Metamorfosa

Metamorfosa
Teror


__ADS_3

Tasya benar benar sendiri di dalam kamarnya. Memang sudah terbiasa ini terjadi tapi keanehan itu tiba - tiba muncul. Petanda apa ini untuk Tasya. Gadis yang masih duduk di tempat tidurnya harus dikejutkan oleh sekepal kertas yang tiba - tiba masuk dari jendela luar. Kepalan kertas itu tepat berada di hadapannya. Karena Tasya memiliki sifat ingin tahu, tak pikir lama Tasya langsung membuka kertas tersebut.


INGET!! LO MASIH DALAM INCARAN GUA..!!!


GUA AKAN BUAT LO TUNDUK DIHADAPAN GUA..!


Setelah tulisan itu terbaca oleh Tasya. Tubuhnya mulai bergemetar, tangannya mulai dingin dan nampak waiah ketakutan itu mulai muncul. Dinda terkejut melihat Tasya yang sudah menangis ketakutan itu. Padahal Dinda hanya sebentar meninggalkan temannya itu tapi kenapa raut wajahnya sudah mulai berubah derastis.


"Sya lo kenapa? "


Tanya Dinda yang merasa cemas melihat Tasya yang sudah menangis itu.


"Sya..? "


Tasya hanya terdiam tanpa ucap Dinda mulai khawatir dengan keadaan Tasya langsung mentelfon Iqbal. Hanya satu nama itu yang bisa ia percaya untuk dapat keluar sewaktu jam pelajaran masih berlangsung. Dinda mencoba menenangkan sahabatnya itu.


"Kenapa Din? "


Iqbal yang langsung menyahut panggilan Dinda juga mendengar bahwa Tasya sedang menangis.


"Bal, lo ke rumah Tasya sekarang! Dia ketakutan Bal, gua takut kalau gerombolan itu macam macam lagi sama Tasya"


"Pas banget, gua masih ngurus surat izin, setelah ini gua langsung ke rumah Tasya sama Elang. Lo jaga Tasya dulu"


Iqbal mematikan sambungan telfinnya. Dinda berusaha mencari sebab kenapa Tasya menangis histeris karena ketakutan. Ia melihat selembar kertas yang sudah lusuh berada di samping Tasya. Dinda yakin itu adalah penyeban terjadinya Tasya seperti ini. Dinda langsung meraih kertas itu dan membacanya. Ia sadar hanya ada satu celah orang itu mampu memasukkan kertas itu. Dinda langsung mengecek jendela luar kamar Tasya, ia meneliti bagian bagian yang mencurigakan, siapa tahu sang pengirim masih ada disini. Namun tidak ada bukti, pengirim sudah tidak terlihat lagi. Dinda secara otomatis menutup jendela kamar Tasya rapat - rapat.


"Sya gua ambil minum buat lo dulu ya"


"Pleasee jangan tinggalin gua, gua takut"


Dinda merasa bahwa Tasya benar benar merasa ketakutan. Dinda langsung mendekap Tasya dengan pelukannya, mungkin bisa mengurangi ketakutannya. Beberapa menit kemudian Iqbal dan Elang datang. Mereka langsung menemui Tasya yang terlihat sedang terpuruk. Iqbal menggantikan posisi Dinda, ia langsung memeluk tubuh gadis itu dengan hangat. Tasya terlihat sangat nyaman dengan Iqbal mungkin karena kesehariannya ia menghabiskan waktunya bersama Iqbal karena berbagai agenda kegiatan yang harus di bicarakan.


"Tenang ya, gua disini bakal temenin lo kok"


Elang hanya bisa terdiam melihat keromantisan mereka berdua. Dinda yang keluar dari kamar itu membuat Elang juga mengikuti langkah Dinda untuk keluar dari kamar Tasya dan membiarkan Iqbal yang menenangkan Tasya.


"Apa yang terjadi sama Tasya Din? "


Tanya Iqbal setelah sampai di dapur. Dinda menyodorkan selembar kertas yang ia temukan di kamar Tasya. Elang mulai faham bahwa gerombolan orang orang itu masih mengincar Tasya. Dan dugaan Elang benar Tasya sudah tidak aman lagi.


"Kenapa lo bisa setengah ini? "


"Tadi gua nganter kak Langit keluar, terus gua balik ke kamar Tasya udah nangis kayak gitu"


Sambil menghela nafas berat Elang mulai mengepalkan jari jarinya, pertanda ia sudah ingin menghabisi orang tersebut karena sudah membuat Tasya seperti ini. Hanya ada satu nama di fikiran Elang yaitu sosok yang menjadi pemimpin dari geng tersebut, itu adalah Alvin.


"Din, Titip Tasya ya gua mau balik dulu"


"Loh kok buru buru banget? Lang Tasya itu butuh lo"


"Udah ada Iqbal yang jagakan? "


"Ngga bisa Lang, Tasya butuh kamu!"


Dinda menlerai Elang untuk begitu saja meninggalkan Tasya. Dinda tahu bahwa Elang mungkin ada rasa sama Tasya tapi Elang masih ragu untuk mengungkapkannya. Dinda menarik tangan Elang menuju ke kamar Tasya disana terlihat Iqbal sedang berusaha menenangkan Tasya.


"Bal gua mau bicara sama lo"


Dinda mengajak Iqbal untuk keluar sebab ada maksud tertentu. Yahh.. Tepat Dinda hanya ingin Tasya dan Elang saling berkomunikasi. Karena Dinda tahu bahwa Elang sangat menyukai Tasya. Tanpa pikir panjang Iqbal menuruti apa kata Dinda dan Elang yang membawa segelas air putih untuk Tasya di persilahkan untuk mendekat dengan Tasya.


"Sya minum dulu"


Kata Elang, menyodorkan segelas air putih untuk sedikit menenangkan fikiran Tasya.

__ADS_1


"Sya lo itu butuh minum"


"Nih minum Sya biar semuanya jadi adem"


Tak ada sautan dari Tasya sedikitpun, Tasya hanya menangis ketakutan. Elang mencoba untuk mendekatkan diri ke Tasya. Duduk di hadapan Tasya dan menguatkan gadis itu karena semuanya akan baik - baik saja.


"Kalo lo gini terus bisa bisa lo mati tau nggak! "


Bentak sedikit Elang membuat Tasya menatap serius Elang.


"Lo punya hati ngga sih? "


Tanya Tasya serius dengan Elang, kini sorot mata Tasya yang tajam langaung mengarah ke Elang. Tanpa pikir panjang Elang langsung memeluk tubuh gadis itu.


"Lang, gua ngga mau jadi sasaran mereka"


Rintih Tasya terdengar di telinga Elang. Elang terlihat semakin geram dengan geng montor tersebut. Elang mengelus - elus rambut Tasya agar dia jauh lebih tenang.


"Sya.. Gua tau lo pasti taku tapi lo harus dikirim diri lo juga"


"Lo harus sadar Sya kalau lo cuman modal nangis aja gua yakin mereka bakal bikin teror teror lainnya ke lo".


"Lo punya gua Sya, lo ngga boleh lemah di mata mereka. Tunjukin jati diri lo yang sebenarnya"


"Bukannya lo berani nentang mereka? Sya ayo bangun jangan kayak gini terus"


"Tap--"


"Sya.. Kalau keadaanmu gini terus ayah lo pasti bakal khawatir, lo jangan nyokap diri lo dengan cara gini"


"Semua perkataan lo bener Lang, emang ngga seharusnya gua kayak gini"


Tasya mulai menyadari bahwa cara dia menyikapi masalah ini salah. Dia belum cukup dewasa untuk menyikapinya. Perlahan Tasya mulai melepaskan pelukannya dan dia mulai menghapus air matanya.


Elang menghapus air mata Tasya dan mencubit pipi gadis itu.


"Elang sakit"


Rengek Tasya yang sudah mulai tersenyum. Elang merasa lega karena masalah Tasya sudah sedikit teratasi meskipun belum sepenuhnya.


"Nih minum, minum sendiri jangan manja! "


"Ahh bawel banget sih lo"


Tasya meraih gelas itu dan meminum air yang ada di dalamnya. Tasya terlihat mulai membaik dan mulai bangkit dari masalahnya.


"Elang ngapain pakai jam tangan warna pink? "


Tanya Tasya yang menatap lucu jam tangan yang di kenakan Elang. Elang lupa tadi pagi dia bertukar jam tangan dengan mita. Tasya tertawa geli melihat kejadian ini. Elang bersyukur karna tawa Tasya akhirnya bisa pulih.


"****** gua, ini jam tangan Mita Sya"


Elang menepuk jidatnya sendiri. Dia sangat bodoh karena bisa lupa kalau dia belum menukarkan kembali jam tangannya.


"Hahaha.. Lo aneh banget Lang ngapain juga pakai jam tangan Mita"


"Mita itu pinjem jam tangan gua buat foto jadi kita tukeran jam tangan"


Dinda dan Iqbal datang menemui mereka berdua. Senyum hangat tampak terlihat jelas di raut wajah Iqbal dan Dinda melihat Tasya yang sudah lebih baik. Tasya terlihat sedang berbincang hangat dengan Elang.


---0---


Jam pulang sekolah sudah tiba Raka mengajak Fina untuk segera bergegas menuju ke rumah Tasya. Sebenarnya Fina ingin mengajak teman teman gengnya lainnya tapi Fina sadar kalau Tasya butuh istirahat jadi hanya Raka dan Fina yang pergi menuju ke rumah Tasya. Dinda, Iqbal dan Elang masih berada di rumah Tasya menemani Tasya.

__ADS_1


"Tasyaa.. "


Teriak Fina membuat gaduh suasana. Fina datang membawa sekitar roti untuk dapat dimakan sahabatnya itu.


"Njirr berisik"


Sahut Dinda melihat Fina yang sudah sampai di rumah Tasya.


"Sya lo kenapa? "


Tanya Raka melihat Tasya dengan banyak luka yang terlihat jelas.


"Ngga papa"


Elak Tasya agar Raka tidak berlebihan.


"Itu muka lo bonyok kayak gitu masih bilang ngga papa? "


"Oemjiji.. Sya lo habis ngapain? Lo habis dipukulin tiga orang ini? "


Seru Fina menatap serius Tasya.


"Ngga papa.. Kemarin gua habis jatuh"


"Jangan bohong Sya, lo pasti habis di pukuli"


Raka tahu banget bahwasannya perbedaan luka jatuh dan luka orang habis di pukul itu berbeda.


"Ini cuman insiden kecil, Udahlah ka ngga usah di perpanjang ya"


"Kasihan banget sih lo Sya" Ujar Fina


"Santai aja Fin, udah agak mendingan kok"


"Btw hidup lo enak banget di keliling cogan badboy sekolah kita"


Seru Fina membuat gaduh suasana. Dinda, Elang dan Iqbal tersenyum geli mendengarkan perkataan Fina.


"Fin.. Ngga usah berlebihan"


"Gua ngga berlebihan Sya, lo tau Elang si ketua PASKIBRA yang dinginnya minta ampun? Lo tau Iqbal ketua osis yang super duper cuek. Ya gimana bisa lo di dekati dua orang yang paling famous di sekolah"


"Kenapa Fin iri? "


Sahut Iqbal membuat Fina salah tingkah. Fina sangat mengidolakan sosok Iqbal dari kelas 1 SMK dulu wakt9u ada pendaftaran pengurus OSIS fina ikut daftar tapi setelah seleksi dan keluar pengumuman ternyata fina dinyatakan tidak lolos, alhasil Fina tidak bisa mengenal Iqbal lebih jauh.


"Oemjijiji, Bal lo ngomong sama gua? "


Tanya Fina tersipu - sipu.


"Kalo salting jangan berlebihan"


Sahut kembali Iqbal. Fina mencabi cabi krudungnya sebagai ungkapan untuk dirinya.


"Bal minta nomor Wa dong"


Ucap Fina langsung to the point.


"Nih anak emang ngga tau malu ya"


Jawab Raka melihat tingkah konyol Fina yang menyodorkan hpnya kepada Iqbal. Tasya yang melihat tingkah Fina cukup malu dengan Iqbal. Sejatinya Iqbal tidak bisa sembarangan memberi kontak Wa nya ke sembarangan orang apalagi ke Fina orang yang asing bagi Iqbal.


Jangan gegabah. Semua butuh proses!

__ADS_1


__ADS_2