Mereka Di Sini

Mereka Di Sini
Bab 14: Menafsir Kisah


__ADS_3

Kehadiran Mang Sata kali ini membuatku panik dan khawatir. Cerita si Ibu mengiang kuat di kepalaku.  Meskipun ada segurat ragu, tetapi penjabaran tentang kekejian Mang Sata telah memantik rasa percayaku berkurang secara signifikan terhadapnya.


Mundur. Lebih baik aku mencari area yang aman dengan tidak meladeninya. Namun, aku pun tidak boleh terlalu tinggi memangku rasa takut.


Tenang. Tetaplah bersikap tenang!


Dalam suasana yang kalut mencekam, Robi membuatku terkejut sekaligus bahagia. Dia terbangun sembari melemparkan tanya.


Tak ada jawaban yang kuberikan untuk menjelaskan situasi yang tengah terjadi. Aku rangkul saja dia supaya kesadarannya tetap terjaga. Ya, aku tak mau melepaskan sedetik pun penglihatanku darinya.


Di depan kamar, Mang Sata terus memanggil namaku dengan nada-nada penuh lara. Dia merintih, memohon aku menemuinya.


Kupandangi Robi dengan teliti. Kuingat lagi peristiwa yang nyaris sama kala dia membuka mata, tetapi kemudian terbaring lagi seiring kepergian Mang Sata.


“Yan, kamu nggak dengar dari tadi ada yang manggil-manggil nama kamu?” Robi beranjak dari tempat tidur. Kakinya melaju seperti hendak membukakan pintu.


Aku segera menghalangi niat Robi. Dalam pikiranku terbersit untuk segera meninggalkan kampung ini selagi Robi dalam kondisi sadar. “Mending sekarang kita berkemas. Kita pulang setelah dia pergi,” ajakku seraya berusaha mengalihkan perhatiannya.


“Dia siapa, Yan?” Robi kebingungan.


Ada perubahan dalam sikapnya. Namun, aku tak mau memikirkan hal tersebut terlebih dahulu. Tidak juga dengan memberikan penjabaran tentang Mang Sata kepadanya.


Aku pelankan suaraku agar rencanaku tidak terendus oleh Mang Sata. Robi justru bersikap kontradiktif dengan yang aku lakukan. Dia terus bertanya tentang identitas sang penggedor pintu dengan suara yang nyaris memenuhi seisi ruangan. Aku pun bersusah payah meminta Robi untuk diam.


Suara di luar terhantar makin lantag. Karena mungkin tak kunjung mendapat respon dariku, Mang Sata menggedor-gedor pintu dengan cukup kencang. Aku pun cukup cemas dia akan mendobrak pintu atau jendela agar bisa masuk. Maka dari itu, aku memperhitungkan jarak benda-benda yang bisa digunakan untuk melawannya apabila dia menjadi beringas. Kursi, meja, sapu, hingga bantal dan guling telah kutentukan untuk menjadi senjata.


“Yan! Keluar sebentar saja, Yan. Mamang ingin bertemu dengan kamu. Tolongin Mamang, Yan. Bantu Mamang menemukan di mana Rusman dipendam agar dia lekas tenang,” ucap Mang Sata terisak.


Robi menatapku heran. “Tega lu Yan ngebiarin orang tua di luar. Dia pasti kedinginan, Yan. Apa salahnya temui dia, dan ajak dia masuk?!”


Apa lagi yang terjadi pada memori Robi? Setiap kali dia terbangun, tingkahnya selalu aneh.


Akkkh! Otakku dipaksa bekerja dari semua sisi, mencerna segala fenomena.


Aku dorong Robi hingga tubuhnya sedikit membentur dinding. Kuucapkan kata maaf, karena memang tak ada maksud sengaja melakukan hal tersebut.


“Bi, dia bukan manusia. Tidak ada warga di sini yang berani keluar malam apalagi bertamu tidak tahu waktu seperti dia,” tegasku meniupkan hawa seram.


Akan tetapi, respon Robi begitu di luar sangkaan. Dia bak berbalik meniupkan hawa seram kepadaku. Giginya menggertak-gertak, wajahnya tegang, dan tubuhnya bergetar. Aku tak percaya kalimatku menghujamkan rasa takut yang hebat kepadanya.


“Ja…. ja…. ja…. jadi dia adalah setan, Yan. Ce…. ce…. cepat usir dia, Yan!” ucapnya terbata-bata.


Kala dia terlihat seperti akan menjerit, aku buru-buru menutup mulutnya. Kubisikkan agar dia mengatur nafas sambil melafalkan doa.

__ADS_1


Mang Sata tidak berhenti membuat kegaduhan di depan pintu. Aku paham dia berupaya memancing batas kesabaranku.


Tidak. Aku tidak mau mengambil risiko secuil pun. Aku tidak akan melepas kesadaran Robi dari pandangan mataku.


Angin terdengar riuh menautkan tembang yang tercipta dari gesekan daun dan batang pohon. Lalu, berhembus masuk melalui celah-celah kamar. Kedinginan pun menyergap indra peraba.


Robi menatap kosong kepadaku. Kuperhatikan ekpresinya secara saksama. Ada bagian yang seolah tidak berafiliasi dengan dirinya yang kukenal selama ini. Dia tampak seperti anak kecil.


“Bi, tetap tenang ya! Juga, jangan pejamkan mata lu sedikit pun,” pintaku bernada membujuk.


Beberapa saat kemudian, terdengar bunyi hantaman benda tumpul memecah kaca. Robi menggigil didera ketakutan. Aku tutupi kedua telinganya mengantisipasi bunyi susulan.


Dalam benakku, hanya ingin memulangkan Robi. Dia tak semestinya menjadi korban rasa penasaranku.


Hem!!!!


Aku lepaskan CO2 melalui hidung. Tak ada lagi kebisingan yang dibuat oleh Mang Sata.


Namun, saat hendak mengumandangkan ucap syukur. Pintu bergemuruh lagi. Ketukannya menggoda emosiku.


Mang Sata tak jua pergi. Aku tetap menahan langkah seraya meningkatkan kewaspadaan.


“Yan, kamu baik-baik aja di dalam?”


“A Yana, ini Aisah dan si Mamah. A Yana nggak apa-apa, kan?” timpal Aisah meresonansikan rasa khawatir.


Aku buang kecemasan secara penuh dengan melakukan beberapa kali tarikan penggantian udara. Kemudian, aku katakan kepada Robi untuk tetap pada posisi.


Kubuka pintu sambil menengok jendela. Benar. Kaca jendela pecah. Untungnya, terpasang teralis sebagai tambahan pengamanan. Jika tidak, mungkin Mang Sata sudah bisa masuk dengan mudah.


“Benar dugaan saya, dia akan kembali untuk menemui kamu,” tutur si Ibu.


“Sekarang jam berapa, Bu?” tanyaku antusias. “Saya dan Robi sudah berkemas untuk pulang ke Jakarta.”


“Pulang?” Aisah mengernyitkan keningnya.


Aku mengganggukkan kepala. Aku sudah sangat yakin dengan keputusanku.


“Haruskah saya ulangi ucapan saya tentang kondisi temanmu?” satir si Ibu.


Ingatanku masih kuat dan normal. Aku kembangkan segaris senyuman.


“Bu, Robi sudah terbangun. Kesadarannya pun sudah kembali. Bukankah hal yang menghambat kepulangan kami yaitu sukma dia yang tertahan di kampung ini? Itu yang membuat kesadarannya hilang. Lantas, mengapa sorot mata kalian seakan tidak mengizinkan saya dan Robi kembali ke Jakarta. Kami memutuskan untuk menjalani kehidupan kami yang normal, meninggalkan segala perkara di luar nalar yang ada di kampung ini. Namun jika nanti saya dibutuhkan, saya siap kembali ke sini,” paparku dengan suara tegas.

__ADS_1


Aisah berkaca-kaca memandang ke tempat tidur. Apakah ada kalimatku yang menyinggung perasaannya? Ah! Kurasa, tidak.


“Belum untuk saat ini, A,” ucap Aisah sambil melemparkan telunjuk .


Aku menoleh mengikuti arah pandangan Aisah. Seketika itu pun, aku berbalik badan dengan sempurna. Jiwaku terasa diterjang nuklir.


Robi, dia terbujur lagi dengan posisi yang sangat kubenci.


HAAAHHH!!! Aku lampiaskan kesal dan amarah dengan sebuah crescendo.


“Mang Sata sengaja mempermainkamu,” tukas si Ibu,


***


Si Ibu mengatakan kesadaran Robi sangat bergantung kepada Mang Sata. Hanya saja, dia tidak merinci cara agar bisa membangkitkan Robi. Aku benar-benar harus mendamaikan jiwa agar intuisiku mampu bekerja secara optimal. Saat ini, insting dan naluri sedang tidak bisa dijadikan acuan dalam bertindak.


Aku tundukkan kepala, memutar-mutar otak. Terpikir untuk bertanya tentang riwayat Mang Sata kepada Umi atau Abi. Namun, hal tersebut tentunya akan mengundang kecurigaan mereka. Aku juga trauma melibatkan orang-orang yang sangat kusayangi untuk berkontemplasi; melawat masalahku.


Hah! Ayo, Yana! Tidak ada pintu masuk tanpa pintu keluar. Bisa saja keduanya diakses dari pintu yang sama. Aku terus memacu diri untuk mengumpulkan serpihan peristiwa selama satu minggu berada di kampung ini.


Kupejamkan mata supaya lebih khusyu merangkai segala tragedi. Mencari juntaian benang merah yang bisa kutarik untuk mengurai misteri ini


Namun, tiba-tiba aku teringat ucapan Aisah kala hendak mengungkap kisah kelam yang terjadi pada tahun 1999 di waktu yang serba 9. Ya, si Ibu memang sudah menjelaskan hal tersebut. Hanya saja, seperti ada pengantar cerita yang kontradiktif.


Aisah berkata bahwa ada mereka yang ingin balas dendam karena tidak terima terusir dari kampung ini. Sementara, si Ibu mengatakan arwah warga yang tewas di tangan Mang Sata belum mencapai titik ketenangan, dan masih bergentayangan hingga sekarang.


Ya, keduanya memaparkan tesa yang sama, tetapi dengan antitesa yang berbeda.


Pernyataan Aisah menjurus pada sebuah konflik. Artinya, ada pertikaian di antara dua kubu, dan menyebabkan salah satu kubu terusir (kalah). Kemudian, kubu yang terusir berupaya menduduki kembali wilayah mereka.


Jadi, sintesa mana yang bisa aku tarik sebagai rujukan; warga asli kampung ini bergentayangan karena terusir ataukah akibat pembunuhan sadis yang dilakukan oleh Mang Sata?


Lalu, benarkah Mang Sata bisa tega menghabisi nyawa orang-orang di sini? Padahal, dia dikenal sebagai sosok yang baik dan sangat toleran kepada para tetangga.


Pola pikir dan perilaku manusia memang bisa berubah seiring waktu. Akan tetapi, validitas sebuah cerita sepatutnya menampung banyak sisi atau ragam perspektif.


Sejarah sangat mungkin dikaburkan untuk menutupi fakta yang sebenarnya. Aku lupa bahwa ada ranah subjektif dalam setiap kata yang disusun menjadi sebuah “legenda”.


Baiklah! Aku harus segera bertemu Aisah. Berbicara empat mata dengannya.


Catatan:


Halo teman-teman pembaca, salam kenal ya! Terima kasih banyak sudah mengikuti kisah Yana dalam cerita “Mereka di Sini”. Namun, penulis ingin menghaturkan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada pembaca yang tertarik pada cerita ini, karena bab-bab selanjutnya mungkin tidak bisa dilanjutkan di platform ini. Sekali lagi, terima kasih banyak dan mohon maaf ya, teman-teman pembaca!

__ADS_1


__ADS_2