Metamorfosa

Metamorfosa
Mengalah atau Di hina?


__ADS_3

Bu Rumi guru mata pelajaran Akuntansi Keuangan memasuki kelas. Sedangkan Tasya dan teman - temannya masih berada di kantin. Teman - temanya yang sudah didalam kelaspun segera memberitahukan ke mereka bahwa Bu Rumi sudah datang. 


"Gais, Bu Rumi udah datang ayo ke kelas"


Ucap Fina, merekapun segera meninggalkan kantin dan menuju ke dalam kelas. Dalam langkah kaki yang terburu - buru Tasya memasang raut wajah yang pucat karena ia tahu pasti nantinya Tasya akan dihukum oleh Bu Rumi. 


"Gua takut nih sama Bu Rumi"


"Sya udahlah, kan ada kita"


Mereka terus memantapkan langkah hingga sampai di depan ruang kelas. 


Tok tok tok… 


Suara ketukan pintu membuat satu kelas hening seketika. Tasya bersama teman - temannya itupun datang dan disambut oleh Bu Rumi dengan wajah yang sinis dan judes. 


"Dari mana aja kalian? "


Belum sempat bersalaman ucapan Bu Rumi membuat langkah kaki mereka berhenti karna terkejut. 


"Maaf bu kami dari kantin"


Ucap Fina membuat Bu Rumi murka, pasalnya diantara teman teman Tasya tidak ada satupun yang dianggap baik oleh Bu Rumi sebab mereka bernotaben murid yang sedang dan tidak terlalu pintar. 


"Sudah jam berapa ini? "


"Jam 10.30 bu"


"Kalian tahu jam masuk pelajaran itu jam berapa? "


"Tahu bu"


Ucap serentak


"Lantas kenapa kalian bisa datang jam segini? Kalian itu udah tidak menghargai saya sebagai guru kalian! Kalian semena mena masuk di jam pelajaran saya"


"Maaf bu"


Ujar Tasya membuat Bu Rumi semakin murka. 


"Alah bu mereka itu sebenernya udah selesia kok makannya. Tadi aja mereka di kantin ngobrol gibahin orang bu"


Teriak Ara membuat mereka terkejut sebab ternyata Ara seberani itu menjatuhkan harga diri mereka. 


"Apakah yang diucapkan Ara itu benar? "


"Maaf bu, tapi tadi saya lihat sendiri Fina, Tasya, Tiara dan Saras masih makan di kantin bu. Soalnya tadi pesanannya mereka diantar lama"


Sahut Raka seakan membela keberadaan Tasya dan teman - temannya. 


"Tasya.. Kamu itu seorang OSIS kamu harus bisa jadi teladan buat teman - teman kamu. Kalau sikap kamu kayak gini terus kamu saya laporkan ke waka kesiswaan sekarang juga"


"Maaf bu saya mengakui kesalahan saya. Tapi saya mohon tolong jangan laporkan kepada Pak Doni bu"


"Kamu itu sukanya bantah terus sama guru"


Hati Tasya terasa tersakiti tapi Tasya harus tetep kuat dan tidak boleh menangis dihadapan teman - temannya meskipun kata - kata pahit itu sering muncul di bibir Bu Rumi. 


"Maaf bu bukan saya bermaksud membantah, tapi saya hanya mengakui kesalahan saya dan saya berminta maaf kepada ibu"


"Nggak sudi! Kamu itu salah! Sekali salah akan tetap salah dimata saya! Sekarang serahkan tugas saya sekarang! "


"Baik bu"


Tasya terus menguatkan hatinya. Teman - temannya pun merasa iba terhadapnya tapi apalah daya guru selalu benar, jika guru salah maka kembali ke pasal pertama. 


"Ini bu" 


Tasya menyodorkan buku besarnya. Bu Rumi terus mencari titik kesalahan dari tugas ini. Tapi sayang Bu Rumi lagi lagi mengakui kekalahan karena tugas tugasnya dijawab dengan sempurna. Bu Rumi tidak tinggal diam melihat Tasya lepas begitu aja. 


"Okeyy, saya minta kamu untuk menjalskan ke teman - tekan kamu tentang Hutang Obligasi "


Seketika sorot mata satu kelaspun berharap cemas kepada Tasya begitu juga dengan Raka. Ara yang duduk di bangku barisan paling depan menatap wajah Tasya dengan rasa senang. 

__ADS_1


"Jadi hutang obligasi merupakan surat pengakuan utang dari penerbitnya kepada pemegang obligasi atau bisa disebut dengan investor, sebesar harga nominal (face value), atau nilai pari (par value), disebut juga nilai jatuh tempo, (maturity value). Karateristik hutang obligasi di bagi menjadi tiga yaitu : Diatur dalam undang undang, harus mendapatkan persetujuan pemilik /pemegang saham, kepentingan perusahaan penerbit obligasi diurus oleh suatu lembaga yang bertindak sebagai wali. Jenis - jenis hutang obligasi… "


"Kok si Tasya bisa sih"


Ucap Ara terkejut dengan penjelasan secara terperinci yang diucapkan oleh Tasya. 


"Bu Rumi maaf ya bu tapi seharusnya Bu Rumi jangan memperlakukan Tasya seperti itu. Bu, Raka tau Tasya salah tapi bagaimana dengan teman temannya yang lain? Kenapa Bu Rumi selalu menjudge Tasya terus? "


"Raka ibu tidak menyangka kamu bisa berkata kasar seperti ini. Kamu itu murid kesayangan ibu, tapi hari ini kamu telah mengecewakan ibu dengan ucapanmu"


"Maaf bu, tapi seharusnya Bu Rumi jang bersikap seperti ini ke Tasya. Udah sering loh Bu Rumi menyuruh Tasya berdiri di depan kelas sampai jam pelajaran selesai, udah sering juga Tasya menjelaskan materi ke kami sampai kami paham. Tapi apa kabar dengan Bu Rumi? Apa pernah Bu Rumi menjelaskan materi secara terperinci seperti si Tasya? Saya pikir jawaban Bu Rumi tidak deh. "


"Raka..! Kamu nanti menghadap ibu di ruang guru bersama kamu Tasya! "


"Bu.. "


Tutur Tasya tak berarti apa - apa bagi Bu Rumi. Bu Rumi sudah terlanjur pergi meninggalkan kelas. Tangis Tasya pecah melihat perlakuan Bu Rumi kepadanya. Tasya langsung jatuh duduk di depan kelas. 


"Gua ngga tau kenapa Bu Rumi sebenci itu sama gua… kenapa Bu Rumi selalu mencari cara agar bisa menjatuhkan gua.. Gua salah apa sih sama dia? "


Teman - temannya langsung mendekat ke Tasya keculai Ara yang lebih sibuk dengan menonton drakornya.


"Sya, lo ngga pernah salah lo udah bener. Bu Ruminya aja tuh yang sensi sama lo. Sya pokoknya kalo semisal nanti lo di skors atau di keluarin kita bakal ikut lo kok"


Ujar Fina bersama satu gengnya membuat hati Tasya sedikit lega. Tapi disisi lain Tasya terkendala biaya jika semisal nanti Tasya akan di keluarkan di sekolah. 


"Sya sabar ya.. Gua tau lo ngga salah. Gua bakal ngebelain lo! Satu lagi kalo semisal kita di keluarkan dari sekolah ini nanti gua bakal bantu lo buat cari sekolah gua bakal bilang sama nyokap dan bokap gua untuk ngebatu lo"


"Gua ngga habis pikir, sekeji itukah Bu Rumi kepada lo Sya! Sya gua yakin lo ngga bakal dikeluarin"


Perlahan Tasya mengahapus air mata yang lolos dari matanya. Tasya meraih tangan Raka dan keluar dari ruang kelas untuk menghadap ke bu Rumi. Di ruang guru terlihat sepi tapi setelah mendapatkan pesan dari Bu Rumi melalui wa Tasya dan Rakapun menuju ke ruang kepala sekolah untuk menghadap langsung. 


"Sya lo yakin sama gua, kita hadapi ini bareng bareng"


"Makasih ya ka"


Tok tok tok… 


Raka dan Tasya memasuki ruang kepala sekolah. Disana terlihat Bu Rumi, Pak Kepsek, Pak Doni, Pak Hasan, Dan Bu Endang duduk dengan memasang wajah yang tegang. Heningpun mencekam menambah rasa menakutkan bagi Raka dan Tasya. 


"Jadi apa benar kalian tadi habis membantah Bu Rumi? "


"Benar bu, ucap mereka berdua secara lantang"


Tangan Raka menggenggam erat tangan Tasya. Menguat Tasya bahwa hari ini akan dilalui dengan senang hati. 


"Untuk apa kalian melakukan itu? "


"Kami hanya ingin keadilan bu. Pak kepsek yang terhormat apakah bapak pernah menyadari bagaimana kerja dari seorang guru yang berada di bawah pimpinan bapak? "


Ucap Raka menyudutkan kepsek seketika. 


"Mohon maaf pak, yang dimaksud oleh Raka benar. Tidak semua guru mampu menerapkan sistem pembelajarannya dengan baik. Bahkan rata - rata guru hanya memberikan tugas dan mencari tentang materi tersebut setelah itu diri sendirilah yang menjelaskan materi itu kepada dirinya. "


"Kamu itu udah menghina profesi saya selama 10 tahun saya sudah mengajar! "


"Maaf bu, karena sudah berpengalaman dan sudah berprofesilah seharusnya ibu faham tentang aturan dan sistem pembelajaran yang baik dan benar"


Ucap Raka membuat semua guru saling melirik. Tasya dan Raka saling menguatkan argumen satu sama lain. 


"Gini pak menghadapi persoalan anak - anak yang saling beradu argumen dengan gurunya apa tidak sebaiknya kita mengambil langkah tegas? "


Pak Hasan mulai membuka suara setelah mendengarkan argumen yang telah di lontarkan oleh Raka. 


"Bu Endang selaku wali kelas dari anak - anak apakah Bu Endang sudah menerapkan sistem penghormatan kepada gurunya sendiri? "


Tanya kepala sekolah seolah menyudutkan posisi Bu Endang. 


"Sudah pak, saya selalu mengajarkan anak - anak untuk menerapkan sikap menghormati kepada guru pak. Maaf jika anak didik saya telah lancang"


"Karena menerapkan prinsip guru itu selalu benar maka kalian berdua selama satu minggu ini saya skors"


Ujar pak kepsek mengejutkanku. Mata Tasya terpelongoh mendengarkan kata - kata itu. Raka menghela nafas berat seakan ia kecewa dengan keputusan ini. 

__ADS_1


"Baiklah pak jika itu adalah jalan terbaik. Besok saya akan mengajukan surat keluar dari sekolah ini dan saya harap jangan pernah sekali - kali sekolah ini meminta sponsor ataupun proposal donatur ke perusahaan papah saya! "


Raka berdiri dengan memberikan sedikit tutur katanya kepada kepala sekolah. Sedangkan Tasya masih terdiam diri menatap kosong pandangannya. Raka menarik tangan Tasya keluar dari ruang kepala sekolah.


"Sya lo ngga usah khawatir ntar gua bantu lo buat cari sekolahan baru! "


"Ka.. Gua ngga bisa sebodoh itu! Lo punya segalanya, lo bisa keluar masuk sekolah semau lo, sedangkan gua..? Udah diterima di sekolah ini dengan beasiswa aja udah beruntung gua"


Tasya berhenti di depan ruang kelas 10 ia duduk di teras dang mengeluh dengan keputusan Raka dan juga kepala sekolah yang membuatnya sedikit kecewa. 


"Tasya yang gua kenal itu ngga pernah se lesu ini. Gini aja deh sya, buat permintaan maaf gua selama satu minggu lo belajar bareng gua di rumah gua. Biasalah entar sistem pembelajarannya kayak home sechooling gitu"


"Gua bingung mau bilang apa ke ayah"


"Kalo semisal lo kecewa dengan keputusan gua, nyar gua minta papah gua buat nyelesaikan masalah ini. Lo tenang aja sekolah ngga bakal ngelepasin papah gua sebagai donatur utamanya. "


"Ya udah deh gua mau ambil tas terus pulang"


"Bareng gua ya"


"Nggak usah, gua bisa naik bis sendiri. Rumah lo dan rumah guakan beda arah"


"Lo ngga malu apa dilihatin siswa yang lain kalau lo pulang duluan? "


"Au ah"


Tasya melangkah tergesa gesa. Dalam kelas teman - temannya menyambut Tasya dan Raka dengan segala tanya. Bagaimana hasil keputusan yang akan mereka hadapi termasuk juga teman satu gengnya Tasya. 


---0---


T


asya masuk ke dalam kamar. Membuang tasnya seenaknya sendiri. Melepaskan dasi dan juga sepatu yang masih ia kenakan. Tasya menatap cermin dan memandang kepada dirinya sendiri. Tasya tidak habis pikir jika akhirnya akan seperti ini. Dia membaringkan tubuhnya di kasur menatap lampu yang menyala sambil berdoa semoga hari ini akan segera terlewatkan. Tasyapun tertidur pulas dengan segala masalah yang dihadapinya. 


"Tasya? "


"Ibu"


"Sini peluk ibu sayang"


Dalam mimpinya Tasya bertemu dengan ibunya sembari memeluk hangat tubuh sang ibu karna begitu merindukannya. 


"Buk, Tasya kangen sama ibu. Tasya sedih bu"


"Kenapa sayang? "


"Tasya habis ngelakuin kesalahan yang membuat Tasya di skors"


"Kamu tidak salah kok. Ibu akan tetap selalu mendukungmu, keputusan mereka adalah keputusan terbaik. Udah terima aja ya"


"Tapi Tasya takut buk kalau semisal Tasya nanti di keluarin, Tasya juga takut gimana caranya Tasya bilang ke ayah"


"Tasya ngga boleh takut, Tasya harus berani. Tasya tau tidak? Dulu Tasya pernah menyelamatkan ibu dari pencopet nah masak sih hanya bicara sama ayah saja Tasya takut? "


"Tasya ingin ikut sama ibu aja ya biar Tasya nggak ada masalah"


"Tasya, jangan nak.. Jalan kamu masih panjang, ibu yakin kamu bisa melewatinya"


Tasya terbangun dari tidurnya. Iapun tersadar bahwa ini hanya sebuah mimpi iapun berjalan keluar kamar dan menuju dapur untuk memasak makanan untuk ayahnya. 


Tasya memasak makanan kesukaan ayahnya tapi Tasya lupa kalau ia belum mengambil beras yang tadi pagi di beli ayahnya di toko Bu Sumi. Dalam perjalanan Tasya menuju toko Bu Sumi Tasya mendengarkan cuitan cuitan dari tetangganya perihal kehidupan Tasya. 


"Eh neng Tasya itu berasnya udah di depan, kamu bisakan sambil naik sepeda? "


"Bisa kok Bu Sum"


"Neng Bu Sum mau tanya boleh? "


"Iya bu kenapa? "


"Duh nggak jadi deh neng, besok aja. Itu berasnya udah ditunggu sama ayah neng Tasya"


Tasya berjalan menuju ke rumahnya sambil membawa beras satu sak. Tasya memang dikenal sebagai wanita yang kuat dan penuh ambisi. Dia tak terlalu menghiraukan cuitan dari tetangganya karena menurutnya itu adalah bagian dari sebuah kehidupan. 

__ADS_1


Jika sebuah keadilan tidak bisa di tegakkan dan yang berwenang memberikan keputusan yang seenaknya. Maka itu adalah skenario Tuhan tentang kehidupan manusia.


__ADS_2