Mereka Di Sini

Mereka Di Sini
Bab 7: Tapak Mang Sata


__ADS_3

“Nggak seru ya si Yana pulang duluan, padahal bagian dia yang jaga,” ucap Hamid.


“Bener. Cemen (lemah) dia mah,” timpal Musa.


Hamid dan Musa melambungkan tawa bernada mengejek. Kemudian, mereka jatuhkan badan ke tanah merah untuk meredakan lelah.


Sementara itu, Rusman berdiri menatap ekskavator dengan wajah yang ketakutan. “Hamid…. Musa…. Lihat ini!” ujarnya melangkah mundur dengan ayunan kaki yang sangat lambat.


Hamid dan Musa tak merespon. Keduanya malah sibuk menjahili satu sama lain bagai sedang bermain Galasin; orang yang disentuh kalah. Keriangan mereka seakan mengaburkan ujaran Rusman.


Eksvakator yang semula tidur, tiba-tiba bergerak kepada Rusman. Garpu dari alat berat tersebut naik turun seakan ingin mengeruk tubuh Rusman. Ia pun tampak begitu panik.


Rusman berusaha memperbaiki posisinya agar bisa berlari. Nahas, ia justru terjatuh akibat tersandung sebuah batu besar.


“To… to.... tolong!” teriak Rusman dengan suara bergetar.


Masih. Hamid dan Musa tidak berpaling untuk menengok kondisi Rusman.


“La…. lari! Hamid, Mu…. Musa, cepat lari!” seru Rusman.


Hamid dan Musa secara serentak berdiri. Mereka memutar pandangan untuk mencari Rusman. Namun, Rusman menghilang seiring ekskavator yang berjalan menuju area utama pembangunan jembatan.


Hah!!! Aku lafalkan istigfar berkali-kali.


Mimpi. Hanya mimpi.


Alhamdulillahilladzi ahyaana ba’da maa amaatanaa wa ilaihin nusyur. Segala puji bagi Allah yang telah membangunkan kami setelah menidurkan kami, dan kepada-Nya lah kami dibangkitkan.


Namun, mimpi tersebut terasa begitu nyata. Aku laksana dibawa kembali pada masa kecil saat meninggalkan Hamid, Musa, dan Rusman di tengah permainan.


Ataukah yang barusan kualami di alam bawah sadar merupakan sebuah visualiasi nyata yang dihadirkan sebagai petunjuk? Ya, aku melihat adegan tentang Rusman yang begitu ketakutan bak gambaran asli sebelum dia dan yang lainnya menghilang.


Aku tengok waktu di ponsel sudah pukul 04.45 WIB. Kuatur sejenak nafas yang terengah-engah sebelum mengambil wudhu.


Suara adzan dan lengkingan ayam jantan di pagi hari, yang selalu kurindukan, masih tak terdengar. Hal ini semakin mendramatisasi keadaan di Citiis yang penuh keganjilan.


Usai menunaikan kewajiban, aku sandarkan separuh badan di dinding. Kulakukan rekap beberapa kejadian yang kualami selama dua hari di kampung halaman.


Mushola yang berubah dalam sekejap mata yang membuat aku pingsan, sosok pria paruh baya yang sepertinya sangat aku kenal, kemudian ditambah mimpi yang sangat realistis, sungguh menguras pikiranku. Belum lagi latar yang penuh kejanggalan yang membalut semenjak perjalanan dari Terminal Pakupatan. Haruskah aku menyerah saja?


Hem! Kuhembuskan nafas agar tidak terlalu terbawa tekanan.


Aisah. Ya, dia sebenarnya sang pemegang kunci atas peristiwa-peristiwa di luar nalar yang aku alami selama di sini. Sayangnya, dia terus saja bungkam. Ah, bagaimana caranya agar dia mau bercerita?


“Bade ka mana (mau ke mana)?”


“*B*iasa, ek ka pasar meser jang jualeun (seperti biasa, mau ke pasar untuk membeli bahan dagangan).”

__ADS_1


Di tengah perenungan, aku mendengar suara ibu-ibu berbincang. Lalu, disusul suara para bapak mengalunkan melodi bahagia. Tawa-tawa kecil dari anak-anak pun menggema memperkuat suasana asri di permulaan hari. Persis sebagaimana keadaan di masa lalu kala menunggu matahari meninggi.


Aku putuskan untuk mengintip dari jendela sebelum menyapa keluar. Ingin sekali bercengkrama memadu kisah dengan mereka.


Srettt!!! Kubuka tirai jendela secara perlahan. Senyuman disiapkan sebagai wujud antusiasme.


Tidak. Aku tidak melihat ada satu pun orang yang berdiri di luar rumah. Padahal, sangat jelas di telinga ada keramaian yang melagu di depan kamarku.


Tidak mungkin. Hanya sepi dan gelap dengan sedikit berkabut yang tersaji dalam pandanganku.


Apakah aku salah dengar? Apakah tadi merupakan ilusi semata? Apakah aku berhalusinasi?


Menghakimi diri sendiri tidak memberikan jawaban. Lebih baik aku periksa keadaan secara saksama.


Kususuri rumah-rumah yang ada di sekitar tempat tinggalku. Semuanya masih terlelap tanpa ada tanda-tanda asap yang mengepul menembus genting.


Mungkinkah warga baru beraktivitas di luar rumah ketika mendapatkan asupan cahaya matahari? Come on, apakah saat gelap ada teror dari monster?!


Aku teruskan perjalanan ke arah luar kampung. Rasa penasaran menuntunku untuk melanjutkan penelusuran ke semua rumah.


“Yan, cepat lari ke jembatan sekarang sebelum matahari muncul menyinari tempat ini!” ucap seseorang. Bukan vokal anak-anak, melainkan pria dewasa. Siapa dia? Memoriku tak bisa mengindentifikasinya.


Aku ambil nafas untuk membulatkan tekad, melawan rasa takut. Jika yang kudengar adalah bisikan jin, aku tidak peduli. Pokoknya, semakin cepat tujuan utamaku tercapai, maka semakin cepat aku meraih ketenangan.


Aku berjalan dengan menggumpalkan keyakinan. Sesekali berlari agar tiba sebelum cahaya matahari menyongsong Citiis. Namun, jarak yang harus ditempuh seolah dua menjadi kali lipat.


“Mang!” panggilku sembari mengejarnya.


Dia tetap meneruskan langkah. Apakah dia tidak mendengar panggilanku? Padahal, aku sudah cukup bertenaga memanggilnya.


Aku tempelkan kedua telapak tangan di bawah pipi, membentengi mulut, supaya vokal yang melambung tak terpecah oleh angin. “Mang Sata! Ini Yana, Mang.”


Tak sedikit pun tampak dia mendengar seruanku. Baiklah! Satu-satunya cara yaitu aku harus mengejarnya.


Aku berhenti sebentar untuk menyusun porsi energi. Kupegangi lutut seraya menurunkan keringat di kepala.


Mang Sata semakin jauh di depanku. Aku paksakan diri untuk bisa bertemu dengannya. Selain Aisah, Mang Sata sangat bisa membukakanku tabir atas segala kejadian di sini. Aku yakin itu.


Setiba di tepi jembatan, Mang Sata turun ke pinggir sungai. Aku panggil lagi dia, tetapi masih tidak menoleh.


Lantas, aku memutuskan untuk menghampirinya yang mulai menggosok gagang cangkul dengan percikan air.


Aku sentuh pundak Mang Sata. Dia lantas berbalik badan.


“Ma…. ma…. Mang Sata!” sebutku dengan tubuh merinding ngeri.


Wajah Mang Sata hancur. Darah segar mengucur dari hidung dan kedua sudut matanya. Bau amis pun menyeruak sangat pekat hingga membuatku muntah.

__ADS_1


Aku berusaha mundur, tetapi mataku sesekali masih mengintip wujud yang semula kuduga Mang Sata.


Pantaslah dia tidak menoleh saat berkali-kali kupanggil. Rupanya, dia bukan Mang Sata yang asli.


Aw!!! Betisku terasa tertusuk benda tajam.


Benar saja. Betisku menabrak ujung besi pondasi yang tidak dipotong. Sakit dan perih menjalar cukup hebat seiring darah yang terus keluar.


“A Yana!”


Aku mendengar suara Aisah. Segera kupalingkan penglihatan untuk mencari keberadaannya.


“Ayo pulang!” Aisah memapahku untuk naik ke motornya.


***


Ada yang mengatakan ketika melihat penampakan, maka psikis akan terguncang. Bahkan, bisa jadi mengalami gangguan emosi selama berhari-hari.


Aku memang merasakan ketakutan dan kecemasan, tetapi hanya berlangsung saat itu. Aku belum paham bagaimana mentalku bisa sekuat ini. Mungkinkah karena dorongan dari tujuanku?! Bisa jadi.


Setelah kembali ke rumah, ada hal lain yang membelit pikiranku. Ya, mengapa Aisah datang di saat tepat?


“Terima kasih kamu sudah bantu saya tadi pagi,” ucapku menghampirinya. “Tapi kenapa kamu bisa tahu saya ada sekitaran jembatan?”


Aisah bangkit dari kursi. Kentara jejak air mata yang deras di wajahnya.


“Saya nggak tahu lagi harus ngasih tahu Aa dengan cara gimana,” isaknya.


“Kalau gitu kasih tahu saya tentang semua kejanggalan di sini,” desakku.


Aisah menyeka kedua sudut matanya. “Ceritanya sangat panjang, A.”


Terpatri rasa bersalah di hati melihat kesedihannya, tetapi aku pun tak bisa terus digantung oleh teka-teki. “Sepanjang apa? Apakah akan menghabiskan waktu satu hari, satu minggu, atau satu bulan? Bahkan, jika membutuhkan waktu satu tahun untuk mendengarkan ceritamu, aku mau.  Aisah, aku butuh kejelasan tentang semua yang menimpaku.”


“Kampung ini sudah menjadi kampung terkutuk,” tegasnya.


“Karena apa?”


Aisah memutar posisi. “Lebih baik Aa kembali ke Jakarta hari ini juga sebelum matahari turun sempurna. Jika tidak, Aa mungkin saja terjebak di sini selamanya.”


“Aisah!” bentakku secara spontan, terbawa rasa kesal. “Sebenarnya kamu tulus untuk membantu saya atau kamu bermaksud mempermainkan nalar saya?”


Aisah menundukkan kepala. “Baiklah! Saya akan cerita semuanya.” Satu tarikan nafas ia hela. “September tahun 1999, tepatnya di tanggal 9, pukul 9 pagi di saat….”


Mendadak terdengar sebuah percakapan menginterupsi kidung Aisah.


“Mas Robi ini temannya Mas Yana ya? Mari saya antar ke kamarnya Mas Yana, tapi mungkin Mas Yana sedang istirahat. Tadi pagi ada sedikit insiden. Katanya, Mas Yana terpleset waktu olahraga pagi,” ucap Mang Dendi.

__ADS_1


“Kita temui teman Mas Yana dulu ya,” pungkas Aisah.


__ADS_2