
Udara pagi ini menyapa tidurnya Tasya yang begitu nyenyak sekali. Tasya lupa bahwa ia harus menyiapkan hidangan sarapan pagi untuk ayah tercintanya. Suara Kicauan burung mulai terdengar di telinganya, namun untuk mengumpulkan nyawa Tasya masih memanjakan dirinya untuk tertidur pulas. Tasya menaikkan selimutnya. Ini adalah hari akhir pekan Tasya tanpa ayah Tasya yang harus pergi bekerja.
"Tasya.. "
Teriak ayah Tasya dari ruang makan membangunkan tidur Tasya. Secara kilat Tasya langsung terbangun dan sadar bahwa ia belum menyiapkan sang ayah tercinta sarapan untuk mengganjal perut kosongnya. Tasya melihat ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 06.30. Tasya langsung keluar dari kamar dan menemui snag ayah.
"Maaf yah Tasya ketiduran, Tasya beliin aja ya diwarung"
"Kamu pasti kecapekan ya"
"Dikit sih yah"
"Kamu cuci muka dulu, ayah udah masak nih"
"Wahh.. Seriusan yah? "
"Iya, apasih yang enggak buat tuan puterinya ayah"
Tasya langsung pergi ke kamar mandi. Ia melihat cermin dan menatap dirinya sebelum mencuci wajahnya.
"Syaa.. Ayah lo berbeda sekali"
Sebuah kata yang terbesit di lintas bayangan Tasya membuatnya berpikir kembali.
"Apa jangan - jangan.. "
Gumam Tasya menatap dirinya secara sinis dalam cermin. Tasya mungkin kelelahan jadi berpikir yang enggak - enggak perihal sang ayah. Tasya langsung menyadarkan dirinya dan mulai mencuci wajahnya. Tak lama kemudian Tasya keluar dari kamar mandi dan melihat sang ayah yang sedang tersenyum sembari menatap layar ponselnya.
"Ayah kenapa senyum senyum sendiri? "
Ayah terkejut mendengar perkataan Tasya yang sudah ada di depannya.
"Ngga papa, udah ayo makan"
Tasya mengkerutkan keningnya menatap sang ayah dengan penuh keheranan. Memang akhir akhir ini sang ayah terlihat bahagia dan pulang selalu larut malam.
"Ayah jangan bohong deh sama Tasya"
Ujar Tasya mengambil nasi goreng buatan sang ayah.
"Kamu pasti terlalu lelahkan"
"Enggak Tasya hanya sedikit lelah"
Ayah kembali meraih ponselnya yang sedang berbunyi berulang kali.
"Udah siang, ayah berangkat dulu ya Sya"
"Loh ayakan baru makan dikit"
"Ini ayah udah dicariin sama bos ayah"
"Tasya siapin bekal ya buat ayah"
"Ngga usah Sya ayah nanti bisa makan di luar"
"Sejak kapan ayah suka makan di luar? "
Tasya menghentikan suapan nasi goreng di depan mulutnya. Tasya langsung meletakkan garpu dan sendok di atas piringnya dan mulai bertanya - tanya tentang keanehan ayahnya.
"Ayah berangkat dulu ya"
Ayah mencium kening Tasya meskipun pertanyaan sang anak belum dijawab oleh ayahnya. Tasya masih mencoba untuk berfikir secara positif tentang sang ayah.
"Ayah aneh banget, masa iya hari minggu ia harus berangkat kerja, terus sejak kapan ayah suka makan diluar bukankah dulu ayah lebih suka aku siapin bekal buatnya ya? Ditambah lagi kenapa akhir - akhir ini ayah sering pulang malam?"
Decak Tasya dalam lamunannya. Tasya langsung membereskan piring dan gelas yang ada di meja maka kemudian Tasya langsung mencucinya dan meletakkan kembali di rak yang sudah tersedia. Tasya langsung mengikat rambutnya dan keluar dari rumahnya untuk membeli sayur dan ikan sebagai persediaanya di kulkas. Tasya melangkah perlahan - lahan sembari menyapa tetangga disekitaran rumah Tasya yang terkenal sangat ramah.
"Ehh Tasya, stok ikan dan sayuran udah habis ya? "
"Pagi ibu - ibu, iya nih bu kebetulan juga ini hari minggu jadi Tasya bisa beli deh di tempat Pak Dir"
"Neng Tasya udah cantik, baik, rajin, pinter masak lagi"
"Iya nih saya aja ingin punya anak seperti Tasya"
"Pak Dit ngga usah muji Tasya dan Bu Cici ngga usah terlalu berlebihan sama Tasya"
"Eh hubungan kamu sama ayah kamu baik baik aja kan Sya"
"Baik kok bu, emang ayah saya kenapa?"
"Aduh sya kamu belum tahu soal ayah kamu?"
"Tasya ngga tahu apa apa bu soal ayah, soalnya akhir akhir ini ayah ngga pernah cerita apapun ke Tasya. Emang ayah kenapa? "
"Jadi kemarin ayah kamu itu naik mobil dianterin perempuan gitu Sya"
"Mungkin rekan kerjanya kali bu"
__ADS_1
Ucap Tasya memilah milah beberapa sayuran segar.
"Ibu lihat pake mata kepala ibu sendiri kalau ayah kamu sedang ciuman di dalam mobil sama wanita yang nganterin pulang"
"Ahh ibu mungkin salah lihat"
"Sya enggak Bu Cici doang yang lihat Bu Yuli juga lihat"
"Iya sya, saya lihat di mall ayah kamu lagi gandengan sama perempuan itu, nih ada buktinya"
Tasya mengehentikan tangannya untuk memilih milih sayuran. Tasya melihat sebuah ponsel yang disodorkan oleh Bu Yuli dengan foto sang ayah yang sedang berjalan bergandengan tangan bersama seorang perempuan yang Tasya sendiripun tidak tahu siapa orang itu.
"Ayah.. "
"Udah neng Tasya sabar aja ya.. Pak Dir yakin kok mungkin itu emanh rekan kerja ayahnya neng Tasya"
Tasya menghela nafas berat. Ia sesegera mungkin memilih sayuran dan juga ikan segar.
"Pak Dir ini saya udah tolong di hitung ya"
"Sya maafin kami ya bukannya kami gimana - gimana tapi sekiranya ayah kamu mau nikankan kami bisa siap bantuin"
"Ayah saya ngga bakal nikah lagi bu! Berapa Pak Dir totalnya? "
"Totalnya tiga puluh lima ribu neng"
"Ini pak kembaliannya buat besok aja ya"
"Iya neng makasih"
Tasya mempercepat langkahnya meninggalkan kerumunan ibu - ibu itu. Dalam langkahnya Tasya menahan tangisnya. Tasya tahu kalau ibu ibu di belakangnya masih membicarakan ayahnya. Tak menghiraukan sapaan tetangga yang lain Tasya langsung masuk rumah. Tasya terdiam duduk di ruang tamu meletakkan sayuran dan ikan diatas meja tamu.
"Ayahh.. "
Rintih Tasya. Tangis Tasyapun pecah saat ia harus mendengar kata ibu ibu di tukang sayur itu. Bahkan ibu ibu itu punya bukti kalau memang benar sang ayah sedang dekat dengan seseorang. Tasya langsung meraih ponselnya dan menelfon Raka karena Tasya butuh teman untuk bercerita.
"Ka lo ke rumah gua sekarang ya"
Rintih Tasya yang terdengar oleh Raka.
"Lo kenapa Sya? Ayah lo nyakitin lo lagi? "
"Kaa.. Cepet sini"
"Lo diem disitu aja gua langsung kesana"
Tasya menutup telfonnya. Ia menatap foto nikah ayah bersama ibunya yang terpasang di dinding ruang tamunya. Disana ibu Tasya tampak terlihat cantik mengenakan busana kebaya putih. Sedangkah Ayah Tasya tampak terlihat wajah senang menyelimutinya. Tasya tersenyun sambil berulang kali meneteskan air matanya.
Ujar Raka yang sudah berdiri diambang pintu rumah Tasya.
"Ishh.. Ini ikan dan sayuran kenapa lo taruh disini sih, amis banget tau"
Raka mengambil kantong kresek yang diletakkan diatas meja tamu Tasya dan membawanya menuju dapur. Raka mencopot jaketnya di ruang makan dan mencuci sayur dan ikan yang ada di kantong kresek. Raka emang pria yang telaten makannya ia respect banget sama Tasya. Setelah Raka memasukkan sayur dan ikan di dalam kulkas Raka mengambil jaketnya dan menemui Tasya.
"Lo kenapasih Sya? "
Raka langsung duduk di sebelah Tasya dan memeluk tubuh sahabatnya itu dengan hangat.
"Gua jadi ikutan sedih kalau lo gini, gua tau lo itu wanita yang kuat"
"Kaa, kepercayaan gua ke ayah mulai menipis. Gua ngga tau lagi mau ngobrol sama sia mau ceritain masalah gua ke siapa kalau bukan ke lo"
"Udah ya lo diem"
Raka yang masih memeluk tubuh Tasha terus menenangkannya.
"Kalau lo udah mulai tenang lo bisa cerita kok ke gua"
Tasya melepaskan pelukan Raka. Tasya mulai menguatkan diri untuk bercerita kepada sahabatnya itu.
"Ayah gua jalan sama perempuan dan gua juga ngga tau siapa perempuan itu"
Rintih Tasya. Raka yang mendengarkan kabar tersebut merasa iba dengan Tasya karena masalah yang terus muncul dihadapannya.
"Lo yakin kalau itu ayah lo? "
"Gua yakin ka!, Bu Yuli punya buktinya"
"Terus?"
"Ka lo bantuin gua ya buat nyelidikin masalah ini"
"Lo yakin? "
"Iya ka, bokap gua hari ini kerja padahalkan hari libur. Plisss bantuin gua ya"
"Iya - iya gua bantuin lo"
"Gua mandi dulu bentar, kalo lo mau ambil minum ambil aja di kulkas"
__ADS_1
"Iya dah tau"
Tasya langsung pergi meninggalkan Raka di ruang tamu. Tak lama menunggu Tasyapun telah siap untuk melakukan penyelidikan ini.
"Lo bawa montor atau mobil? "
"Montor tadi kalau gua pake mobil takut kelamaan lo nungguin gua"
"Gua ambil helm dulu deh"
Tasya mengunci pintu rumahnya dan merekapun berangkat untuk melakukan penyelidikan ini. Dalam perjalanan Tasya tak banyak bicara, Tasya hanya menunjukkan dimana letak kantor ayahnya berada.
"Tikungan depan belok kanan"
Raka mempercepat laju kendaraannya. Karena ia tahu bahwa Tasya sudah tidak sabar memastikan apakah yang dibilang ibu - ibu tadi benar atau salah. Tampak sebuah kantor yang sepi, tak ada montor mobil yang terparkir. Hanya ada satu montor yang terparkir di samping pos satpam.
"Sya ini kantornya? "
"Iya ka"
"Tapi kok sepi banget"
"Kita ke pos satpam aja Ka"
Raka memberhentikan motornya tepat di depan pos satpam dan Tasya langsung bertanya kepada pak satpam yang sedang jaga.
"Ada apa dek? "
"Maaf pak saya mau tanya hari ini kantor masuk atau libur ya pak? "
"Ini hari minggu otomatis kantor libur"
"Emm.. Adakah pegawai yang masuk hari ini pak? "
"Dek, inikan hari minggu otomatis juga ngga ada pegawai yang berangkat"
"Ya udah pak makasih"
"Iya dek sama - sama"
Tasya terlihat sangat kecewa dengan kebohongan yang diucapkan oleh ayahnya. Tasya tak pernah berfikir bahwa sang ayah bisa berbohong dengan dirinya apalagi diwaktu sang ayah harus menemani Tasya menghabiskan hari minggu di rumah.
"Kita kemana lagi Sya? "
"Ke mall"
"Lo mau belanja? "
"Udah ayok cepetan"
Rakapun menuruti perintah Tasya dan merekapun pergi meninggalkan kantor ayah Tasya. Dalam perjalanan Tasya terlihat sangat pucat. Entah kenapa dia terlihat begitu beda dari sebelumnya.
"Sya lo pucat banget, kita istirahat dulu ya"
"Ngga usah, Ka motornya bisa ngebutkan? "
"Lo pikirin diri lo juga, lo jangan gegabah. Gua ngga mau lo sakit"
"Tapi gua lebih sakit kalau ayah bakal ninggalin gua Ka"
Raka mempercepat laju motornya, ia menuju ke salah satu mall yang ada di daerahnya. Tasya masih berharap semoga ayahnya segera dipertemukan dengannya dan Tasya harus membuktikan apa dugaannya dan ibu ibu tetangga itu benar ataukah salah. Sesampainya di mall Tasya langsung melangkahkan kakinya. Berjalan terburu - buru di depan Raka.
"Sya pelan - pelan"
Ujar Raka mengejar langkah Tasya yang semakin cepat. Setelah Raka sampai di samping Tasya ia langsung menggeret tangan Tasya dan membawanya ke salah satu restoran yang ada di mall tersebut.
"Ka sakit"
Rengek Tasya karna tangan yang di pegang Raka terlalu erat.
"Lo harus makan, jangan nolak! "
Raka menyuruh Tasya untuk duduk diam dan Raka memesankan makanan untuk Tasya. Saat sedang memesankan makanan Raka melihat ayah Tasya sedang duduk bersama seorang wanita, namun Raka tidak menggubrisnya karena keadaan ini akan memperkeruh suasana hati Tasya.
"Sya lo makan ya.. Kalau lo terus terusan kayak gini kapan lo akan makan"
Sambil menghela nafas berat Tasya memakan hidangan yang ada di depannya. Raka hanya tersenyum geli melihat tingkah sahabatnya itu.
"Ka.. Habis ini pulang aja ya, gua udah capek"
"Kan kita baru sampai? "
"Gua mau istirahat"
"Lo sakit?"
"Enggak kok"
"Kalau lo sakit kita ke dokter aja ya"
__ADS_1
"Ngga usah, gua cuman capek aja"
Semua datang secara tiba - tiba. Keluarga adalah nomor satu dalam kehidupan. Maka jangan pernah merusak kepercayaan orang dalam sebuah keluarga yang utuh.