Metamorfosa

Metamorfosa
Khawatir


__ADS_3

Tasya memeluk tubuh Elang.


"Seharusnya lo ngga perlu gini"


Lirih Tasya yang akhirnya meneteskan air matanya. Tasya merasa sangat bersalah kepada Elang.


"Gua takut lo kenapa - napa Lang"


Ujar Tasya kembali dalam pelukan Elang. Denyut nadi jantung Elang terasa sangat cepat. Elang merasa bahwasannya Tasya juga menyukainya. Elang mengelus elus rambut Elang dalam pelukannya. Tasya menatap wajah Elang yang penuh luka.


"Ayah lo masih belum pulang? "


Tasya menjawab dengan menggelengkan kepalanya. Gathan dan teman - temannya merasa bersyukur akhirnya Elang bisa jatuh cinta lagi selama lima tahun ini menjadi raja jomblo.


"Lang pakai mobil gua aja"


Ucao Gathan melemparkan kunci mobilnya kepada Elang. Dan Elang juga melemparkan kunci montornya kepada Gathna.


"Bawa pacar lo ke basecamp kita aja, Mereka pasti masih mengintai pacar lo"


Tasya menatap wajah Elang beraharap Elang dapat menolak tawaran itu karena Tasya tidak terlalu akrab dengan teman - teman Elang.


"Iya Lang, toh kalau di basecamp kita bakal jagain dia kok. Apa lo mau pulang juga dengan wajah lo yang penuh luka? "


Sahut Gathan. Elang berfikir kembali memang iya sebaiknya Tasya itu di basecamp karena ia butuh perlindungan. Tapi disisi lain Tasya ngga bakal mau karena dia perempuan, ngga mungkinkan harus tidur satu rumah bersama laki laki.


"Emm.. Ngga usah teman - teman, maaf kalau merepotkan"


"Sumpritt deh, lo harus di basecamp kita"


"Ngga usah teman - teman, Tasya merasa bersalah sama kalian masa iya gua juga harus merepotkan kembali kalian? "


"Iya nderr, Tasya biar pulang aja. Ngga baik anak perempuan harus tidur di rumah orang"


Sahut Elang. Tasya meraih tangan Elang dan membawanya segera pergi dari tempat ini. Setelah masuk di dalam mobil Tasya menamati gerak gerio Elang.


"Ngapain lihatin gua kayak gitu? "


Tanya Elang merasa aneh dengan tingkah Tasya.


"Sini deketan"


Sahut Tasya. Membuat Elang semakin merasa kebingungan.


"Lo mau ngapain? "


"Gua lupa bawa P3K, di mobil Gathan pasti ada kotak P3K"


Ucap Tasya. Elang hanya terlalu membawa rasa jadi ia memikirkan yang tidak - tidak.


"Di bangku tengah biasanya aja"


Tasyapun berusaha meraih kotak itu. Ia masih menatap Elang dengan tatapan yang geram. Kenapa pria ini dari tadi Tasya sudah suruh mendekat tapi tak kunjung mendekat.


"Elang sini dekatan sama gua! "


"Lo mau ngapain?"


Tanya Elang sambil mengacak - acak rambutnya sendiri.

__ADS_1


"Mau ngobati tuh muka lo yang bonyok, itu rambut jangan di acak - acak nanti persentase ketampanannya berkurang"


Tasya menarik tangan Elang dan mengobati luka yang ada di wajah Elang dan tangan Elang. Perlahan namun pasti Tasya begitu telaten mengobati Elang.


"Auu.. "


Rintih Elang. Tasya tersenyum geli melihat seorang pria merasa kesakitan hanya karena olesan betadine.


"Ahh banci lo! "


Sahut Tasya Elang yang hanya bisa berdiam diri di mobil itupun hanya bisa menamati dan mengabadikan detik demi detik saat Tasya begitu telaten mengobatinya.


---0---


Dalam kamarnya Tasya hanya memandang foto yang terpajang di dinding kamarnya. Foto antara Tasya saat masih kecil ibunya dan juga sang ayah. Tasya khawatir dengan keadaan ayahnya karena sampai sekarang sang ayah masih belum juga memberi kabar ke Tasya. Tasya menutup matanya dan membayangkan keluarga yang lengkap, tapi entah kenapa bayangan Elang selalu melintas dalam bayangnya.


"Kenapa ada Elang sih"


Decak Tasya. Tasya mengubah posisi tidurnya dan menghadap kesamping. Tasya masih terus bertanya kenapa tiba - tiba ada Elang dalam sebuah imajinasinya.


"Apa mungkin gua suka sama Elang? "


Decak Tasya menepuk nepuk pipinya. Apa iya dia jatuh cinta sama Elang? Kenapa harus sama Elang? Tasya masih terus menerua bertanya dan berusaha untuk tidak mencintai Elang.


"Idihh Najis banget kalau gua suka sama Elang"


"Sya bangun syaa lo apa apaan sih"


Ujar Tasya sendiri. Tasya langsung bangkit dari kasurnya dan bercermin. Tasya menatap serius cermin yang selama ini menjadi saksi bisu perjalanan dirinya saat masih ada ibunya.


"Sya mana mungkin Elang suka sama lo! Lo ngga cantik! "


"Lama sudah ku menanti.. Banyak cinta datang dan pergi.. Tapi tak pernah aku senyaman ini.. Mungkin dirimulah cinta sejati..."


Sambil memotong cabai Tasya menyanyi lagu nyaman. Mungkin lagu itu sedang mewakili hatinya saat ini.


"Assalamualaikum "


Terdengar suara orang mengucapkan salam yang memotong lagu nyanyian Tasya. Tasya mematikan kompornya dan mencuci tangan sebelum membuka pintu. Tak ada perasaan takut ataupun cemas buat Tasya karena ulah geng montor semalam karena Tasya memang sudah berusaha untuk tidak takut terhadap geng montor itu. Tasya membuka sedikit gorden jendelanya memastikan bahwa Tasya memastikan bahwa itu bukan anak dari geng montor yang menyerangnya semalam. Tasya mengerutkan matanya ia melihat Elang sudah berdiri di depan pintu mengenakan kaos hitam.


"Elang ngapain kesini? "


Ujar Tasya di jendela. Tasya masih belum membuka pintu rumahnya, aneh saja jika tiba - tiba Elang muncul di hadapannya.  Elang terkejut mendengarkan suara Tasya tapi pintu masih tertutup. Tasya melihat segala sisi namun ia tidak bisa menemukan keberadaan Tasya.


"Anjirr.. Ada demit panggil - panggil nama gua lagi"


Gumam Elang merasa merinding. Tasya tertawa melihat tingkah Elang yang sudah mulai ketakutan. Jiwa kehaluan Tasyapun muncul. Tasya mengambil dress putih miliknya, Tasya kemudian mengganti bajunya dengan dress. Tasya membuka gorden jendela lebar - lebar, mematikan lampu ruang tamunya dan menghidupkan lampu senter hpnya yang mengarah ke wajah Tasya. Sambil menahan tawa Tasya terus memanggil - manggil nama Elang.


"Elang.. Hihihihii"


Ujar Tasya seperti suara hantu. Setelah Elang menatap jendela yang ternyata ada seorang cantik mengenakan deras putih bulu kaki Elang sedikit merinding tapi Elang melawan rasa takutnya karena dia sebagai seorang laki - laki harus tidak boleh merasa takut.


"Cantik banget mbak, sini sama gua"


Ujar Elang menatap mata Tasya dengan penuh keberanian. Tasya merasa dia telah gagal mendahuli Elang. Tasya akhirnya menyerah dan membuka pintu rumahnya.


"Lo ngga takut? "


Elang melihat Tasya dengan penampilan seperti ini langsung tertawa terbahak - bahak. Elang baru sadar kalau Tasya ternyata pelaku utama dibalik hantu cantik.

__ADS_1


"Lo gila atau gimana? "


Ujar Elang memastikan bahwa Tasya kepalanya sedang tidak demam.


"Ngapain ketawa? Emang lucu? "


Tanya Tasya dengan kepolosannya.


"Pantes jadi demit, tapi demit cantik"


"Ahh Elang lebay! "


"Dahlah gua mau masuk! "


Elang langsung masuk rumah Tasya tanpa permisi secara seenaknya. Elang duduk di sofa paniang milik Tasya dan membaringkan tubuhnya.


"Lo ngapain dateng dateng kayak juragan! "


Ujar Tasya kesal melihat Elang dengan posisi seenaknya tanpa ada sopan santun.


"Tutup tuh pintu! "


"Ogahh, ntar lo berbuat sesuatu sama gua! "


"Jiwa kerisihan lo parah banget, ngga sudi kali berbuat sesuatu sama lo! "


Tasya mengkerutkan keningnya dan mengiyakan pembicaraan Elang.


"Gua ke dapur dulu ya"


"Serah..! "


Tasya menutup pintu rumahnya dan menuju dapur untuk meneruskan memasak mie. Tasya menghidupkan kompornya dan meracik bumbu - bumbu tersendiri.


"Syaa.. Kalo masak gua bikinin juga ya! "


Teriak Elang seenaknya. Tasya sebenarnya hanya ingin makan sendiri tapi setelah Elang datang Tasya memutuskan untuk mengambil mie lagi dan memasaknya bersama mienya. Tasya mengambil buah alpukat dari dalam kulkasnya dan membuat jus. Setelah semuanya selesai Tasya membawa makanan beserta minuman itu ke ruang tamu.


"Widihhh, udah pantes jadi ibu rumah tangga lo"


Puji Elang melihat Tasya yang mengikat kembali rambutnya dan mengenakan daster.


"Itung - itung latihan"


Jawab Tasya. Tasya duduk di hadapan Elang dan menyodorkan semangkuk mie ke Elang. Elang merasa sangat teragungkan pada saat sekarang ini.


"Makasih Sya"


"Hm.. "


Tasya melahap mienya sambil membalas chat dari Fina.


"Kalau makan ya makan, main hpnya nanti aja Sya.."


"Sirik amat lo! "


Elang meraih hp Tasya dan meletakkan di meja samping hpnya Elang berada. Tasya terlihat kesal dengan Elang tapi Elang hanya tersenyum geli melihat tingkah Tasya.


Jangan bertanya tentang rasa kepadaku, sebab aku sendiripun tidak tahu rasa selama ini.

__ADS_1


__ADS_2