
Berbagai pengandaian menyerang pikiranku. Seandainya aku turuti peringatan si Ibu, mungkin Robi tidak akan tertidur lagi. Seandainya aku tidak memaksakan ego, tak akan ada kisah mencekam seperti ini.
Kini, hanya sesal yang bisa diratapi. Bisakah memutar waktu pada hari sebelum aku pulang kampung? Adakah panggilan Hamid, Musa, dan Rusman merupakan godaan setan semata?
Bercengkrama dengan hal-hal gaib memang membangkitkan sejuta penasaran. Batin ingin membuktikan eksistensi mereka, tetapi realitasnya semakin di luar nalar.
Hingga matahari berada di atas kepala, Robi masih terkulai tak berdaya. Sesekali ia mengerang antara ketakutan dan kesakitan. Keringat pun tak berhenti keluar dari pori-pori kulitnya.
“Bangun, Bi! Ayo kita pulang sekarang,” ucapku sendu sembari terus mengeringkan tubuhnya dengan handuk.
Aisah setia menemaniku dari semalam tanpa sedikit pun memejamkan mata. Sementara si Ibu, pulang saat fajar menyingsing. Katanya, ia akan segera setelah berhasil menemui seseorang.
Ini salahku. Aku yang menyebabkan kondisi Robi menjadi nahas begini. Namun, aku pun harus bersikap bijak kepada diriku sendiri – mencari cara keluar dari lingkaran iblis ini. Ya, bukan saatnya memberikan hukuman pada kebodohanku.
Ponselku berdering. Aku atur emosi agar nanti saat berbicara dengan Umi atau Abi, mereka tak mendeteksi ada kesedihan dari suaraku.
Dugaanku salah. Ternyata, orang yang menelepon adalah ibunda Robi. Dia pasti ingin menanyakan kabar anaknya.
Jika tidak diangkat, dia pasti menelepon lagi dan mungkin resah. Jika diangkat, apa yang harus aku katakan tentang Robi? Tidak mungkin berbicara apa adanya. Ah! Ingin rasanya berteriak sekuat tenaga sebelum mengambil keputusan.
“Kenapa Aa tidak menjawab teleponnya?” tanya Aisah. Pertanyaanya ibarat sebuah perintah.
Begitu suaraku tersambung dengan ibunda Robi, aku coba layangkan basa-basi sembari memberi ruang pada akal untuk memikirkan jawaban. Jawaban atas pertanyaan yang sudah bisa ditebak.
Aku katakan Robi sedang tidur siang setelah seharian kami beraktivitas. Terkesan tidak percaya, dia mengalihkan pembicaraan pada mode panggilan video. Untungnya, Aisah sigap membantu memosisikan Robi layaknya orang benar-benar terlelap.
Ibunda Robi tahu bahwa kami berada di Citiis. Hal tersebut membuatku didera kepanikan. Bagaimana jika dia bertemu atau menghubungi Umi, lalu bercerita mengenai lokasi keberadaan aku dan Robi? Memang mereka berada di dua kota yang berjauhan, dan tidak begitu akrab secara personal. Tetapi, terkadang kekhawatiran ibarat sugesti yang memicu kenyataan.
Hah! Aku juga tidak bisa memintanya untuk menjadi agen rahasiaku. Pasti akan ada banyak pertanyaan yang dia ajukan sebelum mengatakan kata “setuju”.
Aku merenung kala komunikasi jarak dengan ibunda Robi berakhir. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Bagaimana jika Robi tidak bangun lagi?
Tidaaaak! Aku histeris. Pikiran buruk begitu lancang menguasai isi kepalaku.
“Tenang, A! Semua akan baik-baik saja,” ucap Aisah. Ia sodorkan segelas air minum kepadaku. “Si Mamah sedang berusaha semaksimal mungkin untuk membantu membangunkan kesadaran A Robi,” imbuhnya.
Setelah membasahi kerongkongan, aku bulatkan tekad untuk menutup semua rasa penasaranku terkait ranah mistis di kampung ini dan di sisi hidupku. Tercetus untuk membawa Robi ke rumah sakit di ibu kota kabupaten. Daripada bertumpu pada yang tak tampak, lebih baik berikhtiar langsung sembari melangitkan harapan.
Aku kemas semua pakaian dan barang-barangku. Juga, merapikan segala yang Robi bawa. Aisah terlihat bingung atas tindakanku.
__ADS_1
“Apakah di sini ada warga yang punya mobil? Kalau tidak, pinjami saya motormu sebentar. Saya akan ke jalan besar untuk mencari mobil yang bisa disewa.” Aku tak mau membuang waktu lagi. Hilangnya kesadaran Robi pasti bisa ditangani secara medis. Yakinku dalam hati.
“Aa emangnya mau ke mana?” Aisah menyandera ranselku.
“Saya mau bawa Robi ke rumah sakit. Saya yakin dia hanya mengalami sinkop biasa. Dia mungkin sangat terkejut saja melihat hal tak masuk akal yang menyelimuti tempat ini. Jadi, tolong biarkan saya dan Robi pergi,” mohonku agar Aisah tak menghalangi langkahku.
“Tidak, A! Apa yang A Robi alami bukan sekadar pingsan biasa. Aa lihat kan, sudah lebih dari 1 jam A Robi tidak menunjukkan tanda-tanda kesadarannya,” sanggah Aisah.
Ya, aku paham pernyataan Aisah. Namun, berdiam diri tentu bukan solusi. Lagi pula, jika benar yang terjadi pada Robi merupakan gangguan mistis, mungkin saja efeknya akan hilang setelah keluar dari kampung ini.
“Saya yakin dokter bisa menjelaskan apa yang dialami oleh Robi,” pungkasku.
“Temanmu tidak bisa dibawa pulang dalam kondisi seperti ini. Kamu mau menyaksikannya seperti atau menjadi orang gila?” ujar si Ibu yang masuk secara tiba-tiba.
“Kenapa bisa seperti itu?” tanyaku lantang.
Si Ibu merapatkan selimut menutupi seluruh bagian tubuh Robi. Setelah itu, ia bentangkan kain putih semi transparan di wajah sahabatku.
Aku tidak terima Robi divisualisasikan seperti orang yang sudah meninggal dunia. Segeralah kuambil kain putih tersebut, lalu kuremas dan kulempar ke depan teras kamar.
“Aisah tolong ambil kain itu lagi!” titah si Ibu dengan suara halus. Kemudian, ia melemparkan tatapan tajam kepadaku. “Sukmanya masih ada di sini. Begitu kamu bawa dia keluar dari tempat ini, itu artinya kamu memutuskan kehidupan normalnya. Maaf, kain putih yang saya bentangkan di wajahnya bukan penanda dia sudah mati. Itu hanya penutup agar dia tidak diganggu oleh serangan-serangan penampakan makhluk halus lainnya,” paparnya.
Sudahlah! Tak ada salahnya aku meminta tindakan ahli medis terlebih dahulu. Jika tidak berhasil, aku akan kembali lagi ke sini. Setidaknya, di rumah sakit, aku bisa sedikit lebih tenang meninggalkan Robi bila memang nantinya harus membuktikan keabsahan ucapan si Ibu.
“Jangan, A! A Robi tidak bisa dibawa keluar dari sini sebelum kesadarannya pulih sempurna. Ada pembatas dimensi spriritual yang sulit untuk dijelaskan; di mana sebagian atau seluruh kesadaran orang yang tertahan di sini tidak akan mampu kembali pada raga yang sudah terpapar angin luar. Percayalah pada kami, A!” cegah Aisah.
Si Ibu memalingkan pandangannya dariku. “Biarlah, Aisah! Terserah dia saja. Terkadang seseorang sulit percaya pada sesuatu sebelum dia mengalaminya sendiri, walau sebenarnya dia sudah mengalaminya,” satir si Ibu seraya membuang nafas. “Paling tidak, kita sudah menjalankan tugas sebagai manusia untuk saling membantu dan mengingatkan sesama pada kebaikan,” sambungnya.
Si Ibu menarik Aisah untuk sama-sama keluar dari kamarku. Aisah mencoba bertahan. Ia terus geleng-gelengkan kepala bak tanda supaya aku tidak melaksanakan ucapanku.
Entahlah! Kata-kata yang mana yang harus aku ikuti?! Kepala serasa pecah menghadapi semua ini.
Tidak semua hal bisa diukur dengan logika, tetapi logika bisa digunakan untuk menakar semua hal.
Akhhhhhh!!!
Aisah dan ibunya tak tampak lagi di depan mataku. Nasib Robi pun menjadi sangat bergantung pada keputusanku.
“Buka mata lu, Bi! Bila perlu hajar gue, karena gue yang udah buat lu kayak gini,” tuturku pilu sembari berbaring memejamkan mata di samping Robi.
__ADS_1
Setelah beberapa saat melepas lelah, aku terbangun karena ingat sesuatu. Ya, Mang Sata. Bisa jadi semua ini berkaitan erat dengannya.
Pertama, kejadian-kejadian di luar nalar yang menimpa Robi dibarengi dengan kemunculan Mang Sata. Apakah justru dia yang sebenarnya tidak sebangsa denganku?
Kedua, semalam dia memintaku berkunjung ke rumahnya. Mungkinkah ada hal krusial yang ingin dia sampaikan mengenai semua misteri ini? Tetapi masalahnya, di mana rumah dia? Tidak ada keterangan apa pun yang diberikan.
Aku lihat waktu di ponsel, pukul 14:30. Mang Sata hanya memberikan petunjuk agar aku datang di saat bayangan berukuran sama dengan bendanya di sore hari. Jika aku tidak salah, itu berada di antara pukul 14:45 hingga 15:15.
Kukunci kamar sambil mengamati situasi sekitar. Sebagai warga asli kampung ini, Mang Sata pasti tentang seluk beluk yang dialami oleh Robi.
Aku berjalan dengan hati-hati, meski jalanan yang dilalui cukup sepi.
Kuatkan memori, pusatkan perhatian di satu titik.
Jika yang dimaksud letak rumahnya yang dulu, berarti aku harus coba mereka-reka denah tersebut. Mencocokkannya dengan kondisi saat ini yang sudah jauh bergeser.
Patokan yang bisa aku gunakan yaitu mushola. Akan tetapi, aku mendadak lupa jalan menuju tempat ibadah tersebut.
Kututup mata sesaat agar lebih khidmat mengingat. Kemudian, kulafalkan Bismillah sebagai pengantar dalam membuka mata.
Hah? Di mana ini? Benarkah ini kampungku yang dulu?
Rumah-rumahnya, jalanannya, situasinya, sama persis kala aku meninggalkan jejak di tempat termanis ini. Tentu, aku pun khatam ke mana persimpangan di depan mata mengarahkan tujuan.
Apakah ini mimpi? Ataukah sebatas fatamorgana? Aku rogoh ponselku di saku celana untuk melihat waktu.
Tertera pukul 14:50. Tak terasa menit begitu cepat bergulir. Masih ada 20 menit tersisa sebelum bayangan berubah ukuran dan arah.
“Rusman, Hamid, Musa!” spontan aku menyerukan nama mereka. Aku tahu ini ganjil, tetapi rasa bahagiaku menutupi keangkeran peralihan nuansa yang terjadi.
Aku berjalan lurus menuju rumahku. Aku yakin waktu yang tersisa masih akan cukup untuk bernostalgia sekejap – menengok kenangan walau hanya sesaat .
Tak peduli ini dunia imajinasi atau lintas dimensi, aku ingin sekali melihat rumahku di masa lalu. Aku rindu suasana kamarku.
Setelah dari rumahku, aku tinggal berbalik arah ke Kaler (Utara) menuju rumah Mang Sata. Begitulah rencanaku.
“Yan, cepat ke rumah urang (saya) sekarang. Bapak urang geus nangguan maneh ti tadi (Bapak saya sudah menunggumu dari tadi),” suara Rusman menjeda langkahku. Aku cari keberadaannya. Namun, tak terlihat sejauh mata berkeliling.
Aku atur nafas sejenak sambil menutup mata.
__ADS_1
“Yan! Kembali, Yan! Ayo kita pulang sekarang!” Kali ini, vokal Robi yang kencang menyentak kesunyian.
Di mana mereka? Terdengar sangat dekat, tetapi wujudnya tak tampak. Lalu, ke mana kakiku harus mengadu?