Metamorfosa

Metamorfosa
Kenapa Lo Selalu Ada Buat Gua?


__ADS_3

Karena ada rapat antara pengurus inti osis sebelum purna maka Tasya pulang terlalu larut malam. Biasanya ada teman teman osis yang mengantarkan Tasya pulang tapi untuk saat ini teman teman osis Tasya sedang ada acara dan juga sedang sibuk. Begitupun dengan Raka dia sedang ada makan malam bersama teman kantor orang tuanya, jadi Tasya terpaksa harus menunggu bis datang meskipun kemungkinan bis datang sangat kecil. Di pinggir jalan banyak sekali remaja laki laki yang menggoda Tasya di halte depan sekolahnya, Tasya sungkan untuk meminta tolong pak satpam untuk menemaninya karena hampir tiap hari Tasya minta pak satpam melakukan itu. Tasya hanya bisa diam dan memainkan ponselnya yang tidak ada kuotanya tersebut.


"Sya lo masih disini? "


Ujar Elang mengenakan kaos hitam dan montor maticnya bersama ponakannya yang sedang duduk di depan Elang.


"Eh Elang"


Jawab Tasya melihat Elang yang sudah berganti pakaian. Tasya tersipu dengan ponakan Elang yang lucu dan juga menggemaskan. Tasya mendekat ke Elang dan mencoba merayu serta menghibur ponakan Elang tersebut.


"Lucu banget sih"


Decak Tasya mencubit pipi ponakan Elang. Elang menamatkan wajah Tasya yang begitu manis serta cantik. Gadis yang memiliki lesung pipi itu mampu membuat Elang terbawa suasana.


"Sama dong kayak omnya"


Sahut Elang. Ponakan Elang terlihat tertawa melihat tingkah lucu Tasya.


"Beda!"


Seru Tasya. Elang melihat sekeliling Tasya yang sudah sepi begitupun ruang osis tampak lampu dalam ruangan tersebut sudah dimatikan, artinya sudah tidak ada siapa - siapa lagi di ruangan tersebut.


"Lo kok belum pulang Sya? "


"Tadi ada rapat"


"Oh.. Iqbal mana? "


"Iqbal udah pulang duluan katanya ibunya sakit"


"Terus Dinda?"


"Dia tadi udah di jemput sama kakaknya"


"Temen - temen osis lo yang lain? "


Tanya Iqbal kembali membuat Tasya geram.


"Udah pada pulang ada urusan penting, lo ngapain sih kepo banget kek dora"


Sahut Tasya yang sudah geram dengan beberapa pertanyaan yang di lontarkan oleh Elang.


"Gua antar ya? "


"Bentar deh, btw lo ngapain malam malam jalan sama adek imut ini? "


"Dia Caca ponakan gua, tadi kakak gua lagi masak terus di Caca nangis kebetulan gua sedang main disana yaudah gua ajak aja jalan jalan"


"Ngga baik tau Lang anak kecil kena angin malam"


"Ibunya aja ngga ngelarang"


"Tapi kasihan Elang"


Elang mencoba bertanya kembali pertanyaan yang belum dijawab oleh Tasya.


"Gua antar lo pulang"


"Ngga usah, lo kan bawa Caca"


"Ntar gua balikin ke ibunya"


Tasya masih mencoba mencari alasan agar Elang tidak menghantarkannya pulang karena Tasya merasa terlalu merepotkan Elang.


"Emm.. Ngga usah deh, gua nunggu bis aja"


"Lo yakin jam segini masih ada bis? "


"Kayaknya masih ada deh"

__ADS_1


Jawab Tasya ragu.


"Ya udah gua temenin lo aja sampai dapet bis"


"Okee kalau ini gua mau"


"Tapi kalau semisal kelewat 30 menit masih belum ada bis lo gua anter! "


"Ihh ngga usah Elang, gua naik bis aja"


"Ngga baik cewek kayak lo malem malem naik bis sendirian"


"Ngga baik juga cewek kayak gua malem malem dianterin pulang sama cowok, apa kata tetangga gua nanti."


"Lakban aja tuh mulut tetangga lo! "


"Ihh Elang.. "


"Sya lo tunggu sini ya, gua anterin Caca pulang dulu"


"Yahh.. Kok gitu sih"


"Bukannya tadi kata lo ngga baik kalau Caca kena angin malam? "


"(Tasya tersenyum miring) Lang, Caca udah kena angin malam kali"


"Oiya, tapi Sya inikan masih dikit jadi ngga papa kan kalau gua antar dia pulang dulu"


"Hmm.. Sebenarnya gua takut Lang disini sendirian"


Elang mengacak acak rambutnya sendiri ia mulai bingung dengan perkataan Tasya.


"Ya udah lo ikut gua anter Caca"


"Ngga usah Lang gua nunggu lo aja"


"Iya"


"Gua pamit anter Caca pulang dulu ya"


"Hati - hati, awas kalau Caca sampai kenapa napa! "


Seru Tasya mencubit kembali pipi Caca yang mirip bakpao itu.


"Iya - iya"


Elang pergi meninggalkan Tasya sendirian di halte. Udara malam membelai kulit Tasya. Elang dengan kecepatan penuh dan dengan ke hati harian mengembalikan Caca ke ibunya.


"Kak Nih Caca"


Teriak Elang saat masuk ke dalam rumah kakak Elang. Elang meraih jaket yang di letakkan di kursi ruang tamu sambil memakan permen yang terabai di meja tamu.


"Mau kemana Lang? "


"Biasa urusan remaja"


"Awas ya kalau ngga dikenalin sama kakak! Ntar kakak bilangin mamah"


Seru kakak Elang yang menggendong Caca kembali. Tanpa jawaban Elang langsung keluar dari rumah kakak Elang dan menuju ke halte tempat Tasya berada. Tampak Tasya teelihat sedang kedinginan dengan angin malam yang tidak begitu bersahabat dengannya. Sesampainya di halte Elang disambut hangat oleh Tasya yang sudah menanti - nantikan keberadaannya. Elang mencopot jaketnya dan memberikannya ke Tasya.


"Nih pakai! "


Perintah Elang menyodorkan Jaketnya. Tanpa pikir panjang Tasya langsung mengenakan jaket Elang.


"Masih belum dapat bis juga? "


Tanya Elang yang melihat Tasya sudah mulai lelah. Tasya menjawab dengan menggelengkan kepalanya pasrah melihat keadaan.


"Naik"

__ADS_1


Perintah Elang kembali, kesabaran Elang sudah habis untuk menunggu bis dan melihat Tasya mulai lelah.


"Elang, rumah guakan jauh emang ngga papa? "


"Ya.. Paling ngga beliin gua nasi goreng atau bakso"


Ejek Elang. Tasya hanya pasrah melihat tingkah Elang.


"Iyaa.. Nanti Tasya beliin"


Tasya langsung naik di montor matic yang di kenakan oleh Elang. Elang langsung memutar gas dan menghantarkan Tasya pulang. Sampai tengah perjalanan Elang mendengarkan perut Tasya yang sudah bernyanyi.


"Elang ngapain berhenti? "


Tanya Tasya karena Elang mendadak berhenti di sebuah angkringan nasi goreng.


"Kayaknya tadi ada yang janji mau beliin Gua"


Tasya tersenyum malu karena ia lupa dengan perkataan sebelumnya.


"Ya ampun Elang, Tasya lupa! "


Seru Tasya tertawa malu. Elang berjalan mendahului langkah Tasya.


"Pak nasi goreng 2"


Ujar Elang memesan makanan.


"Pedas pak"


Sahut Tasya yang tiba tiba nongol di belakang Elang.


"Okeee, minumnya apa? "


"Es jeruk"


Sahut Tasya yang mendahuli ucapan Elang yang ingin memesan es teh. Tasya duduk mengikuti langkah kaki Elang. Tasya melihat Elang yang asik bermain hpnya membuat Tasya merasa bosan karena hpnya yang tidak memiliki kuota itu. Elang melihat Tasya yang sedang melamun itu kemudian meletakkan hpnya. Sambil menunggu nasi goreng siap Elang memulai pembicaraan dengan Tasya.


"Bengong aja mbak"


Ujar Elang, menatap gadis itu yang hanya diam tanpa basa - basi.


"Gua tiba - tiba pusing Lang"


Tampak wajah Tasya yang sudah mulai pucat itu. Elang keluar dari warung dan mengambil minyak kayu putih punya mamahnya yang ketinggalan di kok motornya.


"Sya, hadap sini"


Elang mengoleskan minyak kayu putih itu ke kepala Tasya. Adegan ini cukup romantis menurut para penikmat nasi goreng yang sedang menyaksikan. Tasya hanya diam dan tak bisa berkutik apa apa. Tangan Elang yang masih mengoleskan minyak kayu putih ke dahi Tasya mencoba untuk memijit mikit sebentar kepala Tasya.


"Berat banget kepala gua"


Ujar Tasya. Nasi goreng akhirnya tersajikan juga Tasya langsung melahap nasi goreng itu dengan cepat dan habis. Es jerukpun tak lupa untuk diminumnya bahkan es barupun ikut di kunyah. Setelah melihat Tasya selesai Elang beranjak menuju ke pak penjual nasi goreng sebelum kedahuluan oleh Tasya.


"Ini pak"


Elang menyodorkan uang seratus ribu kepada penjual. Tasya datang menghampiri bapak penjual dan menyodorkan uang lima ribuan beserta sepuluh ribuan kepada bapak penjual nasi goreng.


"Aduh mbak udah di bayar sama masnya"


Ucap bapak penjual nasi goreng sambil menyodorkan kembalian uang Elang. Elang hanya menaikkan alisnya.


"Kok elo yang bayar, seharusnya Tasya yang bayar Elang! "


"Ngga enak gua, masak lo yang bayar. Dimana - mana lakinya yang harus bayar"


Jawab Elang mereka kembali menuju montor dan melanjutkan perjalanan menuju ke rumah Tasya yang jaraknya lumayan jauh dari pusat kota.


Terimakasih sudah selalu ada meskipun hanya menjadi pelampiasan semata.

__ADS_1


__ADS_2