Metamorfosa

Metamorfosa
Apa yang Terjadi Dengan Ayah?


__ADS_3

Sambil menghela nafas berat Tasya berusaha untuk menguatkan diri, meskipun dia tahu nantinya sang ayah akan marah besar dengannya. Jam dinding menunjukkan pukul 23.00 ayahnya masih belum kunjung pulang. Tasya membiarkan makanan itu di atas meja makan sembari Tasya memandangi ke arah pintu, berharap ayahnya akan segera datang. 


Tasya mulai lelah menunggu sang ayah pulang. Tidak seperti biasanya ayahnya pulang sampai larut malam bahkan ayahnya tidak mengabarinya sama sekali. Sesekali Tasya berjalan menuju jendela dan menatap luar. Tasya berulang kali mencoba telepone nomor sang ayah tapi selalu saja di luar jangkauan. 


Hujan mulai mengguyur rumah Tasya dan hari sudah mulai larut malam. Tasya cemas memikirkana keadaan ayahnya. 


"Ayah cepatlah pulang"


Gumam Tasya ternyata dikabulkan oleh Sang Pencipta. Suara motor terdengar di halaman rumah Tasya dan Tasya segera membukakan pintu untuk sang ayah. 


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


"Tasya kok belum tidur?"


"Ayah sendiri kenapa baru pulang?"


"Ayah tadi habis kehujanan, kamu udah makan?"


"Belum yah, Tasya nungguin ayah soalnya Tasya mau cerita juga ke ayah"


"Maafin ayah ya tasya sebenarnya ayah juga udah makam tadi"


"Yahh.. Tasya mau cerita sama ayah"


"Ya sudah, kamu bikini ayah teh hangat ya taruh aja di meja makan. Ayah mau mandi dulu"


"Iya yah, ayah mau mandi pakai air hangat? "


"Tidak usah"


Sembari menunggu sang ayah selesai mandi Tasyapun mempersiapkan argumen seteliti mungkin agar ayahnya tidak marah sama dirinya. Tasya mencari cari kata yang pas untuk berbicara dengan ayahnya.


"Mana tehnya Sya"


"Ini yah"


"Kamu mau cerita apasih? Kok kayaknya serius banget"


Sesekali sang ayah minum teh hangat yang telah dibuat oleh anaknya. 


"Jadi Tasya di sekolah ada masalah yah"


Ujar Tasya gugup dan gemetar. Sang ayahpun meletakkan secangkir teh hangatnya kembali di atas meja. 


"Ada apa? Kamu dapat nilai merah? Atau Kamu bingung buat mencari sponsor untuk event kegiatan sekolah?"


"Bukan yah"


"Terus?"


"Tasya.. Tasya di skors oleh sekolah yah"


"Apa??"


Ujar ayah Tasya murka. Terlihat raut wajahnya berubah sekali. 


"Maafin Tasya yah"


"Tasya! Kamu tau gimana susah payahnya ayah mencari uang buat biayain sekolah kamu?"


"Maafin Tasya yah.. "


Plakkk… (Suara tamparan yang sangat keras) 


Tasya menguatkan dirinya. Pipi sebelah kirinya berubah warna menjadi sangat merah. Tasya tak ingin menangis di depan sang ayah karena perlakuannya. 


"Terserah kamu! Ayah sudah capek sama kamu! "


"Yahh.. Ijin Tasya untuk menjelaskan semuanya"


"Nggak sudi! Kamu itu anak tidak tahu di untungkan! "

__ADS_1


"Yah.. "


"Sudah sana pergi dari rumah ayah tidak ingin melihat wajahmu lagi!"


"Ayahh… "


"Ayah minta kamu segera pergi dari rumah!"


Ayah Tasya pergi meninggalkan Tasya dan Tasyapun masuk ke kamarnya sambil merintih kesakitan atas perlakuan ayahnya. 


"Ibuu.. Ayah jahat sama Tasya"


Rengek Tasya sambil mengeelus elus pipinya yang merah. Tasyapun mengambil beberapa pakaiannya dan mencopot handphonenya yang sedang di cargher. Tasya meminta bantuan temen - temennya yang mau menampung Tasya malam ini. 


"Ayah jahat Tasya nggak suka ayah kayak gitu! "


Saat Tasya sedang menunggu balasan dari teman - temannya Tasya menuliskan sebuah cerita di buku diarynya. 


Untuk ayah.. Maafin Tasya karena Tasya salah. Maafin Tasya karena telah mengecewakan ayah. Ayah.. Belum sempat bibir Tasya mengucapkan apa alasan Tasya di skors ayah sudah memotong pembicaraan Tasya dengan kata kata ayah yang bernada tinggi. Tasya kecewa sama ayah. Tapi Tasya tidak benci sama ayah karena Tasya tahu ayah belum dengar penjelasan Tasya. 


Tasya meraih hpnya dan melihat teman teman sekelas Tasya yang masih aktif ikut berempati dengan keadaan Tasya termasuk Raka. 


Cringgg… Cring… 


Suara hp Tasya berbunyi tertuliskan nama Raka di layar hpnya. 


"Hallo Kaa"


"Sya gua jemput lo sekarang ya"


"Nggak usah gua bisa jalan kok"


"Sya ini udah jam 2 malam, lo mau jalan kemana? Lo ngga takut di begal"


"Kayak lo ngga tau gua aja ka"


Ujaar Tasya menahan tangisnyaa. 


"Sya lo boleh tinggal kok dirumah gua"


"Bukannya rumah bi Desi jauh dari rumah lo? "


"Ngga papa ka, guakan bisa pesen grabcar"


"Enggak! Lo tunggu situ gua kerumah lo sekarang"


"Ya udah"


"Lo keluar sekarang! Gua udah didepan rumaah lo"


"Kok cepet banget sih"


"Udah sini"


Tasya meraih tasya dan juga beberapa buku yang sudah Tasya masukkan ke dalam koper kecilnya. Tanpa berpamitan Tasya keluar dari rumahnya. Menutup pintu rumahnya rapat - rapat. Berharap agar sang ayah dapat menghentikan langkahnya. Namun semua itu tidak ada hasilnya. 


Tasya masuk ke dalam mobil Raka yang sudah ada di depan rumah. Raka membantu Tasya meletakkan kopernya di dalam bagasi mobilnya. 


"Jadi lo mau kemana? "


"Entah Ka, gua udah coba hubungi bi Desi tapi ngga ada jawaban mungkin udah tidur"


"Ya udah lo ke rumah gua aja!"


"Tapi ka??"


"Gua tadi udah izin sama mamah buat bawa lo kesini, gua udah ceritain cerita lo sama mamah dan papah gua soalnya tadikan kita habis makan malam jadi mereka tahu apa alasan gua pegang hp terus papah suruh gua jemput lo soalnya kasihan"


"Sya.. Lo ngga usah takut sama mamah dan papah gua mereka orangnya baik kok, mamah gua pasti seneng ketemu sama lo karena mamah gua ngga punya temen dirumah"


"Ka kenapa lo baik banget sama gua sih? "


"Gua cuman kasih empati aja ke lo Sya"

__ADS_1


"Buat apa?"


"Lo bayangin deh Sya orang sebaik lo bisa di perlakukan buruk oleh guru, temen dan ini ayah lo sendiri"


"Ayah gua mungkin lagi kecapekan ka"


"Sya kalo lo mau nangis, nangis aja gua tau dari tadi lo nahan tangis"


"Lo itu baik Sya, temen lo ada yang tertimpa musibah lo segera galang dana. Lo sering ngasih makan ke anak jalanan meskipun hidup lo pas pasan"


"Ka itu udah kewajiban gua"


"Sya, gua yakin kok ayah lo pasti nyesel giniin lo"


"Ka, gua ngga pernah lihat ayah semarah ini. Bahkan sampai ayah berani nampar pipi gua"


"Astaga sya gua kira itu blush on soalnya merah banget"


"Enggak ka, ini habis di tampar ayah"


"Maafin gua ya Sya, gara - gara gua ngebantah lo juga kena skors bahkan kena tamparan dari ayah lo sendiri"


"Gua cuman ngga habis pikir sama ayah gua ka. Gua udah sering puji dia tapi kenapa dia berlaku kasar sama gua. Gua ngga tau kenapa ayah bisa semarah itu, bahkan ayah ngga memberikan sedikit celah buat gua jelasin semuanya ke ayah ka"


"Kok bisa sih"


"Gua ngga tau ka, gua juga tahan tangisan gua di depan ayah gua, tapi ayah malah kayak gitu ke gua"


"Lo yang sabar ya Sya"


Dalam perjalanan yang cukup jauh Tasya tertidur lelap di dalam mobil Raka. Sesekali Raka menatap wajah Tasya dan merasa iba. 


"Sya lo itu cantik gua ngga tega lihat lo disakiti"


Sesampainya di rumaah Raka menggendong Tasya menuju kamar tamu. 


Raka tahu bahwa Tasya sedang kelelahan karena habis menguras energinya seharian ini. Kedua orang tua Raka yang menunggu di ruang tamupun melihat Tasya yang digendong oleh Raka merasakan bahwa Tasya itu sedang mengalami pukulan yang sangat hebat. 


Kedua orang tua raka masuk juga di kamar tamu. Dan melihat Raka merapikan tempat tidurnya Tasya. 


"Raka…"


"Eh mamah"


"Cantik ya"


"Iya mah cantik banget malah"


"Itu pipinya kok merah banget kayak habis di tampar sih? Atau itu dia pake blush on? "


"Iya mah dia habis ditampar ayahnya bahkan diusir dari rumahnya mah"


"Ibunya kemana ka?"


"Ibunya udah meninggal sejak dia umur 8 tahun mah"


"Biar nanti mamah kompres ya pakai air dingin pipinya"


"Iya mah buatin susu panas juga ya"


"Iya tenang aja, kamu istirahat sana"


"Raka, papa kagum sama kamu"


"Ahh papah biasa aja kali"


Raka meninggalkan Tasya dikamar dan kedua orang tuanyapun pergi dari kamar Tasya. Mamah Raka menyiapkan kompresan dan susu hangat untuk Tasya yang sudah tertidur. 


"Kasihan sekali kamu, kamu itu cantik dan manis. Tante aja suka sama kamu apalagi Raka"


"Tidak sepantasnya kamu mendapat tamparan kayak gini nak"


"Jujur tante bisa langsung sayang sama kamu, kamu cepat sembuh ya nak"

__ADS_1


Mamah Raka membiarkan Tasya tertidur pulas dan keluar dari kamar Tasya. Hari sudah menjelang pagi Raka masih belum tidur juga karena terlalu memikirkan keadaan Tasya.


Keluarga adalah tempat untuk bertukar kasih. Tapi terkadang ego yang membuatnya menjadi tak terlerai


__ADS_2