orang lain.
Sebelum beranjak dari kamarku, si Ibu berpesan agar aku tidak membuka pintu dan jendela dari waktu Maghrib hingga Subuh. Dia juga melarangku untuk memaksa Robi terbangun.
Ruang untuk mengurai tragedi tertutup kembali. Memang terkadang tidak tahu lebih menenangkan. Tapi masalahnya, nalarku sudah tersentuh peristiwa yang kusut.
Hem!!!
Mang Sata! Benar. Dia harapan terakhirku untuk mendapatkan sekelumit jawaban tentang misteri di kampung ini. Hanya saja, di mana aku bisa menemui dia?
__ADS_1
Aku rebahkan badan di samping Robi. Kendorkan otot, lepaskan lelah. Firasatku mengatakan Mang Sata akan menemuiku lagi, walau aku tidak bisa menerka kapan waktunya.
***
Awan putih berlarian seperti dikejar waktu untuk meneduhkan belahan langit yang lain. Setiap hari Umi dan Abi menanyakan kabarku. Sampai detik ini, mereka masih percaya aku berada di Lampung bersama Robi.
Hah! Apakah kebohonganku bisa dikategorikan sebagai kebohongan putih?
Sore tadi Mang Dendi pergi ke ibu kota kabupaten. Katanya, dia tidak akan pulang malam ini. Makan malam untukku dan Robi sudah disediakan. Tinggal dihangatkan jika diperlukan.
Mang Dendi. Di mataku dia juga cukup misterius. Ini bukan terkait kehidupan pribadinya – di mana istri dan anaknya, melainkan dia juga membatasi ruang gerakku sebagaimana yang dilakukan oleh Aisah dan ibunya. Setiap aku ingin mengajaknya berbincang, dia pun menghindar seakan tahu aku akan mem-probing-nya pertanyaan mengenai kampung ini.
“Ayo bangun, Bi! Benar kata lu, lebih baik kita pulang saja,” gumamku sendu dilanjutkan dengan mengistirahatkan seluruh organ. Semoga malam ini tidurku sempurna.
Beberapa saat kemudian, antara setengah mimpi dan sadar, aku merasa ada yang menggoyang-goyangkan tubuhku seraya menyebut namaku.
“Yan…. Yana…. Bangun! Gue haus nih,” ujarnya.
Kubuka mata secara perlahan. Suasana tampak masih malam.
Hah? Robi? Dia dalam posisi duduk di sampingku. Aku pun segera mengumpulkan semua kesadaran.
“Bi? I…. ini beneran lu? Alhamdulillah, Bi. Lu baik-baik aja, kan?” Haru dan lega berpadu di kalbuku.
“Yan, kita harus segera keluar dari sini. Tadi pagi gue lihat banyak sekali makhluk seram di kampung ini. Mereka seperti ini menangkap gue, Yan,” ungkap Robi dengan mimik tegang.
“Iya, Bi. Kita pulang ke Jakarta besok pagi,” yakinku.
“Tapi…..” Robi menunduk.
“Gimana caranya kita keluar dari sini?”
Aku tersentak mendengar pertanyaan Robi. “Memangnya kenapa, Bi?”
Robi mengusap lehernya. Lalu, telunjuknya mengarah kepada teko di atas meja.
Ya, seharusnya aku memberi dia air minum terlebih dahulu. Bukankah karena itu dia membangunkanku?
Aku beranjak dari tempat tidur. Kutuangkan air ke gelas dengan penuh antusias. Tak tertakar rasa bahagia tatkala melihat Robi kembali seperti sedia kala.
Tuk! Tuk! Tuk!
Ada ketukan yang memanggil. Aku sempat terkejut. Namun, aku menduga itu adalah kode dari Robi yang sudah tidak sabar untuk melepas dahaga.
“Bentar, Bi! Ternyata ada semut di gelas yang ini. Gue ganti dulu ya,” terangku.
Aku tertegun kala berbalik badan. Tanganku bergetar hingga nyaris menjatuhkan gelas.
Hah? Robi kembali tertidur?
Tuk! Tuk! Tuk!
Rupanya, itu bunyi jendela yang diketuk. Bukan bunyi yang dihasilkan oleh Robi.
Kuletakkan gelas di meja kecil samping tempat tidur. Aku mantapkan hati untuk memeriksa sang tamu tak tahu waktu.
__ADS_1
Begitu tirai disingkap, aku kaget bukan kepalang. Hamid, Musa, dan Rusman berdiri di balik kaca. Mereka mengenakan seragam merah putih dengan wajah pucat.
Aku segera mundur, dan duduk di samping Robi. Aku juga mencoba membangunkan dia berkali-kali. Sayangnya, dia tak merespon sedikit pun ketakutanku.
Ada apa lagi ini? Akhhh!!!
“Yan, kami ada di bawah jembatan di dasar sungai, di ujung pondasi, dan di salah satu pilar penopang. Tolong kami, Yan! Bantu pindahkan kami!” ujar suara Rusman.
Aku coba tenangkan diri, dan melafalkan ayat-ayat suci yang fasih di dalam memoriku.
Baiklah!
Aku mendekat lagi ke jendela. Akan aku katakan permohonan maaf karena mungkin tak bisa membantu menemukan keberadaan mereka. Aku tidak boleh egois memikirkan rasa bersalahku di masa lampau, hingga mengorbankan teman yang masih hidup.
“Yan!” Kali ini, Mang Sata yang ada di hadapanku. Ia menggerakan jari memintaku keluar.
Aku gamang. Si Ibu mengatakan aku tidak boleh membuka ruang bagi angin malam. Namun, ada banyak keresahan yang ingin aku bedah dengan Mang Sata.
Aku putuskan keluar sebentar. Semoga tindakanku bukan bagian dari melanggar pantangan.
“Mmmmm…. ma…. masuk dulu, Mang. Kita mengobrol di dalam saja,” ajakku sembari menahan hawa dingin.
Mang Sata menggoyangkan kepala pertanda menolak ajakanku. “Temui Mamang di rumah sore ini. Datanglah ketika panjang bayangan sama dengan bendanya. Jangan telat ya, Yan!”
“Di…. di rumah siapa, Mang?”
“Naon dia kadieu (Ada apa kamu ke sini)? Ulah ngaganggu ka aing (Jangan mengganggu saya). Mangkat kaditu (Pergi sana)! Arrrrhhhhhh!!!” Belum sempat mendapat penegasan dari Mang Sata, terdengar suara Robi meraung sangat lantang. “Dipaehan dia ku aing (Saya akan bunuh kamu)!!! Arrrrhhhhhh!!!”
Robi mengamuk di tempat tidur. Matanya membelalak sangar. Dia pun terus melontarkan kalimat pengusiran dan pengancaman yang tadi diucapkan. Tubuhnya sedang dikuasai makhluk tak kasat mata.
“Bi, nyebut (ucapkan Syahadat), Bi! Istigfar!” suruhku sambil menahan tubuhnya yang seperti ingin bertarung dengan seseorang.
“Arrrrhhhh! Dia ulah sok hayang ngilu campur jeung urusan batur (Jangan ikut campur dengan urusan orang lain). Balik dia (Pulang, kamu)!” teriak Robi memolotiku.
Dia tak berhenti mengamuk, bahkan tenaganya semakin kuat. Aku hampir payah menahan amukannya.
Terdengar langkah kaki dua orang masuk ke dalam kamarku.
“Aisah, cepat tutup pintu! Rapatkan semua tirai jendela, lalu buka keran air!” perintah si Ibu dengan suara panik.
Si Ibu lantas mengikatkan sorban di leher Robi. Seketika Robi pun tenang, dan menjatuhkan badan ke kasur.
Aku rentangkan kaki di lantai. Tak terasa air menetes. Batin terus diguncang berbagai kengerian.
Plaaak!!! Si Ibu menampar pipi kiriku. “Firasat saya benar bahwa kamu memang tidak bisa diberi tahu. Ini yang kamu mau? Mengorbankan temanmu demi mengikuti rasa penasaranmu?” makinya.
Tak ada pembelaan yang bisa aku kemukakan. Dalam hal ini, jelas aku sangatlah salah. Aku tidak percaya pada petuah si Ibu.
“Apa yang tadi kamu lakukan di luar?” tanya si Ibu, masih dengan suara tinggi.
“Saya…. saya hanya menemui ayah dari teman kecil saya,” jelasku tertunduk lesu.
“Siapa?”
“Mang Sata.”
__ADS_1
Aisah memegang kedua pundakku setelah aku menyebutkan nama ayah dari Rusman. “Mah, dia muncul lagi di sini,” ujarnya bernada cemas.