
Simpang batas kebenaran tampak semakin kabur. Siapa yang benar, dan apa yang sebenarnya terjadi belum jua kutemukan titik terangnya. Ingin pergi, tetapi tak mungkin begitu saja melepas kesadaran Robi.
Aku terbangun dengan tubuh yang sakit dan pegal. Saat mata terbuka lebar, aku terperangah tak percaya. Kucoba tampar pipi berkali-kali dengan perlahan. Apakah pertemuan serta perjalananku dengan Mang Sata adalah sebuah mimpi?
Posisiku berada di samping Robi yang masih terbaring tak berdaya. Dari balik jendela, cahaya matahari cerah membelai kampung ini. Aku coba ingat-ingat lagi secara jeli setiap detil yang aku lakukan sebelum mengalami hal yang mengerikan bersama Mang sata.
Kurogoh ponsel di saku celanaku utuk melihat waktu. Tidak ada.
Lalu, kuteliti pakaian yang menempel di badan. Kotor dan terasa basah di ujung celana.
Benar. Ini bukan mimpi. Akan tetapi, bagaimana caranya aku bisa berada di kamar? Apakah Mang Sata yang mengantarkanku?
Ah! Lebih baik aku ganti pakaian terlebih dahulu.
Setelah semua kesadaranku berkumpul. Aku tepuk-tepuk bahu Robi. Sedih membaha, karena dia masih tak merespon sentuhanku. Raut wajahnya pun semakin kehilangan warna.
Kemudian, aku coba periksa nafas dan denyut nadinya. Seketika air mata memberontak keluar. Tubuh bergetar, hati meringis mengharap keajaiban.
Tak ada tanda kehidupan di dalam diri Robi. “Bi, bangun, Bi! Jangan coba-coba ninggalin gue, Bi! Gue janji akan bawa lu ke Jakarta segera,” jeritku histeris.
Aku datang ke Citiis untuk mencari keberadaan tiga temanku yang disinyalir menjadi tumbal. Mengapa sekarang aku laksana menumbalkan Robi?
HAAAAHHHH!!!
Aku angkat dan dekap tubuh Robi sembari terus menyerukannya agar segera membuka mata. Mengapa sampai harus ada nyawa yang dipertaruhkan? Mengapa aku tak patuh pada perintah si Ibu dan Aisah? Jika aku tidak memaksakan diri untuk pulang kampung, pasti kemalangan tidak akan menimpa Robi.
Apakah ini takdir? Ataukah kebodohan dan sikap keras kepalaku yang membawa bencana ini terjadi?
“Temanmu masih hidup. Hanya saja, saya tidak tahu berapa lama dia bisa bertahan,” terang si Ibu kala masuk ke kamarku. Dia datang bersama Aisah.
“Benarkah?” tanyaku memastikan.
“Iya,” jawab Aisah sambil mendekat ke arahku. “Nafas, denyut nadi, dan detak jantung A Robi beberapa saat berhenti, karena mungkin dia kembali kehilangan kesadarannya,” jelasnya.
Aku periksa lagi hembusan nafas dan denyut nadi Robi. Kutempelkan juga tangan di dadanya untuk merasakan detak jantungnya.
Alhamdulillah! Aku baringkan kembali Robi dengan perasaan yang agak lega.
“Bagaimana kamu bisa bersama dia?” Si Ibu melirikku sinis.
“Dia?” Aku tidak paham siapa yang dimaksud oleh si Ibu.
“Mang Sata,” tegasnya.
__ADS_1
Hem! Jadi, si Ibu, Aisah, dan Mang Dendi melihat aku dan Mang Sata semalam.
Haruskah aku berterus terang? Bagaimana jika kejujuranku justru menjadi bumerang? Aku masih belum bisa seratus persen percaya kepada si Ibu dan Aisah, sekalipun mereka sangat baik kepadaku.
Entahlah! Rasa trauma di masa lalu membuatku acapkali merasa sangsi terhadap orang lain.
“Selama tiga malam kamu dibawa oleh dia. Kami sangat khawatir mencarimu ke sana kemari. Untungnya, Yang Mahakuasa memberi kami petunjuk. Kami mampu menemukanmu di tepi sungai di bawah jembatan, sebelum dibawa lagi oleh dia,” ungkap si Ibu yang membuat nalarku begitu tersentak.
Selama itukah aku pergi? Padahal, kurasa hanya dalam hitungan jam bersama dengan Mang Sata.
Aku meminta Aisah menunjukkan tampilan waktu di ponselnya. Benar. Pukul 09:30 pagi di hari Minggu.
“Bagaimana dengan ucapan tentang batas waktu Robi di hari Jumat? Saya meninggalkan dia untuk….” Aku kesulitan meneruskan kalimatku. Kesedihan terasa dalam menusuk dada hingga mulut pun tak sanggup banyak berkata.
Aisah mengusap pundakku. Sentuhannya seolah memiliki dua kubu arti. Pertama, memintaku untuk tenang. Kedua, memintaku untuk ikhlas.
Suasana hening selama beberapa waktu. Kemuraman bertengger mengisi ruangan. Semua pasang mata terlihat pilu dan kebingungan.
“Mang Sata mengincarmu dengan menawan temanmu,” ujar si Ibu setelah cukup lama kami membisu.
“Tidak mungkin. Untuk apa Mang Sata mengincar saya? Dia sangat baik kepada saya. Kami dulu bertetangga dan hidup dengan rukun,” sanggahku.
Mulut yang semula sudah tak sanggup mengeluarkan kata, mendadak memiliki daya karena tak terima ketika si Ibu menuduh Mang sata sebagai dalang atas tumbangnya Robi.
Si Ibu mematung di depan pintu. Pandangannya tertuju lurus memerhatikan jalan.
“Jika kamu pikir kami bukan manusia dan kampung yang sudah berubah secara menyeluruh ini adalah dimensi lain, saya akan ceritakan semuanya sekarang,” suara si Ibu terhantar pilu.
“Mah….” Aisah merangkul ibunya.
Aku persiapakan telinga dan pikiran untuk mencerna pemaparan si Ibu. Kemudian, aku meminta dia tidak memalingkan pandangan supaya aku bisa menelisik kejujuran dari sorot matanya.
Satu tarikan nafas dihelanya sebelum memulai berkisah. Aku sedikit tegang menantikan hal apa saja yang akan dia uraikan.
Si Ibu membawaku mundur 14 tahun atau tepatnya ke tahun 1999. Katanya, di masa itu berhembus kabar yang cukup menggemparkan warga, yakni tentang datangnya hari kiamat. Entah siapa yang pertama kali mendengungkan berita tersebut, tetapi penyebarannya melingkupi satu provinsi.
Konon, dunia akan hancur di angka yang serba 9 alias tahun 1999 bulan 9 tanggal 9 pukul 9 pagi. Sebagian warga pun dilanda kepanikan. Ada yang mempersiapkan diri dengan memperkuat keimanan dan ketakwaan. Ada pula yang pindah ke tempat sanak keluarga mereka di kota. Sebagian lainnya mengganggap isu kiamat merupakan isapan jempol.
Ketika hari itu tiba, gelap dan kabut menyelimuti Citiis dan Cibatu. Angin berhembus kencang hingga nyaris menumbangkan pohon-pohon dan menerbangkan atap-atap rumah. Hewan-hewan berlarian dengan tingkah aneh. Fenomena tersebut pun tak ayal membuat warga menjadi begitu ketakutan. Kepasrahan dan kepanikan bergelut dalam jiwa. Namun, ada yang mengatakan agar mereka tetap di dalam rumah.
Kiamat pun benar terjadi, tetapi hanya menerpa Kampung Citiis. Jerit ketakutan bersahutan di udara. Jasad-jasad berserakan dengan darah segar yang mengalir menghujani tanah.
Seorang warga bernama Mang Sata berkeliaran ke rumah-rumah warga dengan cangkul di pundak dan sebilah golok tajam terikat di pinggang. Dia membabi buta membunuh hampir semua warga tanpa pandang bulu.
__ADS_1
Diduga Mang Sata mengalami depresi akibat ditinggal oleh anak dan istrinya. Anaknya tidak ditemukan ketika hilang bermain di area galian pembangunan jembatan. Sementara, istrinya meninggal secara misterius, dan ditemukan di kolong jembatan. Dia marah kepada semua warga, karena menganggap tak ada yang peduli pada deritanya.
Peristiwa tahun 1999 itu pun menjadi tragedi yang paling mengerikan di kampung ini. Warga yang selamat dari pembantaian Mang Sata memilih hijrah ke tempat lain, tetapi tak ada yang tahu ke mana mereka pindah.
Mang Sata sempat diburu selama beberapa waktu. Sayangnya, dia menghilang secara misterius.
Beredar kabar, Mang Sata mendalami ilmu hitam sebelum melakukan pembantaian. Dia dilindungi oleh para jin dan setan yang menjadi sekutunya.
Namun, ada juga yang menyatakan Mang Sata mati karena berduel dengan salah seorang warga. Hanya saja, kematian dia tak pernah terbukti. Hingga saat ini, tak ada seorang pun yang menemukan jasadnya.
Kampung Citiis yang dikenal damai menjadi angker dan dipenuhi cerita-cerita mistis. Ternak warga mati tak terurus. Rumah dan kebun terbengkalai sampai turut mati.
Tahun demi tahun berlalu. Pemerintah kabupaten menginisiasi pembangunan kembali Kampung Citis. Alasannya, kampung ini memiliki tanah yang subur dan makmur. Pemerintah juga ingin menghilangkan citra negatif nan suram yang tersemat di wilayah ini.
Tempat ini pun berdiri kembali dengan banyak perubahan. Warga yang sekarang menetap rata-rata dari wilayah luar kabupaten yang tidak tahu mengenai tragedi 1999.
Akan tetapi, di tahun pertama Kampung Citiis mengalami revolusi, banyak gangguan yang diterima oleh warga. Ada yang melihat sosok yang diduga Mang Sata berkeliaran di malam hari; berjalan menuju area persawahan atau berdiri di tepi sungai di bawah jembatan.
Selain itu, gangguan dari mereka yang meninggal secara bengis pun kerap dirasakan. Seperti suara keramaian yang muncul di tengah malam atau menjelang pagi, dan jeritan kesakitan yang menyedihkan. Kampung ini, kemudian, disebut terkutuk karena menyimpan misteri yang tak terpecahkan.
Maka dari itu, diputuskanlah agar warga yang saat ini bermukim untuk tidak beraktivitas di luar rumah ketika malam hari atau ketika gelap menyingsing. Tujuannya, untuk menghindari bahaya tak kasat mata dan menghormati warga terdahulu yang arwah masih belum tenang.
Tubuhku gemetar hebat. Aku tak habis pikir Mang Sata begitu sadis menghabisi nyawa warga asli kampung ini.
“Jadi, sekarang silakan kamu pikirkan sendiri apakah kami manusia atau bukan. Satu hal yang harus kamu tahu bahwa Mang Sata telah lama menunggu kamu kembali ke sini,” pungkas si Ibu setelah merawikan kisah Mang Sata beserta latar yang menjadi keganjilan kampung ini.
***
Si Ibu mewanti-wanti supaya aku tetap berada di dalam kamar sepanjang malam. Dia khawatir Mang Sata akan menghampiriku lagi. Aku juga diminta untuk tidak tergoda memastikan suara siapa pun dan apa pun yang menggema di luar kamar.
“Yana!”
Baru saja selesai mengurai perkataan si Ibu, aku terkesiap mendengar laungan Mang Sata. Padahal, aku membicarakannya di dalam hati. Dia seolah datang karena pikiranku yang mengundang.
“Tolong Mamang, Yan!” lirihnya.
Jangan memeriksa! Dia bukan manusia. Teguhku dalam hati.
Aku lantas menyudut menjauhi area yang mungkin saja menghipnotisku untuk menyambut Mang Sata. Rasa takut dan penasaran yang mencoba menggigit pikiran, aku benturkan dengan penampakan dia yang mengerikan. Ya, dua kali penampakannya dengan wajah hancur ******* hampir semua kinerja indraku.
Mang Sata mengetuk-ngetuk pintu, lalu berpindah menampar kaca jendela. Dia menjadi agresif, karena mungkin aku tak menimpali seruannya.
Kujatuhkan badan di samping Robi. Gedoran Mang Sata yang semakin keras, kubalas dengan melafalkan surah-surah pendek. Hanya kepada Sang Pencipta, diri ini memohan dijauhkan dari segala godaan yang menuntun mara bahaya.
__ADS_1
Namun, kejutan lain menyerakkan konsentrasiku. Tiba-tiba Robi terduduk dengan raut lugu. “Kamu kenapa, Yan?” tanyanya.