Metamorfosa

Metamorfosa
Kak Langit


__ADS_3

Tasya berjalan dari arah kerumunan masa. Ia sedang meneliti sedang apakah para siswa bergerombol di area auditorium sekolah Padahalkan ini masih jam pelajaran.


"Permisi, permisi"


"Syaa... "


Teriak Aldi yang melambaikan tangannya ke arah Tasya yang masih menyelinap mencari jalan untuk menuju ke sumber suara.


"Aji dia kenapa? "


"Pingsan ngga tau gua"


"Lo udah panggil anak PMR? "


"Udah Sya, lagi ambil tandu"


"Okee.. "


Tasya melihat teman Aji yang terkapar lemas di auditorium yang di kerumuni banyak siswa siswi yang masih penarasan. Tasya langsung berdiri menghampiri para siswa siswi yang belum membubarkan diri.


"Kalian ngapain disini? Ada urusan apa?"


"Kenapa dia sya? "


"Itu bukan urusan kalian kalau kalian hanya ingin bertanya tanya soal dia! Kalian tahu ini jam berapa? Apakah ini sudah waktunya untuk istirahat? Saya pikir sebelum saya melakukan tindakan yang keras kalian bisa bubar terlebih dahulu dalam hitungan 5 detik! "


"Tapi syaa... "


"Alahhh sok sokan jadi murid teladan padahal lo mah juga mau tau! "


Desakan siswa siswi lain membuat Tasya semakin geram.


"Saya mau tau soal murid yang terkapar lemas di audit ini? Menurut kalian tidak ada pekerjaan yang wajar selain mencari tahu.. Selain kepo urusan orang? Kalau kalian mau ngebantu dia ya silahkan lebih baik saya pergi masuk kelas, kalian pikir meninggalkan kelas itu seenak yang kalian bayangkan? Siapa tadi yang bilang saya hanya cari muka, sok sokan, dan saya juga kepo? Maju kedepan bubarkan siswa siswi ini termasuk saya! "


Teriak Tasya membuat siswa siswi yang lainnya diam seketika.


"Satu.. "


Para siswa dan siswi sudah mulai membubarkan dirinya sendiri. Perasaan kecewa jelas ada pada siswa siswi itu atas perlakuan Tasya kepada mereka.


"Dua.. "


"Tiga.. "


Seluruh isi auditorium hanya tersisa Tasya, Aji, dan juga siswi yang pingsan itu. Tasya melihat keadaan sekitarnya menatap seluruh isi audit tanpa terkecuali.


"Tandu di UKS sedang di bawa untuk latihan anak paskib"


Ujar anak PMR sembari membawa minyak kayu putih. Tasya semakin bingung dengan keadaan ini karena jarak audit dan UKS yang cukup jauh.


"Ada apa ini? "


"Pak Doni"


"Maaf pak, saya juga tidak tahu apa permasalahannya. Saat saya datang semua siswa sudah berkerumun disini, setelah saya lihat ternyata teman sekelas Aji pingsan."


"Tandanya dibawa anak paskib ya? "


"Iya pak"


Pak Doni dengan sigap langsung memboyong siswi tersebut dan Tasya bersama Aji langsung mengikuti dari arah belakang. Tasya selalu respect terhadap keadaan disekitarnya, jiwa kemanusiaan Tasya memang sangat tinggi. Setelah sampai di UKS Tasya melonggarkan ikat pinggang dan dasi yang dikenakan oleh siswi tersebut.


"Sya karena dokter di sini lagi keluar, bapak mau cari anak bapak dulu ya"


"Loh apa hubungannya pak? "


"Anak bapak kuliah di jurusan kedokteran, kebetulan lagi ada disini"


"Iya pak, tapi Tasya tolong diizinkan sama guru yang mengajar di kelas Tasya ya pak, biar Tasya tidak di Alfa"


"Iya nanti bapak izinkan, terus Aku kamu panggil wali kelasmu kesini ya"


"Siap pak"


Tasya mencopot sepatu, jam tangan dan juga kaus kaki yang dikenakan siswi tersebut. Tasya mulia mengucapkan minyak angin kepala siswi tersebut sambil berharap agar cepat sadar.


"Permisi"


"Kakak anaknya pak Doni ya"

__ADS_1


"Iya.. Kamu Tanyakan? "


"Iya kak"


"Oh ya pak Doninya mana? "


"Lagi ada urusan nanti juga nyusul"


"Ohh.. "


Anak Pak Doni mulai memeriksa keadaan siswi tersebut dan Tasyapun duduk di kursi dokter sambil menatap pojok ruang UKS yang terlihat singup.


"Jangan dilihatin terus"


Ujar anak pak Doni yang lagi memeriksa keadaan siswi tersebut membuat Tasya terkejut. Bagaimana dia bisa tahu tentang apa yang dilihat oleh Tasya. Tasya menghela nafas berat, ia membuatkan teh hangat untuk siswi tersebut.


"Kakak kak Langitkan?"


"Loh kamu kok tahu? "


"Tahulah kak"


"Pasti papah suka cerita ke kamu ya"


"Enggak kok, cuman Tasya pernah lihat status Wa nya pak Doni pas Kak Langit ulang tahun"


"Ohh.. "


"Btw.. Selamat ulang tahun ya kak"


"Iya makasih"


"Kak dia kapan sadarnya sih?"


"Sebentar lagi juga sadar, itu tehnya nanti kalau sudah sadar diminumin ya"


"Udah tau kalii.. Masa iya tehnya buat ngeguyur dia"


"Kuliah kakak mahal ngga sih? "


"Kakak dapat beasiswa jadi ngga terlalu mahal"


"Enggak kok.. Hanya saja sering dapat juara satu aja"


"Sama aja kak.. "


Tasya menatap prihatin siswi tersebut. Sambil mencoba menurunkan teh hangatnya. Sambil menunggu siswi tersebut sadar Tasya terdiam kembali. Membayangkan kejadian yang pernah ayahnya lakukan terhadap dirinya.


"Kenapa Sya? "


"Sya...?"


"Eh maaf kak"


"Kamu kenapa kok melamun? "


"Ngga papa kok kak"


Langit membuka layar ponselnya yang terdengar suara pesan masuk. Langit membacanya secara jeli.


"Sya kamu disuruh masuk papah ke kelas, katanya ada masalah"


"Aduhhh.. Sudah gua duga"


Decak Tasya sambil mengeplak kepalanya.


"Bodohh banget sih lo Syaa"


Gumam Tasya meletakkan secangkir teh hangat di atas meja.


"Kak titip dia ya, Tasya pergi dulu "


"Iya"


Langit menatap Tasya dengan tatapan yang penuh arti ia tahu bahwa Tasya merupakan gadis yang istimewa. Tasya sering mengambil resiko demi kepentingan orang lain.


\-\-\-0\-\-\-


Tasya masuk ke ruang Osis membawa setumpuk proposal kegiatan dari ruang kepala sekolah. Langit yang duduk di kursi Pak Doni menatap Tasya dengan senyuman hangatnya. Tasya melegakan proposal proposal itu diatas maja kerjanya sendiri.

__ADS_1


"Sudahhhh... Berat bangett! "


"Mau dibantu? "


"Telat! "


"Astaga... Ini proposal kan waktunya Tinggal satu minggu lagi kenapa baru keluar.. Ini pasti kerjaanya Dinda. Oh Tuhann... Hari ini hari yang cukup melelahkan"


Rintih Tasya sambil mengecek tanggal proposal proposal kegiatan itu.


"Teman - teman lo mana? "


"Tau Ah..! "


Sambil memainkan ponselnya Langit terus menatap Tasya. Langit kagum dengan kinerjanya Tasya yang cepat dan tanggap.


"Tasya teman teman kamu kemana? "


Ujar bu Ambar yang tiba - tiba datang mengejutkan.


"Ada perlu apa bu? "


"Proposal kegiatan Rabu depan udah keluar dananya?"


"Aishhh... Belum bu"


"Proposalnya sudah di setujui oleh kepsek? "


"Siap sudah bu"


"Mau uang nggak"


"Siap maulah bu"


"Untung kamu yang ngarepin coba kalau teman kamu udah ibu hukum ngga kasih dananya."


"Jangan dong bu nanti caranya ngga berjalan"


"Ya sudah nih 25juta, itu baru sebagian dulu"


"Kenapa ngga langsung aja bu? "


"Itu tugas teman kamu! "


"Maaf bu"


Tasya menghitung uang yang diberikan oleh Bu Ambar kepadanya. Tasya menatap arah pintu dan membungkus uang itu kembali agar tak terlihat.


"Udah biarin aja dia ngga berani sama kamu Sya"


"Apaan sih kak"


"Syaa.. Gua tau apa yang lo lihat! "


"Maksutnya.. "


Tasya terdiam menatap serius wajah Langit.


"Iyaa gua tau, yang di UKS juga gua tau"


"Kakak tau.. "


"Haii Sya"


Teriak Sunda yang tiba tiba datang tanpa mengetuk pintu.


"Ehh ada kak Langit"


"Din.. Tuh proposal lo! Lain kali jangan kayak gini, untung ada gua coba kalau ngga ada gua. Lo jangan selederan deh jadi oramg, proposal h-satu minggu lagi baru keluar dari ruang kepsek sungguh keterlaluan! "


"Ya Sorry Sya"


"Tugu kerjain, gua mau pulang udah ditungguin sama Raka"


"Okey bu bos..! "


Tasya meraih Tas dan Jaketnya yang ada dikusrsinya ia langsung buru - buru keluar dari ruangan dan pergi menemui Raka.


Entah bagaimana jiwa itu perlahan mulai masuk. Setidaknya semua hal dalam skenerio Tuhan itu terlihat baik - baik saja.

__ADS_1


__ADS_2