Mereka Di Sini

Mereka Di Sini
Bab 12: Menekur Keabsahan Mereka


__ADS_3

Hidup penuh pilihan. Setiap langkah akan memiliki sejarah yang berbeda. Begitu keputusan sudah ditentukan, maka ia harus dijalani sepenuh hati. Tak ada lagi frasa “coba kalau begini” atau “andai tadi tak begitu”.


Memang bukan hal yang mudah untuk melepaskan pengandaian di kepala. Namun, aku percaya setiap pijakan merupakan cerita yang sudah termaktub dalam kisah hidupku. Saat ini, satu kata yang terus aku galakan di pikiran, yaitu “hadapi”. Baik atau buruk, benar atau salah, kutatap segala yang di depan mata dengan penuh keyakinan.


Aku ketuk pintu kayu yang sedikit lapuk dan keropos di beberapa sisinya. Kemudian, kuserukan salam agar sang empunya rumah keluar.


Tak perlu menunggu lama, Mang Sata pun membukakan pintu. Tampilan wajahnya melukiskan kesedihan yang teramat dalam. Dia pun tidak mengenakan baju hingga tampak jelas balutan pilu tubuhnya yang kurus legam.


“Assalamualaikum!” salamku lagi kala kaki kanan masuk ke bagian dalam rumah.


“Langsung masuk aja, Yan. Tidak perlu mengucapkan salam lagi,” ucap Mang Sata. Lalu, dia mempersilakanku duduk di sebuah kursi yang tak lagi empuk.


Tak mau banyak pembukaan yang memakan waktu, aku langsung sampaikan kondisi Robi kepada Mang Sata. Jujur, aku ingin bertanya ini dan itu; tentang realitas tempat ini, mengapa dan bagaimana bisa seperti ini, mengapa Mang Sata kelihatan lebih tua dari yang kulihat sebelumnya, dan tujuan utama dia memintaku bertandang ke rumahnya. Akan tetapi, kondisi Robi jauh lebih membutuhkan penjelasan dan pertolongan.


Mang Sata sedikit menengadahkan kepala ke langit-langit. Dia seperti sedang menahan laju air mata yang hendak menyerang pipinya.


“Semenjak Rusman hilang bersama Hamid, dan Musa, ibunya tampak begitu tertekan. Setiap hari dia mencari Rusman di lokasi galian dan di sekitar jembatan. Tetapi, selalu pulang dengan berurai air mata hati. Hingga suatu hari, dia di temukan meninggalkan dunia di dekat kolong jembatan yang dibangun. Kata orang-orang di sana, dia terpleset saat hendak turun ke sungai,” tutur Mang Sata dengan suara bergetar.


“Yana turut berduka, Mang. Maaf, semenjak pindah ke Jakarta, Yana tidak tahu apa pun tentang kabar di sini," terangku gemetar.


"Mamang paham," sedunya.


"Em…. Apakah Yana boleh minta tolong terlebih dahulu terkait….” Aku bukan tidak mau mendengar lebih banyak mengenai kedukaan yang Mang Sata sampaikan, tetapi aku takut Aisah dan ibunya sudah kembali ke kampung ini. Aku tak mau mendengar omelan mereka ketika didapati aku sedang tidak berada di dalam kamar. Hah! Ini bak berkejaran dengan dua dimensi waktu untuk dua kepentingan.


Mang Sata memotong kalimatku. “Apakah Rusman, Hamid, dan Musa memberi tahu kamu di mana keberadaan mereka?” tanyanya sesak.


“I…. iya, Mang,” jawabku jujur.


Mang Sata mengambil bajunya yang menggantung di tiang kayu, lalu mengenakannya ke badan. “Antar Mamang ke sana sekarang. Lebih cepat mereka ditemukan, maka lebih cepat kamu bisa pulang. Ayo, Yan!”


Mang Sata bangkit dari posisi duduknya. Ia ambil caping dan cangkul seperti hendak ke ladang. Lalu, kakinya tergesa menuntun untuk segera pergi.


“Tapi, Mang….” Aku pun turut berdiri. Namun, tak ada langkah yang dipacu – masih memilih bertahan hingga mendapatkan kepastian. Aku sangat khawatir tentang Robi.


“Kondisi temanmu sangat bergantung pada penemuan di mana Rusman, Hamid, dan Musa dibenamkan sebagai tumbal. Merekalah yang telah menyandera sukma temanmu, sebagai jaminan agar kamu tidak ingkar pada tujuanmu datang ke kampung ini,” lugas Mang Sata.


Benarkah yang dikatakan oleh Mang Sata?


Memang ada benang merah antara pernyataan dia dengan si Ibu, yaitu sukma Robi tertahan di kampung ini. Akan tetapi, aku masih menimbang satu pertanyaan. Apakah sebenarnya yang bukan sebangsa, yaitu Mang Sata? Kemunculan dia sulit untuk dirasionalisasikan.

__ADS_1


“Kamu sudah kenal Mamang sangat lama, kan? Percaya sama Mamang! Kamu sudah seperti anak Mamang sendiri,” ucap Mang Sata seolah bisa membaca isi pikiranku.


Benar. Walaupun semua keadaan menyangsikan logika, namun Mang Sata tidak mungkin berlaku jahat kepadaku. Terlepas dari sikapnya yang misterius, dia satu-satunya orang yang aku kenal sebelumnya di kampung ini.


Aku berjalan di belakang Mang Sata. Terasa getir dan ngeri, karena tiba-tiba langit berubah gelap pekat. Angin pun berhembus cukup kencang hingga menggetarkan tulang.


Saat aku hendak bertanya mengapa keadaan menjadi suram, Mang Sata memintaku untuk tidak mengucapkan sepatah kata pun selama perjalanan menuju jembatan.


Hem! Tak ada alasan untuk membangkang perintahnya.


Waktu seperti berada di puncak malam. Tenagaku mulai terkuras, karena langkah tak jua mencapai tujuan. Terasa lama, terasa begitu panjang jalan yang ditekur tanpa bisa kukenali keadaan yang sebenarnya. Dari tadi hanya menembus deretan pohon bambu dan jalan setapak pematang sawah.


“Kamu masih kuat, kan? Sebentar lagi kita sampai,” ujar Mang Sata.


Aku anggukan kepala, meski betis sudah mulai sedikit keram.


Suara burung gagak memecah kesunyian. Katak dan jangkrik pun tak mau kalah mengadu vokal.


Kemudian, suara aliran air yang menerjang bebatuan mengalun begitu syahdu di telinga. Aku bisa menarik nafas lega karena tempat yang dituju sudah terbentang di depan mata.


Mang Sata bertanya di mana lokasi Rusman, Hamid, dan Musa. Kujelaskan bahwa yang aku dengar dari mereka hanya titik letak keberadaan mereka. Tak dikisahkan siapa yang terbenam di bawahnya.


“Tapi bagaimana caranya, Mang?” Ya, aku lihat bukan hal mudah untuk bisa membongkar bagian-bagian yang diduga tempat Rusman, Hamid, dan Musa dilenyapkan.


Mang Sata tidak menjawab pertanyaanku. Dia justru mengacungkan cangkul yang dibawa seakan benda tersebutlah yang bisa menjadi solusi.


Jalur tepian sungai cukup licin dan curam. Aku tapaki jejak Mang Sata agar tidak salah berpijak dan terperosok ke dalam aliran air.


“Cepat menunduk!” perintah Mang Sata berbisik. Tersirat sebuah kecemasan.


“Ada apa, Mang?” tanyaku pelan. Aku takut ada binatang buas seperti buaya dan ular.


“Ikut saja perintah Mamang!” tegasnya.


Menunduk sembari merangkak ke kolong jembatan bagai penjahat yang lari dari kepungan aparat. Sungguh tak terpikir akan menjadi sesulit ini hanya untuk mencari sebuah fakta.


Awan yang menutup bulan sabit bergeser. Seketika cahaya dari langit memancar dan menantul ke sungai. Terlihat ada tiga bayangan yang bertengger – bersandar di bahu jembatan – jatuh di atas beningnya hamparan air.


Aku angkat penglihatanku untuk menyaksikan sang pemilik bayangan. Dengan dipenuhi rasa tidak percaya, aku lihat si Ibu, Aisah, dan Mang Dendi berdiri seraya menggenggam sesuatu.

__ADS_1


Apa yang mereka lakukan di sini?


Kemudian, mereka menjatuhkan benda yang terberai sebelum menyentuh permukaan sungai. Aromanya begitu harum semerbak seperti wangi bermacam bunga.


Apakah mereka sedang melakukan sebuah ritual?


Mang Sata menarik tanganku. Kekagetan pun tak bisa aku hindari. Alhasil, kaki kananku terpleset, menyentuh air.


Si Ibu, Aisah, dan Meng Dendi melihat ke arahku. Mang Sata sedikit menyeretku supaya memosisikan tubuh menempel dengan tanah.


Huh! Nafasku tersengal-sengal, tak beraturan. Kupejamkan mata sesaat untuk membantu proses penenangan.


Sayup terdengar si Ibu melafalkan kalimat-kalimat dalam bahasa daerah dengan tempo cepat. Kubuka mata untuk melihat yang ia lakukan secara lebih jelas.


Haaaahhhhhh!!! Aku berteriak histeris. Mang Sata seperti hendak menindihku. Namun, bukan itu yang membuatku ketakutan, melainkan wajahnya yang hancur seperti yang pernah kulihat di tempat ini.


Tetesan darah dari wajahnya terasa menyentuh leher dan pipiku. Seram! Aku bagaikan mangsa yang hendak diterkam.


Tidak!!! Aku menggoyang-goyangkan kepala untuk ******* ketakutan.


“Tenang, Yan!” ucap Mang Sata sambil menutup mulutku.


Dalam sekejap mata, aku lihat wajahnya kembali normal. Bahkan, dia tidak berada di depanku, melainkan di sampingku.


“Bahaya kalau mereka bisa menemukan kita. Lebih baik kita segera pulang,” ajaknya.


“Bahaya kenapa, Mang? Mamang kenal dengan mereka? Apa yang Mamang ketahui tentang Mereka?” Aku lontarkan beberapa pertanyaan yang tidak bisa lagi dipendam.


"Mereka mendekat," jelasnya, mengabaikan pertanyaanku.


Ya, si Ibu, Aisah, dan Mang Dendi terlihat berjalan menuju ke arahku. Kemudian, Mang Sata melemparkan batu-batu di sekitarnya ke tengah sungai.


Aku mendadak gelisah. Lagi, aku harus memilih tautan rasa percaya di antara berbagai keganjilan yang mereka tonjolkan.


Sementara itu, saat aku layangkan pandangan ke seberang jembatan, aku lihat tiga teman kecilku berdiri memakai seragam SD. Mereka melambaikan tangan seolah memintaku mengambil pilihan ketiga, yaitu ikut dengan mereka.


Aku tertahan memikirkan pilihan. Semuanya tampak kabur berselimut misteri.


Bukkk!!! Pandanganku menjadi berkunang-kunang setelah mendapat hantaman gagang cangkul di tempurung belakang.

__ADS_1


“Maaf, Yan!” Kata-kata tersebut terdengar samar dilantunkan oleh Mang Sata.


__ADS_2