Miracle Of Love?

Miracle Of Love?
Dimulai?


__ADS_3

*Budak cinta katanya, tapi kalau memang hidup tanpa cinta itu ada. Yakinlah kau akan menyesal suatu hari nanti. Miracle of Love? Kini aku bisa mengakuinya.


"Yakin cinta pertama akan berakhir sejati*?"


Kepala ini menggeleng begitu saja tanpa keraguan.


"Aku harus memulai dari mana?"


"Kau bisa memulainya dari pertama kali sebuah cinta mekar dihartimu,"


Hembusan nafas terdengar ringan. Didalam ruang ber-cat biru soft ini, aku duduk ditemani pria berkacamata didepan meja sana. Menungguku angkat bicara.


 


Hm... Saat aku berada di kelas 1X3. Lebih tepatnya saat umurku 16 tahun. Cinta pertamaku bukan kuhadapi saat disekolah atau dikelas seperti kejadian remaja biasanya. Cinta pertamaku bermula ketika aku ditelantarkan oleh orang tuaku.


 


"Hiduplah seperti saudara-saudaramu! Jalani hidupmu sendiri!"


Itu bentakan terahir kali yang kudengar dari mereka. Hidup sendiri? Bagus juga, asal kalian tetap men-transferku uang jajan.


Yah, untuk yang seperti ini memang murni turun temurun dari leluhurku.


Ketika umur sudah dianggap dewasa, saat itulah seorang ana dilepas untuk bisa hidup mandiri dan tidak mengandalkan orang tua. Itu sangat ditekankan kepada anak laki-laki di darah keluargaku. Tapi aku hanyalah seorang gadis yang baru mau beranjak dewasa dan masih malas-malasan!


 


Sialnya aku tidak diberi dompet dan hpku. Aku berdecak kesal, masih menunggu pintu rumah dibukakan untukku.


 


Cukup lama, mungkin aku sudah tertidur beberapa saat daroi tadi. Belum ada yang keluar dari rumahku, kupikir mereka sedang lock down. Aku bangun untuk meregangkan ototku.


 


Tiba-tiba sebuah mobil berhent tepat didepan gerbang rumahku. Siapa? Cih, lebih enggak lucu lagi kalau orang itu menertawakanku.


 

__ADS_1


Aku meraih tasku dan bersembunyi sebisa mungkin. Tepat aku keluar dari kawasan rumah lewat celah lubang kucing yang cukup besar.


Padahal aku pemilik rumah, kenapa aku harus seperti ini? Aku berdecak kesal merutuki kelakuanku.


 


Mobil fortuner terpampang jelas dihadapanku. Aku menganga sebentar dan mencoba membuka pintu mobil. Hebatnya pintu itu tidak terunci dan tanpa pikir panjang aku memasuki mobil itu lalu bersiap menunggu pemilik mobil.


 


Saat itu aku tak pernah berpikir kalau setelah aku memasuki mobil itu. Kehidupanku berubah 90° Derajat. Apakah takdir dipihakku? Entahlah.


Mataku terlalu berat untuk bisa terjaga dikeadaan sunyi seperti ini. Kelemahanku adalah tempat sunyi dan cahaya remang, dengan begitu mataku dengan mudahnya terkatup dan membiarkanku tertidur pulas. Sampai aku tak sadar kalau tubuhku terbaring dibawah kursi mobil bagian tengah.


"Habis ini kemana?"


"Mau makan malam?"


Lambat laun suara-suara samar itu semakin jelas. Siapa? Ah, kepalaku pusing sekali. Aku mencoba duduk meski aku terus merasakan goyangan yang mengombang-ambingkan tubuhku.


"Ya-Aku lapar," Ucapku.


Seketika, mobil itu berdecit keras sekali. Kepalaku lolos menyundul kursi bagian sopir.


"Siapa kau?!"


Sentaknya mengarah padaku. Aku masih diam juga sedang memproses dimana ini.


"Turun dari mobilku!" Seorang lelaki dikamarku? Siapa? Aku berusaha dudu dengan benar dikursi.


"Tunggu- Zeva Rani?! Ngapain disini?" Ucap lelaki itu sebatas melihatku dari kaca depan.


Aku masih belum bisa memproses dengan baik. Sejak kapan kamarku terus-terusan gempa? Tak perlu menunggu jawaban dariku lelaki itu melanjutkan jalannya.


Oh! Aku penyusup yang masuk ke mobil orang lain! Kini aku barusaja ingat kejadian aku diusir dan segala macam halnya.


Karna lelaki ini diam saja. Ditambah aku belu tau siapa dia. Aku memutuskan untuk mencondongkan sedikit kepalaku untuk melihat wajahnya lebih jelas.


"Berhenti! Lampunya merah lagi," Kataku menunjuk lampu lalu lintas yang berpendar merah. Ia menghela nafas kasar. Langsung menghentikan gasnya

__ADS_1


"Ngapain disini? Bukannya disuruh hidup sendiri?" Ucap lelaki itu tak mau menatapku. Aku mencondongkan kepalaku lagi kali ini aku harus bisa mengenalinya!


Belum sempat aku maju dan melihat wajahnya. Lelaki itu sudah menginjak gas dan membuatku terjungkal kebelakang dengan keras


"Aduh!" Cicitku kesakitan. Tenang, ini baru permulaan. Aku akan mencobanya lagi, tadi itu hanya kebetulan saja.


"Siapa sih?" Tanyaku mencondong lebih kedepan.


CIIT


Kali ini ia nge-rem mendadak dan tubuhku terjungkal kedepan sampai pelipisku menatap dashboard.


"A-aish, sengaja?!" Erangku kesal, belum bisa melihat jelas siapa lelaki ini. Tapi maluku sudah diluncak batas, malu setengah mati habis natap dashboard. Mungkin pelipisku akan benjol.


"Lampu merah tu. Saudara sendiri masak gak kenal?" Ucapnya menarik pergelangan tanganku dan membantuku untuk bisa duduk dikursi sampingnya.


"Hmph!" Aku mendengus membuang pandangan kasar. Aku masih belum tau lelaki ini siapa. Saudara? Yang mana? Saudaraku banyak karna memang keturunan dari dulu. Bodohnya aku malah sok jual mahal enggak ngadep tu orang!


"Baru diusir?" Kekehnya renyah menarik handrem dan mulai jalan lagi. Ah, yang benar saja. Aku belum mengurusi kehidupanku setelah aku diusir. Tunggu, bukankah sesama saudar itu saling membantu?


Oke, aku berusaha melawan egoku, tenangkan dirimu Ran. Cukup menggodanya lalu mendapatkan hasilnya bukan? Kalau kamu gini terus kapan bisa lanjutin idup tenang??


Aku berdecak dalam hati. Sambil menggigit bibir bawahku. Lakukan Ran. Kuakui aku kali ini akan sangat menjijikkan.


"Hem? Karena kamu saudaraku...Izinkan aku tinggal durumahmu untuk beberapa hari saja.." Kataku menggodanya. Sifatku yang ini benar-benar terpaksa, sungguh! Sampai mataku manangkap mata tajam milik lelaki itu.


"J-Juna?!" Pekikku baru mengenalinya.


"Pake Mas atau kakak kek. Laknat banget jadi adek!" Nyinyirnya seperti Juna yang kukenal.


"Aelah, beda 2 tahun aja repot!" Decakku gagal menjadi saudara yang akan menggodanya. Akh, kali ini aku harus bagaimana?


"Laperkan?" Tanya Juna masih fokus pada jalan raya. Aku hanya memandangnya dari sini. Lelaki ini udah kerja? What? Baru juga naik kelas 3 SMA udah kerja aja tu bocah. Untuk menjawab pertanyaannya yang tadi aku langsung mengagguk semangat.


"Sena laperkan?" Tanya Juna lagi. Sena? Kucing yang dia pelihara kan?


"Kucing?" Kejutku setelah melihat kucing yang ia pelihara sedang dipangkuannya terduduk tenang.


"Dikira ngomong sama orang?" Kekeh Juna kembali mambuatku malu setengah mati.

__ADS_1


Baiklah, aku akan diam terus meski perutku mencabik-cabik kulit lambungku. Cukup diam saja Ran, pikirkan bahwa Juna yang kamu kenal ini sudah tobat dan berhati sebaik mungkin. Mungkin sampai mencarikanmu kos-kosan dan segala macanya.


__ADS_2