Miracle Of Love?

Miracle Of Love?
Abaikan


__ADS_3

Pulang sekolah aku sudah tak peduli lagi dengan desas-desis tentang kelakuanku dikelas tadi. Aku langsung berlari menuju SMA sebelah, harap-harap Juna belum pulang. Karna tadi pagi aku sempat nyasar, dan saat itu aku memutuskan untuk ke jalan raya utama dengan biaya yang cukup mahal, setelah itu aku baru menyusuri jalan kesekolah dan itu cara kesekolah yang sangat lama dan jauh.


"Ran? Ngacir aja sih tu anak!" Aku sudah sempurna keluar sebelum Indy menyelesaikan kalimanya.


    "Lagi nyari rumah mungkin, kali aja dia tinggal sama kak Juna terus? Gak terimalah sebagai Juna loversnya!" Bibir Siska mengerucut. "Aelah, dah punya pacar aja masih mau ngembat punya orang! Lagian mereka saudara kan?" Nanda menjitak pelan kepala Siska. "Saudara jauh kan? Bisa ada sah kok kalo nikah!" Ucap Indy ringan tak berpikir panjang.


    "Berarti mereka boleh- boleh hubungan gitu?!" Pekik Siska dan Nanda terkejut. "Hm...Udah tinggal bareng lagi," Kini Indy berpikir dan tak mempedulikan apa yang didengar orang lain.


    "Ah, apaan sih. Keras amet dah kalo ngomong," "Haha, Adimas dah nungguin," Mereka kompak menutup-nutupi pembicaraan yang mulai didengar beberapa orang yang ada dikelas. Termasuk anak baru tadi.


Aku menunggu didepan gerbang sekolah mereka. Sebenarnya ini sangat memalukan. Banyak murid yang menatapku heran. Karna seragamku dari SMA sebrang, tambah lagi SMA ku barusaja dikalahkan sama SMA sini. Ah, ini demi kelangsungan hidupku!


"Zev?" Tanya seorang perempuan padaku, aku menoleh. Mendapati Karin, teman lamaku.


"Oh, dah lama enggak ketemu," Aku ragu-ragu menyapanya. Karna kesan yang ia buat padaku tidaklah terlalu baik. Jadi aku tak mau mengingatnya lagi.


"Ngapain disini? Minta toleransi buat undi pemenang lagi?" Tanyanya dengan nada mengejek. Bagus, apakah aku terlihat seperti anjing peminta? Dasar bodoh!

__ADS_1


Aku hanya menyematkan senyum paksa dan menggeleng cuek. Pergilah, aku tak mau meladenimu lebih dari ini! Tanpa pamit pun ia langsung pergi begitu cowoknya datang.


Dasar wanita murahan,


Aku kembali mengamati satu persatu murid yang keluar dari gedung. Seorang lelaki tersenyum ramah padaku. Siapa? Aku tak mengnalnya, aku cukup berpikir ringan dan mengalihkan pandangan.


"Hei Ran, jangan bilang kalo otakmu tak mengingat wajah temannya?" Celetuk lelaki yang tadi sempat tersenyum padaku. Kali ini aku benar-benar tak bisa mencerna dengan baik.


    "Teman?" Aku masih berpikir, teman yang mana?


    "Aelah, bukan! Tapi pacar!" Ia menepuk ujung kepalaku ringan. What?? Tunggu, aku ini hanya pengagum belakang. Dan tak ada kata pacar ataupun cinta dikamus hidupku.


    "Zeva Rani, masih sama kayak yang dulu," Ucapnya terkekeh sebentar. "Iya, kamu pacar dimimpiku. Kalo disini sih sampe kucing bertelur pun enggak bakal dibaleskan?" Lelaki ini cukup banyak juga ngomngnya.


Dimana sih Juna brengsek?


    "Yah, dikacangin lagi. Nyari siapa sih Ran?" Kini lelaki itu berdiri disampingku dan ikut mengintip disamping gerbang. "Nyari Juna," Jawabku singkat padatdan jelas. Tapi jawaban itu berhasil membuatnya diam tertegun.

__ADS_1


    "Ah, Kak Juna? Ada di lapangan kayaknya. Heh, Ran. Inget namaku?" Lelaki itu menjawab tapi juga mengalihkan topik pembicaraan. Bagus, sekarang apa yang ia mau?


    "Enggak, setelah kau menjawab. Antarkan aku ke Juna," Tetap berusaha mengharagi kalimat-kalimat yang ia lontarkan.


    "Rangga, beneran enggak inget nih? Jahat banget dah. Ikut aku," Rangga? Hm... Ah, temen SMP. Tunggu, dia ketos SMP kan? Mati aku! Apalah aku ini yang hanya kader olahraga enggak becus. Aku bergidik geli mengingat kejadian-kejadian konyol saat SMP.


    Lapangan yang membentang luas di belakang gedung utama tadi terlihat sangat megah. Tunggu, sekolahku juga tak kalah bagus! Bukan hanya itu, permainan basket dilapangan terasa sangat ringan meski skor yang di kejar sangat sengit.


Juna beneran main basket? Hmph- Tanpa sadar senyumku merekah.


    "Kenapa? Fansnya kak Juna? Tumben, dulu aja kamu jadi idolanya SMP. Gegara kamu anak cewek yang di-cap transgender," Ejek Ranggak melihatku sekilas dan beralih. Aku menunduk malu. "Plis, jangan ingatkan aku tentang diriku yang dulu," Pintaku khawatir kalau semakin diejek.


    "Hem? Siapa yang dulu bilang 'pengen jadi cowok'? Siap juga yang selalu koar-koar buat ikut olahraga? Siapa yang enggak bisa berhenti latihan kalo tim olahraga lagi kalah? Siapa yang jadi pemim-Hmph!"


    "Diem! Atau tak jejelin tungkak nih!" Ucapku dengan tangan menutup sempurna dimulut Rangga, meski agak jinjit untuk meraih kepalanya sih.


    "Gadis cantik ini pernah tomboy?" Steven terkekeh pelan. Aku hanya menahan malu.

__ADS_1


Ya, cukup di masa remajaku saja aku seperti itu.


    "Jangan kira aku anak baik-baik," Ucapku kesal melihat Steven terkekeh puas sembari membenarkan kacamatanya.


__ADS_2