Metamorfosa

Metamorfosa
Jadi, Tasya bukan anak kandung ayah?


__ADS_3

Tasya duduk di sofa ruang tamu, membuka layar laptopnya demgan pencahayaan yang cukup terang.


Tok.. Tok.. Tok..


Suara ketukan pintu membuat Tasya bangkit dari sofa dan membuka kunci untuk mempersilahkan masuk. Seseorang berdiri tepat di depan pintu. Bukan Elang, bukan Iqbal, bukan Gathan, bukan juga Odit, melainkan Ayah Tasya.


"Ayah.. "


Teriak Tasya excited. Tasya langsung memeluk ayahnya dengan wajah yang bahagia.


"Tasya apa kabar? Maafin ayah ya"


Ujar Ayah Tasya memeluk kembali pelukan Tasya. Ayah Tasya terlihat sangat lesu mungkin karena lelah bekerja.


"Tasya baik baik saja kok yah.. "


Dalam pelukan sang ayah Tasya memejamkan matanya sejenak merasakan bagaimana hangatan pelukan dari sang ayah yang selama ini hilang tanpa kabar. Satu menit suasana hening sebelum ayah melepaskan pelukan Tasya.


"Ayah mau mandi dulu.. Kamu bisakan bikinin ayah kopi?"


Tasya yang membuka matanya tiba - tiba sebelum ia merasakan puas dengan pelukan sang ayah merasa sedikit kecewa sebab biasanya Tasya yang sering melepaskan pelukan ayahnya.


Tasya mengangguk untuk menjawab permintaan sang ayah. Tasya masih mencoba untuk positive thinking karena mungkin sang ayah masih lelah karena sepulang kerja.


"Yah.. Tasya kangen sama ayah.. "


Decak Tasya sembari mengaduk kopi yang dibuatnya untuk sang ayah. Tasya meletakkan secangkir kopi yang telah dibuatnya di meja makan berdampingan dengan roti kukus.


Tasya menutup laptopnya dan masuk kembali ke dalam kamarnya. Entah kenapa perasaan Tasya campur aduk tentang sikap ayahnya. Tasya membuka pesan whatsapp yang masuk dari Elang bahkan Elang sampai menspam chat Tasya agar Tasya segera membuka pesannya.


Drett... Drrrettt..


Suara getaran hp Tasya terus berbunyi. Tepat nama Elang langsung muncul di layar hpnya.


"Hallo"


Ujar Tasya membaringkan tubuhnya di kasur.


"Sya, gua mau ngomong penting sama lo"


Suara Elang terdengar sangat berat. Tasya langsung menghela nafas.


"Apa? "


"Lo harus jauhin Raka..! "


Seru Elang membuat Tasya menciutkan keningnya. Apa maksud tujuan Elang melarang Tasya ngejauh dari Raka? Setidaknya kalau cemburu jangan gini caranya.


"Ngga bisa lang, gua sama Raka udah Sahabatan dan Raka selalu ada di saat gua ngebutuhin dia.. Please jangan paksa gua untuk berteman dengan siapapun yang gua mau"


Jelas Tasya to the point. Elang terdiam mendengarkan penjelasan Tasya. Iya memang menurut Elang dia ngga perlu ngebatesin sama siapa Tasya berteman. Dia juga ngga bisa menjelaskan bagaimana liciknya Raka memainkan perannya. Elang tahu ini akan membuat hubungannya dengan Tasya akan semakin menjauh.


"Sorry Sya gua udah kelewatan"


Ucap Elang merasa belum saatnya ia memberitahukan hal sebenarnya.

__ADS_1


"Iya kelewat batas..! Udah deh Lang kalo lo ngga suka sama Raka ngga gini caranya buat ngejauhin gua sama Raka"


"Iya - iya.. Gua tau, gua minta maaf.. Gua cum--"


"Saat ini gua bisa maafin lo, tapi gua ngga suka cara lo batasin gua mau berteman sama siapa"


Belum lagi Elang membalas perkataan Tasya. Tasya sudah mematikan hpnya. Hari ini benar benar hari yang paling menyebalkan menurutnya. Mood Tasya semakin buruk setelah mendengarkan ucapan Elang.


"Tasya, ayah mau ngomong"


Teriak Ayah Tasya dari arah ruang makan. Tasya menarik gulingnya dan menutup matanya dengan guling. Tasya harus menghadapi apa lagi, jujur bagi Tasya ayah benar - benar berbeda.


"Tasya..."


Teriak kembali sang ayah. Tasya membuang gulingnya dan membuka matanya. Ia keluar dari kamarnya dan berjalan menuju ruang makan.


"Ada apa yah? "


Tanya Tasya heran melihat laki - laki paruh baya itu sedang makan kue kukus buatannya.


"Duduk.. "


Ayah Tasya terlihat akan mengatakan sesuatu kepada Tasya bahkan wajahnya terlihat sangat serius. Tasya duduk dan menatap wajah mata ayahnya.


"Sya.. Kamu kangen ngga sama ibu? "


Kata ayah menghela nafas berat. Ayah melepaskan kacamatanya dan mentapa mata Tasya dengan serius.


"Tasya kangen sama ibu.. Tapi Tasya lebih kangen sama ayah yang selama ini pergi ninggalin Tasya"


"Maafin ayah.. Tapi ayah rasa tugas ayah sudah selesai"


Mata tasya langsung melotot dan denyut nadinya terdengar sangat cepat. Pertanda apa ini? Kenapa Ayah Tasya tiba - tiba berterus terang seperti itu.


"M--ak--sud a-ya--h? "


Jawab Tasya kikuk. Sesekali ayah Tasya memejamkan matanya untuk waktu beberapa detik.


"Sudah waktunya kamu tahu"


Tasya menggaruk - garuk jari jemarinya secara berulang - ulang meskipun tidak terasa gatal. Tasya semakin dibuat heran dan ngga faham denga kata - kata sang ayah.


"Bulan depan kamu ulang tahun.. Tepat usiamu menginjak umur 17 tahun, Ayah tau mungkin setelah kamu mendengarkan kabar ini kamu akan benci sama ayah"


"Ayah minta kamu janji sama ayah kamu ngga boleh ngebenci ayah"


Tasya menggaruk - garuk kepalanya. Tasya semakin ngga ngerti dengan ucapan ayahnya sendiri.


"Memangnya ayah buat kesalahan apa sama Tasya? Yah... Jangan buat Tasya takut, Ayahkan tau sendiri Tasya ngga bakal ngebenci ayah"


Sahut Tasya penasaran. Ayah Tasya lagi - lagi terlihat menarik nafas beratnya.


"Jadi selama ini orang yang kamu sebut - sebut sebagai ayah bukan ayah kandungmu. Dan ibu yang selama ini menyayangi kamupun bukan ibu kandung kamu"


Nafas Tasya langsung berhenti dan ia menelan ludahnya secara pelan. Mata Tasya menutup seketika.

__ADS_1


"Astagaa.. Ayah pasti bohong"


Ujar Tasya dalam hati. Tasya masih belum mempercayai apa kata Ayahnya.


"Maafin ayah sama ibu karena sudah menutupi ini dari kamu, sebenarnya ayah ingin sekali bilang jujur sama kamu tapi sejak kecil ibu selalu ngelarang ayah buat bilang ini sama kamu... Sampai pada suatu hari ibu dan ayah berbincang - bincang pada saat kamu tertidur, Ibu bilang kalau ayah boleh ngasih tau kebenaran ini satu bulan sebelum umur kamu menginjak 17 tahun"


"Ayah pergi dari rumah karena ayah benar - benar belum siap untuk bicara ini sama kamu, ayah takut kamu bakal ngebenci ayah dan ibu"


Mendengarkan perkataan itu Tasya meneteskan air matanya seketika. Ia menutup matanya dengan kedua telapak tangannya. Mungkin ini adalah hal terberat bagi Tasya tapi Tasya juga harus menerima kebenaran ini.


"A--ya-h pa--sti bo-hong--kan sa---ma Ta---sya?? "


Rintih Tasya sesegukan. Tasya masih belum berani untuk menatap mata Ayah yang sekarang ini dia telah mengetahuinya bahwa itu bukan ayah kandungnya.


"Mungkin kamu beranggapan seperti itu, tapi apakah kamu menyadari waktu ibu membutuhkan golongan darah A dan golongan darah Tasya O sedangkan golongan darah ayah AB"


Jelas Ayah menguatkan Tasya kalau memang benar Tasya bukanlah anak kandungnya.


"Terus dimana orang tua kandung Tasya yah?? "


Ayah Tasya pergi masuk ke dalam kamar beberapa menit dan keluar membawa kotak berwarna pink untuk Tasya.


"Ini kotak dari ibu.. Mungkin di dalam ini berisi petunjuk tentang orang tua kandung kamu"


Ayah Tasya menyodorkan kotak warna pink itu di samping Tasya. Tasya masih menangis tak karuan.


"Ayah dan ibu menemukanmu di rumah sakit waktu ayah menghantarkan ibu periksa kondisinya.. Saat itu satu rumah sakit di buat panik karena bayi semungil kamu tertinggal sendirian di dalam ruangan bayi tanpa identitas"


"Ayah dan ibu awalnya ngga memperdulikan kamu sebelum pihak rumah sakit bingung harus bagaimana.. Ibu menyuruh ayah buat ngecek keberadaan kamu dan kamu sedang menangis di dalam ruangan bayi.. "


Mata Ayah Tasya yang sedari tadi masih kuat menjelaskanpun langsung meloloskan air matanya. Ayah sesekali mengahapus air matanya meskipun itu masih terus keluar.


"Setelah beberapa jam akhirnya ibu memaksa ayah untuk bertanya kepada dokter apakah ayah diizinkan membawa kamu pulang dari rumah sakit soalnya ibu ingin sekali memiliki anak meskipun itu bukan anak kandungnya"


"Ayah.. Ke--napa ngga... Lihat CCTV? "


Rintih Tasya yang masih menangis tak terbendungkan.


"CCTV rumah sakit rusak dan sedang dalam perbaikan.. Ayah hanya menemukan beberapa barang untuk menguatkan identitasmu jika kamu mencari orang tua kandungmu"


Tasya langsung mengambil kotak pink itu dan beranjak berdiri lalu memeluk tubuh ayahnya. Tasya tau itu bukan ayah kandungnya tapi Tasya sudah merasa nyaman jika berada di dekatnya, Tasya sudah terbiasa dengan kehidupan ini.


"Makasih ya yah.. Udah mau ngerawat Tasya, Tasya ngga marah sama ayah.."


"Iya sama sama, Ayah sayang sama Tasya"


Ucap Ayah Tasya memeluk kembali tubuh Tasya. Mereka berdua masih terlihat meloloskan air matanya.


"Tasya masih bolehkan tinggal disini? Tasya masih bolehkan panggil ayah dengan sebutan ayah? "


Rintih Tasya dalam pelukan ayahnya.


"Tentu boleh... Kamu akan tetap jadi anak ayah yang paling cantik"


Sahut Ayah Tasya. Setelah Tasya merasa lega akhirnya Tasya melepaskan pelukannya dan membawa kotak pink itu masuk ke dalam kamarnya. Tasya masih tak menyangka jika kejadian ini terjadi. Bahkan disaat dia masih belum siap dia harus menguatkan dirinya.

__ADS_1


Meskipun akhirnya aku tahu bahwa ini sakit. Tapi aku terus mencoba untuk berdamai dengan hati, berdamai dengan keadaan, dan tersenyum kembali.


__ADS_2