Miracle Of Love?

Miracle Of Love?
Tak mau peduli


__ADS_3

Pagi berlangsung begitu saja. Melupakan sejenak penat yang dirasa berat dimalam hari.


"Ran, kemarin tuh seru banget! Gue juga baru tahu kalau ada kayak gini di kehidupan kita!" Ujar Nanda semangat. Yah, kalau mau bahas tentang kemaren sih. Aku undur diri.


"Oh, gue boker kemarin." Jawabku singkat tak mau memperpanjang. "Aelah, gak seru banget sih," Timpal Nanda menyenggol pelan bahuku.


"Tapi nih, kita beneran kena kutukan? Katanya sampe umur kita 20 tahun?" Tanya Indy semakin masuk ke dalam topik yang sangat kuhindari.


"Yah, kita kan para jomblo dan single akut."


"Udah, kalian tuh ngaco sukanya. Mana ada kutukan kayak gitu? Idup-idup kita siapa yang berani ngutuk?" Aku mencegah pembicaraan ini.


"Ada benernya juga elu, ah. Kece juga sih punya keanehan yang enggak biasa," Nanda mengehempaskan dirinya pada kursi di kantin.


"Kita ke vulgaran gak sih? kok gue jadi ngerasa aneh gitu habis kira ngomongin itu," Tanya Indy penuh khawatir. Aku hanya mengedikkan bahu tak peduli, Nanda sendiri malah udah melahap ketopraknya.


Aku ikut melahap makananku. Didepan sana pemandangan lapangan sekolah dari jendela kantin bisa terlihat jelas meski sekilas tertutup orang-orang berlalu-lalang. Sepintas, kulihat tubuh Dirga melintas melewati depan jendela kantin

__ADS_1


Lupakan Ran! Yang kemarin cuman April Mop, tapi kan ini bukan bulan april. Baru juga masuk Mei.


Alah, apapun itu. Aku gak mau dicari-cari sama orang yang gak tau dari mana asalnya! Ngeri kalo mau nginget kejadian kemarin, nama disebut-sebut sama yang kata pemegang 2 kekuatan ngeri sendiri dengernya.


"Hah? Uhuk..Uhuk\-" Aku tersedak setelah menerima sebuah pesan kode dari pergerakan Dirga yang mengarah padaku.


"Napa Ran?"


"Minum nih, minum dulu,"


Nanda dan Indy pun segera menolongku yang semoat mengagetkan mereka.


"Ja-ngan-ke-lu-ar-da-ri-se-ko-lah. Se-be-lum, Ju-na-ke-si-ni."


Kurang lebih, itu pesan yang disampaikan Dirga lewat kode tangan untuk biasanya para tunawicara. Untung, aku mempelajarinya ketika SMP. Jadi, masih rada ngerti gitu apa yang di sampein Dirga tadi


Karna aku memutuskan untuk tidak peduli, mau bagaimana pun aku tetap masih takit dan ragu. Sebenernya, siapa yang harus kupercaya?

__ADS_1


Jam olahraga dimulai, lapangan terasa lebih ramai. Heran aja sama mereka, bisa gampang cari pasangan buat permainan olahraga ini.


"Udah dapet pasangan?!" Tanya pak Ridwan, selaku pembina olahraga. Ya, aku memutuskan bersama Firda. Si culun kutu buku kelas, tapi semua itu fake. Ia sudah punya pacar, atau bisa dibilang ia juga didekati para cowok kelas atas karna ia cukup canti dan juga pintar. Apalah dayaku... Terima ajalah kalau mau pasangan sama tuh bocah.


Mengikuti instruksi dari pak Ridwan, sekilas aku menyibak rambut membenarkan kuciran. Lamat\-lamat kalau dilihat lagi, ada seseorang yang berdiri dideoan gerbang. Siapa? Ah, ngapain gue peduliin? Paling juga nunggu murid buat izin. Udah biasa mah.



"Ran! Lu dah dapet tempat tinggal toh? Main yo!" Ajak Nanda sambil berganti baju. Setelah olahraga selesai kita semua berganti baju diruang ganti. Kebiasaan perempuan adalah membicarakan isu, benar bukan? Tapi tidak untukku, menurutku itu membuang\-buang tenaga.


"Hem? Main? Belum dapet kerjaan nih,"


"Gampang, ntar kita bantu cari. Lagi pula kerja sambilan dulu juga enggak masalah to?" Celetuk Indy. Kujawab dengan anggukan.


Benar, aku harus mendapatkan kerjaan kalau mau lepas dari rumah Juna si beku itu. Kira\-kira bakal nyambi kerja apa nih?


Asal enggak ketahuan pihak sekolah aja kata Juna sih gitu.

__ADS_1


Kok ada yang ganjal ya? Apa sih? Bodo' lah, jalanin aja dulu.


Ruangan berbalut cat putih ini sunyi membiarkan suaraku memecah keheningan. Steven sedikit menyeruput tehnya di cangkir.


__ADS_2