Metamorfosa

Metamorfosa
Bakti Sosial Part 1


__ADS_3

Silau matahari membuat Tasya menutup kaca jendela kamarnya. Pertanda hari sudah mulai gelap. Tasya masih senantiasa menunggu sang ayah untuk cepat pulang karena Tasya begitu rindu dengan keberadaan sang ayah. Ada banyak pertanyaan yang telah Tasya siapkan untuk sang ayah termasuk kejadian yang sedang hangat dibicarakan oleh ibu ibu di tukang sayur tadi pagi.


"Assalamualaikum.."


Suara ayah Tasya yang sudah terdengar membuat Tasya beranjak keluar dari kamar dan menemuinya. Tasya menyambut kepulangan sang ayah dengan rasa bahagia.


"Ayahh"


Tasya langsung memeluk hangat tubuh sang ayah meskipun ayah Tasya belum mandi. Tasya mencium baju sang Sayah seperti parfum seorang perempuan. Yaa.. Tasya kenal jelas wangi parfum ayahnya berbeda dengan wangi parfum sekarang ini.


"Yah.. "


"Kenapa Sya? "


"Parfum ayah ganti lagi yaa? "


"Enggak, Parfum ayah masih sama kok"


Tasya berfikir kembali ucapan sang ayah. Apa mungkin ini wangi parfum pacar baru ayah. Atau ayah sudah berbohong kepada Tasya kalau ayah diam diam membeli parfum baru.


"Yah, makanannya udah Tasya siapkan di meja. Tasya udah makannya tadi soalnya Tasya lapar bangett.. Ayah makan sendiri ngga papa ya"


"Iyaa.. Tapi kamu kok tumben sih makan dulu, biasanya juga nungguin ayah meskipun kamu lagi lapar"


"Soalnya... Tasya harus ngerjain tugas rumah di kamar yah"


"Ohh gitu, ya udah lanjutin aja tugasnya"


"Yah.. Tasya ingin tanya sama ayah"


Ayah Tasya mengubah posisinya. Ayah Tasya berjalan masuk ke dalam kamarnya sembari langkahnya di ikuti oleh Tasya yang berjalan di belakang sang ayah


.


"Tanya aja, ada apa? "


"Ada sesuatu yang ayah sembunyikan dari Tasya? "


"Tidak"


"Ayah ngga sedang berbohongkan? "


"Tidak"


Raut wajah Ayah Tasya tampak terlihat kaku. Tasya semakin curiga kalau ayah memang benar benar berbohong padanya.


"Ayah.. Tasya ngga mau kalau ayah mulai sembunyi sembunyi dari Tasya"


"Sya, ayah capek tolong kamu keluar kamar ya"


"Tap..i yah"


"Keluar dulu ya Sya"


Tasya semakin bingung dengan sang ayah. Baru kali ini Ayah ngusir Tasya dari kamarnya, padahal sejak dulu Tasya dapat keluar masuk sesukanya di kamar ayahnya. Tasya memutar bola matanya ia harus punya bukti bukti kalau ayahnya benar tidak sedang berbohong.


---0---


Hari ini adalah hari dimana Tasya harus melakukan suatu kegiatannya yang sudah di rancang jauh - jauh hari. Kegiatan Bakti Sosial yang rutin di adakan oleh sekolah Tasya setiap satu bulan sekali. Karena bakti sosial kali ini berbeda dengan bakti sosial sebelumnya Tasya meminta bantuan kepada anak organisasi lain untuk ikut andil dalam kegiatan bakti sosial ini.


"Sya semua barang barangnya udah disiapkan, terus titik penyebarannya dimana? " Tanya Sunda yang masih mengemasi beberapa barang yang sudah di siapkannya.


"Entar gua breifing, lo lihat Pak Do? "


"Kayaknya tadi Pak Do di luar"


"Ya udah thanks"

__ADS_1


Tasya berjalan terburu buru mencari waka kesiswaannya itu, padahal pakaian Tasya yang masih belum rapi dan rambut Tasya yang masih acak acakan membuat semua orang bangga dengan Tasya.


"Pak Do, Kak Langit gimana? Jadi ikutan? "


"Ehh Tasya.. Iya Langit jadi ikut kok, kamu siapkan saja beberapa anak PMR yang sudah stay di TKP ya"


"Ohh.. Berarti Kak Langit langsung ke TKP ya pak? "


"Iya, Sya anak anak segera di breifing biar tidak menyita waktu lama"


"Siap pak, Tasya ini lagi koordinir anak anak konsumsi dulu buat bagi bagi makanan, kalau udah ready semua Tasya segera breifing dan langsung menuju ke TKP"


"Okee sip, semangat ya Sya! "


Tasya melangkah tegas kembali menuju ruang kesiswaan untuk mengambil beberapa perlengkapan. Sembari memilah Tasya membunyikan suara HTnya dan ia langsung bertanya bagaimana keadaan TKP untuk saat ini, apakah semuanya sudah siap. Begitupun juga dengan seksi Konsumsi Tasya dengan telitinya memberikan arahan sebaik mungkin agar rasa dari masakan anak konsumsi terasa pas dan enak. Elang yang melihat Tasya sedang kewalahanpun langsung menghampirinya dan menawarkan bantuan. Tasya memang sungkan untuk meminta bantuan tapi Tasya selalu menerima jika seseorang sedang menawarkan bantuan untuknya.


"Sya gua bantu ya"


"Iya Elang, tolong ini kardus kardus masukin di bagasi mobil kamu ya"


"Siap Sya"


"Ntar gua nyusul setelah kunci ruang kesiswaan"


Elang membawa setumpuk kardus ke dalam bagasi mobilnya. Tasya melangkah di belakang Elang. Ia terus mengkoordinir setiap seksi agar kegiatan ini berjalan dengan lancar dan tanpa kendala. Sesampainya di mobil Elang mereka terlihat serasi, saling melengkapi satu sama lain. Mereka menata semua barang barang di bagasi mobil Elang dengan tatanan yang cukup rapi.


"Elang kalau udah kita langsung breifing, gua ngabarin anak anak dulu"


"Oke"


Tasya mengeluarkan htnya dan ia mulai memberikan aba - aba kepada teman temannya untuk segera ke halaman depan dan melakukan breifing.


"Monitor, semua sudah siap? "


"Keamanan siap! "


"Konsumsi siap! "


"Perlengkapan siap! "


"Humas siap! "


"Sip, kalau semua sudah siap langsung ke halaman depan. Gua sama Elang udah nunggu di depan"


"Siap otw"


Setelah beberapa menit Tasya dan Elang menunggu semua team telah datang dan siap untuk di breifing. Tasya selaku ketua kegitan meminta perhatian kepada teman temannya untuk mendengarkan intruksinya. Sepatah dua patah ia telah ucapkan.


"Nanti gua sama Elang yang koordinir kalian, gua harap kalian bisa menjalin komunikasi baik sama gua dan Elang"


"Kenapa ngga sama Iqbal aja Sya? Bukannya dia ketua Osis ya? " seru salah satu panitia dari tim paskibra


"Maaf banget ya teman teman, sebenarnya gua ngga bisa ikut full acara ini soalnya gua ada acara keluarga, mohon maaf banget. Daripada Tasya sendiri yang koordinir kegiatan ini, gua minta Elang untuk bantuin Tasya"


Selak Iqbal memberikan alasan mengapa ia tidak bisa mendampingi rekan kerjanya dalam Osis. Iqbal langsung menatap tubuh Tasya yang sedari tadi berdiri tanpa kenal lelah. Gadis itu tampak snagat antusias dan bersemangat dalam melancarkan kegiatan ini.


"Okee... Gua harap semua dapat memaklumi, sebelum kita menuju ke TKP alangkah baiknya kita berdoa terlebih dahulu. Silahkan Iqbal dalat memimpin doa"


Ucap Tasya mengarah langsung ke Iqbal yang sedari tadi hanya memberikan beberapa kata saja sebagai sambutannya.


"Baiklah terimakasih Tasya.. Berdoa menurut kepercayaan masing masing, berdoa dimulai"


"Selesai"


Ucap Iqbal  sebelum menyerahkan ke Tasya kembali.


"Terimakasih Iqbal, kita tos dulu buat penyemangat"

__ADS_1


Semua orang menyatukan tangan mereka berkumpul membentuk lingkaran dan serentak berkata "Sukses, sukses, sukses! "


Tasya masuk ke mobil Elang. Di dalam mobil hanya ada Tasya dan Elang mereka berdua tampak menjadi pasangan yang serasi. Elang dan Tasya yang saling melengkapi membuat kmisteri mereka semakin kuat.


"Kita nanti langsung ke panti asuhan ya"


"Enggak ke jalan dulu Sya? "


"Di jalan udah ada Iqbal, kita langsung ke panti asuhan aja Lang"


"Ooo ya udah kalau gitu, Sya kenapa sih lo harus jauh jauh kalau deket sama gua? "


"Gua ngga mau ngebahas itu dulu Lang, kita fokus bakti sosial dulu.. Kapan - kapan kita atur jadwal aja buat nongkrong"


"Lo beneran mau gua ajakan nongkrong"


"Santai aja kali, ngga usah merah tuh pipi lo"


Ledek Tasya membuat Elang tak kuasa menahan senyumannya. Elang adalah salah satu cowok bad boy di sekolah sebelum Iqbal. Memang dua orang itu terkenal dingin dan tidak banyak bicara kalau soal kepribadian. Tapi kalau soal kepentingan organisasi mereka emang selalu nomor satu kalau disuruh ber argumen makannya banyak siswi siswi yang menanti nanti adanya kegiatan sekolah, apalagi kegiatan gabungan.


"Pipi siapa yang merah? Gua mah b aja kali Sya"


"Lang, gua sebenernya mau mau aja jalan sama lo, tapi gua benci kalau gua terus terusan di teror satu sekolahan gara gara lo sama iqbal"


"Sampai segitunya mereka? "


"Lo pikir? Gua paling eneg kalau mereka udaj nyinyir. Mulutnya nerocos mulu padahal ngga tau datanya kayak apa, Iqbal dan lo deket sama gua kan hanya karna tugas semata. Mereka aja yang ke baperan"


Perkataan itu membuat Elang tahu bahwasannya Tasya sepertinya tidak memiliki rasa sedikitpun ke Elang. Tapi Emang selalu berusaha agar Tasya mampu jatuh di pelukan Elang.


Sesampainya di panti asuhan Tasya langsung membuka Tas tanduknya yang berisi makanan ringan untuk anak anak disana. Elang yang melihat tingkah Tasya itu nampak tersenyum senang. Tasya memang perempuan yang sempurna, meskipun ia selalu bolak balik masuk ke BK dan berurusan dengan guru karena ulanya.


"Adek adek.. Sini kak Tasya bawa jajanan dong buat kalian"


Semua anak anak yang sedang bermain di luar halamanpun langsung berkerumun menuju ke arah Tasya. Elang semakin terpesona dengan tingkah lucunya Tasya yang berhati mulia. Tampak wajah senang dan ceria terpancar dari raut muka anak anak di panti asuhan itu.


"Satu - satu, jangan berebut"


"Makasih kak Tasya"


Seru anak anak itu membuat Tasya tampak sumringah, senyuman terpancar dari bibirnya melihat begitu lucunya anak anak sekecil itu mengucapkan terimakasih padanya dan melupakan kisah pahit mereka sejenak.


"Tasya kok kamu ngga bilang bilang kalau kesini? "


Seorang yang keluar dari dalam rumah singgah itupun membuat Tasya tercengang. Ia menatap wanita itu dengan tatapan yang tulus.


"Iya buk biar kasih surprise ke mereka"


Jawab Tasya, Elang yang sedari tadi celingak celinguk membuat pengurus panti itupun bertanya - tanya.


"Siapa? "


"Dia Elang bu, teman Tasya.. Elang ini Ibu Jamil pengurus panti asuhan ini"


Elang langsung mencium tangan wanita yang di sebut pengurus panti tersebut. Elang merasa sangat bangga bisa dekat dengan Tasya yang membawa pengaruh positif baginya.


"Saya Elang bu teman Tasya"


"Ooo.. Saya kira kamu pacarnya"


Elang terkekeh geli mendengarkan perkataan itu begitupun juga dengan Tasya. Iya tertawa malu mendengarkan perkataan tersebut.


"Oiya bu, Ini ada sedikit sumbangan dari anak anak sekolah buat panti ini"


"Makasih banyak ya, ibu ngga tau mau bilang apa lagi.. Dari dulu sekolah kamu banyak sekali tangan tangan mulia yang berhati baik untuk menolong panti ini"


"Iya bu udah kewajiban kami untuk berbagi"

__ADS_1


Elang membuka bagasi mobilnya dan mengangkat barang barang menuju ke dalam rumah singgah. Tasyapun turut andil membatu Elang yang sepertinya kewalahan jika harus membawa barang barang ini sendirian.


Tuhan memberikanmu sebagai anugrah terindah untukku. Entah dari mana awal mulainya. Tapi aku benar benar mencintaimu


__ADS_2