Miracle Of Love?

Miracle Of Love?
Lagi?


__ADS_3

Aku masih menunggu Juna, ia bermain layaknya seorang atlet ternama tambah lagi cheer leader yang sangat antusias disana. Rangga tengah bercakap dengan temannya. Aku sih maunya tak peduli tapi tetap saja telingaku masih bisa mendengar apa yang merekabicarakan meski hanya seklas.


"Siapa dia? Ada, dia juga termasuk," 


    "Kau tak salah lihat?"


    "Mungkin ini akan terdengar sangat menarik, dia punya dua,"


Sebuah permainan ya? Kenapa aku memikirkan percakapan mereka? Ah, menatap Juna dari sini sangat keren. Kenapa dia harus bersikap seperti itu? Aku mengalihkan pandanganku melihat Rangga menghampiriku.


    "Siapa?"


    "Temen jomblo," Jawabnya sedikit terkekeh, aku hanya tersenyum.


Kalau boleh jujur, aku sangat ingin seperti dulu, bermain seperti dulu, dan bermimpi bahwa aku menjadi seorang cowok. Apakah keinginan itu masih ada? Justru itu yang masih melekat dalam diriku.


    "Masih pengen jadi cowok?" Tiba-tiba Rangga menanyakan hal yang sama dipikiranku. Aku mengngguk pelan. Takut kalau ia akan menasihati ku panjang kali lebar kali tinggi.

__ADS_1


    "Besok ikut ke music band bareng kak Juna ya. Ada aku disitu," Ajak Rangga melambaikan tangan pada Juna yang tengah berjalan kesini, sepetinya mereka terlihat cukup akur. Aku memang belum sempat menjawab ajakan tadi, tapi kalau sama Juna aku tak masalah.


    Aku menunggu percakapan mereka selesai. Cukup lama, sesekali mataku mengedar mencari suasana baru. Apa? Aku tak percaya ini. Tapi mataku melihat sebuah pot tanaman yang melayang pada seseorang yang tengah duduk di lapangan.


"Hei! Hentikan!" Aku langsung berlari dan menendang pot itu yang untungnya tak setinggi yang kukira. Seorang gadis? Ia yang tadi melayangkan pot itu. Aku tak habis pikir. Tapi hati, dan otakku terasa terbakar. Amarah, dan benciku meluap-luap begitu saja.


    "*******-" AKu menahan makianku sebisa mungkin. Karna Rangga dan Juna langsung menghampiriku dan berusaha menenangkanku.


    "Aku yang akan mengurus ini," Ucap Rangga berlaih ke gadis tadi. Juna menatapku dengan raut bingung


    "Dasar merepotkan, Ayo," Celetuk Juna berjalan mendahuluinku. Aku mengikutinnya menyematkan senyum senang tak terkira.


    "Kau tak pernah menyukai seseorang?" Tanya Juna sambil menyetir.


    "Paling mentok juga kagum. Oh, aku baru tahu kalau kau pemain basket juga! Seingatku dulu, kau tak pernah mau olahraga berat." Aku bercerita begitu saja pada Juna. Ia sedikit menunduk menyimpan malu.


    "Ada seseorang yang kau kejar ya?" Godaku mulai mengerti dengan perilaku anehnya.

__ADS_1


    "Diamlah, kau masih kecil," Juna lagi-lagi menyangkal.


Kalau mau dilihat dari sisi manapun, namanya ganteng juga tetep ganteng dari arah manapun ya? Juna terlihat begitu ganteng, meski sikapnya agak brutal. Aku yakin dulu dia enggak separah ini, mungkin masa pubernya baru akhir-akhir ini.


"Kenapa, ada yang aneh diwajahku?" Tanya Juna sadar kalau aku memperhatikan wajahnya.


    "Ya, tahilalatmu sama kayak diwajaku," Kekehku pelan. Tapi emang sama, mungkin efek saudara.


    "Kita saudara jauh, mana mungkin ada kesamaan," Ujar Juna. Ah, benar juga. Orang tua kita saja bisa saling menikah. Tidak, cukup beban anak terakhirku saja yang menjadi beban.


Aku mencoba mengingat-ingat kejadian tadi malam untuk bisa dibahas lebih cepat. Dan lagi, tadi pot melayang itu bukanlah suatu hal yang biasa kulihat. Tentang warna yang Juna ucapkan, dan Dirga yang dimalam itu juga ada dikelas. Tapi paginya ia menjadi anak baru.


"Juna, tadi itu apa? Kenapa potnya bisa melayang? Terus warna apa yang kau maksut tadi malam? Bisakah kau menjelaskanya?" Tanyaku spotan karna aku memang tak bisa basa-basi kalau otakku sudah taksabar.


Juna masih tediam, tak segera menjawab.


    Steven menyimak dalam diam, masih mencoba menerka-nerka apa jawaban dari Juna.

__ADS_1


__ADS_2