Mereka Di Sini

Mereka Di Sini
Bab 9: Tidak Sebangsa


__ADS_3

Perdebatan mewarnai pagi. Robi mengaku tidak terbangun sedikit pun pada dini hari tadi. Berkali-kali aku jelaskan tentang dirinya yang mengajakku ke jembatan. Berkali-kali pula dia menyangkal hal tersebut. Lantas, apakah ada penyusup yang menyerupai dia?


Masih belum tahu harus bagaimana, aku merasa semakin hari di sini semakin menumpuk misteri. Ada asa untuk menutup mata dan melepas penasaran. Namun, sekilas terpikir bahwa langkahku untuk membuka tabir mungkin tinggal satu pijakan kaki lagi.


“Yan, kita pulang hari ini juga. Jangan memaksa diri untuk menantang sesuatu di luar kuasa kita,” ajak Robi. Wajahnya tampak resah setelah mendengar kisahku. Kisah yang sulit untuk dibuktikan, tetapi nyata dialami.


Aku menggelengkan kepala. “Nggak, Rob. Gue nggak bisa pulang sekarang,” tampikku.


“Kenapa?” Robi sedikit membentak. “Karena rasa penasaran lu tentang kampung ini yang setiap hari terus meningkat? Yan, bersikaplah rasional sedikit. Mau sampai kapan lu menyiksa pikiran lu sendiri. Sementara di Jakarta, ada keluarga lu yang cemas memikirkan lu,” ungkapnya meninggi.


Aku berdiri menatap tajam kepada Robi. Maaf, aku sedikit tersinggung dengan frasa menyiksa pikiran diri sendiri.


“Lu yang udah memperkuat tekad gue ke sini dengan cerita bokap lu. Sekarang, lu seakan-akan menuduh gue sendiri yang cari penyakit. Gue nggak ngerti sama jalan pikiran lu,” balasku bernada satir. “Kalau lu mau pulang, silakan pulang. Gue masih punya tanggung jawab terhadap warga sini untuk berbagi ilmu.”


Robi merapikan semua pakaiannya ke dalam ransel. Ia tampak tersulut emosi oleh kata-kataku.


Biarlah! Setidaknya, aku bisa lebih tenang ketika tidak melibatkan orang lain dalam ranah mistisku. Cukuplah menjaga diriku sendiri, tak perlu mengajak orang lain turut merasakan kengerian di sini.


Saat Robi keluar kamar, muncul Aisah dengan raut gelisah. Matanya terus tertuju kepada Robi. Sementara itu, aku berusaha mengurai perkataan Mang Sata.


Mang Sata meminta aku untuk segera menemuinya, sedangkan tak ada keterangan di mana dia tinggal. Bahkan, tak ada sedikit pun petunjuk yang ia berikan agar bisa melanjutkan percakapan semalam.


“A Yana, kenapa A Yana membiarkan teman A Yana pergi?” tanya Aisah. Terhantar kecemasan menyertai pertanyaannya.


“Dia sendiri yang ingin pulang ke Jakarta,” jawabku tegas.


Aisah menarik tanganku. “Ayo kita kejar dia, A. Bahaya!”


“Bahaya kenapa?” Aku terbawa panik.


“Saya pernah bilang kan bahwa tempat ini tidak baik untuk orang luar. A Robi bisa saja ke luar dari kampung ini, tetapi tidak akan pernah tiba di Jakarta. Ada mahkluk lain yang mencoba bersemayam di tubuh A Robi sebagai bayaran karena telah mengantar A Robi ke sini kemarin,” terang Aisah.


Aku ingin mengajukan pertanyaan untuk mendapatkan penjelasan lebih rinci dari Aisah. Akan tetapi, langkah Robi sudah terlalu jauh dari pandangan. Tak ada waktu untuk meminta banyak eksplanasi. Lebih baik aku percaya saja pada pernyataan Aisah.


Aku dan Aisah berlari mengejar Robi. Saat hendak berseru mengudarakan nama Robi, Aisah menutup mulutku. Dia berkata dengan pelan untuk tidak berteriak.


Angkasa tiba-tiba gelap digulung awan hitam seperti akan turun hujan. Dalam seketika, suasana pun mendadak sunyi. Warga yang semula masih terlihat berlalu lalang, hilang bak takut ditelan gulita.


Aisah menyuruhku untuk mengerahkan seluruh tenaga agar bisa menghadang Robi. Sementara, aku merasa sudah maksimal mengayun kaki.


“Ulah nyokot nu lain hak anjeun (jangan mengambil sesuatu yang bukan milikmu)!” teriak Aisah.

__ADS_1


Aku melongok sesaat. Kepada siapa Aisah melaungkan larangan? Apakah kalimat yang ia sampaikan merupakan sebuah ajian?


Entahlah! Bukan saatnya meminta klarifikasi darinya.


Setelah teriakan Aisah berhenti menggema, Robi terjatuh ke tanah. Kami pun bergegas memeriksa kondisi Robi.


Aku tepuk-tepuk pipi Robi untuk membuatnya membuka mata. Tetapi, Aisah memintaku untuk lekas membawa Robi pulang.


“Aa kuat kan menggendongnya?” pastikan Aisah.


“Iya,” responku sembari memposisikan Robi di atas punggungku. “Aisah, kenapa Robi bisa….”


“Maaf, A. Mending kita cepat pulang karena titik-titik gerimis sudah turun.” Aisah seolah tak mau menjawab pertanyaan terkait penyebab Robi bisa tidak sadarkan diri.


Setiba di kamar, aku baringkan tubuh Robi di atas kasur. Aisah kemudian mengambil segelas air, dan mencipratkannya ke wajah Robi. Tak lama, Robi membuka mata. Namun, Aisah malah menangis.


Aku bingung, ke mana perhatian harus tertuju terlebih dahulu? Hujan lebat yang turun menambah kesan dilematis.


Robi mengangkat tubuhnya sedikit. Matanya melotot ke kanan dan kiri. Setelah itu, dia kembali memejamkan mata.


“Aisah, ada apa dengan Robi? Dan kenapa kamu menangis melihatnya? Jangan bilang sesuatu yang buruk terjadi kepadanya?” desakku. Aku tumpahkan sekalian rasa penasaran serta kecemasanku. "Mengapa Robi bisa mengalami hal seperti ini? Tolong Aisah, jangan membuatku tambah bingung dengan segala keganjilan yang ada di kampung ini."


“Ini teh gara-gara, Aa.” Aisah memarahiku. “Kenapa Aa mengajak teman Aa ke sini segala? Sekarang dia mengalami kabadi atau gangguan dari makhluk halus. Pasti dia melihat sesuatu yang tak mampu dikuasai oleh nalarnya. Jika dia tidak bisa disadarkan sebelum hari Jumat menyentuh Maghrib, maka tingkahnya akan tampak seperti orang yang kehilangan akal atau tidak waras,” jelasnya.


“Biarkan dia terbaring seperti sedang tidur. Jika Mang Dendi ke sini, jangan ceritakan apa pun tentang kejadian tadi. Saya akan pulang dulu untuk meminta bantuan si Mamah.” Aisah keluar dari kamarku sambil mengusap air mata.


Dalam ketidakpahamanku tentang semua ini, terselip rasa bersalah. Kehadiranku seakan memberi Aisah banyak masalah dan membuat Robi celaka.


Kutatap Robi penuh harap. Doa tak henti dipanjatkan, semoga dia baik-baik saja.


***


Matahari kembali bersinar terang. Hari pun sudah cukup siang. Aisah masih belum datang. Aku terpaksa meninggalkan Robi sementara waktu untuk menjalankan janjiku kepada warga di sini.


Terhitung ada 20 warga duduk menungguku. Semuanya merupakan kaum ibu dengan perkiraan usia 20 sampai 40 tahun. Kata mereka, kaum pria - baik remaja dan dewasa - sibuk bekerja.


Tak ada masalah dalam menyampaikan materi. Mereka khidmat mendengarkan, dan tidak melakukan interupsi sama sekali. Ya, tidak ada interaksi sekalipun aku berusaha memancing mereka aktif berbicara.


Usai berdongeng kehidupan era modern selama 60 menit, aku coba dekati salah satu warga dengan maksud mengajaknya berbincang. Namun, dia menghindar seperti ketakutan.


Adakah yang salah denganku?

__ADS_1


“Mereka bukan takut kepadamu, tetapi mereka tak ingin kamu tahu sesuatu,” ujar seseorang tanpa rupa.


Aku berputar mencari sosok si penutur.


“Keluar! Siapa pun Anda, tolong keluar!” pintaku agak menantang.


Aku putari balai. Kemudian, terlihat seseorang berdiri di bawah pohon kersen (seri).


"Mang Sata?" terkaku.


Dia mengangkat kepala sembari membuka caping. Terkaanku pun 100 persen akurat.


“Yan, tempat ini tidak lagi seperti dulu,” ucap Mata Sata dengan raut sedih. Ucapannya sama seperti yang pernah dikatakan oleh Aisah dan ibunya.


Aku dekati Mang Sata. “Mang, maaf, Yana ingin tahu apakah ada kabar tentang penemuan Rusman? Yana ke sini karena dipanggil terus oleh Rusman, Hamid, dan Musa.”


Mang Sata menitikan air mata. “Kami pernah mencoba membongkar pondasi jembatan, tetapi pihak desa membawa puluhan polisi untuk menghadang kami. Katanya, ada pekerja yang melihat Rusman, Hamid, dan Musa mandi di sungai usai bermain. Mereka pun dinyatakan - mungkin - hanyut hingga ke hilir. Namun, sedikit pun tidak ada jejak mengenai keabsahan hal tersebut. Mamang sudah putus asa mencari keberadaan Rusman selama belasan tahun ini.”


Aku sangsi jika tiga temanku itu hanyut terbawa arus sungai. Seingatku, kondisi sungai tidak sedang meluap pada saat kejadian. Ditambah, kami (anak-anak Citiis) sering dikatakan sebagai penakluk sungai, karena kemampuan berenang yang terasah dari kanak-kanak.


Satu lagi, benar kata Mang Sata, mungkinkah mereka berenang di sungai dengan seragam lengkap, sepatu, dan tas? Mengapa semua atribut yang mereka gunakan ikut menghilang tak berjejak?


Saat aku mengolah pikiran bersama kenangan, Mang Sata berjalan mundur beberapa langkah. Mimiknya begitu ketakutan.


“Yan, gadis yang bersamamu bukan sebangsa kita. Kamu harus berhati-hati terhadapnya ya,” pesan Mang Sata. "Maaf, Mamang harus segera pergi," sambungnya.


"Mang, kasih tahu dulu di mana Mamang tinggal sekarang?"


Belum sempat aku mendapatkan keterangan, Mang Sata langsung menjauh. Ia menurunkan sedikit caping di kepalanya seperti ingin menyembunyikan wajah.


“Kenapa A Yana masih di sini?” tanya Aisah yang muncul tanpa pertanda. Dia datang bersama ibunya.


Aku sunggingkan senyum seraya mengatur debaran jantung yang terkejut.


“Barusan kamu ngobrol sama siapa?” tanya si Ibu mengamatiku.


“Ti…. tidak. Saya tidak mengobrol dengan siapa pun. Sa…. saya hanya sedang menikmati suasana di sini,” kilahku.


Mereka pun memandu langkah pulang. Aku memosisikan diri berada di belakang mereka.


Kuteliti Aisah dan ibunya dari ujung kaki hingga kepala. Tak ada hal yang berbeda dengan diri mereka. Kaki mereka menapak ke tanah. Bayangan mereka pun terhampar mengiringi langkah.

__ADS_1


Lantas, apa maksud Mang Sata bahwa Aisah tidak sebangsa dengan kami? Tidak sebangsa artinya dia bukan dari golongan manusia, kan?! Apakah ada makna tersirat lain dari dari kata “sebangsa”?


__ADS_2