Miracle Of Love?

Miracle Of Love?
Haruskah?


__ADS_3

Perpindahanku dan DIrga masih perlu kutanyakan. Dirga sendiri tak mau menjelaskannya justru ia mantapku tajam seakan ingin membunuhku.


    "Kenapa menatapku seperti itu?" Tanyaku kesal. Kalau dilihat lebih dekat, ia jadi lebih tampan dibandingkan dari jauh.


    "Cewek bodoh!" Ucapan itu kembali keluar dari mulutnya. Aku menggertak kesal, tak mengerti apa yang ia maskut.


    "Berisik- Yang tadi itu apa?" Aku melipat kedua lenganku diatas dada sambil menatapnya.


    "Perpindahan ruang. Kalau mau dijelasin gak bisa, situ kan bodoh," Celetuk Dirga melengos. Aku menggertak kesal dengan sikapnya ini.


    "Serah. Terus kenapa mereka mencariku?" Aku memang membencinya dari pertemuan awal kita, tapi disaat seperti ini aku justru menanyakan banyak hal padanya. Ya, aku tahu kalau mungkin jawabanya tidak mudah untuk bisa kumengerti.


"Untuk itu sih, aku enggak tahu." Jawabnya melirikku sekilas. "Lalu apa tujuan mereka semua?" Aku masih melontarkan banyak pertanyaan.


    "Banyak tanya! Diem-" Decak Dirga membuatku bungkam disaat aku melihat orang lain berjalan mendekati tempat kita.


Tempat? Lebih tepatnya di area luar music band. Memang tidak terlalu jauh dan tidak sepi, orang-orang masih berlalu lalang seperti biasa. Malahan mereka tidak sadar kalau aku dan Dirga tiba-tiba berada diantara mereka.

__ADS_1


Aku masih menatap punggung Dirga yang tengah mengawasi depan untuk menyembunyikanku. Sebenarnya, aku tak tau dia siapa, dan asal usulnya saja masih misterius. Bukan misterius, hanya saja saat perkenalan sebelumnya aku memang tidak mendengarkan dengan jelas.


"Dirga, kau bisa menjelaskan ini semua?" Tanyaku ragu, dijawab menggeleng cepat lalu ia berbalik kearahku.


    "Aku akan membawamu pulang," Ucap Dirga menarik tanganku lagi tanpa sepertujuanku.


Seketika itu kita kembali menghilang, dan tiba dirumah Juna. Aku tak sanggup lagi untuk menahan pertanyaan ini. Tapi raut Dirga sudah menunjukkan kalau ia tengah berpikir serius. Lagipula sedari tadi kita hanya diam larut pada pikiran kita masing-masing.


    "M-Makasih," Aku berusaha melepas genggamannya. Tak lama itu ia tersadar dan langsung melepas tangannya lalu menghilang lagi.


Aku menghela nafas bingung. Melangkah dengan gontai tak lagi semangat setelah dikacangin tuh bacah. Meski kuledek berapa kali pun, Dirga yang telah menyelamatkanku hari ini. Kira-kira apa yang mereka incar dari diriku? Yang kata aku anak terakhir pembawa sial?


Kubuka kulkas yang berisi beberapa minuman seadanya, dan bahan makanan yang disimpan rapi. Kuraih susu kotak full cream dan meminumnya tanpa pikir panjang untuk mengganjal perutku yang lapar.


Memasuki kamar orang lain mungkin akan terlihat seperti orang mesem, tapi rasa penasaran terus muncul.


Kenapa aku penasaran? Mungkin karna mengingat tatapan yang Mamanya Juna berikan saat dirumahku. Sinis, benci dan tak suka peda anaknya sendiri. Maka dari itu Juna merasa tak dianggap sama halnya denganku.

__ADS_1


Papanya Juna? Entahlah, beliau pergi meninggalkan rumah saat Juna dan ketiga kakaknya sering dititipkan dirumahku. Sudah kubilang, kalau keluarga ini punya keturunan banyak dan aku muak dengan itu semua.


"Ah, namanya juga cowok," Decakku melihat kamar Juna lumayan berantakan. Tanpa perlu disuruh, dan moodku sedang bosan. Aku mengambil sapu dan mulai membersihkannya. Ini hanya disaat moodku baik saja, dan saat aku bosan.


"Siapa yang bakal jelasin? Rangga? Bisa juga, tapi dia terlalu bertele-tele. Kalau Juna? Dirga? Cih, ngapain tanya sama mereka? Nantinya juga gak bakal digubris. Kalau Indy, Nanda? Mereka tau lebih dari ini? Akh, kudet banget sih. Ngapain juga pake ada acara kutukan, kekuatan dan segala macemnya??"


Ocehku masih membersihkan kamar Juna. Tanpa sadar kalau seseorag mengawasiku dalam diam.


"Juga yang tadi ngapain sebut-sebut namaku? Kenapa? Namaku aneh? Ya, aku tahu kok. Enggak usah bilang juga kalau Zeva Rani tuh pemegang 2 kekuatan! Buktinya mana? Aku aja enggak tau apa-apa," Lanjutku masih membahas yang tadi.


"Bersihinnya sambil diem enggak bisa?"


Sebuah suara berhasil membuatku terlonjak kaget. "Juna?!" Pekikku kaget setengah mati.


    "Berisik, kalau mau bersihin diem aja gih! Buruan!" Juna beralih meninggalkan ambang pintu dan menuju ruang tengah. Aku berdecak pelan dan kembali membersihkan.


    "Kalau tau gini..., gak apa lah. Ngapain ngarep lebih?" Gumamku masih sempat mengaharap kalau Juna bakal menjawab apa yang sebenarnya terjadi.

__ADS_1


Steven menyandarkan punggungnya lebih santai ke sofa. Aku menghembuskan nafas perlahan untuk bisa melanjutkan kisahku.


__ADS_2